Ngegosip-in Mbak Suarez Ah!


Hua… Aku akhirnya menamatkan Ugly Betty Season 4.

Aku sangat suka suka suka dengan sosok Betty Suarez. Pertama, Betty Suarez punya penampakan mirip aku: bulat. Hihihi… Kedua, Betty adalah seorang jurnalis dan blogger!!! Ketiga, Betty selalu menerima dirinya apa adanya dan yakin akan kemampuannya. Keempat, Betty pantang menyerah. Kelima, Betty selalu berpikir positif. Keenam, Betty, tidak seperti sinetron Indonesia yang tokoh utamanya selalu baik hati bak malaikat bersayap putih, punya sisi manusiawi yang kadang lebih dominan daripada akal sehatnya.

Banyak hal yang menginspirasi dari film Ugly Betty. Betty, perempuan Hispanic yang cerdas, pintar dan bisa dipercaya, akan tetapi…. ‘Ugly’ bagi standar kecantikan dunia fashion. Ada banyak pesan yang penyampaiannya dibungkus oleh lakon kocak, kadang mendebarkan, kadang menyebalkan, dan kadang juga mengharukan.

Selain Betty Suarez, tokoh kesukaanku di film tersebut adalah Marc St. James. Seorang gay yang selalu berpembawaan negatif sekalipun ia memiliki penampilan yang sangat modis. Sungguh kontras dengan Betty yang selalu berpembawaan positif namun selalu menjadi fashion disaster. Di balik sifatnya yang sinis, Marc sebenarnya punya hati yang baik dan kesetiaan terhadap teman. Tapi di season 4 ini, Betty sudah mulai mendapatkan sense of fashion.  Poni khasnya sudah tidak ada, rambut kriwilnya sudah diluruskan menjadi ikal sederhana yang seksi, bahkan braces-nya pun dicopot!

Ada kisah yang menarik sebelum braces-nya dicopot. Hari itu Betty memang seharusnya dijadwalkan melepas braces-nya setelah empat tahun ‘memenjarakan’ gigi-giginya. Dia bangun dengan sangat excited. Keluarganya bahkan sempat memberikan perayaan kecil-kecilan, perpisahan dengan braces.

Then, one thing led to another. Betty jatuh dan pingsan. Sesaat sebelum pingsan, ia sempat mengucapkan keinginannya ‘seandainya saja aku terlahir dengan gigi yang indah’. Dan saat ia terbangun, voila! Ia bukan lagi the ugly betty, melainkan the smokin hot Betty, tanpa kacamata dan gigi-gigi yang harus dipagari. Rambutnya berkibar, melambai indah. Dia adalah Betty, orang kesayangan Wilhelmina, dan musuh bersama orang-orang di Mode.

Tapi, karena ceritanya doi terlahir dalam keadaan yang cantik luar biasa, ada beberapa hal yang harus berubah dari hidupnya. Ayahnya pemain judi, dan Betty Suarez dikenal sebagai sosok yang menyebalkan, licik, dan.. yah… Wilhelmina mini-lah.

Yang membuatnya selama ini *selama hidup dengan braces dan kacamata- dan menjadi dorky* menjadi orang yang penuh empati dan menghargai orang lain adalah karena dia tahu rasanya ketika orang-orang tidak menghargainya, sebab tampilan luarnya yang kurang enak dilihat. Dan ketika ia terlahir sempurna, ia menjadi sosok yang tidak bisa merasakan apa yang orang lain rasakan. Ia menjadi licik, egois, dan akan melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang ia mau.

Persis kan seperti hidup yang kita jalani? Kadang kita berandai-andai, kadang kita protes sama Allah. ‘Kenapa aku tidak begini, kenapa bukan begitu?’. Padahal kehidupan ini bukan didasarkan pada keinginan kita kan? Kehidupan itu seperti garis yang saling kait berkait, pada titik tertentu garis tersebut bersisian dengan garis orang lain. Begitulah adanya. Allah sudah menciptakan skenario alam raya ini sedemikian besar dan sempurna. Akan tetapi kita hanya memiliki sepasang mata untuk ‘mengintip’ skenario Allah yang besar itu. Kita tidak tahu apa yang Allah rencanakan untuk hidup kita.  Tapi terkadang kita sok tahu, protes, marah, bahkan membenci takdir yang sudah kita jalani.

Seperti Nabi Musa salah persepsi dengan tindakan Nabi Khidir.

“Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu? ” begitu ucap Nabi Khidir dalam Al-Qur’an surat Al-Kahfi ayat 68. Sebuah pertanyaan retoris, semestinya. Bukan untuk dijawab, akan tetapi untuk direnungkan maknanya.

Whoah… Jadi panjang kemana-mana…. xO

Anyhow, kembali ke Mbak Suarez. Ia mendapatkan pekerjaan di sebuah majalah yang genre-nya sesuai dengan minat Betty, nun jauh di London sana. Setelah berpikir panjang, akhirnya ia memutuskan untuk mengambil pekerjaan itu. Berat sekali rasanya untuk mengatakan pada Daniel yang selama empat tahun ini sudah menjadi demikian akrab, bukan lagi antara bos dan anak buah, akan tetapi menjadi sahabat.

Then, Daniel ngambek. Singkat cerita, akhirnya dia menyadari sesuatu setelah sesuatu itu kan pergi jauh.

Daniel: “Me First, Betty. I can’t live without you!”

Ya, walaupun tidak secara blunt , tapi secara tersirat Betty akan berakhir dengan Daniel. Well, at least, I hope so🙂

Bukankah selama ini Daniel selalu tergantung pada Betty dalam segala hal. Daniel percaya dan mempercayakan hidupnya bahkan rahasia-rahasianya yang paling kotor sekalipun. Dan bukankah Betty juga selalu ada untuk Daniel?

Kadang perasaan cinta itu datang begitu perlahan, begitu halus hingga tidak kita sadari, sebenarnya orang yang paling kita inginkan untuk menjadi pasangan hidup adalah orang yang selama ini kita sebut-sebut sebagai sahabat. Karena hanya dengan dia, segala hal di dunia ini sepertinya berjalan pada jalurnya; hanya dengan dia segalanya terasa aman dan baik-baik saja.

Ya… Kadang-kadang juga enggak. Hehehe…

Artinya, tidak butuh rupa yang luar biasa, tubuh yang indah menawan, atau harta yang melimpah membabi buta. Cinta itu bersaudara kandung dengan rasa nyaman. Kalau kita cinta seseorang, kita menemukan tempat yang paling nyaman di dunia: HOME.

At last, aku berkhayal tentang Ugly Betty The Movie, atau season 5 yang menggambarkan kehidupan baru Betty di London. Pasti seruuuu!!! :)))

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s