Catatan Kecil Untuk Saya dan Saudara


Miris.

Di belahan barat bumi ini, begitu banyak hidayah Allah ditebarkan, sehingga banyak orang berpindah haluan dan memeluk Islam. Saya kira awalnya, ini hanya sesuatu yang dibesar-besarkan. Tapi setelah saya bertemu dengan Kristin, Muslimah asli dari Eropa Timur dan besar di New York di sebuah situs jejaring sosial; mencari informasi di situs ‘netral’ bahkan situs yang sangat kontra terhadap Islam; saya mulai percaya, matahari sudah menampakkan kerjapnya di ufuk barat.

Mengapa miris?

Karena Indonesia, negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, yang menurut nytimes.com kurang lebih sekitar 207 juta Muslim di seluruh Indonesia atau sekitar seperempat dari seluruh populasi Muslim dunia; entahlah, mungkin masyarakatnya yang sudah Muslim mulai jengah dan gerah dengan identitasnya sebagai Muslim.

Mereka mulai mempertanyakan agamanya; di satu sisi; di sisi lain mereka juga tidak ingin belajar untuk mendapatkan jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut. Mereka memilih mengekor pada media massa yang mencitrakan Muslim identik dengan kekerasan; padahal apakah mereka, tetangga muslim mereka, saudara muslim mereka diajarkan perbuatan yang sama?

Menarik sekali, saya menemukan sebuah komentar di republika.com; ‘muslim yang biasa saja tidak perlu ditakuti; tapi muslim yang belajar alquran itu yang perlu ditakuti…’. Hahahaha… saya tidak tahu yang menulis itu siapa, mengapa segitu takutnya sama Islam; yang saya tahu satu dan pasti: dia salah informasi.

Entahlah… Saya seringkali mendapat pertanyaan dari teman-teman non Muslim saya atau mendengar pernyataan teman-teman liberal, yang entah dari mana dapat ilmunya, ‘sembarangan’ mengutip ayat-ayat Qur’an yang berkaitan dengan jihad dan perang.  Padahal yang Muslim saja dilarang keras mengutip ayat setengah-setengah tanpa ilmu. Dan Al-Qur’an itu sarat konteks, saaaaaaangat amat sarat konteks. Ada sebab-sebab turunnya. Ada kaitannya dengan ayat-ayat sebelumnya. Ada kata-kata tertentu yang bermakna tertentu jika disandingkan dengan kata-kata setelahnya…Al-Qur’an, pada dasarnya tidak dapat diterjemahkan, karena padanan katanya mungkin tidak setara. Satu kata bisa berarti banyak makna…

Sedangkan memenggal-memenggal-nya, seperti kata memenggal ‘nikmati’ yang seharusnya berkonotasi positif menjadi hanya dibaca ‘mati’-nya saja… Hilang sudah esensi maknanya…

Lagipula, kok bisa -entah darimana sumbernya itu-, memutar balikkan ayat sesuka mereka? Mengapa? Apa tujuannya? Saya pribadi, ketertarikan saya pada ajaran agama, Islam sebagai agama saya maupun agama lain sama sekali bukan untuk mempermainkannya, tapi justru untuk memahami. Bukan untuk berganti haluan; tapi untuk saling menghargai.

Dan miris semakin miris,

Masyarakat Indonesia yang beragama tanpa ilmu, percaya mentah-mentah tanpa dicerna lebih dalam. buat saya, lebih baik kita mempertanyakan sebuah kebenaran tapi pada akhirnya kita menemukannya dengan utuh daripada kita menelan semua yang masuk tanpa pernah tahu apakah yang masuk ke dalam jiwa kita itu madu atau racun. Sehingga ada saja yang membabi-buta mencaci agama lain melalui corong Masjid tanpa peduli tetangga sebelahnya mungkin tidak beragama Islam; ada saja yang masih membakar menyan dan memberi sesajian pada leluhur yang -katanya- datang pada malam-malam tertentu…

Tidak semua pertanyaan memang, pada akhirnya, mampu dijawab oleh agama. Tetap saja, hati kita yang harus bicara. Apakah apa yang kita pilih sebagai agama dapat memenuhi segalanya yang kita butuhkan di dunia dan setelahnya?

Dari yang saya baca di internet atau dengar di youtube, orang-orang Barat yang menjadi Muslim rata-rata belajar Islam secara utuh dulu baru pindah agama. Utuh di sini, artinya benar-benar melihat esensi Islam dan ajarannya. Tentu teknis seperti sholat, puasa, dll; akan bisa menyusul kemudian. Tidak ada sesuatu pun  di dunia ini yang begitu lahir langsung berkembang besar melainkan ia harus berproses setapak demi setapak.

Seharusnya begitu pun dengan kita yang sudah Muslim. Kita tidak akan percaya dan akan membantah jika Rasulullah dikatakan pedofil -seperti kata ‘mereka’ yang-sudahlah-tak-usah-disebut-sebut-. Kita akan membela jika Islam disejajarkan dengan teroris. Kita akan marah jika Rasulullah dihinadina. Mengapa? Karena kita tahu, karena kita belajar, karena kita membaca.

Sekarang, apakah kita tahu beberapa ajaran Islam sudah digunakan di agama lain? seperti kata-kata orang tua adalah do’a? Atau kutipan hadits, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya? Atau, Tuhan-lah yang Maha memutarbalikkan hati manusia? Mungkin ketika itu kita dengar dari teman-teman kita yang berama lain kita akan mengangguk-angguk dan menerimanya sebagai sebuah kebenaran universal tanpa kita ataupun mereka ketahui bahwa itu sudah diajarkan oleh Islam, oleh Rasulullah, 14 abad silam…

Jadi, jika suatu ketika kita ragu, apakah benar pilihan kita terhadap agama ini (Islam). Bukan, bukan agamanya yang salah; bukan pula Rasulullah yang mulia, yang dipilih Michael Hart sebagai tokoh nomor satu sepanjang sejarah, yang salah. Kita-lah yang harus banyak membaca, bertanya, membaca, bertanya, membaca, mencari, mengaplikasi…

Kita yang harus banyak belajar. Karena hanya dengan memiliki ilmu, kita akan dihormati🙂

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s