Menapaki Jalan Nabi (Part 3: Hati-hati dengan Desir Hati)

Tulisan ini dibuat sepulang Umrah. Beberapa detail sudah terlupakan, ketika saya baca ulang. Saya re-post dan re-share untuk mengingatkan diri sendiri, obat rindu pada yang rindu, dan penyemangat pada yang ingin berangkat :)

Inilah dua tanah yang disucikan. Tiap langkah menuju kebaikan diganjar berkali lipat. Tiap ucapan adalah doa, bahkan desir hati pun bisa menjadi doa. Maka berhati-hatilah dengan apa yang kita pinta. Dan banyak-banyaklah memohon ampunan pada-Nya karena Allah Maha Mengetahui apa yang kita sembunyikan bahkan di dasar hati yang paling dalam. Inilah Mekkah Al-Mukarramah dan Madinah Al-Munawwarah. Dua kota yang terasa seperti bulan Ramadhan sepanjang tahun. Dimana manusia berbondong-bondong menuju rumah-Nya, lantunan ayat suci terdengar dimana-mana, wirid dan zikir, yang lantang dan yang perlahan-lahan. Dua kota dimana manusia berduyun-duyun mengaku dosa pada Tuhannya, meminta ampun atas segala alpa, dan mengadukan pada-Nya segala himpitan dan derita.

Dengan cara yang unik, Allah memberi saya permen karet bermerk Batook. Hanya keinginan yang terbit sesaat. Saya ingat, kantung plastik sudah di tangan, dan permen itu tidak ada di dalamnya. Tapi sampai di hotel, entah bagaimana permen itu ada di dalam plastik yang saya bawa. Dan sang penjual pun merelakannya. Maka jadilah permen Batook itu menjadi milik saya.

Suatu pagi, di Mekkah saya mengidamkan makanan Arab bernama Om Ali. Pernah saya cicipi pada Umrah saya yang lalu. Rasanya manis seperti bubur Farley, makanan bayi. Penuh susu, biskuit dan puff pastry yang dihancurkan bersama susu, kismis dan kacang-kacangan. Tidak banyak yang mengetahuinya. Pagi itu saya bertanya pada seorang laki-laki berkulit hitam dengan baju koki yang hilir mudik di ruang makan, “Do you serve Om Ali?”. “Om Ali?”, ia bertanya balik, seperti keheranan. Kemudian ia mengangkat bahunya. “No? No om Ali?” tanya saya memastikan. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Keinginan saya tidak pupus. Saya sudah mengidamkan makanan ini sejak lama. Pernah suatu hari saya ingin membeli Om Ali di Egyptian Food Festival di sebuah hotel berbintang tapi tidak jadi. Harga seporsinya Rp.139k. Harga yang membuat saya kehilangan selera. Jadi kali ini, saya harus makan Om Ali, tapi saya mau gratis. Entah mengapa saya punya pikiran seperti ini. Saya bukan tipe pencari gratisan atau diskonan. Tapi dari sejak di Madinah saya sudah berdoa di perjalanan, agar saya bisa makan Om Ali gratis. Dan Allah mengabulkannya.

Betapa bahagianya saya saat siang itu restoran ZamZam Hotel menyediakan Om Ali dalam porsi banyak sekali. Tidak banyak yang menyentuh, karena tampilannya memang kurang menarik. Walaupun harus saya akui rasanya tidak selezat Om Ali pertama yang saya coba, tapi saya tetap senang sekali mendapati Om Ali sampai-sampai saya menghampiri pegawai hotel hanya untuk mengatakan, “The Om Ali you serve is very good”.

Suatu hari, Allah pun mengabulkan desir hati saya. Yang tidak saya ucapkan secara lisan, yang saya ucapkan dalam hati, bahkan saat saya seorang diri. Hari itu di Madinah, saya sedang kesal karena suami saya membeli begitu banyak barang dan meninggalkannya untuk saya susun di koper. Setelah menyusun dengan kesal karena merasa buang-buang waktu, itu pun masih berantakan karena dasarnya saya bukan penyusun barang yang baik; saya melihat dua pasang sepatu saya belum dimasukkan. “Aduh”, pikir saya, “ini belum masuk”. “Banyak sekali barang yang harus saya susun. Ini sepatu sudah buluk, seharusnya ditinggal saja di sini. Tapi nanti kalau ditinggal Mama nanyain, ini kan dikasih sama Mama”. Oh iya, hari sebelumnya saya sempat membeli sepasang sepatu murah meriah di pelataran Masjid Quba. Harganya hanya sepuluh riyal. Ada beberapa saat dimana hati saya menyesal membelinya, karena saya sudah berjanji dengan diri sendiri untuk tidak menumpuk-numpuk barang. Saya sudah bawa dua pasang sepatu, untuk apa menambah sepasang lagi. Hanya memenuhi kopor saja. Ada rasa bersalah dalam diri saya.

Hari itu hari terakhir saya di Madinah. Saya ingin ziarah ke Raudhah sekali lagi. Jadi saya seorang diri pergi ke Masjid dan bergabung dengan jamaah Muslimah rumpun Melayu. Oh iya, saya biasa menghafalkan nomor urut penitipan sepatu, jadi saya tidak bingung. Saya ingat meletakkan sepatu saya di penitipan paling kanan yang pintunya tertutup, di penitipan nomor 17. Saat saya hendak pulang dan mengambil sepatu, saya kebingungan mencari-cari sepatu saya. Tidak ada dimanapun! Astaghfirullah… Saya kehilangan sepasang sepatu yang pagi harinya saya keluhkan karena memenuhi kopor. Jadilah saya menghubungi suami saya minta dibawakan sepasang yang lain. Yang menjadi begitu berharga keberadaannya.Saya tidak tahu apa sebabnya. Yang pasti saya lekas-lekas memohon ampun jika saya tidak bersyukur pada-Nya atas sepatu saya. Tapi Allah mengabulkan desir hati saya yang ingin meninggalkan sepatu. Saya tidak perlu repot-repot dan sayang-sayang meninggalkannya, pun segan terhadap Mama yang sudah memberikannya, Allah yang sudah mengambilnya. Siapa yang mau marah?Yah, demikian sekelumit cerita saya, sisanya insyaAllah menyusul esok hari.

Semoga bisa menjadi pengingat bagi kita semua untuk bersyukur dan berhati-hati dengan desir hati bahkan yang paling lembut…

Menapaki Jalan Nabi (Part Dua: Madinah yang Bertabur Cahaya

by Shinta Galuh Tryssa on Tuesday, June 5, 2012 at 8:05am ·

Sebenarnya jarak tempuh dari Jeddah ke Mekkah jauh lebih dekat daripada Jeddah ke Madinah. Fakta ini saya ketahui dari seorang pekerja migran, satu-satunya pekerja migran di antara jamaah umrah, saat saya bercakap-cakap dengannya. Malam itu si Mbak berkerudung kuding muda duduk sendiri dengan canggung. Matanya berkeliling menyisir ruang tunggu yang dipenuhi oleh Jamaah Umrah, bukan hanya dari indonesia, tapi juga jamaah dari Malaysia yang berangkat menggunakan pesawat Garuda Indonesia.

 

“Kampung majikan saya dekat dari Haram (Mekkah, maksudnya), cuma satu jamlah,” ujarnya dengan logat Tegal.

 

“Terus nanti sampai sana dijemput?”

“Iya, nanti dijemput di Jeddah sama majikan saya,”

“Majikannya baik dong, mbak?”

“Iya, Alhamdulillah,”

“Kok bisa pulang, Mbak? Apa memang cutinya” tanya saya lagi.

“Iya, ini dikasih pulang sama majikannya. Untungnya majikan saya nggak punya anak kecil, jadi bisa bebas pulang. Tapi ini saya perhatiin nggak ada yang kerja kayak saya ya. Semuanya orang umroh,” keluhnya.

 

Saya sangat paham perasaannya. Apabila dulu penerbangan menuju Jeddah dipenuhi oleh pekerja migran, sekarang penerbangan menuju Jeddah dipenuhi, disesaki bahkan, oleh jamaah Umrah. Pemerintah sudah menutup jalan pengiriman tenaga kerja migran sejak kejadian terlantarnya banyak Jamaah yang kemudian berdiam di bawah kolong jembatan di Mekkah dan Jeddah. Miris dan sangat dilematis. Di satu sisi banyak dari mereka yang berangkat secara ilegal menggunakan visa umrah, di sisi lain pembinaan yang tidak paripurna dari pihak agen TKI di Indonesia menjadikan permasalahan demi permasalahan kerap kali menimpa pekerja migran, terutama perempuan, di sana. Semakin miris, karena ternyata ada dari mereka yang berangkat dengan ilegal kemudian menjadi bagian dari sindikat pelacuran. Entah si Mbak dari Tegal itu sudah tahu atau belum, tapi bagaimanapun sebutannya sebagai pahlawan devisa, secara status tetap saja dia adalah pembantu. Sedangkan jamaah Umrah, tentulah cukup berpunya sampai bisa berangkat Umrah. Walaupun kedudukan manusia sama di hadapan-Nya, tetap saja tidak sama secara sosiologis. Rasa canggung dan serba salah yang tampak dari gerak-gerik perempuan paruh baya tersebut seolah menunjukkan hal tersebut. Hanya dia yang kembali ke Saudi untuk mencari uang; sedangkan sisanya berangkat membawa uang untuk menghabiskannya di sana.

 

Saya agak berharap dapat menjalani Umrah dulu di Mekkah, baru menghabiskan waktu di Madinah. Tapi ada untungnya juga rutenya tidak demikian; karena kalau Mekkah terlebih dahulu, berarti kami harus berihram dari pesawat. Mandi dan shalat dua rakaat. Untuk saya dan jamaah perempuan mungkin tidak terlalu masalah. Yang agak problematis adalah jamaah laki-laki. Karena dengan pakaian ihram seorang Muslim (bukan Muslimah) tidak diperkenankan untuk mengenakan pakaian berjahit dan menutup kepala. Termasuk pakaian dalam. Jadi selama ihram harus jadi laki-laki “manis”, tidak boleh duduk atau jongkok sembarangan.

 

Enam jam perjalanan Jeddah-Madinah itu cukup melelahkan. Kami sempat berhenti sebentar untuk sarapan dan nge-teh di sebuah pemberhentian. Dan suami saya, lagi-lagi hilang untuk jajan. Kali ini jajanannya adalah Lays extra large. Oh iya, harga Teh di sana murah banget. Hanya satu riyal dengan gula yang besar-besar butirannya. Rasa tehnya agak pahit, dan disajikan langsung dari rebusan air yang mendidih. Lidah saya menjadi korban karena coba-coba menyeruput sedikit. Perjalanan kemudian dilanjutkan. Sepanjang jalan, sejauh mata memandang yang terlihat adalah hamparan pasir dan gunung berbatu, juga bangunan-bangunan yang ditinggalkan. Bus yang kami tumpangi mendadak berhenti. Rupanya puluhan monyet sedang menyebrang jalan. Ini sungguh hiburan menyenangkan. Sebagian sudah sampai di ujung jalan, sebagian lagi masih tertinggal di belakang. Hihihi… Setelah itu pemandangan berganti menjadi penggembala domba yang menuruni pegunungan batu. Variasi yang menarik di tengah pemandangan hamparan pasir dan jajaran pegunungan batu.

 

Akhirnya kami sampai juga ke bagian pemeriksaan. Jalan kemudian terbagi dua, untuk Muslim dan untuk non Muslim. Hal ini dikarenakan dua tanah Haram (Mekkah dan Madinah) Allah jaga hanya untuk Muslim (atau yang mengaku Muslim) saja. Kami belum masuk tanah haram, baru di sebelah luar Madinah. Mas Ghaffur, sang guide menjelaskan, bahwa mulai saat itu kami harus menjaga perbuatan dan memperbanyak ibadah. Karena Allah sendiri yang menjaga kedua kota haram, dan melipatgandakan pahala ibadah kita di sana. 1000 kali untuk Madinah, dan 100.000 kali di Mekkah. Di kedua kota itu, saya merasa, walaupun Allah tidak bertempat, tapi Allah demikian dekat. Kedua kota tersebut adalah kota yang istijabah, sehingga bahkan lintasan hati pun bisa menjadi kenyataan. Oleh karenanya, Mas Ghaffur senantiasa mengingatkan jamaah untuk menjaga lisan dan hati.

 

Pffuh… Menjaga lisan saja sudah sulit, bagaimana dengan hati dan lintasannya yang kadang lewat tanpa diminta dan tanpa kita sadar. Tapi di sana saya belajar, bahwa lintasan hati itu berbanding lurus dengan amal ibadah kita. Kalau kita cenderung pada kebaikan, banyak melakukan perbuatan baik, insya Allah lintasan hatinya pun lintasan hati yang baik. Ibaratnya, lintasan hati adalah hasil akumulasi dari amal ibadah kita. Saya percaya itu. Orang yang terbiasa berbuat baik, dan condong pada kebaikan pasti lintasan hatinya juga baik. Orang yang disibukkan dengan mengingat-Nya, maka lintasan hatinya pun penuh dengan ingat pada-Nya.

 

Menjelang Zuhur, saya sampai di hotel. Alhamdulillah hotel kami dekat dengan Masjid Nabawi. Masjid Nabawi, berdesir hati saya memandangnya. Leleh hati saya saat Zuhur itu memasukinya. Betapa rindunya saya memasuki Masjid yang di sana Rasulullah SAW membangun peradaban Islam, mendidik para sahabatnya hingga menjadi orang-orang hebat, terpandang di bumi dan langit. Islam yang kita terima sebagai agama, di sanalah awalnya…Payung-payungnya terbuka menyambut pagi, menjaga jamaah dari terik mentari. Kipas angin berukuran besar tergantung, bukan hanya menghembuskan angin, tapi sekaligus menghembuskan uap air menyejukkan.

 

Dinginnya udara Masjid Nabawi menyapa saya segera. Agak susah mendapatkan shaf yang “bagus” kalau berangkat kesiangan. Alhamdulillah Zuhur pertama itu saya masih mendapatkan shaf di bagian dalam, yaitu bagian “Women Without Children Section”. Bagus dipisah begini, agar yang membawa anak-anak tidak mengganggu mereka yang ingin khusyuk beribadah.

 

Pemandangan saya dihiasi dengan perempuan-perempuan yang cantiknya Masya Allah. Apalagi perempuan-perempuan Iran. TUbuhnya tinggi semampai bak model, kulitnya putih bersih kontras dengan jubah hitam yang mereka pakai. Jubah yang sebenarnya tidak selalu mereka pakai dalam keseharian di negaranya. Ada pula perempuan-perempuan yang tampak seperti orang Eropa, tapi versi jauh lebih cantik. Pasti dari negara-negara Syams. Kabarnya di sana bahkan bayangan orang-orangnya pun cantik dan tampan. Saya merasa kecil dalam arti kata sebenarnya. Kecil, pendek dan bulat. Hihi… Sedangkan mereka tinggi-tinggi dengan tulang besar semampai. Bahkan yang paling gendut pun cantiknya luar biasa.Subhanallah…

 

Madinah selalu menempati tempat spesial di hati saya karena sejumlah alasan, di luar keberkahan luar biasa yang Allah limpahkan padanya. Pertama, di sanalah tinggal keturunan orang-orang Anshor, golongan orang-orang yang lebih dahulu menerima Islam. Orang-orang dengan hati yang lembut, tingkah laku yang hangat dan memiliki tingkat kemurahan hati di atas rata-rata orang banyal. Pun keturunan orang-orang Muhajirin, mereka yang berhijrah karena Allah. Orang-orang yang rela meninggalkan apa-apa yang dicintainya demi keselamatan, kejayaan agamanya; dan ketaatan pada Tuhan dan Rasul-Nya.

 

Kedua, Madinah adalah kota para pecinta ilmu. Inilah warisan Rasulullah SAW, sebuah kebiasaan yang mendarah daging. Majlis-majlis ilmu konon lebih banyak ditemukan di Madinah daripada kota-kota lain di Saudi Arabia. Di sanalah, Rasulullah SAW mendidik ummat Islam. Di sana, di Madinah yang bertabur cahaya. Al Munawwarah yang dicinta dan didamba…Pada hari terakhir saya di Madinah, sekembalinya saya dari Raudhah, saya melewati satu bagian di Masjid Nabawi dimana beberapa orang Muslimah sepertinya sedang “setor” hafalan kepada sang ustadzah. Saya menebak melalui gaya-gaya mereka komat-kamit sambil merem melek, dengan Al-Quran di hadapannya. Yang komat kamit sambil merem melek, pasti orang-orang auditori yang sedang menghafal. Hihi…

 

Saat itu terbit rasa cemburu dalam hati saya. Ah, betapa beruntungnya mereka. Mengajarkan dan menuntut ilmu langsung dari tempat pertama kali peradaban Islam dibangun oleh Sang Nabi SAW. Semoga suatu hari saya pun bisa, mencapai derajat keilmuan yang tinggi dalam agama ini. Amiin.

 

Suami saya jatuh cinta dengan kota Madinah. Waktu yang dihabiskannya di dalam kamar sangat sebentar, sisa waktunya dihabiskan di luar. Untuk shalat, jajan, dan berkeliling tempat-tempat yang dekat. Suami saya bahkan sudah bersahabat dengan pemuda Sudan menjual Al-Quran untuk Waqaf. Yang pagi sore, siang malam, tidak lelahnya memasarkan, “Waqaf waqaf waqaf…” dengan gayanya yang khas. Suami saya bahkan sempat berfoto berdua dengannya. Hihi…

 

Kecintaan ketiga saya pada Madinah adalah karena saya merasa “aman” berbelanja di sini. Apabila barangnya tidak bagus, pedagangnya langsung mengatakan. Apabila bukan barang asli, pasti juga dikatakan. Seringkali kita diberi “bonus”, walaupun itu hanya sebiji korma. Suatu hari saya menitip sikat gigi pada suami yang hendak membeli titipan seorang teman di Supermarket Bin Dawood, Madinah. Sampai di hotel, barangnya tidak ada, tapi tertera si struk. Artinya sudah dibayar. Suami saya kembali ke Bin Dawood. “Luar biasa,” kata suami saya, Mereka sangat welcome dengan suami saya sampai berkenalan dan suami saya dibawa ke mechanical room, demi mengusut satu barang sepele. Hanya sebatang sikat gigi. Mereka sungguh-sungguh mencari, menelusuri kemana dan bagaimana sampai sebatang sikat gigi bisa lolos dari plastik. Dan akhirnya ketemu. Diberikan pada suami saya dengan baik dan hangat.

 

Suatu kali pernah juga saya belanja di toko kelontong dekat hotel. Beli cemilan dan air minum. Di kasir saya melihat permen karet strawberry yang menggoda dan memiliki nama yang unik, ‘Batook’. “Hihi, ini permennya bikin batuk kali ya, Bang…”, begitu canda saya dengan suami. Hampir saja saya beli, tapi tidak jadi. Entah bagaimana ceirtanya, permen itu tiba-tiba sampai di plastik belanjaan kami. Saya panik karena tidak merasa membeli. Lekas-lekas saya kembali ke toko kelontong hendak mengembalikan permen karet. Tapi bapak tua pemilik toko, mengibaskan tangannya, “halal, halal, halal…”. Saya boleh membawa permen itu dengan percuma.

 

Di depan Masjid Nabawi ba’da Shubuh dan Ashar pasti ada pasar kaget. Biasanya di sela-sela waktu Shalat yang jedanya jauh. Persis di depan Masjid Nabawi ada penjual kerudung yang menjual dengan “Atraksi”. Penjualnya berdiri di atas kursi, kadang juga tidak pakai kursi lalu membuka dagangan dengan cara melempar-lempar dagangan, “Lima Riyal, Murah murah murah…”. Kain-kain Pakistan itu berterbangan kemana-mana. Bahkan sampai ke jalanan. Seringkali apabila saya melintasinya saya memungut satu dua yang tercecer lalu saya kembalikan. Perempuan mana yang tidak suka. hihi… Dan hebatnya, saat saya membeli enam, saya katakan pada penjualnya, “Enam, Sittah”. Sok-sok berbahasa Arab. “Masya Allah, sittah…” ujarnya seperti kaget karena saya tahu bahwa enam itu sittah dalam bahasa Arab. “tiga puluh riyal”, ujarnya menyerahkan bungkusan, tanpa menghitung ulang. “tidak dihitung?” tanya saya sambil memberi isyarat. Pedagang di Madinah dan mekkah memang bisa berbahasa indonesia yang sifatnya bisnis. Hihi.. tapi untuk detail mereka tidak bisa. “Tidak. Enam, Sittah, halal.” ujarnya sambil mengibaskan tangan dan tersenyum. Tinggal saya yang takut jangan-jangan saya mengambil kerudungnya lebih dari enam. gaya mengibaskan tangan sambil menggoyang kepala itu memang ciri khas orang-orang Arab. Laki-laki maupun perempuan. Dari pedagang, petugas hotel, sampai askar Masjid.

 

Suatu hari, suami saya pulang dari perburuan belanjanya membawa dua botol parfum Lacoste. Negara Arab memang terkenal dengan harga parfumnya yang luar biasa murah. Dan original. Karena kalau palsu mereka pasti bilang. “Ini Abang ngutang sama yang jual…” ujar suami saya. “Hah? Kok bisa?” tanya saya bingung. “Iya, tau-tau abang ditawarin dua, harganya murah banget. Tapi Abang nggak bawa duit, katanya nggak apa-apa, nanti saja setelah Isya atau kapan saja dibayarkannya. Ini juga masih dikasih bonus parfum Arab yang bentuknya bolpen”, jelas suami saya, penuh semangat.Penduduk Madinah juga sangat murah hati.

 

Selain bonus yang diberikan dalam perniagaan; seringkali jamaah diberi “sedekah”, walaupun itu hanya siwak dan kurma. Seperti suatu sore di depan Masjid Nabawi. Seorang lelaki Arab berparas bersih, tinggi semampai membagi-bagikan hadiah. Apa itu kiranya? Saya dan suami pun mendekat. Rupanya bungkusan itu sudah habis saat saya dan suami datang. Kami hendak beranjak pergi saat laki-laki itu membuka bungkusan baru. Orang-orang mendadak penuh berkerumun di sekelilingnya. Ada yang bagi-bagi gratis? Siapa yang tidak mau. Saya dan suami sudah agak jauh, lalu lelaki itu memanggil kami. Suami saya yang datang, dan lelaki itu memberi kami dua bungkus kurma. Satu bungkus berisi enam atau tujuh kurma. Alhamdulillah.

 

Oh ya, ngomong-ngomong kurma, Madinah ini surganya Kurma. Dan favorit saya adalah kurma yang belum terlalu matang yang masih menggelayut pada batang-batangnya. Rasanya manis, ada sedikit asam dan sepet. Tapi nikmatnya… Apalagi dimakan dalam keadaan dingin, di tengah cuaca panas terik. Nyam nyam… Lezat sekali. Subhanallah…Dan tentunya, yang tidak bisa dilupakan adalah ziarah saya ke makam Rasulullah SAW dan dua sahabat yang mengapit beliau, Abu Bakar dan Umar. Ini istimewa rasanya, karena bagi perempuan, Raudhah (artinya “taman”) tidak dibuka setiap saat, oleh karena Raudhah berada di bagian jamaah laki-laki, bahkan menjadi tempat imam memimpin shalat. Yang dimaksud dengan Raudhah adalah tempat di antara mimbar dan rumah Rasulullah SAW. Pertanyaannya adalah, dimana rumah Rasulullah SAW? Rumah beliau adalah tempat beliau dikuburkan. Oleh karena kabarnya, para nabi dan rasul dikubur di tempat mereka meninggal. Sedangkan Rasulullah SAW wafat di kamar Aisyah.

 

Masya Allah… saya bertamu ke rumah Rasulullah SAW??

 

Nah, di masa lalu Masjid Nabawi memang tidak sebesar sekarang, arsitekturnya dipisahkan, dibuat agak berbeda untuk menandai Masjid yang orisinal dan perluasannya yang kita kenal sekarang. Rumah Rasulullah SAW (yang sekarang menjadi bagian dari Masjid Nabawi) persis berada di sebelahnya. Di antara rumah beliau dan mimbarnya, Rasulullah SAW suka sekali duduk berlama-lama. Awalnya tidak ada yang tahu apa sebabnya; sampai kemudian beliau mengatakan bahwa di antara rumah beliau dan mimbarnya adalah taman syurga (Raudhatul jannah), dan di sana Allah mengabulkan semua apa yang diminta manusia. Huff.. Ini salah satu tempat paling istijabah di dunia..

 

Saya agak mengharu biru saat dini hari itu pergi ke Raudhah bersama rombongan Ibu-ibu. Bayangkan, selama ini saya hanya bisa membayangkan, mengira-ngira seperti apa sosok agung yang seluruh Muslim di dunia senantiasa menebarkan shalawat dan salam padanya; dan sekarang, saya akan melihat makamnya. Katanya salam kita langsung sampai pada beliau dan beliau sendiri yang menjawabnya… Astaghfirullah, Subhanallah… Salam kita dijawab LANGSUNG oleh Rasulullah SAW?

 

Lalu sampailah saya di sana. Setelah menunggu giliran, mendahulukan rombongan jamaah Muslimah Iran lalu Pakistan, tibalah saatnya rombongan Melayu. Oh iya, jamaah perempuan yang hendak ziarah memang dibagi per kebangsaan dan bahasanya. Kebangsaan Arab biasanya terdiri dari orang-orang Saudi, orang-orang dari Syams, Maroko, dan yang berbahasa Arab lainnya. Kebangsaan Pakistan terdiri dari orang-orang Pakistan, India, Bangladesh dan yang satu bahasa dengan itu. Kebangsaan Melayu terdiri dari Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura, Pattani (Thailand Selatan) dan Filipina. Ada sedikit kelegaan dalam diri saya karena jamaah Iran dan Pakistan sudah berlalu. Jamaah Iran yang tinggi besar seringkali meratap-ratap dengan suara lantang dan agresif perilakunya. Melangkahi orang seenaknya, duduk di antara dua orang seenaknya. Pernah satu kali saya tidak bisa rukuk karena persis di depan saya berdiri perempuan Iran menggotong kursi roda! Di tengah pelaksanaan shalat berjamaah, mereka hilir mudik mencari tempat, dan berdiri di depan orang-orang shalat. Astaghfirullah… Ibadah mereka pun agak berbeda, mungkin karena mereka Syiah. Sedangkan jamaah Pakistan agak lebih tertib tapi sama-sama suka meratap-ratap. Memang lebih baik menunggu sampai giliran terakhir.

 

Para askar sibuk berteriak dengan suara mereka yang nyaring, “Yallah Hajjah hajjah…”, sambil mengibaskan tangan, atau menepuk-nepuk tangan. “Hajjah” dulu mereka gunakan untuk memanggil seluruh jamaah perempuan. Sekarang Hajjah mereka gunakan untuk memanggil jamaah turunan Arab. Untuk jamaah Indonesia mereka memanggil dengan, “Ibu..Ibu..Ayo Ibu, jalan terus,”. Dan memanggil “Khanoum” untuk muslimah Iran.

 

Bagian Raudhah ditandai dengan karpet hijau, jadi setelah bershalawat pada Rasulullah SAW :’) memberi salam pada dua sahabatnya; saya tidak mau melepaskan pandang dari karpet. Begitu masuk ke karpet hijau, blas! Lepas semuanya. Leleh air mata saya. Doa saya panjatkan, shalat sunnah dua rakaat saya tunaikan. Saat itu demikian berharga hingga saya berharap waktu berjalan lebih lambat. Tunggulah sebentar lagi. Sedikit lagi. Di bumi yang saya sujud di atasnya, siapakah yang shalat di sini 14 abad lampau? Apakah Rasulullah SAW pernah duduk di sini? Pernah mengajarkan Islam di sini? Semoga shalawat dan salam tercurah padamu selalu, duhai Muhammad bin Abdullah. Yang ditawarkan emas sebesar gunung Uhud namun memilih hidup miskin dan mati miskin. 

 

Saya cinta Madinah. Madinah dan penduduknya yang berdagang bukan sekedar mencari keuntungan. Madinah dan penduduknya yang berdagang mencari kelimpahan berkah. Madinah yang meninggalkan perniagaan saat azan berkumandang. Madinah yang sama, belasan abad silam menyambut kedatangan Rasulullah SAW dengan penuh suka cita. Nabi baru yang mulia, yang membuka hati mereka dari kegelapan menuju cahaya. Madinah yang sama, yang menyokong Rasulullah SAW dan para sahabatnya memulai kehidupan setelah pahit getir yang dilalui di Mekkah dan kezhaliman orang-orang kafir Quraisy. Madinah yang sama, saat Allah akhirnya membuka tirai gelap masa-masa suram dan memberi celah kegemilangan Islam melaluinya.

 

Menapaki Jalan Nabi (Part 1: Jakarta-Jeddah)

Kisah ini diawali di suatu pagi, pada hari Jumat yang diberkahi. 25 Mei 2012. Hari keberangkatan saya dan suami ke tanah suci, sekaligus hari gajian. Pukul sembilan pagi, kami berdua beserta sanak saudara sudah berangkat menuju bandara. Pesawat memang dijadwalkan take off jam 4.50 sore, tapi para peserta Umrah diharuskan berkumpul jam 1 siang ba’da shalat Jum’at. Jadilah kami berangkat pagi-pagi, saat jalanan masih begitu pada dengan mereka yang giat mencari sesuap nasi. Tim “Hore” yang mengiringi kami memang cukup banyak. Ada orang tua suami saya, ibu saya, plus kakak dan adik saya. Hihihi… Harap maklum, Umrah kan Haji mini. Kalau Haji saja perjuangannya hidup dan mati, berarti Umrah, yaaa… versi mininya dari itu, direduksi berkali-kali :p. Lagipula ini bukan “jalan-jalan” biasa; ini Umrah, sodara-sodara! Ibadah yang Allah perintahkan para Rasul-Nya untuk dilakukan. Melihat rumah yang ditinggikan Nabi Ibrahim AS dan dimuliakan anak keturunannya. Ibarat bertamu, ini bukan cuma bertamu ke Istana Presiden atau Istana raja manapun, ini bertamu ke rumah Pemilik Seluruh Alam Raya!! Jadi nggak berlebihan rasanya kalau kami berdua, saya dan suami sampai “dikawal” sejumlah kecil pasukan.

Terakhir saya Umrah itu tahun 2005, kuliah semester 5. Saat itu bulan Juni-Juli. Cuaca demikian terik. Suhu nyaris mencapai 50 derajat, setengah mateng! Keadaan Mekkah pun kian hiruk pikuk oleh ummat Islam dari seluruh dunia. Kebetulan negara-negara Arab dan Afrika sedang libur sekolah juga. Jadi klop! Kata Mama, ‘rasanya lebih ramai dari waktu Mama haji’. Tapi itu 2005, tujuh tahun lalu. Dengar-dengar tahun 2012 ini setiap bulannya, jamaah Umrah seperti musim Haji. Apalagi jamaah Indonesia. 2012 itu tahun dimana jumlah jamaah umrah mengalami peningkatan signifikan. Dalam satu bulan, kedutaan besar Saudi Arabia bisa mengeluarkan visa sampai 20.000 lebih visa Umrah. Itu pun masih ada yang tidak kebagian visa. Subhanallah…

Mungkin karena di seluruh Indonesia (keccuali Papua, mungkin) saat ini sudah merata, waktu tunggu untuk dapat porsi Haji reguler mencapai 10 tahun; sedangkan haji plus bisa sampai 4 atau 5 tahun; jadi orang-orang berlomba-lomba untuk Umrah, boleh jadi khawatir tutup usia, rizki sudah ada, tapi belum sampai waktunya. Membayangkan harus nunggu 10 tahun saja rasanya nyesek ya… hiks…Nunggu sejam saja kita sudah gelisah, apalagi menunggu 10 tahun!

Kembali ke perjalanan saya dan suami; sampai di tengah jalan, cobaan pertama datang. Tante saya, marketing travel Arminareka Perdana, menelepon, mengabarkan kalau pesawatnya delay jadi pukul 8 malam. Okay. Baiklah. Kami sudah separo jalan, tinggal meneruskan. Pukul 11 kami sudah sampai. Menunggu sampai pukul 8? Insya Allah tidak masalah. Toh kerinduan saya sudah menahun ingin pergi ke sana. Apalah artinya menunggu sembilan jam. Setelah mengurus kopor, ini dan itu, setelah shalat Jum’at, kami check in. Saya dan suami menghabiskan waktu di salah satu lounge. Menyibukkan diri dengan makanan, membolak-balik koran, online internet, makan lagi, baca koran lagi, main internet lagi… hihihi… Kami menunggu dengan sabar, sekaligus tidak sabar. Jantung saya berdebar-debar seperti hendak bertemu pacar. Grogi, senang, excited, ada sedikit kecemasan, takut, apalah itu namanya…

Saat akhirnya kami boarding, saya merasa seperti anak kecil yang mau berangkat sekolah untuk pertama kali. Norak. Hihi. Dapat seat nyaris paling buntut, yang sepertinya belum pernah saya rasakan sepanjang sejarah perjalanan saya dengan pesawat, dan turbulensi yang Masya Allah… Kata suami saya, “Nggak ‘lewat’ aja udah bagus”. Oh iya, untuk suami saya, ini kali pertama dia berangkat Umrah. Jadi saat turbulensi, saat saya merasa “diayun-ayun” sambil tidur dan suami saya merasa meregang nyawa; dia sempat bertanya, “Dulu kamu begini juga nggak?”. “Aku lupa. Aku taunya udah sampe.” Wkwk… Maksud saya, sepertinya sepanjang jalan saya tidur, jadi lupa apa ada turbulensi atau tidak. Suami saya bahkan sempat ngobrol sama pramugara baik hati. “Mas, emang begini ya kalau ke Saudi?”, tanya suami. “Iya, Bapak baru pertama ke Jeddah ya? Memang selalu begini, Pak, setiap pesawat melintas di atas Kolombo. Ini belum apa-apa. Beberapa waktu lalu pesawat sampai harus mendarat di India, karena ada pramugari yang terlempar beserta bawaannya saat turbulensi di atas Kolombo. Pramugarinya harus dirawat segera,” ujarnya.

Suami saya selalu lebih takut pada turbulensi pesawat ketimbang saya, karena suami saya adalah Insinyur Pesawat :p. Ya, setidaknya itu major yang diambilnya saat kuliah di ITB dulu. Makanya, walaupun pekerjaannya berbau transaksi finansial, Suami saya paham sedikit banyak tentang seluk beluk mesin pesawat dan betapa “ringkih”-nya pesawat itu sebenarnya. Kehilangan satu bagian kecil saja, ujarnya suatu hari, pesawat sangat rentan kecelakaan.

Saya bukannya tidak takut. Ada sekelebat ingatan saya akan Mama dan Papa saya saat turbulensi hebat itu terjadi. Mendadak saya kangen Mama Papa. Tapi saat itu saya berusaha pasrah. Yasudahlah. Allah yang menggenggam nyawa saya, mau di daratkah, di lautkah, di udarakah; itu hak Allah untuk mengambil nyawa saya. Ini pelajaran kedua kami, setelah pelajaran sabar di bandara tadi. Pelajaran pasrah. Saya benar-benar paham mengapa doa orang-orang yang ada dalam perjalanan itu istijabah (dikabulkan). Karena ketergantungannya dengan Allah sangat tinggi. Siapa-siapa yang dicinta, apa-apa yang dicinta, tidak bisa dibawa serta dalam perjalanan kita. Bahkan ada suami saya di sebelah saya, pada dasarnya hubungan dengan Allah nafsi-nafsi sifatnya. Yang kita bawa dalam perjalanan hanyalah sedikit saja perbekalan dunia. Dan perbekalan takwa-lah yang menjadi bahan perhitungan-Nya.

 

Kami akhirnya sampai dengan selamat pukul 3 dini hari. Kemudian mengurus ini itu sampai jam setengah lima, dan akhirnya shalat Shubuh di bandara. Ada perubahan kecil yang saya lihat, kamar mandinya sekarang lebih bersih dan terawat. Pada dua umrah sebelumnya, seingat saya, kamar mandi di Saudi, kecuali di hotel, jarang ada yang bersih. Yah, mirip-mirip dengan Indonesia-lah.

Oh iya, sejak berangkat, saya mengamati suami saya. Entah apakah karena Mamah (Ibu Suami saya) sempat bergumam malam harinya, “Pasti dia (suami) di sana jajan terus tuh ya…”, atau karena suami saya merasa terbebas dari beban kantor; suami saya benar-benar jajan di setiap tempat. Begitu sampai di Jeddah, langsung mengajak saya jajan. Hihi…

Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Madinah dengan Bus. Madinah cuy! Madinah… Madinah… MADINAH!!!!

Sampai jumpa di Madinah yaa…  

P.S. harap sabar ya… Saya orangnya kalau cerita nggak runut, kalau berusaha runut jadinya panjang… hehe…