Pelantun Malam


10:30 malam, gulita, katanya sih bulan sedang bersinar dengan indahnya -waktu kamar saya

Sayup-sayup saya dengar suara motor menderu. Apakah itu suami saya?

Seandainya hanya menuruti kata hati, saya ingin sekali menarik selimut dan bermain di alam mimpi. Saya sudah sangat mengantuk. Apalagi flu yang menyerang saya kali ini tidak membuat saya bersin-bersin hebat; tapi membuat kepala saya terkena kutukan SM*SH: cenat-cenut! Tapi saya benci tidur mengingat dua hari ini saya sangat tida produktif dan terus-terus menyalahkan influenza karena konsidi tersebut. Payah deh!

Makanya sekarang saya tahan-tahan dulu ngantuknya. Saya memilih untuk curhat aja.

Besok saya sudah buat janji dengan RS SamMarie. Pertama, suami saya harus cek sperma lagi -untuk keempat kalinya-.Kedua, kami harus tes antibodi dan khususnya, saya, tes anti sperma. Ketiga, suami saya harus USG testikel. Dengan kondisi badan yang tidak fit karena influenza (lagi-lagi menyalahkan influenza), sepertinya saya harus mengurungkan niat untuk tes antibodi dan antisperma dulu deh. Bisa-bisa hasilnya jelek dan saya dijejali obat-obatan yang tidak saya sukai :p *eeugh*

Anyway, Hari ini, saya kembali merindukan anak saya yang belum ada!

Saya rindu menimangnya, rindu memeluknya… Rindu yang sangat aneh karena saya bahkan belum pernah hamil sekali pun seumur hidup saya. Tapi entahlah, itu yang saya rasakan. Rindu sekali…

Terceplos dari mulut saya saat berbincang dengan Mama sore tadi,

“kalau aku adopsi anak gimana?”

“Suamimu marah nanti…”

Hmmm…

Memang sih, saya dan suami belum terpikir untuk mengadopsi. Eh, ralat, saya sih sudah, tapi sepertinya suami saya belum. Dan membicarakan ini pasti memakan waktu panjang, lama, berat dan diwarnai diskusi dengan suara berganti-ganti frekuensi. Hah. Membayangkannya saja saya pusing.

Kadang, saya bertanya-tanya pada-Nya, mengapa tak kunjung diberi-Nya kami keturunan?

Kadang, saya protes pada-Nya. Apalagi melihat begitu banyak anak jalanan yang disia-siakan orang tuanya. Ber-ayah-kan langit; dan ber-bunda-kan aspal hitam. Kadang, saya sakit hati.

Saya katakan pada-Nya, ‘Tuhan, bukankah telah Engkau cukupkan rizki untuk kami sehingga kami, sepatutnya, bisa memberikan kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak kami kelak?”

Hening yang lama.

Tapi saya percaya, Allah Maha Segala.

Allah tidak akan lupa, sekalipun itu saya, hamba-Nya yang hina dina… Allah tidak akan lupa menjawabnya.

Dan sampai detik ini, jawaban yang saya terima adalah: sabar dan berusaha.

Usaha untuk punya anak itu tidak gampang, teman. Oleh karenanya, jangan bermain-main dengan apapun milikmu yang bisa menjadikanmu memiliki tanggungan di luar pernikahan. Saya sudah mencoba bersama suami saya, nyaris tiga tahun. Pindah dari satu dokter ke dokter lain; dari satu dukun ke dukun lain; dari satu ramuan ke ramuan lain. Rasa-rasanya saya sudah menjalani semua yang disarankan dokter, tukang pijit, dukun bayi, si A, si B, si C…

Saya juga sudah menebal-nebalkan telinga dari komentar orang-orang yang kadang tidak berperasaan. Katanya saudara, tapi reseknya luar biasa; katanya teman, tapi komentarnya menyakitkan. Sudah. Saya sudah kenyang.

Apa yang belum saya lakukan? Menyerah! Saya belum akan menyerah. Memiliki seorang anak, menjadi ibu bagi anak-anak saya sudah saya cita-citakan sejak lama. Lama sebelum saya berjumpa suami saya. Karena saya tahu, menjadi Ibu itu ‘wonderful’. Ada berkah pada tiap langkahnya, ada malaikat menyertai peluhnya; ada cinta menyertai gerak geriknya.

Dan semakin hari, semakin saya sadar; mengapa Allah menjadikan kuasa do’a seorang bunda atas anaknya. Karena menjadi ibu itu bukan hanya perkara melahirkan, menyusui, menyuapi, menyekolahkan. Menjadi Ibu itu tidak mudah. Saya sudah mencoba selama tiga tahun pernikahan saya; dan saya belum berhasil juga. Orang lain mungkin mencoa lebih lama, ada yang lima tahun ada yang sembilan tahun. Semuanya hanya demi panggilan ‘ayah’ dan ‘ibu’.

Saya katakan pada suami, ‘pantaslah Malin Kundang durhaka pada Ibunya. Dia tidak tahu betapa berharganya seorang anak bagi seorang bunda’

Mungkin saya hanya sok tau. Kan saya belum pernah hamil. Saya hanya mengaku-aku suka pada anak-anak dan sedikit terlihat ‘hamil’ karena panambahan berat badan.  Tapi saya percaya bahwa menjadi Ibu itu ‘wonderful’, dan pasti jauh lebih ‘wonderful’ dari bayangan saya…

So, let’s just wait and see…

Mungkin hari ini, mungkin esok, mungkin lusa. Allah akan mengatakan ‘ya’ pada do’a-do’a yang saya hembuskan pada-Nya ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s