Ada “Sesuatu Banget” dengan Outlandish


Lately, I’ve been listening to *Outlandish*.

Outlandish adalah sebuah grup musik hip hop asal Denmark yang berada di bawah major label, Sony Music Entertainment.  Sebenarnya Outlandish sendiri sudah lama berdiri dan terkenal di Denmark dan sejumlah negara-negara Timur Tengah; tapi di Indonesia nama Outlandish kalah tenar dengan Maher Zain yang menawan, bahkan mungkin tidak banyak yang tahu. Jadi, saya akan berbagi sedikit informasi yang saya dapat dari mbah Google.

Berdiri pada 1997, grup hip hop asal Denmark ini beranggotakan tiga lelaki yang origin-nya bukan asli Denmark, melainkan dari berbagai kultur yang berbeda. Isam Bachiri dan Waqas Ali Qadri, keduanya sama-sama kelahiran Denmark dan beragama Islam; akan tetapi Bachiri memiliki latar belakang Maroko; sedangkan Qadri memiliki latar belakang Pakistan. Sementara Lenny Martinez merupakan turunan Kuba-Honduras dan lahir di Honduras. Berbeda dari kedua rekannya, Martinez merupakan seorang Katolik.

Latar belakang kebudayaan yang beragam inilah, menurut saya yang menjadikan musik Outlandish sangat ‘kaya’, berisi, dan ‘catchy’. Musik Outlandish banyak mengkritisi masalah politik dan sosial khususnya yang berkaitan dengan dunia Islam. Outlandish juga memasukkan unsur-unsur Timur Tengah, Pakistan, dan Amerika Latin dalam lirik-lirik serta video klip mereka. Sempilan bahasa Arab, bahasa Urdu, dan bahasa Latin akan sangat sering kita dengarkan dalam lagu-lagu mereka.

Sepintas lalu, jika hanya mendengarkan ‘musik’-nya, Outlandish nggak gue banget, hehe… Tapi idealisme dan visi yang jelas dalam lirik-lirik mereka-lah yang membuat saya tertarik pada Outlandish. Seperti sukanya saya dengan Bondan Prakoso feat. Fade to Black. Sebelum saya membaca semua lirik mereka, saya hanya akan mendengarkan sepintas lalu, atau bahkan mematikan radio jika memutar lagu mereka. Tapi inilah cara saya menikmati lagu. Lagu bisa sekedar melenakan apabila hanya dinikmati musiknya; akan tetapi lagu bisa menjadi ‘sesuatu banget’ apabila diresapi pesan di dalamnya. Grup-grup semacam ini mungkin nggak akan punya penggemar membludak seperti SM*SH atau SM*SH-wati (7 Icons maksudnya hehehe…), tapi mereka akan selalu punya penggemar setia yang mendengarkan, tergugah oleh isi ketimbang packaging, walaupun packaging Outlandish juga oke buanget!

Lagu-lagu Outlandish sangat laku di pasar Eropa. Outlandish bahkan berhasil menyabet sejumlah penghargaan, ini menurut laman wikipedianya. Faktanya, Outlandish memang berkali-kali dinominasikan dalam MTV Europe Music Awards, dan berhasil memenangkannya pada 2006.  Hal ini membuktikan bahwa idealisme dan pasar ternyata tidak selamanya harus berbanding terbalik. Berbeda dengan di Indonesia. Begitu satu band Melayu meledak, menyusul band-band lainnya mendadak jadi Melayu. Sekarang jamannya SM*SH dan SM*SH-wati. Bulan depan mungkin sudah ada kloning-annya Ayu Ting Ting. Padahal coba perhatikan lirik dan musiknya? Adakah pesan yang menggugah dan mengubah hidup kita semua? Apa pentingya kita mendengarkan sesuatu yang hanya menambah traffic jam di dalam proses kognisi kita?

Setuju atau tidak setuju, silahkan saja. Kritik sepedes-pedesnya juga monggo. Lagian saya juga bukan pengamat musik. Saya hanya penikmat musik, dan berusaha mencari inti pesan dari setiap bentuk komunikasi. Lagu adalah bentuk komunikasi yang sangat indah, menurut saya. Sebuah komunikasi tentu harus ada pesan, misi, moral yang disampaikan. Dan ini yang saya dapatkan dari lagu-lagu Outlandish.

Menurut informasi dari laman wikipedia-nya Outlandish, 

The band has recently helped to form an umbrella organization, Music With Meaning, which aims to bring together like-minded artists in order to promote and produce inspirational and meaningful music. Its motto is: “If you stand for nothing, you will fall for anything.”(Baru-baru ini Band tersebuk membantu terbentuknya organisasi, Musik With Meaning ‘Musik Bermakna’, yang bertujuan untuk menyatukan artis-artis dengan pikiran yang sama untuk mempromosikan serta memproduksi musik yang menginspirasi dan penuh makna. Motto mereka adalah: ‘Jika kamu tidak bertujuan, kamu akan hanyut oleh apapun’ -yah, kira-kira begitu terjemahannya)

Memang, Outlandish banyak mengaransemen ulang lagu-lagu lama yang ‘bermutu’; seperti salah satu single mereka yang meledak di pasar, ‘Aicha’ merupakan aransemen ulang dari lagu yang dibawakan oleh musisi Algeria, Cheb Khalid yang juga meledak di pasar pada eranya. Banyak orang yang kemudian tidak menyukai mereka karena dianggap hanya merekonstruksi lagu bagus dan memberi sentuhan kekinian; akan tetapi, menurut pendapat saya sih sah-sah saja selama mereka mendapatkan ijin dan printilannya. Toh masih enak didengar dan pesannya malah mungkin akan lebih luas tersebar dan diterima berbagai kalangan.

Akhir kata, kalau ingin berkenalan lebih lanjut dengan Outlandish saya akan berikan link ke video mereka dan website resmi maupun yang dibuat oleh fans:

Klik Disini Untuk Video Mereka

Di sini Untuk Fan Site Outlandish

Di sini untuk Official Page

Salam,

-Shinta Galuh Tryssa-

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s