That’s The Way It Is


Ketika pada akhirnya saya berhenti bertanya, dan jawaban itu datang tanpa diminta. Seperti datang ke halte busway, dan langsung menemukan bus transjakarta dengan rute tujuan dalam keadaan kosong. Nggak nyambung ya? Tapi kurang lebih seperti itulah. Saat saya berhenti bertanya-tanya, eh bukan berhenti, saat saya lupa bertanya-tanya justru datang jawabnya, jreng jreng! Tepat saat saya menyelesaikan witir saya yang sangat pelit *cuma satu rakaat*.

“Kemana perginya doa-doaku yang ada si *!@#$%^&* disebut-sebut di dalamnya?”

Kenapa kemarin-kemarin saya begitu bodoh bertanya-tanya? Padahal jawabnya ada di sebelah saya, di jantung hati saya *:p.  Saya, dan sebagaimana kita semua, tidak akan pernah kecewa berdo’a pada-Nya. Karena Allah pasti mengabulkannya. Tidak semua langsung di-iya-kan-Nya; ada beberapa permintaan yang ditunda; tapi yang pasti bukan ditunda-tunda seperti kinerja petugas kantor kelurahan. Ada juga yang digantikan Allah dengan yang lebih baik.

Suami saya adalah jawaban yang ketiga dari-Nya.

Jadi begini ceritanya. Saya adalah tipe orang yang mencatat tujuan saya dengan baik. Mau apa, dimana, kapan, bagaimana, dan… untuk suatu hal, pertanyaannya adalah dengan siapa…? Saya juga adalah tipe orang yang sekali jatuh cinta; hanya bom atom hiroshima yang bisa menghentikan saya. Waktu SMP, saya pernah sebegitunya suka sama kakak kelas saya sampai saya sengaja masuk ke SMA yang sama dengannya. Inilah kali pertama Allah mengganti permohonan saya untuk ‘menjadikan’ saya dengan dia dengan sesuatu yang lebih baik. Saya dikenalkan dengan ROHIS, mulai ngaji, dan akhirnya, saya berpikir panjang, jauh ke depan. Sangat jauh bahkan…untuk apa saya terus-terusan menyukai seseorang yang tidak qualified dijadikan suami.

Next one, adalah seseorang yang mohon maaf, demi kenyamanan masing-masing tidak akan saya rinci detailnya. Yang pasti saya seringkali menyebut-nyebut namanya dalam banyak do’a. Sempat bingung dengan perasaan saya sendiri, mau dikemanakan? Diberikan tidak mungkin; dibuang sayang; dilupakan menyakitkan. Ha…Ya begitulah, dulu saya merasa nyaman menyukai dia yang tidak akan saya sebut namanya di sini; nyaman dengan perasaan saya yang menjadikan saya super kreatif; tidak peduli apakah dia membalas perasaan saya. Prinsip saya, Allah-lah yang memegang jodoh; jadi saya harus meminta banyak-banyak (bukan banyak jodoh maksudnya :p).

Hari berganti, tahun berlalu, pernahkah saya mengganti nama yang saya tulis dalam diary saya? Rasanya tidak. *mungkin pernah juga… tapi lupa… hahahaha*

Hingga suatu ketika; saya capek tapi tidak juga bisa berhenti. Doa saya berganti; siapapun yang Allah jodohkan untuk saya; saya terima karena itu pasti baik untuk saya. Tidak lama kemudian, saya bertemu dengan suami saya sekarang. Sosok yang sangat berkebalikan dengan dia yang tadi namanya saya sebut-sebut dalam doa. Untuk mempersingkat cerita, saya akhirnya menikah dengan suami saya sekarang. Tapi proses hati saya di balik layarnya; hanya Allah dan orang-orang terdekat saya yang tahu.

Ketika merasa hubungan saya dan bakal suami saya mengarah ke suatu hal yang tampak sangat jelas; saya bakar semua diary saya. Eh, maaf, jadi lebay; saya buang; nggak mungkin saya bakar karena saya takut nyalain korek api. Haha… Saya ceritakan perihal hati saya pada bakal suami saya. Semuanya saya jadikan terang dan jelas-sejelas-jelasnya. Jadi, tidak ada rahasia antara saya dan bakal suami saya. Tapi, pada intinya, saya siap menikah.

Harus ada kerelaan dan kesungguhan kita untuk ‘melepas’; karena memiliki dia, baik dia yang pernah ada dalam doa saya maupun doa anda, bukanlah kehendak kita. Dan yang membuat lelah adalah karena kita senantiasa ‘playing God’ dengan berharap terlalu banyak pada jodoh yang tidak pasti. Bukan, bukan tidak boleh meminta si jodoh itu dengan spesifik. Berdoa itu hak yang paling pribadi antara hamba dan Tuhan-nya. Tapi merelakan doa dan mempercayakannya pada Allah itu yang sulit; berharap-harap cemas itulah yang menguras energi. Padahal kita kan seharusnya menyimpan energi untuk anak cucu kita. #abaikan

Segera setelah saya menikah saya tahu alasan mengapa Allah menjodohkan saya dengan suami saya. Bukan dengan orang lain. Saya yakin sekali bahwa suami saya memang untuk saya. Dan semoga untuk saya seorang saja. Amiiin…Tapi ada kalanya saya masih juga penasaran, kemana perginya doa-doa saya ya? Bukan karena masih punya perasaan pada ‘yang dulu’; tapi karena nama ‘yang dulu’ itu begitu banyak dan sering saya sebut-sebut di hadapan-Nya.

Baru kemarin, tidak berapa lama setelah saya curhat pada murobbi (pembimbing) dan sahabat saya perihal pertengkaran saya dengan suami saya dengan detail (baru pertama kali saya lakukan); rasanya perasaan saya membuncah karena bahagia setelahnya. Betapa Maha Baik-nya Allah menjodohkan saya dengan suami yang sangat sabar dan mencintai saya… Ditambah percakapan saya dengan dua sahabat saya yang masih single pada sore harinya; rasanya ada kebahagiaan baru yang berbeda dari sebelumnya. Kali ini saya seperti jatuh cinta lagi. Saya merasa sangat beruntung.

Dan bakda Witir pelit saya tadi malam, saya sangat yakin, jodoh saya, pada akhirnya, memang harus suami saya. Seperti sepatu kanan, memang harus dipasangkan dengan sepatu kiri; atau kutub positif memang harusnya berpasangan dengan kutub negatif. Begitulah adanya. That’s the way it is….

Tapi, seandainya saya tidak pernah  meminta ‘yang dulu’ pada Allah; akankah saya tahu begini rasanya sekali lagi jatuh cinta pada suami saya? Seandainya saya tidak pernah meminta ‘yang dulu’; saya mungkin tidak akan pernah tahu rasanya bahagia bersama suami saya… Jadi, “memintalah”, kata Allah. “Pasti akan Aku kabulkan”, lanjut-Nya. Karena do’a sekecil apapun, sesepele apapun tidak akan pernah tersia-sia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s