Mencari Kanjeng Nabi, Resensi Sangat Subjektif buku “Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan” karya Tasaro GK


Shalawat dan salam teruntuknya, Rasulullah Muhammad, keluarganya, serta kerabatnya…

Mungkin sudah banyak yang membuat resensi buku ini sebelumnya. Mungkin saya terlambat. Tapi, saya hanya ingin menuliskannya, sekaligus membaca bukunya lagi dan lagi.

Saya bahkan sudah lupa harga dan dimana saya membelinya. Saking lamanya buku itu terbengkalai, tertutup oleh plastik pembungkusnya, terjejer rapi, agak terdesak, bersama dengan buku-buku lainnya yang juga masih ‘berbaju plastik’. Kalau tidak salah, awal Ramadhan saya mulai membacanya. Halaman pertama, dan saya langsung jatuh cinta.

” Ibu, jika kelak ada orang yang salah paham

dengan terbitnya buku ini,

aku yakin itu terjadi

karena mereka mencintai Kanjeng Rasul.

Dan, percayalah Ibu,

aku menulis buku ini disebabkan alasan yang sama.”

Pun saya membeli dan mulai membacanya, disebabkan alasan yang sama: cinta dan rindu pada Kanjeng Nabi. Jadi saya yakin, saya tidak akan menyesali tiap sen yang sudah saya keluarkan untuk membeli buku itu.

Sesuai judulnya, buku ini memang menuturkan kisah tentang Muhammad bin Abdullah, bersisian dengan kisah fiksi tentang Kashva, seorang ‘Pemindai Surga’ dari Persia, yang menempuh perjalanan panjang menemukan hakikat kenabian. Mencari lelaki terakhir yang dijanjikan, sang pencerah yang terpuji yang namanya (rupa-rupanya) muncul hampir di setiap kitab suci agama-agama terdahulu dalam berbagai rupa yang semuanya mengarah pada satu makna: yang terpuji.

Selain itu, Tasaro GK juga memasukkan kisah asmara yang rumit antara Kashva dan Astu tanpa Kashva pernah menyadari bahwa sesungguhnya dirinya telah menjadi bagian dari konspirasi besar memurnikan ajaran tauhid yang dibawa oleh nabi Zardust. Bayangan saya tentang Astu adalah seperti Princess Tamina dalam film Prince of Persia: The Sands of Time. Cerdas, kuat dan cerdik. Karakternya sangat menarik yang menjadikan keduanya, pasangan Kashva dan Astu menjadi kombinasi yang rumit sekaligus romantis dengan cara yang cerdas.

“…Mencintai ada titik komprominya. Masih bisa tersimpan rapi di hati, tetapi tidak bisa maju lagi. Jika dipaksakan niscaya akan menimbulkan ketidakseimbangan.”

Dan begitulah mereka mengakhiri cinta keduanya. Gantung dan rumit.

Dengan tuturnya yang menawan, Tasaro juga mengisahkan bagaimana Rasulullah menjaga perjanjiannya dengan orang-orang Yahudi penghuni Madinah. Ia tidak memaksa siapapun yang tidak ingin masuk Islam dengan pedang atau dengan kekuasaannya. Karena, sungguh, agama bukan sesuatu yang diciptakan untuk dipaksakan, akan tetapi agama adalah untuk dilaksanakan. Dan Allah sudah mengatakan dalam surat Ali-Imran 159:

“<span>Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”.</span>

Begitu banyak hal dalam buku itu yang mampu mengetuk hati saya yang entah bagaimana berhubungan langsung dengan produsen air mata di atas sana dan membuat saya menitikkan air mata haru, bahagia, dan sedih. Begitu banyak hal yang tidak saya ketahui dari sejarah agama-agama di dunia ini. Begitu banyak hal yang membuat saya penasaran. Begitu banyak hal yang membuat saya ingin melihat lebih dekat kepada keyakinan lain dan memahami berbagai perbedaan, memahami hakikat ketuhanan, dan seperti penulis katakan, “bukan untuk berpindah keyakinan”.

***

Hal kecil yang paling menyentil saya adalah perihal ketidaksukaan saya pada anjing. Sumpah, saya takut sekali dengan anjing. Dan setiap saya keluar rumah, saya selalu komat-kamit merapalkan doa agar saya tidak berpapasan dengan anjing. Dan saya baru tahu dari buku itu bahwa Rasulullah, sebelum pergi berperang melawan kafir Quraisy, masih sempat memperhatikan seekor induk anjing yang sedang menyusui anak-anaknya. Beliau khawatir derap langkah kuda-kuda perang akan mengganggu ketenangan dan keselamatan ‘keluarga’ anjing tersebut sehingga ia menugaskan seorang sahabat untuk menjaga ketenangan dan keselamatan mereka. Ini adalah hal kecil yang membuat saya terharu sekaligus malu. Rasulullah adalah pemimpin besar yang memperhatikan hal-hal kecil. Bahkan anjing yang sedang menyusui… Ah…  Inilah bukti bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘alamin. Rahmat bagi sekalian alam. Beginilah seharusnya saya berbuat, menjadi bukti bahwa Islam memang rahmat.

Sentilan lain adalah manakala Rasulullah harus berhadapan dengan Hindun, perempuan yang telah mengutus seorang pembunuh bayaran untuk membunuh Hamzah, paman Rasulullah. Sekaligus perempuan keji yang telah mengoyak tubuh Hamzah dan memakan jantungnya. Saat Hindun menyatakan diri masuk Islam, tidak ada dendam pada dirinya. Bahkan pada perempuan yang sudah menghinakan jasad paman tercintanya. Seandainya itu saya, saya pasti mengusirnya jauh-jauh. Tapi, tentulah Allah mengutus lelaki mulia sebagai seorang Rasul, manusia sederhana yang luar biasa perangainya, bukan seorang pendendam dan pendengki.

Seolah sedang berjalan bersama Rasulullah, itulah yang saya rasakan. Seolah bersama-sama Kashva dan rombongan kecilnya mencari ‘lelaki penggenggam hujan’ yang namanya tersohor bahkan sebelum ia dilahirkan. Seolah menyaksikannya hidup kembali… Dan ketika saya menutup buku tersebut, sungguh, alangkah banyaknya episode kehidupan Rasulullah yang luput dari hidup saya sebagai muslim selama hampir seperempat abad ini.

Buku ini seharusnya menjadi sedikit penawar rindu bagi mereka yang mencari hakikat Islam dan bertanya-tanya apakah Islam agama yang mengajarkan teror, agama yang mengekang perempuan, agama kampungan dan terbelakang seperti konstruksi media barat. Juga bagi mereka yang mengalami sedikit krisis identitas dan rasa malu dengan ke-Islamannya dengan buruknya citra Islam pasca berbagai insiden kekerasan lintas agama yang menempatkan Islam sebagai penjahatnya.

Baca dan lihatlah, bukan begitu Rasulullah mengajarkan kita, teman. Jadi, tidak perlulah membusungkan dada dan berkeras-keras suara. Sebaliknya, merunduklah dan rendahkan diri kita di hadapan-Nya.

Dan agaknya benar-lah testimoni A.Fuadi, penulis novel Negeri 5 Menara,

“Tasaro bagai memimpin tur spiritual ke pelosok Persia dan Arab di abad VII. Sangat personal, kadang seakan kita merasa berada di belakang Rasulullah”.

~ah…dan semoga Allah memberkahimu, Tasaro~

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s