Prasangka, sudahlah. . .


Pada kenyataannya, susah sekali menjagao prasangka. Padahal khatam sudah diajarkan kepada saya bahwa setengah prasangka adalah dosa.

Hari ini, sebuah bom meledak di dalam gereja di Solo. Entah perbuatan siapa, sejujurnya saya tidak ingin mengetahui cerita selanjutnya. Apa karena gagal di Ambon lantas dibuatlah ‘proyek-proyek’ penebar prasangka selanjutnya?

Jujur, suara saya meninggi saat ibu saya, seorang muslimah, a practicing one, serta merta menhatakan pelakunya adalah seorang muslim. ‘Mama tau darimana?’. ‘Ya kan biasanya gitu’.

Oh ya Allah, ya Rabb. . .

Jika seorang muslim saja sudah menaruh prasangka tehadap saudaranya, tehadap agamanya, lalu mau dibawa kemana agama ini?

Jika seorang muslim meyakini agamanyalah yang melakukan teror dan makar, lalu untuk apa dia beragama?

Islam tidak demikian. Tidak demikian. Tidak demikian. Tidak diajarkan kepada kami untuk memusuhi pemeluk agama lain, apalagi membunuhnya tanpa alasan. Rasulullah mencontohkan kami, perbuatan yang luhur, berbuat baik pada siapapun, siapapun tuhannya, bahkan mereka yang memusuhi Rasul yang mulia.

Maka,tidak pantaskah saya marah dan kecewa,jika kemudian ajaran lelaki yang saya cintai difitnah dan dinodai? Dilekatkan dengan perilaku makar, seolah2 lupa akan hadir-Nya.

Hari ini, dua orang laki2 keturunan tiong hoa memandang saya sinis dari sudut mata. Bukan, bukan karena mereka turunan Cina kemudian desir nafsu saya menggelora untuk membalas perbiatannya. Saya sudah demikian adanya. Tapi, pikiran jahat saya lemudian berkelana. Ini bukan kali pertama saya diremehkan, direbut haknya, dipandang sinis, oleh mereka yang turunan Tiong Hoa. Saya pernah dikira pembantu kakak saya. Jadi begini ceritanya, nenek papa saya masih turunan Tiong Hoa. Dan ke’Cina’an itu hanya menurun pada kakak saya di antara kami bersaudara. Siapapun tidak akan percaya jika saya mengatakan bahwa.nenek papa saya cina, karena saya berkulit eksotis :p, dengan mata besar. Sebenarnya wajah saya persis plek dengan papa, kecuali kulit dan mata. Suatu ketika di puncak, di villa keluarga saya yang dikelilingi oleh villa-villa orang Tiong Hoa itulah saya dikira pembantu kakak saya. Fyi, pembantunya mereka rata2 berjilbab seperti saya. Haha.

Selama ini saya meyakini bahwa apa yang harus saya lakukan adalah mengenal lebih dekat, karena banyak pula teman-teman saya yang turunan Tiong Hoa yang menurut saya orang-orang yang luar biasa baiknya.

Dan kejadian hari ini sedikit banyak mengguncang keyakinan saya. Saya kesal sekali dengan caranya terang2an sinis pada saya. Dan seandainya saja saya tidak punya iman, sudah saya hampiri dia dan bertanya langsung padanya, ‘ada masalah apa?’. Dalam bayangan terliar saya, saya sudah mencincing lengan baju dan bertolak pinggang. Ha. Tapi tentu tidak mungkin. Itu bukan saya, seberapapun saya ingin mencolok matanya.

Seharusnya saya tersenyum saja. Bukannya malah membalas dengan kesinisan yang sama, yang mungkin lebih sinis. Seharusnya saya lebih menunjukkan pribadi Islami, sehingga tidak seorangpun punya alasan menuduh Muslim dengan tuduhan keji. Seharusnya berperilaku tanpa cela.

Tapi sudah. Done. I did it. Eye for an eye.

Dan saya merasa berat, timbangan perbuatan buruk yang harus saya pertanggungjawabkan, bertambah-tambah.

Saya lelah dengan segala prasangka. Saya tehadap siapapun, ataupun sebaliknya. Someone has to start. Start to make a peace, start to collect those pieces of the broken peace. And i think i know who and how to start. Start with me, with a smile, a sincere one🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s