Isabella, Muslimah Spanyol (Review Novel “Isabella” terbitan Navila)

Well, beberapa malam lalu saya tiba di rumah dalam keadaan sangat bosan dengan suasana. Saya bosan dengan bahasa buku, saya bosan dengan bahasa akademis nan metodologis. Saya butuh bacaan ringan. Santai tapi tidak terlalu santai. Bahasa indah mendayu-dayu penuh imajinasi. Saya butuh novel. Novel ringan saja, tapi juga agak ‘mikir’. Jelas bukan novel semacam Inferno-nya Dan Brown yang butuh konsentrasi. Tapi juga bukan novelnya Tere-Liye yang bisa saya habiskan dalam hitungan jam. It had to be something in between. Light but not too light. 

Jadilah jemari saya menyusuri buku-buku yang berjajar di rak buku saya. Dan saya melihat sebuah novel yang tidak selesai saya baca. Jusulnya “Isabella”. Saya membelinya beberapa tahun lalu saat sedang tertarik dengan isu perbandingan agama. Judul depannya sangat ‘menggoda’. Best Seller dan True Story. (Konon katanya) Sebuah kisah nyata seorang perempuan Nasrani di Spanyol (di era kejayaan Islam… Saat jalan-jalan di Cordoba dipenuhi cahaya bahkan ketika malam tiba) yang masuk Islam dan menggegerkan se-Spanyol.

Gambar

Saya mulai membukanya lagi malam itu.

Isabella, sebagai tokoh utamanya digambarkan sebagai sosok cantik jelita yang diharapkan ayahnya, rohaniawan Katolik ternama se-Spanyol untuk menjadi biarawati. Ia adalah gadis terpelajar, santun dan sangat cinta pada Tuhannya. Kisah ini berawal dari sebuah curi dengar. Ya, Isabella mencuri dengar percakapan dua orang cendikiawan Muslim yang membicarakan tentang agama Katolik. Sang cendikiawan, Umar Lahmi, mendiskusikan kepada rekannya, Muaz, perihal kontradiksi dalam agama Katolik yang kemudian mengusik Isabella untuk mempertanyakan kembali agamanya.

Singkat cerita, Isabella mengumpulkan para rahib Katolik untuk sebuah diskusi bersama Umar Lahmi dan para cendikiawan Muslim lain. Akan tetapi para rahib gagal menjawab pertanyaan yang dikemukakan Umar Lahmi. Hal ini mengejutkan Isabella. Ia tidak pernah berpikir sebelumnya bahkan para rahib terhormat pun tidak mampu menjawab pertanyaan yang mendasar. 

Alurnya mudah ditebak. Isabella kemudian masuk Islam, membawa serta tiga sahabatnya yang juga merupakan putri rohaniawan Katolik terkemuka. Suatu hari, berkat rencana ketiga sahabatnya, Isabella berhasil kabur dari penjara yang dibuat oleh para rahib sebagai tempat pendera diri. Isabella lalu mempelajari Islam dengan sangat dalam dan menjadi cendekiawan Muslim tempat banyak orang berguru padanya.

Jujur, saya berusaha meng-google Isabella of Spain untuk mengetahui apakah ini memang kisah nyata. Saya memang menemukan cerita yang exactly serupa hanya saja dalam bahasa Inggris. Tapi tidak bisa menjadi patokan kebenaran kisah Isabella ini. Detail dalam novelnya terlalu detail untuk sebuah kisah nyata. Penggambaran ruang untuk mendera diri bagi para rahib agak terlalu menyeramkan untuk saya dan membuat saya mempertanyakan kebenarannya. Apakah ruangan sedemikian memang benar-benar ada? Apakah tradisi Katolik untuk para biarawan dan biarawatinya memang seperti itu? Ataukah itu hanya khayalan sang pengarang saja?

Namun, lalu saya teringat Da Vinci Code dan tokoh Silas yang menyiksa dirinya untuk mengingat penebusan dosa Kristus (if I’m not mistaken)…

But anyway, buku itu cukup menambah pengetahuan perbandingan agama untuk saya pribadi. Saya tidak mau ambil pusing dengan urusan agama lain. Lakum diinukum wa liiya diin (bagimu agamamu, bagiku agamaku).Saya hanya penasaran dengan klaim “true story” yang ada di cover depan novel tersebut. Ke-true story-annya agak kabur menurut saya. Karena, kebetulan ada seorang perempuan yang juga bernama Isabella dengan perilaku yang kontradiktif. Isabella of Spain adalah ratu yang menjagal Muslim dan Yahudi di Spanyol. Memaksa mereka murtad atau mati, dan memaksa umat Islam untuk memakan babi. Apakah benar ada seorang Isabella lain yang memeluk Islam dan menyebarkannya di Spanyol sebelum Isabella penjagal? Mengapa nama di novel itu bisa sama? Sama-sama Isabella… 

Mungkin saja kisah itu nyata, atau mungkin juga tidak benar-benar nyata tapi hanya terinspirasi dari kisah nyata dengan sedikit hiperbola sebagai bunga penulisan sastra. Saya sih berharap yang pertama. Karena apabila benar, Isabella sungguh menginspirasi. Sayang, tidak ada kisah cintanya dalam novel tersebut, dengan siapa dia menikah dan bagaimana mereka bertemu. Lalu berapa anak mereka dan apakah mereka masih hidup saat Isabella penjagal beraksi. 

Gambar   
Continue reading

Perempuan Bicara Pemilu

Pemilihan umum sudah di depan mata. Gegap gempita perayaan pesta demokrasi sudah terasa bahkan jauh-jauh hari sebelum hari pemilihan. Namun demikian, skandal korupsi mewarnai proses demokrasi negeri ini. Dan sayangnya, warna korupsi masih terasa mendominasi. Hal ini membawa dampak signifikan terhadap kepercayaan publik terhadap partai politik. Seperti dilansir kompas.com, berdasarkan hasil survey Political Communication Institute, 58,2 persen responden menyatakan tidak percaya kepada partai politik. Apakah ketidakpercayaan publik terhadap partai politik ini akan berpengaruh terhadap turunnya tingkat partisipasi publik dalam Pemilu 2014? Bisa jadi demikian.

Para anggota dewan sebenarnya bisa berbuat lebih banyak untuk masyarakat, karena keberadaan mereka sejatinya mewakili masyarakat. Banyak isu-isu yang sudah menahun tidak juga selesai. Sebut saja RUU Pornografi dan Pornoaksi, isu-isu perdagangan manusia atau pekerja migran. Setiap tahun kita dihadapkan dengan masalah-masalah yang hampir sama; akan tetapi tidak juga kunjung ada penyelesaiannya.

Mengutip kata-kata hikmah yang terkenal, “Wanita adalah tiang negara”; keterlibatan perempuan di kursi parlemen sebenarnya bisa lebih ditingkatkan untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan terutama yang banyak terkait dengan perempuan, semisal pekerja migran perempuan atau perdagangan perempuan. Kuota 30 % untuk calon anggota legislatif perempuan semestinya menjadi kesempatan bagi perempuan untuk memilih perempuan. Namun, apakah publik perempuan sendiri sudah cukup aware dengan caleg perempuan? Lalu apa sebenarnya suara perempuan untuk para caleg yang kelak akan duduk di pemerintahan? Di bawah ini adalah hasil wawancara 5 menit terhadap tiga perempuan, lintas profesi dan lintas usia.

Tista adalah karyawan swasta berusia 20-an. Dalam pemilihan umum yang akan datang ini, Tista akan menggunakan haknya untuk memilih. Ia juga sudah memiliki beberapa opsi pilihan partai politik. Pilihan ini didasarkan salah satunya adalah karena adanya tokoh yang diunggulkan oleh partai tersebut. Ketika ditanya tentang caleg perempuan, terlihat perempuan berdarah Aceh itu tidak terlalu aware tentang caleg perempuan dan manfaat keberadaan perempuan di parlemen. Keberadaan perempuan sebagai anggota legislatif baru dipandang sebatas bentuk emansipasi perempuan dan bentuk kemajuan karena tidak ada lagi barrier bagi perempuan untuk duduk di parlemen.

Pandangan serupa juga diamini oleh Annisa, mahasiswa tingkat 1 yang akan berpartisipasi dalam pesta demokrasi terbesar di Indonesia untuk pertama kalinya. Annisa, yang baru berusia 19 tahun, juga senang karena perempuan saat ini tidak lagi memiliki penghalang untuk berekspresi di parlemen. Akan tetapi, manfaat adanya anggota parlemen perempuan sebagai wakil rakyat belum benar-benar disadari Annisa. Untuk pilihan partai politik pun, Annisa satu suara dengan Tista. Pemilihan partainya didasarkan pada tokoh yang ada pada partai tersebut. Rekam jejak partainya tidak terlalu menjadi perhatian.

Pendapat yang sedikit berbeda dikemukakan oleh Irwa, dosen ilmu komunikasi Universitas Al-Azhar Indonesia. Menurut ibu dua anak ini, keberadaan perempuan di parlemen semestinya bukan hanya sebagai pemanis; akan tetapi harus bisa berbuat lebih dari itu. Oleh karena itu, permasalahan terkait dengan anggota legislatif perempuan yang ada sekarang ini adalah kurangnya kredibilitas anggota legislatif perempuan. Masih banyak perempuan yang naik ke panggung legislatif bukan didasarkan pada kredibilitas atau kepiawaiannya, akan tetapi sebatas pemenuhan kuota semata. Tidak banyak, menurut Irwa, yang memiliki kapabilitas seperti Rieke Dyah Pitaloka yang bukan hanya berpendidikan akan tetapi memahami betul isu-isu yang seringkali menjerat perempuan.

Yang disayangkan, ketiga narasumber mengatakan tidak terlalu mengenal caleg yang akan dipilih pun anggota legislatif yang sekarang duduk di pemerintahan. Sosialisasi yang kurang diduga menjadi faktor utama kurangnya ketidaktahuan dari ketiga narasumber ini. Oleh karena itu, penting bagi calon legislatif dan anggota legislatif untuk turun langsung ke masyarakat yang diwakilinya.

Ketika ditanya mengenai aspirasi masing-masing untuk para anggota legisatif yang kelak duduk di pemerintahan; jawaban yang berbeda-beda muncul dari ketiga perempuan ini. Tista mengungkapkan isu kemiskinan yang menurutnya masih butuh banyak perhatian dari anggota dewan. Adapun Annisa menganggap, sebagai pengguna kendaraan umum, keamanan bagi pengguna angkutan umum, khususnya di wilayah Jakarta sangat perlu ditingkatkan karena kriminalitas yang, menurutnya, meningkat. Berbeda dengan Tista dan Annisa, Irwa mengemukakan pentingnya pemberdayaan perempuan di parlemen oleh karena banyaknya kasus yang berkaitan dengan perempuan yang tak kunjung selesai.

Dari ketiga wawancara singkat tersebut, setidaknya ada dua hal dalam pandangan penulis yang harus ditingkatkan. Pertama, dua dari tiga narasumber masih belum benar-benar menyadari urgensi keberadaan perempuan di parlemen, padahal isu terkait perempuan sudah meningkat jauh dari emansipasi. Perempuan bisa berbuat sesuatu, bukan hanya untuk kaumnya, akan tetapi untuk seluruh bangsa Indonesia. Menurut analisis penulis, masih kurangnya awareness publik tentang caleg perempuan adalah karena banyaknya parpol yang mencantumkan nama perempuan hanya sekedar memenuhi kuota. Pemilihan artis yang sensasional sebagai calon anggota legislatif dapat menjadi contoh nyata. Apabila demikian, maka perempuan memang hanya benar-benar menjadi “tempelan” semata. Menjadi sekedar “bunga” penghias ruangan. Maka bagaimana perempuan bisa berbuat banyak ketika terpilih dan duduk di parlemen, sedangkan kredibilitas dan kapabilitas bukan menjadi penilaian utama ketika ia dicalonkan?

Kedua, sosialisasi caleg yang tampaknya masih amat kurang. Ketiga narasumber ini adalah penduduk Jakarta, dengan tingkat intelektualitas yang tinggi serta yang melek informasi. Namun demikian, jawaban ketiganya, dalam pandangan penulis masih menunjukkan keraguan serta ketidaktahuan terhadap calon anggota legisatif yang akan dipilih. Lalu bagaimana dengan masyarakat di perkampungan, di pedesaan yang bukan hanya tidak melek informasi akan tetapi boleh jadi belum melek huruf? Lalu atas dasar apakah mereka menggunakan hak pilihnya? Dalam pandangan penulis, ketidaktahuan cenderung mengakibatkan pola pikir heuristik, sebuah jalan pintas dalam berpikir. Kecenderungan untuk “ikut saja” dapat memperbesar peluang kecurangan serta praktik jual-beli suara jelang Pemilu. Hal tersebut dibuktikan dengan cerita seorang perempuan yang berprofesi sebagai tukang cuci, sebut saja namanya Eli. Jelang Pemilu, ketua RT di tempat tinggalnya kerap mengingatkan warga untuk memilih salah satu partai karena sembako telah dijanjikan oleh pihak bagi mereka yang memilih partai tersebut.

Pada akhirnya, penulis ingin menutup tulisan dengan sebuah simpulan. Pemilu sebagai perayaan terbesar demokrasi di Indonesia idealnya bisa menjadi momen dimana perempuan membuat perubahan. Siapa yang akan kita pilih untuk mewakili kita April nanti, akan menentukan nasib negara ini hingga lima tahun ke depan, dan nasib kita para perempuan, apapun profesi dan peran sosial kita di masyarakat ikut bergantung di dalamnya. Mengetahui apa dan siapa yang akan kita pilih secara cermat akan sangat membantu terciptanya sistem pemerintahan yang dilandasi dengan integritas yang tinggi, karena warga negara yang baik sudah pasti tidak akan ikut serta meloloskan partai yang mengiming-imingi sembako untuk menang.

So, apabila Anda memutuskan untuk menggunakan hak pilih Anda, saran saya adalah: pilihlah dengan bijak, dan bijaklah dalam memilih ;)         

Ke China Ku Kan Pergi (InsyaAllah)

 

Sebenarnya sudah lama saya menginginkan perjalanan ke China. Dan alhamdulillah, sudah pernah juga menginjakkan kaki di China. Waktu itu tahun 2000, saya baru kelas 1 SMA. Sudah banyak detail perjalanan yang saya lupa. Saya hanya ingat, Oktober itu, musim gugur sedang mampir di China. Udaranya dingin sekali apalagi untuk saya yang alergi dingin. Saya selalu melapis celana jeans saya dengan celana tipis di dalamnya.

Gambar

Saya pergi bersama keluarga saya dalam rangkaian tour China Muslim. Jadi, katanya, makanan yang kami santap semuanya dijamin halal. Maklum, agak susah menemukan masakan China orisinal yang beneran halal dan pure tanpa ang ciu ataupun bercampur dengan per-babi-an. Tidak banyak kota yang saya kunjungi. Saya hanya mengunjungi Beijing. Tapi satu Beijing saja tidak semua bisa puas dijelajahi. Kalau se-Jakarta aja kurang puas untuk dijelajahi seharian, apalagi Beijing yang luas wilayah jurisdiksinya 16.410,54 km persegi atau lebih dari dua kali luas Jakarta yang ‘hanya’ 7641,51 km persegi.

Beijing itu luas banget. Jarak tempuh dua jam perjalanan itu terbilang dekat (tahun 2000 lho yaa). Jalan-jalannya pun lebar dan kotanya amat bersih. Jalan yang disebut wu tong atau “gang” kalau di Indonesia, besarnya sebesar jalan masuk ke rumah saya. Hehehehe… Buat ukuran Indonesia itu mah belum gang.

Dulu, saya belum menemukan apapun yang menarik selain belanja, dan kunjungan ke masjid. Ada yang menarik dari kunjungan saya ke masjid tertua di Beijing. Nama masjidnya adalah masjid Niew Jie, kalau saya tidak salah. Terletak di sebuah wu tong tempak komunitas Muslim tinggal.

Pertama saya pikir, saya tidak akan lagi menjadi “tontonan”, secara sepanjang perjalanan semua orang memperhatikan jilbab saya. Akan tetapi, saya masih tetap jadi “tontonan”, karena gaya berkerudung Muslimah di sana agak berbeda. Tidak ada yang benar-benar tertutup rapat. Lagipula sebagian besar yang saya temui di Masjid sudah nenek-nenek. Hehehehe…

Mengetahui kedatangan turis Muslim, sang imam keluar dan menyambut saya dan Papa saya (ibu dan kakak saya sedang haid jadi tidak boleh masuk masjid). Kami diajak berkeliling masjid. Dia sibuk menunjuk-nunjuk langit-langit serta mimbar yang gayanya khas banget China sambil menjelaskan dalam bahasa Mandarin. Bahasa yang sama sekali tidak kami (saya dan papa saya) pahami, tapi entah mengapa pada momen itu kami saling mengerti. Mimbarnya dibangun pada masa dinasti Ming. Sebagian dibangun pada masa dinasti Tang. Dan sang imam pun memperkenalkan diri sebagai Haji Yusuf. Pria tua bertubuh kecil, berwajah terang benderang, dengan janggut putih yang tumbuh dipaksakan :). Sebenarnya saya berfoto dengan beliau, tapi makan waktu untuk mencarinya. Hehehe…

Sebenarnya sejarah China selalu menarik untuk saya. Sebab konon, walaupun tidak berbekas sedikit pun di wajah saya, nenek buyut saya berdarah China yang kemudian dinikahi oleh penghulu agama Kalua, Kalimantan Selatan yang turunan Arab. Keluarga Papa saya, bahkan kakak saya sendiri masih mewarisi mata sipit nenek buyut saya. Walaupun kata orang saya persis plek dengan Papa, tapi saya mewarisi mata dari keluarga Mama. Jadi, nggak ada China-china-nya acan.

Untuk alasan yang sama pula, saya suka sekali dengan kisah Cheng Ho dan penasaran dengan gelombang kedatangan bangsa China ke Nusantara. Apakah nenek buyut saya bagian dari China Muslim yang memegang peranan cukup penting dalam tersebarnya Islam di Nusantara? Atau pernikahan kakek buyut saya dengan nenek buyut saya adalah bagian dari Islamisasi?

Personally, saya merasa ada mata rantai yang putus antara masyarakat keturunan Tiong Hoa sekarang dengan Islam. Islam seakan-akan jauh, asing, identik dengan kemiskinan, bahkan menyeramkan bagi banyak masyarakat Tiong Hoa. Saya sudah cukup merasakan beberapa pengalaman, yang tidak akan saya tulis di sini untuk alasan etika dan kesopanan, berinteraksi dengan masyarakat Tiong Hoa yang memandang saya (yang berjilbab) dengan tendensi kurang menyenangkan.

Stereotyping tentu tidak terbentuk serta merta. Diskriminasi di era Orde Baru (diskriminasi ini sebenarnya sudah ada sejak jaman Belanda) hingga kerusuhan rasial tahun 1998 mungkin bisa jadi salah satu penyebabnya. Ini baru dugaan saya saja. Saya belum melakukan riset tentang ini. So, it’s not really anyone’s fault. Bukankah saya dan kita semua juga hidup dengan cerita turun temurun tentang kelompok masyarakat lain yang akhirnya membentuk stereotipi tertentu terhadap kelompok tersebut?

Mata rantai yang putus ini sebenarnya patut disayangkan. Kenapa? Karena China merupakan bagian penting yang selalu dilalui dalam perjalanan dagang bangsa Arab. Dan bangsa China pun memeluk Islam jauh lebih dulu daripada bangsa Indonesia yang kini menyumbang seperempat populasi Muslim di seluruh dunia. Daaaan… yang lebih istimewa, penyebar Islam di China bukan orang sembarangan. Dia adalah Saad Bin Abi Waqqash ra, sahabat Rasulullah SAW yang juga termasuk dalam Assabiqunal Awwalun atau golongan orang-orang pertama yang memeluk Islam. Asli, waktu mendengar ini dari National Geographic, saya langsung iriiiii… dan langsung ingin berkemas-kemas pergi ke Guang Zhou dan Xi’An, karena katanya, konon, dua kota itu adalah kota pertama yang didatangi para pedagang Muslim dan salah satu masyarakat pertama yang menerima Islam. Bahkan sebenarnya, kalau saya tidak salah dengar, di antara dinasti China yang banyak itu (Shang-Chou-Chin-Han-T’ang-Tsung-Ming), salah satunya merupakan dinasti Muslim. So, bangsa China dan Muslim bersahabat sejak dulu.

Bukankah Sultan India mengirimkan duta besarnya, Ibnu Battutah ke negeri China?

Dan bukankah temuan bangsa China berupa kertas, disebarkan oleh pedagang Muslim ke wilayah Eropa?

Aaaaah… *kesenengan sendiri*

Saya jadi semakin ingin jalan-jalan ke Chinaaaaa…

Gambar

 

Digugu dan Ditiru

Suatu pagi, saat kami sedang berpakaian, suami merapihkan kemeja dan saya sibuk menyemat peniti:

“Kenapa ya, kok kalau aku bilang pekerjaanku ngajar, pasti tebakan pertama orang adalah ngajar SD…? Emang tampilanku representatif-nya sama guru SD atau TK, gitu?”, tanya saya pada suami.

“Emang. Kalau bosen jadi dosen, kamu ngajar SD aja yangg,” jawab suami.

“Waduh! Berat banget lagi ngajar SD tuh, yangg. Kalau aku jadi dosen, ngadepin mahasiswa itu lebih mudah. Mereka sudah paham dengan risiko, dengan reward dan punishment. Kalau mereka ribut di kelas bisa aku keluarin dan mereka nggak bisa marah karena itu konsekuensinya. Dan alhamdulillah, mahasiswa yang aku ajar semester ini lebih enak dikasih tau. Kalau ngajar SD mah… mana bisa begitu… apalagi kalau ngajar TK. Apa yang aku ajarkan bisa nempel dan kebawa banget sampe gede. Siapa mereka  di masa dewasa salah satunya juga ada hasil bentukan guru-gurunya waktu TK dan SD, kan..

Sebenarnya aku mah tinggal menuai apa yang ditabur sama guru-guru SD mahasiswaku aja. Mereka adalah keluaran sistem pendidikan yang udah mereka jalani. Tugasku hanya men-deliver. Bagian mendidiknya nggak seberat guru-guru TK atau SD…”

“Oh gitu yah, yangg..”

“Iya” (tarik napas mau nyerocos lagi) “Makanya aku suka sebel tuh kalau orang menjadikan profesi guru sebagai pelarian. Karena anaknya kurang pinter jadi diarahin supaya jadi guru. Sering tuh aku denger. Ya gimana? Mestinya kan yang jadi guru itu yang pinter. Apalagi untuk anak-anak TK. Kadang nyari gurunya asal comot aja, mikirnya ‘ah gampang jadi guru TK, modal prakarya sama nyanyi’. Padahal itu lekat seumur hidup si anak.”

“Oh gitu…”

“Iya…” (lanjut) “Malah aku denger kalau di Jepang, gaji guru TK itu gede lho, yang. Soalnya mereka sadar bahwa membentuk karakter dan menanamkan value itu ga gampang. Jadi, wajarlah kalau gajinya gede. Kita juga nanti kalau punya anak nggak mau kan anak kita diajar sama guru yang sembarangan…”

“Wah, kalau gitu semestinya gaji kamu paling kecil dong. Kan tingkat kesulitan dan risikonya paling rendah…”

“Yaaaaa…jangan dongggg…”

 

*dengan sedikit modifikasi*

Seringkali masyarakat kita memandang sebelah mata profesi guru. Padahal menjadi guru tidak mudah. Menjadi guru TK, misalnya, bukan hanya modal prakarya, bisa nyanyi, atau bisa menggambar gajah. Tanpa kreatifitas, gambar anak-anak se-Indonesia hanyalah dua gunung dengan sawah membentang dan jalanan lengang membelah gunung. Tidak ada indahnya danau Toba, atau Puncak Cartenz bersalju. Menjadi guru berarti men-deliver value, membentuk karakter. Sayangnya, seringkali saya temui jurusan keguruan hanya diambil ketika tiada pilihan lain. Harusnya orang-orang yang memang memilih menjadi guru-lah yang menjadi guru. Ah… Makanya saya kagum berattt sama program Indonesia Mengajar, dan TIDAK akan memilih Anies Baswedan kalau dia jadi capres. Kenapa? Karena saya sayang sama dia *lho…Hehehe… Kasihan, jadi presiden banyak urusannya. Baiknya, menurut saya, dia mengkaderisasi penerus-penerusnya meneruskan Indonesia Mengajar. Sehingga semakin banyak orang mengajar karena pilihan, bukan karena tidak ada pilihan lain.

Banyak juga orang berpikir mau jadi dosen karena “gampang”. Kalau dibandingkan jadi presiden atau jadi mentri keuangan mungkin iya. Dan memang saya menikmati fleksibilitas waktu dan pemikiran. Tapi jadi dosen itu nggak gampang! Setiap profesi punya challenge-nya masing-masing. Bisa menjadi “teladan” adalah tantangan penggiat dunia pendidikan. Mahasiswa tidak hanya membaca buku, bahkan saya yakin mereka “membaca” dosen lebih banyak daripada membaca buku. Dan, kalau menurut mereka yang bilang jadi dosen itu “gampang”, menjadi teladan itu mudah, silahkan dicoba jadi pengajar. 

Akhir cerocosan ini, salam hormat saya pada Bapak Ibu Guru yang sudah mengajar dan mendidik saya. Terutama sekali yang pertama mengenalkan saya pada huruf Arab dan menjadikan saya bisa membaca Al-Quran. Semoga mereka semua ridho dengan ilmunya dan apa yang mereka ajarkan bisa saya manfaatkan untuk banyak orang. :”) Aamiin…

Happy Long Weekend, All ^^

 

Saya, yang Usianya 28

 

Tahukah bahwa malaikat mendoakan yang sama untukmu ketika dirimu mendoakan kebaikan untuk saudaramu?

Maka saya yakin, Senin, 24 Maret lalu, keberkahan usia, kelimpahan rizki dan kasih sayang juga bertaburan untuk saudara, karib kerabat serta handai taulan sekalian.

28 tahun yang lalu, ditandai sebagai hari kelahiran saya dari rahim Mama saya. Semoga tidak sedetik pun Mama menyesal pernah melahirkan saya ke dunia. Dan semoga kelak, apabila usia kedua orang tua saya mendahului saya, doa saya dapat menjadi amal yang tidak terputus untuk keduanya…

Diberi kesempatan mengenal dunia selama 28 tahun, banyak hal yang harus saya syukuri. Hal utama yang saya sangat syukuri adalah 28 tahun dalam petunjuk Allah. Allah menitipkan saya pada kedua orang tua saya yang Muslim, yang membesarkan saya dalam ajaran Islam. Therefore, saya tidak perlu meninggalkan kehidupan saya untuk mendapatkan kebenaran. InsyaAllah. Tidak terbayang jika kedua orangtua saya tidak ber-Tuhan, lalu saya harus meninggalkan diri saya hasil “kreasi” kedua orang tua saya yang tidak ber-Tuhan untuk mendapatkan kebenaran, pasti sulit sekali…

Implikasinya banyak sekali. Dibesarkan dalam ajaran Islam, saya belajar tentang “reward” dan “punishment”, saya belajar tentang empati, saya belajar mengasihi, saya belajar menjadi rasional, saya belajar sopan santun, saya belajar bertahan… dan saya belajar untuk terus belajar… karena pada dasarnya ini adalah pelajaran seumur hidup, yang kelak akan saya tuai hasilnya seumur “mati”.

Namun demikian, usia 28 juga berarti 28 tahun menjadi makhluk yang tidak luput dari salah dan lupa. Banyak episode hidup saya yang ingin saya hapus dan saya tulis dengan skenario berbeda. Namun, waktu adalah makhluk yang selalu baru. Saya berharap berapa banyak pun tahun-tahun (atau malah hanya tahun saja-tidak berulang), yang tersisa untuk saya; dapat membawa kebaikan untuk saya sendiri dan semoga juga untuk semesta.

Usia 28 ini, saya belajar menyadari bahwa apa yang baik di mata saya belum tentu baik untuk saya. Kadang, acap kali saya disilaukan dengan apa yang dicapai orang lain dan meminta hal yang sama untuk saya. Padahal ketika Allah memberikan itu semua untuk saya, hati-akal-dan terutama iman saya tidak cukup kuat menanggung semua. Saya ingat salah satu kajian di radio Rodja 756 AM. Di situ dikatakan bahwa semua permintaan kita idealnya tolak ukurnya adalah untuk ibadah kepada Allah. Saat itu, hati saya sedikit “argue”: ‘Lalu sejauh mana kita sebagai hamba-Nya boleh memilih apa yang kita pinta?’. Dan rupanya, ini bukan tentang apa yang kita pinta. Saya yang kurang cerdas mencernanya waktu itu. Ini tentang mengapa kita meminta apa yang kita pinta dan bagaimana. Bukankah pengabulan doa (dan bahkan seluruh perilaku semasa di dunia) juga harus ada akuntabilitasnya. Apabila Allah yang menjadi alasan, menjadi landasan, maka saya yakin Allah pula yang akan menyampaikan kita pada apa yang kita inginkan dan memudahkan kita dalam mengerjakannya juga dalam mempertanggungjawabkannya. Jadi, tolak ukurnya selalu Allah. Allah lagi. Allah saja. Idealnya begitu…

Last, but not least, ada banyak sekali wish list saya yang saya harap akan tercapai (namanya juga wish list). Tapi yang paling penting, saya berharap Allah mengampuni dosa saya… Menjadikan saya seorang Muslimah yang lebih baik, istri yang tidak membuat pasangannya lekas tua, anak yang menyenangkan kedua orangtuanya, saudara yang mengasihi, tetangga yang  tidak menyusahkan, sahabat yang mendekatkan pada-Nya, pengajar yang bisa dijadikan teladan dan bermanfaat ilmunya, dan insyaAllah kelak menjadi ibu yang bisa mendidik anak-anaknya menjadi generasi yang shalih-shalihah. Aamiin…

Ah, ternyata usia 28 itu complicated sekali…

Terima kasih untuk semuanya, yang menjadikan saya menjadi saya ^__^

Semoga do’a-do’a untuk saya, juga untuk yang mendo’akan ^__^

 

 

 

Adik saya itu…

Namanya Fauzia. Usianya baru 12 tahun. Beda 16 tahun dengan saya. Anaknya aktif dan sibuk. Menyukai camping dan kegiatan-kegiatan outdoor. Jago main bulutangkis. Di usia 8 bulan sudah bisa naik turun tangga dengan “memanjat”. 

Waktu ia duduk di kelas lima, gadis bermata bulat itu mencoba jualan online via blackberry. Menjadi dropshipper dari distributor Bath and Body Works Hand Sanitizer. Kenal dari mana? Alurnya agak panjang untuk dijelaskan. Apparently, distributornya itu seumuran dengan adik saya, diberi “bisnis” oleh ayahnya yang direktur sebuah perusahaan produsen mie instant terkenal. Sehari-harinya si anak itu homeschooling. Di luar itu, sepertinya kedua orang tuanya memberinya banyak kegiatan, salah satunya gymnastics. Di kelas gymnastics inilah, dia bertemu teman sekelas adik saya. Hehehe…. Panjang ya jalurnya…

Awalnya saya bingung, kok bisa “gituan” doang laku di kalangan teman-temannya. Karena harganya lumayan lho. Bukan 10.000-an seperti hand sanitizer yang banyak beredar di pasaran. Belum lagi pocket bag-nya. Bisa mencapai ratusan ribu kalau yang bisa nyala.

Tapi, kemudian kedua orang tua saya (dan saya-karena banyak pengambil keputusan untuk adik saya adalah saya…) berpikir untuk mengembangkan minatnya yang ternyata lumayan menghasilkan. Setiap hari, Zia hampir selalu punya transaksi. Untungnya cuma 5.000 atau 3.000, tapi uang itu dikumpulkan setiap hari hingga suatu ketika tabungannya mencapai angka yang fantastis untuk anak seumur dia.

Saya memperhatikan adanya perkembangan kedewasaan dan kecerdasan emosi. Cara dia menangani pesanan, keluhan dan tanggung jawabnya pada pelanggan menunjukkan kematangan yang saya sendiri tidak menyangka. Adik saya ini harus bekerja keras di pelajaran Matematika, tapi dalam hal bisnis sepertinya perhitungan itu berjalan secara natural (walaupun sesekali dibantu Papa saya).

Selain itu, rupanya distributornya adik saya ini adalah anak yang sangat baik. Tuturnya santun dan cerdas. Sepertinya ia dididik dalam keluarga Katolik yang cukup taat beragama. Selain itu, apabila adik saya mencapai jumlah penjualan tertentu, ia mengirimkan banyak hadiah yang sebagian lalu dijual lagi oleh adik saya (satu atau dua barang kadang dihadiahkan untuk saya). Hehehehe…Untuk adik saya yang sekolah di sekolah Islam sejak TK, bergaul dengan teman yang bukan Muslim adalah sesuatu yang baru. Dari situ, muncul banyak pertanyaan yang diajukan ke saya, yang berkenaan dengan perbedaan agama.

Saya lupa sih, apa persisnya yang saya jelaskan ke adik saya. Tapi basically saya menekankan sopan santun dan nilai-nilai kebaikan yang Islam ajarkan itu universal sifatnya. Kita mungkin berbeda dan tidak bisa disatukan dalam prinsip agama dengan agama lain; akan tetapi dalam hal pergaulan dan pertemanan, akhlak yang baik itu bernilai pahala. Dan tidak ada balasan bagi kebaikan selain kebaikan yang lain.

Tapi itu kisah setahun-an lalu. Zia berhenti jualan online sejak gurunya menyarankan untuk berhenti sementara. Setidaknya sampai lulus SD.

Kemarin, Zia menemukan sisa pocket bag holder yang ada di rumah saya. “Masih ada ya…”, tanyanya.

“Iya masih. Kamu nggak mau jualan lagi, Dek?” tanya saya iseng.

“Mau, tapi nggak mau jualan itu lagi… Nanti jualan pashmina aja…”

“Kenapa?”

“Aku baca alkoholnya 90 %, aku nggak mau ah…”

“Kamu takut haram ya..”

“Iya…”

Adik saya rupanya belum tahu kalau semua hand sanitizer pasti kadar alkoholnya tinggi. Saya hanya jelaskan sedikit tentang penggunaan alkohol yang diharamkan, dan tidak semua alkohol adalah khamr. Entah dia memperhatikan atau tidak. Tapi kemudian saya mendukung prinsipnya. Prinsip yang saya terkejut, ia memilikinya. Maksud saya, saya tidak menyangka dia berpikir sejauh itu.

Berapa banyak orang yang berdagang tanpa berpikir dampak dari barang jualannya. Betapa banyaknya… 

Adik saya masih akan berproses selama Allah masih melapangkan usianya. Sebagaimana semua orang, ia pasti kelak menghadapi masa-masa pasang surut hati dan keimanan. Sesuatu yang beyond my control. Saya hanya bisa menggantungkan doa, semoga Allah menjaganya selalu dalam jalan lurus dan kebaikan. Aamiin aamiin…Insya Allah ^^  

 

Nama Sebuah Rasa

Pernahkah kamu melakukan suatu pekerjaan yang teramat istimewa hingga kamu rasanya ingin menangis karena bahagia? Rasanya seakan seluruh rasa haus terpuaskan hanya dengan melakukannya. Rasanya seperti sepatu kaca bertemu kaki Cinderella:  Bahagia tak terkira.

Saya selalu tahu, bahwa saya bisa mendapatkan rasa itu, salah satunya, ketika saya membaca cerita Rasulullah SAW, berulang-ulang; bahkan jika cerita yang sama dikisahkan lagi oleh orang lain; saya selalu menyukainya. Seperti jarak 14 abad lamanya, diikat dalam mesin waktu bernama sejarah, dan saya bisa berkelana di jaman itu. Membayangkan gersangnya gurun pasir yang tumbuhan enggan bersemi di atasnya, unta-unta yang melenggak-lenggok elegan, dan patung-patung yang mereka jadikan “perhiasan” di dalam Ka’bah dan pelatarannya. Manusia sudah kehilangan pemandunya. Jarak demikian jauh berbilang, dari Nabi Isa AS kepada penutup para nabi, Rasulullah Muhammad SAW memang menjadikan beragama dengan lurus begitu sulit. Bukan tidak ada orang-orang cendikia yang mengimani Allah dan mengikuti risalah Isa AS, atau Musa AS, atau bahkan bertahan sedemikian lamanya menjalankan ajaran Ibrahim AS dan dua puterannya. Namun, rasa butuh akan kedekatan pada Tuhan, menjadikan bangsa Quraisy membuat perantara antara mereka dan Tuhan melalui berhala-berhala. Inilah mungkin, mengapa beriman pada Allah yang tidak terlihat oleh sepasang mata menjadi titik iman paling utama. Meyakini bahwa Allah yang Maha Agung dan Maha Tinggi, juga sekaligus Maha Dekat.  

Di tengah kegersangan hati saya, mengulang kisah Rasulullah SAW seakan hujan dan angin sepoi-sepoi, yang menumbuhkan tunas-tunas tetumbuhan. Mungkin demikian kiranya kehadiran Muhammad Bin Abdullah ke dunia. Orang-orang di bumi Syam bahkan konon bisa melihat seberkas cahaya dari arah Makkah di hari kelahirannya.

Dia, yang teristimewa. Yang akan menutup, menyempurnakan. Melestarikan penyembahan pada Yang Maha Esa, Maha Tunggal. Mengajarkan penyerahan diri seutuhnya pada Tuhan, tiada yang lain selain-Nya.

Rasa itu, entah apa namanya.