Despite of Everything, I’m Happy!!!


Aku selalu membayangkan sebuah pernikahan yang sederhana dan penuh makna. Aku selalu membayangkan bahwa menikah berarti kita tidak pernah merasa kesepian. Aku membayangkan pula sebuah pernikahan yang dipenuhi dengan begitu banyak kesamaan antara aku dan suamiku.

Tapi ternyata, aku tidak sepenuhnya benar tentang pernikahan bayanganku.

Menikah tidak sesederhana kelihatannya. Memang hanya dilakoni oleh dua orang: aku dan suamiku. Tapi menikah adalah lakon dengan sejuta peran pembantu, baik peran antagonis maupun protagonis. Menikah adalah lakon dengan berbagai latar, dengan berbagai topeng. Menikah adalah lakon tanpa skenario. Menikah adalah dialog panjang berbusa-busa di saat tertentu; dan di saat yang lain menikah adalah berbagi keheningan. Bahkan ada kalanya menikah adalah monolog.

Seperti halnya sandiwara-sandiwara terkemuka, semakin rumit alur ceritanya, semakin butuh pemikiran panjang, semakin bermakna mendalam sebuah sandiwara itu. Begitu juga dengan pernikahan. Semakin banyak ujian yang dihadapi, seharusnya semakin dalam makna sebuah pernikahan itu. Kadang-kadang, untuk membuktikannya, aku mencari kerutan halus di kening atau di bawah mata. Semakin dalam aku memikirkannya, berarti seharusnya semakin banyak pula kerutan di kening dan di bawah mataku.

Tapi tentu saja, menikah bukan main sandiwara. Menikah adalah realita. Bukan konstruksi realita. Menikah itu kehidupan. Tidak untuk dijalani kapan pun dan diakhiri kapan pun. Tidak untuk dilihat banyak orang bobrok dan aibnya. Tidak untuk disoraki. Tidak pula untuk menipu penonton. Menikah adalah komitmen untuk terus bersama-sama. Mencium bau ‘iler’ yang sama di pagi hari, mengendus bau keringat yang sama di malam hari. Menyeka peluh di kening yang sama. Mengantar dan menyambut orang yang sama. Dan menghaturkan doa sepanjang hari baginya. Orang yang sama. Selama-lamanya.

Kadangkala, atau malah sering kali, aku merasa kesepian. Menanti suamiku pulang ditemani Facebook, tugas kuliah, dan DVD semalaman. Menangis sendirian, tertawa juga sendirian. Sampai-sampai aku merasa menjadi heavy viewer, dan mulai terbawa-bawa perilaku Betty Suarez dalam film Ugly Betty, kesukaanku. Ada masanya aku protes. Merasa tidak dihargai. Apalagi semenjak kehadiran istri kedua suamiku yang bernama lengkap Blackberry Gemini alias blekedet. Sepanjang malam tangannya sibuk di keypad. Tertawa entah pada siapa dan menertawakan apa.

Ada kalanya aku marah. Ingin disanjung-sanjung lagi, ingin dipuja-puji lagi, ingin dimanja-manja lagi. Ah, memang dasarnya aku affectionate dan needy. Tapi, mana paham suamiku yang anak teknik itu. Hidup bagi suamiku segampang rumus fisika, dan se-ribet rumus matematika. Aku berpikir hidup yang penuh makna dalam dan dramatis. Penuh puisi dan lantunan ayat suci. Se-simpel membuat cerita pendek, dan se-susah mengakhirinya.  Dan suamiku memasukkan berbagai rumus hitung-hitungan dalam hidup dramatis versi aku. Jadilah kami bertemu, dua makhluk dari planet yang berbeda dengan cara berpikir yang berbeda pula.

Seseorang pernah bertanya, ‘apakah aku bahagia?’.

Dan, despite of everything, ‘YA, AKU BAHAGIA’.

Perbedaan itu membuat kami belajar menghargai. Perbedaan itu membuat kami belajar menerima. Perbedaan itu membuat kami belajar mendengarkan.

Suamiku rela memerahkan kupingnya, mendengarkan omelanku saat dilanda cemburu. Rela menunggu redanya tangisku saat mengharu biru. Rela memakan masakanku yang rasanya abu-abu. Rela membaca tulisanku, walaupun dia tidak suka membaca. Rela menjadi segala-galanya bagiku.

Dan aku pun belajar. Mendengarkan penjelasannya tentang gejolak pasar bursa.  Mendengarkan Sri Jegarajah di Squawk Box CNBC dan mengangguk-angguk sok ngerti. Mengerahkan seluruh kemampuanku untuk memahami teori kecepatan cahaya dan kecepatan peluru saat ditembakkan, walaupun kalau itu orang lain aku pasti bergumam, “you know what, i don’t give a damn…”.

Tapi dia suamiku, dan aku istrinya. Tugas kami adalah mencintai. Dan mencintai dapat diterjemahkan dengan bersama-sama mendengarkan, memahami, merelakan, dan… berusaha keras untuk itu.

So, pernikahan itu memang berbeda dengan bayanganku. Karena penikahan itu lebih indah ketika dijalani, bersama-sama.

And, yeah, despite of everything, i’m HAPPY!!!

 

Hubby And Me

Despite of Everything, I'm Happy

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s