Sebuah Pesan dari Tiga Orang Idiot


I just watched ‘Three Idiots’!! Telat banget ya? Hehe…

Untuk sebuah alasan, aku suka film ini. Bukan dari ceritanya, yah…suka juga sih, tapi bukan itu yang utama. Yang aku suka adalah film ini sangat bisa menyampaikan pesannya bahwa belajar itu adalah sebuah kesenangan, bukan keterpaksaan, bukan tekanan.  Belajar tidak pula direpresentasikan dengan ranking yang memetakan manusia menjadi pintar dan tidak pintar. Membentuk sistem kasta pendidikan: The A’s, The B’s, and the leftovers.

Itulah yang terjadi di Indonesia saat ini, begitu pula yang terjadi di banyak negara. Salah kaprah. Mungkin hanya di Indonesia anak kelas 3 SD dijejali dengan begitu banyak gambar dan pengertian tentang danau tanpa mereka pernah diberi kesempatan memahami, menerjemahkan, dan mengartikan sendiri apa itu danau? Dan karenanya anak-anak Indonesia menjadi terbiasa untuk menghafal, bukan memahami. Terbiasa mengekor apa kata bu guru, pak guru, dan apa kata buku tanpa punya keinginan untuk menciptakan sendiri. Inilah mengapa gunung dimanapun di kertas gambar siswa siswi Indonesia selalu dua buah dengan matahari di tengahnya, jalan terbentang, dan sawah menghampar. As if Indonesia hanya gunung dan sawah. Bagaimana dengan Pegunungan Jayawijaya? Bagaimana dengan Gunung Krakatau?

 

Hmmh…. *taking deep breath*

 

Frankly, I still do the same thing to my 8 years old sister. Awalnya aku ingin menerapkan cara belajar yang berbeda. Yang merangsang otak kreatifnya. But then, aku kehilangan rujukan dan referensi. Bukankah selama puluhan tahun ini aku belajar selalu didominasi oleh buku-buku teks yang harus dihapal serta titah guru dan orang tua? Aku bahkan tidak pernah benar-benar belajar, selain waktu kelas 2 SMA karena mengejar nilai. Aku tidak benar-benar menikmati proses belajar, dan aku juga banyak siswa lainnya dipaksa untuk mengikutinya. Aku sudah me-list down pelajaran yang menjadi favoritku sejak SD di luar pelajaran agama Islam karena itulah pelajaran favoritku sebenarnya : Matematika, Bahasa (Inggris, Indonesia, Arab), dan Sejarah. Pelajaran Sains lainnya? Ah, forget it! Satu-satunya alasanku belajar sampai berhari-hari sewaktu SMA adalah agar naik kelas.

 

Makanya, aku seringkali diburu rasa bersalah saat harus ‘memaksa’ adikku menghafalkan perkalian. Perkalian bukan dihafal,bukan? Perkalian itu seharusnya dipahami sebagai proses dari multiplikasi suatu angka. Dan sisanya, biarkan mengalir saja. Pasti dia akan hafal sendiri. Tapi aku tidak bisa karena sejumlah alasan. Pertama, dia akan menjadi bagian dari underdog yang tidak bisa dengan cepat menjawab hasil dari 6 dikali 8 karena dia akan menghitung dengan jari-jari tangannya, instead of menghafalnya seperti teman-teman lainnya. Kedua, pak guru-nya, sayangnya, akan menilai dia sebagai ‘lambat’ belajar -seperti kata bu gurunya saat adikku kelas satu- karena satu per satu murid di kelas akan dipanggil ke depan untuk menyebutkan seluruh perkalian 2 sampai dengan 10. Exactly seperti masa aku sekolah dulu. Beruntung, aku senang menghafal. So, it was kind of a challenge for me.

 

Jujur, aku bingung, harus seperti apa model belajar adikku? Dia bisa memberitahuku cara ‘berolahraga’ singkat saat terjebak kemacetan di dalam mobil. Yaitu dengan cara meregangkan tangan dan bahu, menarik jari-jari tangan satu per satu kebelakang dan menghitung sampai delapan, dan memutar pinggang ke kiri dan kanan perlahan. Dia mempraktikannya dengan sangat bagus, seolah-olah dia sedang di dalam mobil. Aku sedikit terkesima. Lalu aku pun bertanya, “Kamu belajar darimana,dek?”.

Dan dia menjawab santai, “Itu dari TV barusan”.

Pun dengan bumbu-bumbu dan resep masakan, cara merawat bayi, cara membersihkan botol susu; dia memberitahuku semuanya, persis seperti bu guru. Dan semua dia dapat hasil menonton acara ‘Dapur Aisyah’ dan ‘Diary Bunda’. Kadang aku geli sendiri. Adikku senang menonton acara Ibu-ibu. But that’s her. Dia punya sesuatu yang anak lain tidak punya. Dia senang pada bayi-bayi dan anak-anak yang lebih kecil, senang menata rambut ibuku dan memijat-mijat -persis seperti di salon-, dan senang masak-memasak (tapi sayangnya tidak dengan makan-memakan).  Dia bahkan bisa memasak nasi sendiri, Dulu, adikku bercita-cita menjadi baby sitter, kemudian meningkat menjadi suster. Tidak lama dia berganti cita-cita menjadi koki, tukang salon dan florist, alasannya menjadi suster rentan tertular penyakit. Sekarang, mengikuti pakem cita-cita semua anak Indonesia, ia memasukkan dokter ke dalam cita-citanya. Tapi supaya adil kata adikku, “kalau pagi aku praktek dokter, nanti siangnya aku jadi koki, malem-malem jadi pelukis.” Lho?!

 

Be it! Walaupun sebenarnya aku tahu gambarnya tidak terlalu berkembang, aku tidak akan pernah mengatakan bahwa dia tidak bisa melukis. Cita-cita itu, seperti kata the cute Rancho dalam film 3 Idiots, seharusnya ‘our passion, what we enjoy doing the most’, dan penghasilan akan mengikuti then, ‘pants down’, orang-orang akan menghormati.

 

Aku mencoba menatap diriku sendiri. Then I found that I didn’t exactly do things I enjoy the most. Salah satu kesalahan terbesarku adalah dengan mengikuti keinginan orang tuaku (yang akhirnya tidak mereka akui sebagai keinginan mereka) untuk masuk jurusan Humas saat aku sesungguhnya ‘madly in love with journalism’, sampai detik aku menulis posting ini. Kata orang-orang sekitarku, aku terlalu kalem untuk menjadi jurnalis. Kata papa-mama-ku aku tidak mungkin tahan banting, sementara menjadi jurnalis harus tahan banting. Tapi kata orang Humas, aku terlalu ‘nggak dandan’ untuk menjadi anak Humas. Sebenarnya, aku terlalu takut dengan apa yang tidak aku ketahui jika aku masuk jurnalistik. Aku selalu berpikir, jangan-jangan benar kata Ibuku, bahwa aku tidak akan cukup kuat. Atau benar kata orang-orang aku terlalu kalem.

 

Dan akhirnya, aku memilih jalur aman: Humas. Tugas kuliahnya teratur, nilainya mudah dan lulusnya cepat. Memang sih, aku tidak mungkin berangkat kuliah tanpa mandi dan sarapan pagi. Hidupku terlalu teratur untuk jadi jurnalis. Kadang-kadang teman-temanku yang mengambil jurnalistik berangkat ke kampus tanpa menyentuh air dan sabun, begitu pengakuan mereka, saking banyak dan susahnya tugas mereka. But they seemed to enjoy it very much and for what is worth, they were really proud…

 

Tapi, that’s my passion. Aku suka menulis. Dan akhirnya aku menghibur diriku sendiri dengan mengatakan bahwa, aku tidak harus masuk jurnalistik untuk menuliskan kebenaran. Aku tidak harus berjaket biru dengan empat strip putih (sebagai simbol ‘the fourth pillar of the state’) untuk bisa tetap menulis dan menulis.

 

Well, then, above everything, tiga ke-idiot-an yang harus ditumpas menurut aku adalah: malas, putus asa, dan… lupa pada-Nya. *kok ngga nyambung ya…*

 

3 thoughts on “Sebuah Pesan dari Tiga Orang Idiot

  1. waw, postingan yang panjang dan mendidik😀
    saya suka 3 idiots, walo sebelumnya anti sama indiahe yang suka nyanyi rame-rame en joget kemane-mane, kalo untuk film yg ada pendidikannya akan saya kecualikan hehehe..

    • hehehehe… tapi Indianya teuteup ada di film itu ya, mbak. selain jojogetan, ada juga unsur heroik yang kental dan adegan menyibak rambut. nggak ngerti juga kenapa gitu ya? mungkin itu trademark film bollywood seperti monolog alias ngomong dalam hati di sinetron Indonesia😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s