Perjalanan Pulang

Hidup itu, adalah perjalanan pulang…

***

Tulisan ini, adalah tentang perjalanan itu. Perjalanan yang bertele-tele, yang kita semua jalani. Sibuk kita sepanjang tahun mengumpulkan bekal perjalanan, memikirkan pakaian apa yang harus dikenakan dalam perjalanan. Tapi, kerap kali, kita lupa bahwa sebaik-baik bekal, sebaik-baik pakaian adalah takwa…

Saya tidak tahu harus darimana saya memulai tulisan ini. Tapi, mungkin saya harus mulai dari malam tadi. Saat saya bertekad untuk tidak tidur lagi setelah sahur di keesokan hari. Ada undangan promosi doctoral rekan saya yang harus saya hadiri, dan saya tidak mau absen lagi seperti undangan dua hari sebelumnya.

Namun selepas Shubuh pagi tadi, saya mulai kriyep-kriyep. Mengangguk terkantuk-kantuk. Mungkin memang harus tidur. Sebentar saja, piker saya. Paling tidak saya tidak akan benar-benar kesiangan karena suami saya pun harus berangkat pagi-pagi. Udara yang sejuk pagi ini semakin mengkondisikan saya untuk menarik selimut dan terlelap, sampai Mama menelepon…

“Pak Jamal meninggal…,”ujarnya.

“Hah? Pak Jamal mana, Ma?” Tanya Suami saya yang mengangkat telepon dari Mama.

“Pak Jamal supir…”, jawab Mama.

“Hah??”

“Kok Hah?! Innalillahi dong…”, ralat Mama.

Sontak, kantuk saya hilang.

Inna LiLlahi wa Inna Ilaihi Rajiuun…

Rasanya sulit saya percaya bahwa laki-laki yang sering saya mintai tolong untuk mengantar-jemput saya  sudah berpulang ke haribaan-Nya. Pasalnya, baru Sabtu lalu saya minta tolong diantar ke kajian Asma’ul Husna Ust. Bahtiar Nasir. Beliau tidak tampak sakit, bahkan tampak segar sekalipun sedang shaum.

Pak Jamal ini bukan supir “tetap” keluarga saya. Selepas pension dari Bank CIMB Niaga (juga sebagai supir), Pak Jamal sering dimintai tolong tetangga saya untuk menjadi supir harian. Saya termasuk yang sering menggunakan jasa beliau beberapa tahun belakangan.

Reaksi pertama saya mengetahui beliau meninggal tentu saja terkejut dan tidak percaya. Lalu terbersit juga sedih, karena bagaimanapun saya sering bepergian bersama beliau. Seorang supir, walaupun hanya “supir”, profesi yang tidak membutuhkan titel sarjana dan tidak pula dibayar mahal, sejatinya saya sebagai penumpang berhutang “keselamatan” padanya. Kita pun, dalam perjalanan, menitipkan “keselamatan” orang-orang tercinta pada seorang supir. Banyak hal yang terjadi selama perjalanan, kita melaluinya bersama sang supir. Bersama Pak Jamal, saya “pecah telur” melakukan presentasi pertama saya di konferensi internasional komunikasi di Bandung, belum lama ini. Beliau juga yang selalu siap sedia datang pagi-pagi buta mengantar suami saya menuju bandara untuk perjalanan bisnisnya. Jadi, tidak berlebihan saya rasa, apabila saya dan keluarga merasakan kedekatan dengan Pak Jamal dan turut merasakan sedih saat beliau berpulang.

Namun, sedih itu lekas berganti. Saya tidak lagi sedih untuk beliau, ketika saya mengetahui bahwa beliau wafat saat sedang shalat Shubuh berjamaah di masjid. Pada rakaat kedua, saat imam membaca Al-Fatihah, ia ambruk ke belakang dan tidak pernah bangun lagi setelah itu.

Saya sedih untuk diri saya sendiri.

Episode hidup Pak Jamal sudah selesai, dan Allah menutup layar panggung kehidupannya dengan akhir yang indah. Akhir yang saya yakin diinginkan, disebut-sebut dalam do’a jutaan Muslim di seluruh dunia. Namun episode hidup saya, dan banyak orang yang ditinggalkan Pak Jamal, belum selesai. Entah kapan Allah menyelesaikannya, dan yang terpenting adalah bagaimana Allah menyelesaikannya…

Saya yakin, akhir hidup seseorang berbanding lurus dengan kesehariannya. Saya pernah mendengar seseorang yang meninggal tersengat listrik tetangganya yang sedang ia perbaiki. Rupanya ia dikenal sebagai orang yang senang membantu tetangga tanpa pamrih. Pernah pula saya mendengar akademisi komunikasi tutup usia dalam perjalanannya memberi kuliah. Betapa kematian itu sesungguhnya tidak pernah menunggu terlalu jauh dari kehidupan kita…

I was wondering, apa yang sering dilakukan Pak Jamal sehingga akhir hidupnya yang begitu tiba-tiba membuat semua orang melepasnya dengan rela bahkan mungkin cemburu?

Saya lalu memulai dengan kepribadian beliau yang saya kenal selama ini. Hal yang paling berkesan untuk saya adalah keikhlasan beliau selama menjalani profesinya sebagai supir. Saya tidak pernah marah satu kali pun, sejauh yang saya ingat. Ada beberapa supir yang tampak terbebani saat mengemudi. Apalagi pengemudi taksi. Ada kalanya membuat penumpang merasa “tidak diinginkan”. Tapi Pak Jamal berbeda.

Saat saya meminta beliau mengantar saya dan adik saya berwisata ke Taman Safari, ia tampak begitu gembira menjalaninya. Padahal jalanan macet, dan perjalanan ke sana tidak bisa dibilang dekat. Ia tampak senang ikut memberi makan hewan-hewan yang ada di Taman Safari. Begitu juga saat saya meminta beliau mengantar saya ke Majlis Ta’lim (sebagai momen terakhir yang saya ingat), tidak seperti pengemudi lain yang mungkin memilih tidur di mobil, ia memilih untuk ikut serta di ta’lim.

Selain masalah profesionalitas seperti yang saya sebutkan di atas, saya juga mengenal beliau pribadi yang rajin shalat dan takut sekali tertinggal shalat. Beliau juga memiliki kenalan, rekan, dan sanak family yang bejibun, yang sepertinya tersebar di sepanjang Pasar Minggu. Dimanapun selalu ada kenalan beliau. Entah itu teman, saudara atau bahkan sekedar “masih” saudara. Belum lagi sifat beliau yang ringan tangan membantu orang lain tanpa pamrih. Belum lama ini, misalnya, sebagai komisi penjualan rumah, ia kebagian jatah 6 juta. Jatah itu terbilang kecil dari komisi sebenarnya yang harus dibagi empat dengan saudara-saudaranya yang lain. Akan tetapi, 6 juta itu ia bagi-bagikan pada anak-anaknya, saudara-saudaranya juga bahkan pada supir Mama saya yang lain (yang bekerja tetap) sebagai “uang dengar”.   

Akhir tulisan ini, saya ingin mengutip kata-kata seorang ustadz pada shalat jenazah beliau. Kita harus belajar dari almarhum. Apa kebiasaan almarhum, dan kebaikan almarhum yang sering beliau lakukan semasa hidupnya, yang membuat Allah berkenan mewafatkannya saat sedang shalat Shubuh berjamaah, di penghujung bulan Ramadhan?

Kata-kata itu (atau kurang lebih seperti itu), menghajar telak saya. Sekali lagi, kesedihan ini pantasnya saya nisbatkan untuk diri saya sendiri. Di dunia, posisi saya dan Pak Jamal boleh berbeda. Kasarnya, saya bisa mengatakan bahwa saya adalah “majikan”, dan beliau adalah supir. Di dunia pula, posisi Pak Jamal dan pejabat-pejabat salah satu bank swasta terbesar di Indonesia itu pun boleh jauh berbeda. Akan tetapi, saya, belum tentu bisa berkompetisi dengan beliau di sisi Allah. Sampai kelak saya wafat, saya (harusnya) masih harap-harap cemas, dimana posisi saya di sisi-Nya? Apakah kelak Allah juga berkenan menuliskan “The End” episode hidup saya dengan indah dan bahagia?  

Jadi, hari ini saya ingin mengucap syukur pada Allah Sang Maha Menentukan Takdir. Telah ditakdirkan-Nya, saya selama ini diantar-jemput oleh orang yang dipilih-Nya untuk husnul khatimah. Saya juga ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Jamaluddin untuk semua jasanya, bantuannya semasa hidup. Untuk tidak pernah mengeluh, dan untuk selalu menyertakan Allah dalam setiap perjalanan. Terima kasih pula telah mengajarkan banyak hal kepada saya hari ini. Bahwa tidak perlu titel berderet-deret, harta bergunung-gunung atau jabatan setinggi langit untuk mendapatkan kemuliaan di sisi Yang Maha Mulia.

Selamat menikmati kehidupan baru, semoga Allah menghapus bersih kesalahan-kesalahanmu. Dan semoga kelak, surga-Nya adalah tempat kita berjumpa…

Aamiin.

  

Confession of a Fashion Lover

“Hai anak Adam, Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian utk menutup auratmu & pakaian indah utk perhiasan. & pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, Mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS. Al-A’raaf: 26)

Saat saya mengetik ini, saya sedang kegirangan mengetahui bahwa celana Jeans saya yang sudah sempit sekarang bisa dipakai lagi. Mungkin ini hikmah Ramadhan, sekaligus ujian bagi saya dan komitmen saya untuk berhijab lebih baik dan sesuai tuntunan Al-Quran dan Sunnah. 

Sengaja saya pelihara Jeans belel ini untuk indikator lingkar pinggul (masih hipster bo..), dan mungkin sesekali untuk saya kenang bahwa saya pernah langsing (bukan kurus). Keinginan untuk memakai kembali masih sangat kuat. Jujur, sebagai perempuan biasa, saya terkadang kangen pake jeans lagi, dengan baju yang nggak panjang-panjang amat. Sebagai perempuan biasa pula, saya kangen membeli kemeja di toko “biasa” tanpa harus memperhatikan panjang bajunya, apakah bajunya transparan atau tidak, membentuk badan atau tidak dan sebagainya. 

As a matter of fact, saya memang masih mengenakan celana panjang pada saat tertentu, khususnya saat-saat saya harus bergerak dengan mobilitas tinggi. Personally, saya tidak menganggap celana adalah pakaian laki-laki. Karena apabila dikotominya adalah demikian, maka gamis pun adalah pakaian laki-laki di Timur Tengah, rok tartan adalah pakaian laki-laki di Skotlandia, dan celana adalah pakaian perempuan di China. Maka apakah ketika saya mengenakan gamis saya menyerupai laki-laki? Dan apakah ketika suami saya mengenakan celana, ia menjadi seperti perempuan?

Untuk saya, celana lebih pada “bentuk”nya yang membentuk bagian tubuh mulai dari pinggul hingga tungkai kaki. Apalagi celana jaman sekarang yang ketat ketit. Buat saya yang dianugerahi tubuh tidak kurus (dan mungkin memang tidak akan bisa benar-benar kurus), mengenakan celana dengan baju biasa (bukan tunik panjang) adalah PR sendiri. Untungnya, tren busana muslimah sekarang memunculkan ragam kulot yang unyu-unyu.

Pada akhirnya, saya memang lebih menyukai kombinasi gamis dan kerudung yang labuh karena beberapa hal:

Pertama, karena mengenakan gamis (atau gaun panjang) dan kerudung labuh (kerudung menutup dada maksudnya…. saya belum bisa mengenakan khimar yang menutup pergelangan tangan…) lebih tidak membentuk tubuh (asal bukan sackdress panjang yaa…) dan lebih sesuai dengan perintah Allah pada Al-Quran, surat Al-Ahzab ayat 59.

Kedua, memakai gamis memberikan saya sense of femininity (entah ini sebuah kata atau bukan :p) yang membuat saya merasa lebih perempuan dan lebih anggun (prett).

Ketiga, memakai gamis membuat saya bergerak lebih bebas, dalam artian, mau duduk saya rapih, mau kaki saya naik ke kursi saya tidak perlu khawatir ada bagian tubuh saya yang akan ter”gambar”.

Keempat, sebagai seorang perempuan yang besar dengan dongeng-dongeng princess, bergamis memberikan saya sensasi “princess-like”, apalagi kalau bahannya chiffon dan bentuknya A-line, lalu sedikit kepanjangan sehingga saya harus menariknya sedikit dengan kedua tangan saat saya menuruni tangga…Saat itulah saya merasa bak Aurora Syariah :p *abaikan*.

Kelima, gamis adalah pakaian yang sederhana, membuat saya tidak perlu berlama-lama memikirkan atasan dan bawahannya (tapi lama juga milih kerudungnya hehehehe…).

Keenam, dengan kerudung yang labuh dan gamis, saya merasa punya privasi dan kebebasan, dan perasaan ini yang mungkin dimiliki oleh Muslimah bercadar. Sense of privacy bahwa “tubuhku adalah milikku”. I own my body, dan tidak ada yang bisa mendikteku. Tidak trend fashion barat di media massa maupun stigma sosial. Hanya Allah dan Rasul-Nya yang bisa telling me what or what isn’t to do. 

Ketujuh, kombinasi gamis dan kerudung yang labuh, selain memberikan rasa aman dan kedewasaan, pada titik tertentu juga menjadi refleksi sekaligus kontrol diri. Pertama, mengontrol perilaku saya dan perilaku orang lain (saya merasa diperlakukan lebih “respek” saat bergamis), kedua mengontrol perilaku belanja karena saya menjadi lebih selektif terhadap pemilihan model, ukuran serta bahan. 

Last but not least, banyak yang bertanya pada saya, “beli baju dimana?”. Sebagian besar baju saya tidak dibeli di Matahar* atau Debenham* atau R*nti atau Shaf*ra atau toko-toko mainstream di mall-mall. Sebagai rakyat jelata, saya sering berburu baju lucu-lucu di Tenabang dan tetangganya, Thamrin City. Tapi, sepertinya sebagian besar kebutuhan per-hijab-an saya sekarang saya peroleh dari OL Shop.  

So, di sini saya akan me-list beberapa online shop (ini bukan tulisan berbayar yaaa…) yang menjadi favorit saya karena menurut saya recommended dari harga, kualitas dan bahan:

1. Kafika by Ficca. Ini OL Shop yang juga punya Offline Shop di Thamcin City. Yang punya adalah sahabat saya, Ficca. Koleksinya yang didominasi bahan Jersey bisa dilihat di Instagram @kafika_fika. Harga sebanding sama bahannya, selalu dibuat dalam ukuran besar (padahal pemiliknya imut-imut) jadi bisa untuk bumil dan plus size, serta banyak koleksinya yang breastfeeding friendly. Kafika ini banyak menjual tunik, gamis dan celana longgar yang sangat nyaman (untuk tidur maupun jalan-jalan). Hati-hati penggemar warna pastel, kemarin koleksi pastelicious-nya sukses meluluhkan hati.

2. Rheen Shop. Rheen Shop adalah agen resmi gamis deema yang ciri khasnya berbahan katun dengan warna-warna menarik. Yang paling saya suka dari koleksi gamis deema yang dijual di Rheen Shop adalah dia hampir selalu lebih bagus aslinya daripada fotonya. Selain itu, gamis yang didominasi oleh bahan katun rami dan jatun jepang menggunakan bahan yang digunakan juga digunakan oleh line Muslimah Clothing lain tapi dengan harga jauuuuuhhhh banget. Ini sudah saya buktikan sendiri. Satu gamis merk lain dengan bahan yang sama bisa dijual dengan harga 400-500 ribu. Sedangkan gamis deema harganya kurang dari 200 ribu. Baru-baru ini gamis deema juga mengeluarkan gamis jersey (yang bahannya juga digunakan oleh clothing line terkemuka) yang dibanderol dengan harga juga di bawah 200 ribu. Oia, gamis deema ini juga semuanya breastfeeding fiendly lho…

3. Lubna Zhifara. OL Shop milik Mbak Susan ini adalah agen resmi dari kerudung Zhifara. Personally, saya berani bilang bahwa Mbak Susan adalah pedagang OL Shop terbaik yang pernah saya temui. Selain karena dapat dipercaya juga sangat customer oriented menurut saya. Untuk kerudung Zhifara-nya sendiri menggunakan spandex sutra, bahan yang sangat nyaman dikenakan. Tapi, hati-hati untuk yang badannya agak berisi, karena kerudung spandex terkadang suka “nyeplak”. Pintar-pintar pilih modelnya, karena walaupun semua model kerudung Zhifara unyu-unyu, tidak semua bisa digunakan oleh Muslimah yang tubuhnya berisi. Nah, baru-baru ini Zhifara mengeluarkan gamis katun dengan model A-Line dan bisa customize. Motif dan coraknya berragam dan manis sekali. Walaupun awalnya saya merasa agak terlalu mahal untuk sebuah gamis katun dihargai 250 ribu rupiah; akan tetapi ketika merasakan sendiri nyamannya katun jepang di badan, saya pikir itu harga yang worthed it. Katun Jepang gitu loh… Harga sprei katun Jepang aja mihil bingits…Oia, OL Shop Lubna Zhifara juga menjual khimar berbagai ukuran. Ada yang 120×120 sampai 150×150 berbahan moscreppe dengan berragam warna. Bahannya agak mengkilap dan tidak tansparan. 

Sebenarnya ada beberapa lagi OL Shop yang saya sukai, tapi sementara tiga ini dulu yang menjadi favorit saya. Semoga bisa menjadi referensi berbelanja “perabotan hijab” yang sesuai Al-Quran dan Sunnah.

Akhir kata, saya ingin mengingatkan diri saya sendiri bahwa sebaik-baik pakaian adalah pakaian taqwa, yang dikenakan atas dasar ketaqwaan bukan atas dasar ketenaran. Yang benar datang dari Allah, dan kesalahan serta kealpaan dalam tulisan ini adalah dari saya sendiri.

 

 

 

 

  

Agama Dibawa-bawa…

“Akan datang suatu zaman dimana orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.”
(HR. Tirmidzi)

*******

Suatu siang, beberapa tahun lalu. Saya terbungkam, secara literal. Speechless, kata orang. Seorang teman mengatakan sesuatu pada saya seraya bercanda, “Rasulullah lo bawa-bawa…”. Konteksnya apa, saya sudah lupa. Saya hanya ingat menyebut sesuatu tentang Rasulullah SAW di tengah-tengah diskusi.

Tanggapan teman saya itu membuat saya diam. Benar-benar diam. Satu sisi hati saya (jika yang disebut hati punya sisi) tidak bisa terima, sisi lainnya sibuk bertanya-tanya “bagaimana bisa?”.

Rupanya semakin ke sini, membawa-bawa unsur keagamaan, ke-Tuhan-an adalah sesuatu yang tabu. Menyertakan Tuhan konon adalah pelecehan terhadap ke-Tuhan-an. Membuatmu diskriminatif, old fashioned, dan tidak pancasilais (apapun artinya itu). Apabila tabu harus dijabarkan, maka homoseksual sepertinya lambat laun akan keluar dari kriteria tabu. Membicarakan homoseksual dan mempertentangkannya-lah yang semakin hari semakin tabu. Bertato tidak tabu. Minum bir juga tidak tabu. Alih-alih kombinasi tato dan bir adalah bentuk kemerdekaan baru. Modern, bebas, dan berpikir maju. Tato dan bir, jika saya boleh menggeneralisir secara subjektif, menjaring pasar baru anak-anak muda yang mendobrak ke-tabu-an edisi lalu.

“Agama lo bawa-bawa…”

Demikian kata mereka. Kata banyak orang. Baik itu dalam kata-kata frontal, atau samar-samar. Saya agak bingung awalnya. Bagaimana harus mengurainya: Agama jangan dibawa-bawa.

Lalu apa yang harus saya bawa? Bukankah agama, ad-diin, adalah apa yang saya hirup, yang dengannya saya hidup? Dimana harus saya tinggalkan? Apa yang harus saya kenakan menggantikannya?

Apakah modernitas yang menggantikan Islam sebagai agama saya, padahal modernitas sudah terganti dengan post-modern? Apakah ilmu yang menggantikan Islam, padahal cendekiawan Muslim-lah yang membangun pondasi keilmuan dan menginspirasi dunia dengan cahaya pengetahuan?

Apa yang dibuat oleh tangan manusia, akan terganti. Cepat atau lambat. Maka, logika saya mengatakan bahwa ianya tak bisa dijadikan pegangan. Karena hidup tidak mengenal siaran ulang, atau edisi revisi. Jadi bukankah semestinya pada hidup yang hanya sekali tayang ini, hanya yang sejati saja yang harus saya bawa?

Dan apabila mereka hendak memperdebatkan kesejatian, melabelinya dengan kata-kata relatif; sungguh saya berani mengatakan; bukan agama ini yang salah. Mereka yang terlalu sombong meninggalkan Tuhan yang sejati, dengan dunia yang akan segera selesai.

 

 

Isabella, Muslimah Spanyol (Review Novel “Isabella” terbitan Navila)

Well, beberapa malam lalu saya tiba di rumah dalam keadaan sangat bosan dengan suasana. Saya bosan dengan bahasa buku, saya bosan dengan bahasa akademis nan metodologis. Saya butuh bacaan ringan. Santai tapi tidak terlalu santai. Bahasa indah mendayu-dayu penuh imajinasi. Saya butuh novel. Novel ringan saja, tapi juga agak ‘mikir’. Jelas bukan novel semacam Inferno-nya Dan Brown yang butuh konsentrasi. Tapi juga bukan novelnya Tere-Liye yang bisa saya habiskan dalam hitungan jam. It had to be something in between. Light but not too light. 

Jadilah jemari saya menyusuri buku-buku yang berjajar di rak buku saya. Dan saya melihat sebuah novel yang tidak selesai saya baca. Jusulnya “Isabella”. Saya membelinya beberapa tahun lalu saat sedang tertarik dengan isu perbandingan agama. Judul depannya sangat ‘menggoda’. Best Seller dan True Story. (Konon katanya) Sebuah kisah nyata seorang perempuan Nasrani di Spanyol (di era kejayaan Islam… Saat jalan-jalan di Cordoba dipenuhi cahaya bahkan ketika malam tiba) yang masuk Islam dan menggegerkan se-Spanyol.

Gambar

Saya mulai membukanya lagi malam itu.

Isabella, sebagai tokoh utamanya digambarkan sebagai sosok cantik jelita yang diharapkan ayahnya, rohaniawan Katolik ternama se-Spanyol untuk menjadi biarawati. Ia adalah gadis terpelajar, santun dan sangat cinta pada Tuhannya. Kisah ini berawal dari sebuah curi dengar. Ya, Isabella mencuri dengar percakapan dua orang cendikiawan Muslim yang membicarakan tentang agama Katolik. Sang cendikiawan, Umar Lahmi, mendiskusikan kepada rekannya, Muaz, perihal kontradiksi dalam agama Katolik yang kemudian mengusik Isabella untuk mempertanyakan kembali agamanya.

Singkat cerita, Isabella mengumpulkan para rahib Katolik untuk sebuah diskusi bersama Umar Lahmi dan para cendikiawan Muslim lain. Akan tetapi para rahib gagal menjawab pertanyaan yang dikemukakan Umar Lahmi. Hal ini mengejutkan Isabella. Ia tidak pernah berpikir sebelumnya bahkan para rahib terhormat pun tidak mampu menjawab pertanyaan yang mendasar. 

Alurnya mudah ditebak. Isabella kemudian masuk Islam, membawa serta tiga sahabatnya yang juga merupakan putri rohaniawan Katolik terkemuka. Suatu hari, berkat rencana ketiga sahabatnya, Isabella berhasil kabur dari penjara yang dibuat oleh para rahib sebagai tempat pendera diri. Isabella lalu mempelajari Islam dengan sangat dalam dan menjadi cendekiawan Muslim tempat banyak orang berguru padanya.

Jujur, saya berusaha meng-google Isabella of Spain untuk mengetahui apakah ini memang kisah nyata. Saya memang menemukan cerita yang exactly serupa hanya saja dalam bahasa Inggris. Tapi tidak bisa menjadi patokan kebenaran kisah Isabella ini. Detail dalam novelnya terlalu detail untuk sebuah kisah nyata. Penggambaran ruang untuk mendera diri bagi para rahib agak terlalu menyeramkan untuk saya dan membuat saya mempertanyakan kebenarannya. Apakah ruangan sedemikian memang benar-benar ada? Apakah tradisi Katolik untuk para biarawan dan biarawatinya memang seperti itu? Ataukah itu hanya khayalan sang pengarang saja?

Namun, lalu saya teringat Da Vinci Code dan tokoh Silas yang menyiksa dirinya untuk mengingat penebusan dosa Kristus (if I’m not mistaken)…

But anyway, buku itu cukup menambah pengetahuan perbandingan agama untuk saya pribadi. Saya tidak mau ambil pusing dengan urusan agama lain. Lakum diinukum wa liiya diin (bagimu agamamu, bagiku agamaku).Saya hanya penasaran dengan klaim “true story” yang ada di cover depan novel tersebut. Ke-true story-annya agak kabur menurut saya. Karena, kebetulan ada seorang perempuan yang juga bernama Isabella dengan perilaku yang kontradiktif. Isabella of Spain adalah ratu yang menjagal Muslim dan Yahudi di Spanyol. Memaksa mereka murtad atau mati, dan memaksa umat Islam untuk memakan babi. Apakah benar ada seorang Isabella lain yang memeluk Islam dan menyebarkannya di Spanyol sebelum Isabella penjagal? Mengapa nama di novel itu bisa sama? Sama-sama Isabella… 

Mungkin saja kisah itu nyata, atau mungkin juga tidak benar-benar nyata tapi hanya terinspirasi dari kisah nyata dengan sedikit hiperbola sebagai bunga penulisan sastra. Saya sih berharap yang pertama. Karena apabila benar, Isabella sungguh menginspirasi. Sayang, tidak ada kisah cintanya dalam novel tersebut, dengan siapa dia menikah dan bagaimana mereka bertemu. Lalu berapa anak mereka dan apakah mereka masih hidup saat Isabella penjagal beraksi. 

Gambar   
Continue reading

Perempuan Bicara Pemilu

Pemilihan umum sudah di depan mata. Gegap gempita perayaan pesta demokrasi sudah terasa bahkan jauh-jauh hari sebelum hari pemilihan. Namun demikian, skandal korupsi mewarnai proses demokrasi negeri ini. Dan sayangnya, warna korupsi masih terasa mendominasi. Hal ini membawa dampak signifikan terhadap kepercayaan publik terhadap partai politik. Seperti dilansir kompas.com, berdasarkan hasil survey Political Communication Institute, 58,2 persen responden menyatakan tidak percaya kepada partai politik. Apakah ketidakpercayaan publik terhadap partai politik ini akan berpengaruh terhadap turunnya tingkat partisipasi publik dalam Pemilu 2014? Bisa jadi demikian.

Para anggota dewan sebenarnya bisa berbuat lebih banyak untuk masyarakat, karena keberadaan mereka sejatinya mewakili masyarakat. Banyak isu-isu yang sudah menahun tidak juga selesai. Sebut saja RUU Pornografi dan Pornoaksi, isu-isu perdagangan manusia atau pekerja migran. Setiap tahun kita dihadapkan dengan masalah-masalah yang hampir sama; akan tetapi tidak juga kunjung ada penyelesaiannya.

Mengutip kata-kata hikmah yang terkenal, “Wanita adalah tiang negara”; keterlibatan perempuan di kursi parlemen sebenarnya bisa lebih ditingkatkan untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan terutama yang banyak terkait dengan perempuan, semisal pekerja migran perempuan atau perdagangan perempuan. Kuota 30 % untuk calon anggota legislatif perempuan semestinya menjadi kesempatan bagi perempuan untuk memilih perempuan. Namun, apakah publik perempuan sendiri sudah cukup aware dengan caleg perempuan? Lalu apa sebenarnya suara perempuan untuk para caleg yang kelak akan duduk di pemerintahan? Di bawah ini adalah hasil wawancara 5 menit terhadap tiga perempuan, lintas profesi dan lintas usia.

Tista adalah karyawan swasta berusia 20-an. Dalam pemilihan umum yang akan datang ini, Tista akan menggunakan haknya untuk memilih. Ia juga sudah memiliki beberapa opsi pilihan partai politik. Pilihan ini didasarkan salah satunya adalah karena adanya tokoh yang diunggulkan oleh partai tersebut. Ketika ditanya tentang caleg perempuan, terlihat perempuan berdarah Aceh itu tidak terlalu aware tentang caleg perempuan dan manfaat keberadaan perempuan di parlemen. Keberadaan perempuan sebagai anggota legislatif baru dipandang sebatas bentuk emansipasi perempuan dan bentuk kemajuan karena tidak ada lagi barrier bagi perempuan untuk duduk di parlemen.

Pandangan serupa juga diamini oleh Annisa, mahasiswa tingkat 1 yang akan berpartisipasi dalam pesta demokrasi terbesar di Indonesia untuk pertama kalinya. Annisa, yang baru berusia 19 tahun, juga senang karena perempuan saat ini tidak lagi memiliki penghalang untuk berekspresi di parlemen. Akan tetapi, manfaat adanya anggota parlemen perempuan sebagai wakil rakyat belum benar-benar disadari Annisa. Untuk pilihan partai politik pun, Annisa satu suara dengan Tista. Pemilihan partainya didasarkan pada tokoh yang ada pada partai tersebut. Rekam jejak partainya tidak terlalu menjadi perhatian.

Pendapat yang sedikit berbeda dikemukakan oleh Irwa, dosen ilmu komunikasi Universitas Al-Azhar Indonesia. Menurut ibu dua anak ini, keberadaan perempuan di parlemen semestinya bukan hanya sebagai pemanis; akan tetapi harus bisa berbuat lebih dari itu. Oleh karena itu, permasalahan terkait dengan anggota legislatif perempuan yang ada sekarang ini adalah kurangnya kredibilitas anggota legislatif perempuan. Masih banyak perempuan yang naik ke panggung legislatif bukan didasarkan pada kredibilitas atau kepiawaiannya, akan tetapi sebatas pemenuhan kuota semata. Tidak banyak, menurut Irwa, yang memiliki kapabilitas seperti Rieke Dyah Pitaloka yang bukan hanya berpendidikan akan tetapi memahami betul isu-isu yang seringkali menjerat perempuan.

Yang disayangkan, ketiga narasumber mengatakan tidak terlalu mengenal caleg yang akan dipilih pun anggota legislatif yang sekarang duduk di pemerintahan. Sosialisasi yang kurang diduga menjadi faktor utama kurangnya ketidaktahuan dari ketiga narasumber ini. Oleh karena itu, penting bagi calon legislatif dan anggota legislatif untuk turun langsung ke masyarakat yang diwakilinya.

Ketika ditanya mengenai aspirasi masing-masing untuk para anggota legisatif yang kelak duduk di pemerintahan; jawaban yang berbeda-beda muncul dari ketiga perempuan ini. Tista mengungkapkan isu kemiskinan yang menurutnya masih butuh banyak perhatian dari anggota dewan. Adapun Annisa menganggap, sebagai pengguna kendaraan umum, keamanan bagi pengguna angkutan umum, khususnya di wilayah Jakarta sangat perlu ditingkatkan karena kriminalitas yang, menurutnya, meningkat. Berbeda dengan Tista dan Annisa, Irwa mengemukakan pentingnya pemberdayaan perempuan di parlemen oleh karena banyaknya kasus yang berkaitan dengan perempuan yang tak kunjung selesai.

Dari ketiga wawancara singkat tersebut, setidaknya ada dua hal dalam pandangan penulis yang harus ditingkatkan. Pertama, dua dari tiga narasumber masih belum benar-benar menyadari urgensi keberadaan perempuan di parlemen, padahal isu terkait perempuan sudah meningkat jauh dari emansipasi. Perempuan bisa berbuat sesuatu, bukan hanya untuk kaumnya, akan tetapi untuk seluruh bangsa Indonesia. Menurut analisis penulis, masih kurangnya awareness publik tentang caleg perempuan adalah karena banyaknya parpol yang mencantumkan nama perempuan hanya sekedar memenuhi kuota. Pemilihan artis yang sensasional sebagai calon anggota legislatif dapat menjadi contoh nyata. Apabila demikian, maka perempuan memang hanya benar-benar menjadi “tempelan” semata. Menjadi sekedar “bunga” penghias ruangan. Maka bagaimana perempuan bisa berbuat banyak ketika terpilih dan duduk di parlemen, sedangkan kredibilitas dan kapabilitas bukan menjadi penilaian utama ketika ia dicalonkan?

Kedua, sosialisasi caleg yang tampaknya masih amat kurang. Ketiga narasumber ini adalah penduduk Jakarta, dengan tingkat intelektualitas yang tinggi serta yang melek informasi. Namun demikian, jawaban ketiganya, dalam pandangan penulis masih menunjukkan keraguan serta ketidaktahuan terhadap calon anggota legisatif yang akan dipilih. Lalu bagaimana dengan masyarakat di perkampungan, di pedesaan yang bukan hanya tidak melek informasi akan tetapi boleh jadi belum melek huruf? Lalu atas dasar apakah mereka menggunakan hak pilihnya? Dalam pandangan penulis, ketidaktahuan cenderung mengakibatkan pola pikir heuristik, sebuah jalan pintas dalam berpikir. Kecenderungan untuk “ikut saja” dapat memperbesar peluang kecurangan serta praktik jual-beli suara jelang Pemilu. Hal tersebut dibuktikan dengan cerita seorang perempuan yang berprofesi sebagai tukang cuci, sebut saja namanya Eli. Jelang Pemilu, ketua RT di tempat tinggalnya kerap mengingatkan warga untuk memilih salah satu partai karena sembako telah dijanjikan oleh pihak bagi mereka yang memilih partai tersebut.

Pada akhirnya, penulis ingin menutup tulisan dengan sebuah simpulan. Pemilu sebagai perayaan terbesar demokrasi di Indonesia idealnya bisa menjadi momen dimana perempuan membuat perubahan. Siapa yang akan kita pilih untuk mewakili kita April nanti, akan menentukan nasib negara ini hingga lima tahun ke depan, dan nasib kita para perempuan, apapun profesi dan peran sosial kita di masyarakat ikut bergantung di dalamnya. Mengetahui apa dan siapa yang akan kita pilih secara cermat akan sangat membantu terciptanya sistem pemerintahan yang dilandasi dengan integritas yang tinggi, karena warga negara yang baik sudah pasti tidak akan ikut serta meloloskan partai yang mengiming-imingi sembako untuk menang.

So, apabila Anda memutuskan untuk menggunakan hak pilih Anda, saran saya adalah: pilihlah dengan bijak, dan bijaklah dalam memilih ;)         

Ke China Ku Kan Pergi (InsyaAllah)

 

Sebenarnya sudah lama saya menginginkan perjalanan ke China. Dan alhamdulillah, sudah pernah juga menginjakkan kaki di China. Waktu itu tahun 2000, saya baru kelas 1 SMA. Sudah banyak detail perjalanan yang saya lupa. Saya hanya ingat, Oktober itu, musim gugur sedang mampir di China. Udaranya dingin sekali apalagi untuk saya yang alergi dingin. Saya selalu melapis celana jeans saya dengan celana tipis di dalamnya.

Gambar

Saya pergi bersama keluarga saya dalam rangkaian tour China Muslim. Jadi, katanya, makanan yang kami santap semuanya dijamin halal. Maklum, agak susah menemukan masakan China orisinal yang beneran halal dan pure tanpa ang ciu ataupun bercampur dengan per-babi-an. Tidak banyak kota yang saya kunjungi. Saya hanya mengunjungi Beijing. Tapi satu Beijing saja tidak semua bisa puas dijelajahi. Kalau se-Jakarta aja kurang puas untuk dijelajahi seharian, apalagi Beijing yang luas wilayah jurisdiksinya 16.410,54 km persegi atau lebih dari dua kali luas Jakarta yang ‘hanya’ 7641,51 km persegi.

Beijing itu luas banget. Jarak tempuh dua jam perjalanan itu terbilang dekat (tahun 2000 lho yaa). Jalan-jalannya pun lebar dan kotanya amat bersih. Jalan yang disebut wu tong atau “gang” kalau di Indonesia, besarnya sebesar jalan masuk ke rumah saya. Hehehehe… Buat ukuran Indonesia itu mah belum gang.

Dulu, saya belum menemukan apapun yang menarik selain belanja, dan kunjungan ke masjid. Ada yang menarik dari kunjungan saya ke masjid tertua di Beijing. Nama masjidnya adalah masjid Niew Jie, kalau saya tidak salah. Terletak di sebuah wu tong tempak komunitas Muslim tinggal.

Pertama saya pikir, saya tidak akan lagi menjadi “tontonan”, secara sepanjang perjalanan semua orang memperhatikan jilbab saya. Akan tetapi, saya masih tetap jadi “tontonan”, karena gaya berkerudung Muslimah di sana agak berbeda. Tidak ada yang benar-benar tertutup rapat. Lagipula sebagian besar yang saya temui di Masjid sudah nenek-nenek. Hehehehe…

Mengetahui kedatangan turis Muslim, sang imam keluar dan menyambut saya dan Papa saya (ibu dan kakak saya sedang haid jadi tidak boleh masuk masjid). Kami diajak berkeliling masjid. Dia sibuk menunjuk-nunjuk langit-langit serta mimbar yang gayanya khas banget China sambil menjelaskan dalam bahasa Mandarin. Bahasa yang sama sekali tidak kami (saya dan papa saya) pahami, tapi entah mengapa pada momen itu kami saling mengerti. Mimbarnya dibangun pada masa dinasti Ming. Sebagian dibangun pada masa dinasti Tang. Dan sang imam pun memperkenalkan diri sebagai Haji Yusuf. Pria tua bertubuh kecil, berwajah terang benderang, dengan janggut putih yang tumbuh dipaksakan :). Sebenarnya saya berfoto dengan beliau, tapi makan waktu untuk mencarinya. Hehehe…

Sebenarnya sejarah China selalu menarik untuk saya. Sebab konon, walaupun tidak berbekas sedikit pun di wajah saya, nenek buyut saya berdarah China yang kemudian dinikahi oleh penghulu agama Kalua, Kalimantan Selatan yang turunan Arab. Keluarga Papa saya, bahkan kakak saya sendiri masih mewarisi mata sipit nenek buyut saya. Walaupun kata orang saya persis plek dengan Papa, tapi saya mewarisi mata dari keluarga Mama. Jadi, nggak ada China-china-nya acan.

Untuk alasan yang sama pula, saya suka sekali dengan kisah Cheng Ho dan penasaran dengan gelombang kedatangan bangsa China ke Nusantara. Apakah nenek buyut saya bagian dari China Muslim yang memegang peranan cukup penting dalam tersebarnya Islam di Nusantara? Atau pernikahan kakek buyut saya dengan nenek buyut saya adalah bagian dari Islamisasi?

Personally, saya merasa ada mata rantai yang putus antara masyarakat keturunan Tiong Hoa sekarang dengan Islam. Islam seakan-akan jauh, asing, identik dengan kemiskinan, bahkan menyeramkan bagi banyak masyarakat Tiong Hoa. Saya sudah cukup merasakan beberapa pengalaman, yang tidak akan saya tulis di sini untuk alasan etika dan kesopanan, berinteraksi dengan masyarakat Tiong Hoa yang memandang saya (yang berjilbab) dengan tendensi kurang menyenangkan.

Stereotyping tentu tidak terbentuk serta merta. Diskriminasi di era Orde Baru (diskriminasi ini sebenarnya sudah ada sejak jaman Belanda) hingga kerusuhan rasial tahun 1998 mungkin bisa jadi salah satu penyebabnya. Ini baru dugaan saya saja. Saya belum melakukan riset tentang ini. So, it’s not really anyone’s fault. Bukankah saya dan kita semua juga hidup dengan cerita turun temurun tentang kelompok masyarakat lain yang akhirnya membentuk stereotipi tertentu terhadap kelompok tersebut?

Mata rantai yang putus ini sebenarnya patut disayangkan. Kenapa? Karena China merupakan bagian penting yang selalu dilalui dalam perjalanan dagang bangsa Arab. Dan bangsa China pun memeluk Islam jauh lebih dulu daripada bangsa Indonesia yang kini menyumbang seperempat populasi Muslim di seluruh dunia. Daaaan… yang lebih istimewa, penyebar Islam di China bukan orang sembarangan. Dia adalah Saad Bin Abi Waqqash ra, sahabat Rasulullah SAW yang juga termasuk dalam Assabiqunal Awwalun atau golongan orang-orang pertama yang memeluk Islam. Asli, waktu mendengar ini dari National Geographic, saya langsung iriiiii… dan langsung ingin berkemas-kemas pergi ke Guang Zhou dan Xi’An, karena katanya, konon, dua kota itu adalah kota pertama yang didatangi para pedagang Muslim dan salah satu masyarakat pertama yang menerima Islam. Bahkan sebenarnya, kalau saya tidak salah dengar, di antara dinasti China yang banyak itu (Shang-Chou-Chin-Han-T’ang-Tsung-Ming), salah satunya merupakan dinasti Muslim. So, bangsa China dan Muslim bersahabat sejak dulu.

Bukankah Sultan India mengirimkan duta besarnya, Ibnu Battutah ke negeri China?

Dan bukankah temuan bangsa China berupa kertas, disebarkan oleh pedagang Muslim ke wilayah Eropa?

Aaaaah… *kesenengan sendiri*

Saya jadi semakin ingin jalan-jalan ke Chinaaaaa…

Gambar

 

Digugu dan Ditiru

Suatu pagi, saat kami sedang berpakaian, suami merapihkan kemeja dan saya sibuk menyemat peniti:

“Kenapa ya, kok kalau aku bilang pekerjaanku ngajar, pasti tebakan pertama orang adalah ngajar SD…? Emang tampilanku representatif-nya sama guru SD atau TK, gitu?”, tanya saya pada suami.

“Emang. Kalau bosen jadi dosen, kamu ngajar SD aja yangg,” jawab suami.

“Waduh! Berat banget lagi ngajar SD tuh, yangg. Kalau aku jadi dosen, ngadepin mahasiswa itu lebih mudah. Mereka sudah paham dengan risiko, dengan reward dan punishment. Kalau mereka ribut di kelas bisa aku keluarin dan mereka nggak bisa marah karena itu konsekuensinya. Dan alhamdulillah, mahasiswa yang aku ajar semester ini lebih enak dikasih tau. Kalau ngajar SD mah… mana bisa begitu… apalagi kalau ngajar TK. Apa yang aku ajarkan bisa nempel dan kebawa banget sampe gede. Siapa mereka  di masa dewasa salah satunya juga ada hasil bentukan guru-gurunya waktu TK dan SD, kan..

Sebenarnya aku mah tinggal menuai apa yang ditabur sama guru-guru SD mahasiswaku aja. Mereka adalah keluaran sistem pendidikan yang udah mereka jalani. Tugasku hanya men-deliver. Bagian mendidiknya nggak seberat guru-guru TK atau SD…”

“Oh gitu yah, yangg..”

“Iya” (tarik napas mau nyerocos lagi) “Makanya aku suka sebel tuh kalau orang menjadikan profesi guru sebagai pelarian. Karena anaknya kurang pinter jadi diarahin supaya jadi guru. Sering tuh aku denger. Ya gimana? Mestinya kan yang jadi guru itu yang pinter. Apalagi untuk anak-anak TK. Kadang nyari gurunya asal comot aja, mikirnya ‘ah gampang jadi guru TK, modal prakarya sama nyanyi’. Padahal itu lekat seumur hidup si anak.”

“Oh gitu…”

“Iya…” (lanjut) “Malah aku denger kalau di Jepang, gaji guru TK itu gede lho, yang. Soalnya mereka sadar bahwa membentuk karakter dan menanamkan value itu ga gampang. Jadi, wajarlah kalau gajinya gede. Kita juga nanti kalau punya anak nggak mau kan anak kita diajar sama guru yang sembarangan…”

“Wah, kalau gitu semestinya gaji kamu paling kecil dong. Kan tingkat kesulitan dan risikonya paling rendah…”

“Yaaaaa…jangan dongggg…”

 

*dengan sedikit modifikasi*

Seringkali masyarakat kita memandang sebelah mata profesi guru. Padahal menjadi guru tidak mudah. Menjadi guru TK, misalnya, bukan hanya modal prakarya, bisa nyanyi, atau bisa menggambar gajah. Tanpa kreatifitas, gambar anak-anak se-Indonesia hanyalah dua gunung dengan sawah membentang dan jalanan lengang membelah gunung. Tidak ada indahnya danau Toba, atau Puncak Cartenz bersalju. Menjadi guru berarti men-deliver value, membentuk karakter. Sayangnya, seringkali saya temui jurusan keguruan hanya diambil ketika tiada pilihan lain. Harusnya orang-orang yang memang memilih menjadi guru-lah yang menjadi guru. Ah… Makanya saya kagum berattt sama program Indonesia Mengajar, dan TIDAK akan memilih Anies Baswedan kalau dia jadi capres. Kenapa? Karena saya sayang sama dia *lho…Hehehe… Kasihan, jadi presiden banyak urusannya. Baiknya, menurut saya, dia mengkaderisasi penerus-penerusnya meneruskan Indonesia Mengajar. Sehingga semakin banyak orang mengajar karena pilihan, bukan karena tidak ada pilihan lain.

Banyak juga orang berpikir mau jadi dosen karena “gampang”. Kalau dibandingkan jadi presiden atau jadi mentri keuangan mungkin iya. Dan memang saya menikmati fleksibilitas waktu dan pemikiran. Tapi jadi dosen itu nggak gampang! Setiap profesi punya challenge-nya masing-masing. Bisa menjadi “teladan” adalah tantangan penggiat dunia pendidikan. Mahasiswa tidak hanya membaca buku, bahkan saya yakin mereka “membaca” dosen lebih banyak daripada membaca buku. Dan, kalau menurut mereka yang bilang jadi dosen itu “gampang”, menjadi teladan itu mudah, silahkan dicoba jadi pengajar. 

Akhir cerocosan ini, salam hormat saya pada Bapak Ibu Guru yang sudah mengajar dan mendidik saya. Terutama sekali yang pertama mengenalkan saya pada huruf Arab dan menjadikan saya bisa membaca Al-Quran. Semoga mereka semua ridho dengan ilmunya dan apa yang mereka ajarkan bisa saya manfaatkan untuk banyak orang. :”) Aamiin…

Happy Long Weekend, All ^^