Apa Alasanmu Untuk Tidak Sholat?


Mungkin pertanyaan yang sering muncul di pikiranmu yang cerdas itu sama seperti pertanyaan Adikku.

Adikku yang umurnya 7 tahun juga suka protes saat disuruh sholat. Dia bahkan pernah bertanya, “Emang buat apa sih aku sholat?”. Pertanyaan yang dipertanyakan semua orang. Untuk apakah seorang muslim menjalankan sholat?

Suatu hari hujan turun deras sekali. Angin bertiup kencang dan petir manyambar-nyambar. Anak-anak manapun pasti mencari ketiak orang tuanya untuk bersembunyi. Termasuk adikku yang langsung kabur ke kamar orang tuaku.

“Kamu takut ya?” tanyaku.
Ia mengangguk cepat dari balik selimut di tempat tidur Mama dan Papa.
“Aku enggak…” ucapku.
“Aku takut petir, Kak,” ujarnya.
“Aku enggak. Petir kan makhluk Allah. Hujan juga makhluk Allah,” jawabku.
“Coba adek, kalau takut gini, mintanya sama siapa?” tanyaku kembali.
Ia menjawab perlahan. “Allah…”
“Makanya sholat, dong. Kan Allah tempat kita berlindung,dek”.

Walaupun jawabanku tidak serta merta membuatnya rajin sholat, tapi alasan untuk sholat, menurut pendapatku (dan karena negara ini negara demokrasi maka bebas-bebas saja aku berpendapat begini, kan?), sebenarnya sesederhana itu. Kita pasti pernah merasa takut atau khawatir terhadap sesuatu. Mulai dari hal-hal kecil sebagai dampak trauma atau hal-hal yang besar seperti masalah finansial, masalah perceraian dan lain sebagainya.

Dan kemana kita pergi saat ketakutan itu melanda?

Sekuat-kuatnya kita, sepintar-pintarnya kita, seberkuasa-kuasanya kita, sebanyak-banyaknya uang yang kita punya; saat ketakutan itu melanda, kita mendadak ‘menciut’ dan segala kelebihan apapun yang kita miliki dan bangga-banggakan mendadak tidak lagi berarti untuk melawan rasa takut itu.

Lalu, dari mana ketakutan itu berasal? Siapa penciptanya? Dan siapa pula yang menciptakan seluruh kejadian dan takdir hidup kita yang saling kait-berkait satu sama lain ini yang kadang menjebak kita dalam ketakutan saat menjalaninya?

Aku yakin, bahkan seorang profesor filsafat atau seorang psikoanalis sekalipun akan lari terbirit-birit saat gempa bumi atau gelombang tsunami menghadang. Sepintar apapun ia menjelaskan kepada mahasiswanya atau kepada kliennya tentang hal ihwal, asal muasal rasa takut itu. Rasa takut adalah respon spontan. Reaksi atas kebutuhan kita akan kekuatan yang lebih tinggi. Kekuatan yang tidak ada lagi di jagad raya ini yang bisa menandingi.

Aku seringkali dengan Google Earth ‘memandang bumi’ dari atas. Hanya untuk satu tujuan, menyadari betapa kecilnya diriku yang sedang menggerakkan mouse menjelajahi bumi. Namun mengapa aku yang kecil bahkan tidak nampak barang satu pixel pun dari ‘atas bumi’ itu diberikan kemampuan untuk menyadari eksistensi ‘kekecilan’ dan kelemahanku? Dan diberikan pula diriku kemampuan untuk menyadari gejala-gejala alam yang mungkin dapat meluluhlantakkan diriku sendiri, seperti tsunami atau gempa bumi? Dan pertanyaan paling esensial, siapa yang memberikanku semua kekuatan itu?

Selalu ada alasan untuk setiap kejadian. Dan selalu ada jawaban untuk setiap pertanyaan.

Dan semoga saja jawaban-jawaban dari semua pertanyaanku akan menjawab pertanyaan besar di atas…

*dedicated untuk para cerdik cendikia yang mungkin lupa hakikat dirinya,,,

4 thoughts on “Apa Alasanmu Untuk Tidak Sholat?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s