Ceritanya sih Mau Menganalisis Framing


Aku akan memulai thesis-ku. Analisis Framing. Dan aku… masih terlalu dodol untuk memulai, untuk memilih memulai dari mana. Sementara rekan-rekanku sudah meluncurkan roket, aku masih duduk-duduk nonton TV sambil ngemil di rumah! Hiks Hiks…

So, hari ini aku putuskan untuk membaca buku ‘Analisis Framing’ dari Eriyanto. Don’t laugh! karena, yep, aku memang harus belajar dari NOL! Remember, aku dulu anak humas bukan anak jurnal. Jadi aku memang nggak pernah belajar satu semester pun khusus tentang analisis framing. Oh God!

Sebenernya sih, aku sudah paham, tapi belum dalam. Belum cukup dalam untuk bisa diimplementasikan dalam sebuah thesis. Dan bukunya Pak Eriyanto yang ada pengantarnya Prof Deddy Mulyana ini sangat bermanfaat buat aku.

*Oh Bagus, dan aku mulai diare karena susu yang baru kuminum. Mamaku memberiku terlalu banyak susu waktu kecil, jadi sekarang lambungku mungkin sudah muak dengan susu*

Anyway, jadi di buku ini disebutkan sedikit bahwa untuk memahami teks, tidak cukup mumpuni apabila menggunakan paradigma positivistik. Walaupun faktanya, masih banyak penelitian mengenai teks-teks media yang menggunakan paradigma positivistik. Prof. Deddy Mulyana menyebutkan, “Padahal, seperti ditunjukkan model-model konstruktivis, fenomena komunikasi tidak berada dalam vakum sosial. Alih-alih, setiap kata, frase, kalimat, atau wacana secara keseluruhan bermakna ambigu, ganda, dan terkadang paradoks, karena terikat oleh konteks ruang, konteks waktu, dan konteks sosial”.  So, komunikasi tidak tercipta di ruang hampa.

Shinta likes this! Ah, seandainya saja semua buku saya bisa dipahami semudah memahami tulisan Pak Deddy… U know, membuat tulisan yang keren-dan-cerdas-dan-menjual-dan-oke punya itu nggak harus bikin njelimet yang baca. Justru seperti kata Prof. Alwi Dahlan, semakin cerdas seseorang, semakin pintar dia menjelaskan ilmunya dengan bahasa yang sederhana…

Lanjooot!!

then, Prof. Deddy melanjutkan. Mengutip Peter D. Moss (1999), wacana media massa, termasuk berita surat kabar, merupakan konstruk kultural yang dihasilkan ideologi karena, sebagai produk media massa, berita surat kabar menggunakan kerangka tertentu untuk memahami realitas sosial.

Kerangka tersebut pastinya adalah kerangka versi media massa tersebut. Ini sih sebenarnya kembali ke pelajaran dasar pengantar ilmu komunikasi bahwa manusia itu memiliki Frame of Reference dan Field of Experience yang berbeda-beda. *sotoy banget pake -sih-* Artinya, media massa tidak akan pernah lepas dari yang namanya subjektivitas, walaupun katanya “knowledge to elevate”, “layak dibaca dan perlu”, “aktual, tajam, terpercaya” atau apapun-lah tagline-nya. Nah, milih tagline aja udah subjektif…

Informasi dari media massa yang ditangkap oleh panca indera adalah hasil respon panca indera sang jurnalis. Apa yang ditulis di paragraf pertama itu adalah murni kehendak jurnalis *dan kehendak pemred dan pastinya kehendak Allah*. Itu aja udah subjektif yang pertama. Belum beritanya sampe ke meja redaktur, ada yang dipotong mungkin, ada yang dihapus. Itu udah subjektif yang kedua. Belum lagi ternyata beritanya bertentangan dengan visi dan misi perusahaan. Subjektif yang ketiga.

Prof. Deddy Mulyana mengatakan, “Melalui penggunaan bahasa sebagai simbol yang utama, para wartawan mampu menciptakan, memelihara, mengembangkan, dan bahkan meruntuhkan suatu realitas…

“.. Dus,wacana media massa pada dasarnya menawarkan kerangka makna alternatif kepada khalayak untuk mendefinisikan dirisendiri, orang lain, lingkungan sosial, peristiwa-peristiwa, dan objek-objek di sekitar mereka”.

Begitu sampai di khalayak, pencipta teks-teks tadi tidak bisa melakukan apa-apa kan? the author should die. Pemaknaan itu subjektif. Tapi bagaimana khalayak bisa menciptakan makna tertentu, teks-teks media massa bisa mengarahkannya. Media berarti dipandang powerful ya? *ngomong sendiri*

Media mampu memberikan definisi, memberikan label, memberikan skala kepentingan terhadap suatu isu. Inilah mengapa jihad identik dengan kekerasan, dan Islam identik dengan terorisme. Hmmm… Ini adalah penjajahan bentuk baru! seperti hit and run. Sesudah membombardir khalayak dengan teks-teks, media lepas tangan. Apakah media mau bertanggung jawab jika pembaca koran jadi berburuk sangka pada SBY setelah membaca tajuk rencananya?

huff… okay, i’m way out of context…

Prof. Deddy Mulyana mengatakan, “Setelah membaca buku ini seyogianya para wartawan sadar bahwa mereka tidak bisa sepenuhnya objektif, adil dan netral dalam memberitakan suatu peristiwa, seperti yang mereka klaim selama ini. Mereka juga seyogianya lebih mawas diri untuk mengantisipasi setiap risiko yang timbul sebagai akibat dari pemberitaan yang mereka lakukan. tugas wartawan sebenarnya bukanlah untuk menyingkapkan kebenaran, karena kebenaran mutlak itu tidak akan pernah kita ketahui, tetapi menanggalkan semaksimal mungkin bias-bias yang mereka anut selama ini”.

Wallahu a’lam. Aku masih belajar, masih mengeja, masih terbata-bata.

Oh iya, ada yang janggal deh dengan bukunya Pak Eriyanto ini. Prod. Deddy dari awal menyebut-nyebut paradigma konstruktivisme, tapi di bab-bab setelahnya Pak Eriyanto malah menyebut konstruksionis… Apakah mereka membicarakan hal yang sama padahal kedua paradigma itu berbeda? Pak Eriyanto juga menyebut-nyebut Peter Berger dalam paradigma konstruksionisme. Padahal yang aku tahu selama mengikuti kelas Media dan Konstruksi Sosial, pemikiran Om Berger itu masuk dalam konstruktivisme. Atau bisa applied both? Sayang aku tidak menemukan FB-nya Pak Eriyanto… Aku jadi agak susah melanjutkan…

*_*

 

5 thoughts on “Ceritanya sih Mau Menganalisis Framing

  1. Pingback: www.grosirkita.com

  2. eriyanto, memang menggunakan kata2 “kons
    truksionis” pada bukunya, coba anda cari buku tentang paradigma kritis-konstruksionis, disitu ada akan jelas menemukan perbedaan paradigma konstruktivis dan konstruksionis y,g sebenarnya mengarah pada paradigma kritis.

    • dear 123456,

      trm kasih utk infonya🙂 kmrn sy sdh sempet diskusi juga sm dosen sy,,,
      memang ada byk pendapat,,, but i’m pretty sure bahwa konstruksionis bukan paradigma,,🙂

      mohon doanya, krn sy sedang menapaki bab 3🙂

  3. konstruktivisme merupakan orientasi teori sedang konstruksionis merupakan person yang menggunakan orientasi teori tsb dalam karya2nya sbg manifestasi dia tuk melihat gejala melaluinya….

    maaf klo salah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s