Beauty, Well Defined.


Woah, sudah lama sekali daku ga nge-blog. Anyway, malam ini, penulis *kata ganti baru, maklum efek thesis :p* ingin membicarakan (baca:mengetik) tentang fashion Muslimah. Suatu siang di kelas “Teori Komunikasi Massa” bersama Prof. Sasa Djuarsa Sendjaja yang sedang membicarakan (kalau nggak salah) televisi dan komodifikasi, penulis yang saat itu duduk di depan ditunjuk pak prof, “misalnya, kamu, pake jilbab karena life style atau way of life?”. Walaupun nggak yakin pak prof mendengar jawaban penulis, karena itu pertanyaan retoris, tapi penulis tetap menjawab, “insya Allah way of life, pak”.

Malam ini baru keingetan lagi. Mungkin seharusnya penulis menjawab dengan, “insya Allah, way of life style,pak”. Hari gini, berkerudung, berjilbab, berhijab, apapun sebutannya; menurut penulis menunjukkan dua hal bagi pemakainya: both way of life, and life style. Way of life, sudah tentu, karena we are what we wear. Jadi, berhijab juga adalah fashion statement, no doubt about it!

Hijab adalah cara kita mendefinisikan hidup, memandang hidup, serta mengidentifikasi diri sendiri. As for me, hijab adalah kewajiban agama. Dan menjalankan perintah agama adalah pilihan. Bukan pameran agama, of course not! Penulis memilih sendiri memakai hijab, tanpa paksaan. Paksaan justru sempat datang dari lingkungan luar, untuk membukanya dengan sejuta alasan. Sebagai Muslim, Allah comes first in everything. Berhijab adalah pernyataan penulis, bahwa penulis berusaha mencintai Allah dengan cara penulis sendiri. Apakah cinta itu berwarna basic, pastel, atau bold; apakah cinta itu berbentuk kerudung one piece panjang menjuntai sampai mata kaki, sekedar kain membungkus kepala, atau kain hitam yang hanya menampakkan sepasang mata; itu juga adalah pilihan. Tidak ada yang salah. Sebagaimana Habil lebih baik dalam memberikan ‘kurban’nya kepada Allah, begitu juga semestinya dengan hijab atau apapun yang kita lakukan di atas bumi-Nya.

Jadi berhijab, bukan hanya way of life, tp juga life style. Nah, akan tetapi, seiring dengan berkembangnya ini dan itu dalam bidang fashion dan komunikasi massa; juga awareness masyarakat global mengenai Islam dan hijab sebagai fashion statement muslimah; penulis melihat hijab menjadi ‘barang jualan’ berbagai brand lokal maupun interlokal :p . Melalui berbagai media, hijab kemudian dimodifikasi demikian atraktif, menarik, lucu, cantik, chic, sporty, dan menarik hati. Penulis, sebagai perempuan yang ga mungkin ga pengen tampil cantik, juga seringkali jadi korban.

Dari mulai couture, sampai abal-abal, semua tersedia. Dari yang grosiran di dalem2 pasar, sampai yang made by request, semuanya ada. Tinggal sesuaikan dengan kantong masing-masing aja. Yang duitnya berlimpah tentengannya Mumtaaz; yang duitnya ngepas tentengannya kresek item dari Tanah Abang🙂.

Media massa, tentunya, berperan luar biasa penting dalam perkembangan hijab dengan berbagai rupanya.

Bagi penulis, di satu sisi ini berita bagus banget. Dengan adanya film-film macemnya Ayat-ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, berjilbab panjang bukan lagi menjadi sosok menakutkan. Wong Rianty aja jilbabnya panjang kok. Baju gamis yang dulu identik dengan emak-emak dan mirip-mirip daster sekarang tampil cantik dengan berbagai pernik dipakai anak-anak, kakaknya, tantenya, emaknya, sampai neneknya. Sekali lagi, terima kasih kepada film-film tersebut.

Sejumlah majalah kemudian mengkhususkan diri untuk merepresentasikan generasi baru fashion muslim. Di sini, penulis bicara dalam konteks Indonesia. Majalah seperti Aulia dan Noor, misalnya, dengan harga jual di atas 20.000 jelas menyensor khalayaknya wanita muslimah menengah ke atas. Isinya, jangan ditanya. Bukan tidak ‘berbobot’, tapi menurut penulis, iklannya lebih menonjol daripada isinya karena iklannya sebagian besar adalah iklan fashion Muslimah, jadi penulis sendiri, jujur saja membeli majalah-majalah itu sebagian besar dilandasi niat untuk melihat model baju Muslimah terbaru🙂

semakin hari, menurut penulis, perkembangan fashion Muslimah semakin berkembang, sekaligus semakin ‘menyusut’. Menyusut karena fashion Muslimah lebih berkembang pada sisi life style ketimbang way of life. Jika (masih) dilandasi dengan Islam sebagai iman dan way of life, maka seharusnya fashionnya pun representatif, bukan? Islam sudah menetapkan aturan bahwa berhijab itu: menutup dada, tidak ketat, tidak transparan, tidak membentuk “punuk unta” dan tidak menyerupai laki-laki (aturan lainnya bisa dilihat dalam teks-teks hadits). Untuk sebuah pakaian memenuhi standar di atas, maka tidak semestinya model Muslimah mengenakan celana legging, atau skinny jeans, kecuali (mungkin) untuk menutupi sedikit bagian kaki, yang pasti tidak sampai seluruh betis. Tidak semestinya juga model Muslimah mengenakan pakaian yang sangat pas badan, yang bahkan lebih sexy dari model konvensional. Jadi, fashion Muslimah semestinya longgar, menutup aurat secara sempurna, bukan hanya ‘membungkus’-nya. Masalahnya, baju yang banyak tersedia di pasaran sekarang ini, menurut penulis seringkali hanya mengakomodir Muslimah yang berbadan kurus. Hal ini ditunjukkan dengan model-model yang memeragakan baju Muslim, sama saja dengan mereka yang memeragakan baju konvensional. Tengok saja persyaratan menjadi -so called- model Muslimah yang penulis lihat di salah satu blog *untuk menjaga kesopanan, penulis tidak mencantumkan nama blog-nya*: tinggi minimal 165 cm, berat badan seimbang, berpenampilan menarik, berbusana Muslimah. Apakah mereka representatif dengan “model Muslimah” sesungguhnya? Padahal dalam Islam, perempuan itu direpresentasikan dengan banyak ‘versi’, bukan? Lihat istri-istri Rasul. Istri Rasulullah bukan hanya Siti Khadijah yang cantik rupawan dan anggun. Ada Saudah yang tinggi besar berkulit hitam, ada Hafshah binti Umar yang ‘gagah’ sebagaimana ayahnya, dan masih banyak lagi. Mereka perempuan-perempuan mulia yang namanya tersohor seantero bumi dan langit, merekalah representasi perempuan Muslimah sebenarnya, bukan model-model yang kurus, berkulit putih, dan berbadan jangkung.

Jujur, tulisan ini meang dilatarbelakangi pengalaman penulis sendiri yang dianugerahi full-figured body dan merasa bahwa banyak (walaupun nggak semua) busana Muslimah yang beredar di pasaran berukuran ‘all size’ dengan Lingkar Dada maksimal 88 cm; sementara sekurus-kurusnya penulis nggak akan pernah mencapai ukuran itu. Bukan tidak ada pakaian Muslimah trendy, modis dan syar’i yang beredar di pasaran. Bukan pula lantas semua Muslimah jadi ‘seragam’ dan tidak ada kreasi dalam memakai busana. Bukan, sama sekali bukan itu maksudnya. maksud penulis adalah, kemudian, apa bedanya fashion Muslimah dengan fashion konvensional, jika Muslimah, sebagai perempuan masih harus direpresentasikan dengan pakem fashion barat yang sangat tidak memihak perempuan (dengan model yang skinny-skinny dan baju yang hanya indah dipakai oleh mereka)? bukankah hijab itu membebaskan? bukankah Islam itu membebaskan perempuan karena tidak mendiktenya berdasarkan bentuk-bentuk fisik?

 

Jadi, mari, sama-sama, penulis, anda, mereka, dan kita semua, sebagai Muslimah, mendefinisikan diri sebagai hamba-Nya yang ingin mempersembahkan yang terbaik bagi Allah SWT. Allah tidak melihat dari tampilan fisik kita, cantik ala boneka manequin seperti perempuan-perempuan bangsa Persia; berkulit ‘keemasan’ seperti perempuan Ehiopia; tinggi besar seperti perempuan pedalaman Afrika; apapun itu. Allah tidak melihat siapa kita; tapi Allah melihat pengejawantahan dari bagaimana kita melihat diri kita🙂

2 thoughts on “Beauty, Well Defined.

    • Kikii… makasih lho tanggapan dan likenya :)))

      Gw doain, semoga Allah memberikan jodoh yg sholeha, berhijab sesuai tuntunan Rasul, bukan tuntutan zaman bukan cuma menghijab tampilan luarnya, tapi juga hatinya :)) Amiiin ya Allah…😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s