theSis oh theSis


Sindrom ini adalah sindrom yang sama yang aku rasakan saat mengerjakan skripsi dulu. Tidak ada ‘cambuk’-nya. Bingung dari mana mulainya. Bangun tidur dengan segudang rencana menulis ini dan menulis itu, membaca ini dan membaca itu; dan berakhir dengan DVD marathon Ugly Betty.

Kiri kanan, depan belakang, buku dan jurnal menumpuk dimana-mana. Tidak punya tempat di dua rak besar pemberian Mama. Laptop lebih banyak nyalanya daripada matinya. Tidak ada waktu merapihkan gunungan baju dalam lemari. Atau bahkan sekedar menyiapkan sarapan pagi. Rasanya sibuuuuuk minta ampun.

Tapi saat aku menyadari, sebenarnya aku tidak mengerjakan apa-apa yang benar-benar berarti.

Semua cuma berputar-putar saja di kepala seperti angin berputar-putar dalam perutku saat kembung menggembung. Mbulet, kalau kata orang Jawa.

*Sigh*

Tarik nafasnya sih sudah berkali-kali. Sampai jari tidak cukup lagi menghitungnya. Tapi belum juga aku dapatkan mood untuk bahkan membaca jurnal yang hanya 30 halaman. Padahal di sebelah kiriku mengintip buku Media Literacy karya Potter dan sekilas kulihat lambaiannya seperti saat aku meminta bill pada pelayan restoran.

Memulai selalu susah. Apalagi mengakhirinya.

Dan balada seorang mahasiswa pasca mengerjakan thesis di pagi buta belum dimulai. Karena niatnya belum berubah menjadi tekad. Ia mengulur-ulur waktu hingga menghimpitnya dan mengejarnya nekad.

*theSis oh theSis oh theSis*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s