Dilarang Protes, Ini Hari Sabtu!


11:55 am; waktu laptop saya.

Saya masih belum bertekad dan berniat untuk beres-beres kamar. Jadi sepeninggal suami saya, saya masih nyaman membiarkan kamar saya akrobat jungkir balik. Hihi. Lagipula, ini Sabtu, teman. Sabtu itu menjadi pembenaran atas segalanya. Atas kemalasan, atas banyak makan, atas pekerjaan-pekerjaan tidak berguna seperti bermain cityville dan nonton DVD marathon.

Tapi, walaupun begitu, Sabtu bukan alasan untuk tidak meneruskan thesis saya. Thesis, bersiaplah. Dandan yang cantik karena saya akan datang menggelitik. Mengetik-ngetik. Dengan daster batik. Dan kursi antik.

Ahaha…

Anyway, sejujurnya saya cinta banget sama thesis saya. Tapi dalam hubungan yang sangat kompleks dan sulit dipahami. Bukankah kalau kita mencintai seseorang atau sesuatu kita ingin selalu bersamanya? Nah, apa yang saya rasakan terhadap thesis berbeda. Saya tidak tahu ada cinta jenis ini. Saya senang bersamanya; tapi tidak selamanya. Saya terus membuka lapisan demi lapisan berita-nya tapi selalu melirik tanggalan, melihat kapan kiranya saya harus menutupnya. Cinta terlarang? Bukan! Cinta apakah ini? Cinta yang saya tahu harus saya akhiri, dan tidak menyisakan pilihan apapun selain mengakhirinya dengan baik.

Jadi, teman, apakah kamu pernah merasakan cinta jenis ini? Cinta yang datang pada saat yang salah? Cinta yang masih datang juga walaupun kamu sudah bersumpah untuk tidak pernah mengundangnya?

Saran saya, akhirilah! Karena itu bukan cinta. Itu hanya senda gurau belaka. Seperti sampah yang sedang saya tulis ini. Cinta itu bukan datang dari langit bukan diantar dengan titipan kilat bukan pula real time melalui ATM Bersama. Cinta itu proses. Jadi, kalau tidak mau tersesat dalam cinta sembarang; jangan memulai prosesnya🙂

Kalau sudah terlanjur cinta? Apapun yang terlanjur suka ngelantur. Terlanjur itu sifatnya mirip sama hari Sabtu, menjadi pembenaran atas segalanya. Atas cinta yang salah, atas hidup yang rusak, atas kelakuan yang bejat. Habis mau bagaimana, terlanjur!

Jadi, berbaiklah dengan diri kita. Jangan memulai sesuatu yang tidak bisa kita akhiri. Jangan bermain-main dengan hidup; karena hidup tidak pernah bermain-main dengan kita. Satu langkah salah yang kita ambil bisa berdampak selamanya, mungkin bukan besok, bukan lusa, tapi 10 tahun lagi? Siapa sih yang bisa tahu? Peramal kondang aja nggak bisa meramal kematian diri sendiri.

Tapi, hubungan saya dan thesis saya sih tetap belanjut. Nggak boleh protes, ini tulisan saya. Kalau nggak suka, jangan dibaca. Sudah terlanjur saya tulis, mau bilang apa?

Lagipula, dilarang protes, ini sudah terlanjur hari Sabtu! Ahaha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s