Antara Aku dan Angin

Bulan ranum. Malam tersenyum.

Di bawah naungannya, ada aku yang bergunjing bersama desau angin.

“Angin, bagaimana caranya melepaskan mimpi?”

Angin berdesis lembut, meniup anak-anak rambutku.

“Jangan kau lepaskan…” ucapnya enteng.

“Tidak mungkin, Angin… Mimpiku sudah kau tiup jauh, ingatkah dirimu?”

Angin tampak berpikir, membuat ilir semilir.

“Bukan mauku, kau yang menyuruhku meniupnya bukan? Maka kutiup ia. Jangan salahkan aku”

“Ya,benar. Tapi kini aku merindukan mimpiku lagi. Kemana kau tiup ia?”

“Mungkin utara, mungkin selatan, mungkin tenggara, bisa jadi barat daya”. Kini angin membuat putaran-putaran kecil di sekelilingku.

Aku menunduk dalam-dalam. Menghitung bebatuan hitam. Redup malam temaram, tetapi hatiku masam dan muram.

Angin mengusap kepalaku perlahan.

“Seharusnya tidak begini. Lihatlah langit, dan hitam sejauh mata memandang. Mimpimu itu tidak hilang, sayang. Dia telah berbaur dengan dunia di hadapanmu.

Lihatlah langit, dan hitam sejauh mata memandang. Bukankah Tuhan menciptakan indahnya rembulan dan kerlip bintang?

Tataplah langit dan rasakanlah. Segalanya berputar pada jalur edarnya. Tidakkah kamu seharusnya berpikir bahwa segalanya sudah ada yang mengatur dan menggenggamnya?”

Lama angin bergerak hilir mudik. Meniup dan menggelitik.

“Lalu, bagaimana caraku bangkit?”

Mendadak ia berhenti dan menghilang. Aku bingung alang kepalang.

Dan sebuah hembusan keras menerpaku, membawa debu, membawa abu.

Sontak aku berdiri, menutupi wajahku dan berjalan menjauh.

“Berlarilah, Sayang. Berlari yang jauh… Lepaskan apa yang sudah berlalu, dan pasrahkan. Jangan toleh lagi ke belakang dan mencariku.

Berlarilah, Sayang. Berlari yang kencang. Hingga apabila kau temui fajar bercahaya jingga di timur sana, di sana, ya di sana, aku akan menemuimu lagi…”

 

Advertisements

4des2010

Pada hakikatnya, mengakhiri berarti memulai. Dan memulai, artinya mengakhiri, meninggalkan, menanggalkan, dan berlalu tanpanya. Keduanya, bagi saya, sama saja. Sama-sama susah.

Memulai sebuah thesis berarti meninggalkan kemalasan saya, sekaligus mengakhirinya. Mengakhiri sebuah cinta berarti menanggalkan atribut, simbol, atau apapun yang merepresentasikan cinta itu, jauh-jauh. Memulai rumah tangga artinya mengakhiri masa kesendirian dan egoisme. Mengakhiri hidup, berarti memulai kehidupan baru di alam lain, meletakkan dunia di atas tanah merah dan berlalu dengan amal ibadah.

 

Ketika sesuatu dimulai, sesuatu pun diakhiri. Vice versa.

 

Abstrak ya? Haha. Saya pun bingung dibuatnya. Sama bingungnya dengan ketika saya berpikir bahwa mengatakan sesuatu kadang sama susahnya dengan tidak mengatakan sesuatu. Pernahkah anda dalam kondisi demikian?

Ketika ingin sekali mengatakan sesuatu sampai ingin menangis rasanya, tapi tahu bahwa itu tidak akan menambah faedah apa-apa; malah mungkin mendatangkan keburukan bagi orang lain…..

Bahkan mungkin lebih susah daripada memulai pembicaraan…

Ah… Mengapa hidup saya abstrak sekali akhir-akhir ini? u_u

curhat tak berjudul

Jika iri adalah cikal bakal borok hati yang menjerumuskan anak-anak Adam dalam pertumpahan darah,

maka dosakah saya merasa cemburu?

Jika berdosa saya memilikinya, maka bagaimanakah mengenyahkannya?

Doa apa yang harus saya rapal, Tuhan, agar saya berhenti menyakiti diri saya sendiri seperti ini……..