“Iya, Aku Iri…”

Salah satu penyakit paling uzur di dunia adalah penyakit iri. Letaknya jauh di dalam hati manusia. Ada yang tersampaikan ada pula yang mengerak di dasar hati. Iri-lah yang menjadi motivasi anak Adam menumpahkan darah pertama kalinya di muka bumi. Dan setelahnya, iri bermultiplikasi. Iri adalah helaan nafas iblis yang ditiupkannya ke dalam dada manusia.

Ngeri ya…

Tapi faktanya, tidak satupun dari kita yang tidak pernah merasa iri, bukan? Hal yang paling sederhana seringkali terjadi dalam kehidupan keluarga. Rasa iri yang timbul pada saudara kita sendiri. Menurut cerita orang tua saya, sewaktu kecil saya adalah anak yang sangat ‘iri-an’. Apa-apa yang kakak saya dapat harus saya dapatkan, dan saya selalu menginginkan apapun yang kakak saya punya. Ulang tahun kakak saya artinya adalah ulang tahun saya juga.

Sekedar info, kakak saya bekebutuhan khusus. Tidak semua mainan yang diperoleh sebagai hadiah ulang tahun bisa dia mainkan. Nah, di situlah saya mulai menjalankan politik iri bin jealous. “Kan Mbak nggak bisa mainin…” itu senjata pamungkas saya. Dan kakak saya cuma bisa manggut-manggut dan merasa bangga karena berbuat baik pada adiknya. Padahal, Papa Mama saya selalu mengingatkan saudara dan handai tolan yang senang memberi hadiah, agar memberi hadiah double. Untuk kakak saya, dan untuk saya. Hahaha…

Padahal yang ulang tahun bukan saya, dan toh saya akan mendapatkan hadiah juga pada saat saya berulang tahun. Tapi, entahlah, rasanya ketika itu semua orang begitu sayang pada kakak saya. Begitu perhatian. Sedikit saja pencapaian yang diperoleh kakak saya, dalam hal mengeja huruf atau berhitung misalnya, kakak saya langsung banjir pujian. Dari Mama, Papa, Eyang, sampai si ‘Mbak’. Padahal buat saya itu “gitu doang”, dan saya sudah bisa melakukannya sejak lama. Tingkat ke-iri-an saya begitu tinggi pada kakak saya, sampai-sampai dulu, ibu saya memiliki dua asisten rumah tangga, satu mengurus kakak saya satu mengurus saya, dan saya menginginkan si Mbak yang mengurus kakak sayalah yang mengurus saya. Pokoknya apapun yang kakak saya punya, selalu saya inginkan juga.

Beruntung, Allah menyelamatkan saya…

Kalau mengingat kejadian itu, saya rasanya antara sedih, sesal, sekaligus lucu menertawakan diri saya sendiri… Untung Allah beri saya hidayah, jika tidak karena kasih sayang-Nya-lah mungkin sampai sekarang saya masih saja iri pada kakak saya. Padahal apa yang bisa diperbuatnya tanpa bantuan orang lain…? Dulu saya tidak mengerti, dan menolak untuk mengerti. Dari kecil memang sudah punya bakat untuk keras kepala..Papa Mama saya pun mungkin tidak punya waktu untuk memberi penjelasan kepada saya…

Kembali ke masalah iri… Terkadang bisik hati datang tidak diundang, celetukan dalam pikiran yang tidak terelakkan. “Mengapa bukan aku yang seperti dia?”

Buat saya, saya tidak mau menolak perasaan saya apabila itu terjadi, bahwa “iya, saya iri…”. Saya harus berani mengakui penyakit hati saya, agar saya tahu apa obatnya. Seringkali kita menolak dan akhirnya kita menjadi tendensius pada orang tersebut, sebal tanpa alasan yang jelas atau malah mencari-cari pembenaran sebagai justifikasi atas ketidaksukaan kita yang padahal disebabkan oleh rasa iri. Kalau kita mengakui, menurut saya akan lebih mudah mengatasinya.

“Iya, saya iri… Saya tahu perasaan ini salah, saya harus perbanyak istighfar agar Allah mengampuni dosa-dosa hati saya dan mohon pada Allah agar dikuatkan melawan rasa iri”

Dengan mengakui perasaan kita, pada diri kita sendiri, hati rasanya lebih lega dan lebih tenang.

Ada satu teman saya di kantor, setiap hari selalu mengeluhkan hal yang sama, sampai-sampai saya sudah hafal semua keluhannya. Dia selalu memulai dengan kata-kata, “Aku bukannya iri karena nggak dapet fasilitas, tapi seharusnya kan…”.

Dari kata-katanya saja, semua orang sudah tahu kalau dia sebenarnya iri. Tapi dia tidak mau mengakui, dan berkutat dengan keluhan demi keluhan, wajahnya terlihat lelah karena berpeluh keluh, kinerja menurun, dan demotivasi. Hidupnya begitu menyedihkan menurut saya, karena kesenangannya tergantung pada ada atau tidaknya fasilitas penunjang pekerjaan yang sebenarnya memang tidak dibutuhkannya.

Memang sih, menangani iri itu mudah diucapkan, sulit dilakukan. Tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Yang penting kita sabar, berbaik sangka pada Allah dan melawan rasa iri dengan fokus pada pencapaian-pencapaian diri sendiri. 🙂

 

 

Advertisements

Karena Aku Adalah Muslim

Kali ini, aku ingin mengatakannya dengan jujur. Karena saat aku menyembunyikannya, sama-sama lelahnya.

Bagiku, ada bagian kehidupanku yang aku tidak ingin diketahui orang banyak. Bagian kehidupan yang ingin kusimpan rapat-rapat, bahkan kalau bisa ditiadakan dari semesta raya. Kunamakan ia rasa.

Ya, ada perasaan-perasaan hatiku yang kubiarkan mengapung, terombang-ambing, timbul tenggelam dalam samudra hati. Aku tahu ia ada di sana. Sedang kesulitan mencari labuhannya, tapi aku tidak berminat menariknya ke dermaga.

Intinya, aku tidak ingin mengakui apa yang kurasa. Tidak ingin merasakan rasa. Ingin lupa. Ingin rasa itu mati saja hilang bersama waktu.

Tapi, sungguh, hatiku sudah lelah berontak terhadap rasa. Kini aku akan membiarkannya. Mengakuinya. Berteriak lantang, membusung dada dan mengacung tangan. Inilah aku dan rasaku.

Rasa malu menghadapi kegagalan terbesar dalam hidupku, rasa takut melangkah maju, rasa hina karena dosa, dan segudang rasa yang kupunya yang selama ini kuenyahkan paksa.

Mengenyahkannya adalah pekerjaan sia-sia. Karena ia akan selalu ada. Jadi, aku memilih mengakuinya, kemudian menghadapinya. Menyelesaikan rasa demi rasa dan meletakkannya pada tempat yang semestinya.

Hasilnya, kurasa beban hidupku berkurang separuh dari biasanya. Aku tidak lagi takut dengan hari esok. Aku belajar memaafkan. Belajar menerima bahwa dalam kehidupan beberapa hal tidak terjadi sesuai permintaanku. Belajar meyakini lebih dari biasanya bahwa alam semesta sudah ada Yang Mengaturnya, dan Dia tidak akan pernah lalai menjaganya.

Dan masalah-masalahku? Tuhanku, lebih dari cukup untuk bisa melipur lara dan menghujaniku dengan cinta… Karena-Nya, aku tidak takut dengan kecewa, tidak takut dengan cemooh mereka, tidak takut lara… Karena-Nya aku akan menjalani hidupku yang tidak selamanya dengan penuh penghambaan, penyerahan, kepasrahan…

Karena aku adalah Muslim… Orang yang menyerahkan diri…

 

 

 

Waktu: Melaju Seperti Peluru

When we arrived 20, time double its speed. Begitulah yang saya rasakan. Waktu kecil, sampai batas usia yang masih bisa saya ingat, waktu berjalan seperti keong. Saya tidak sabar menunggu dewasa. Tidak sabar mengenakan kemeja dengan busa di bahu yang jaman itu sedang ‘in’. Tidak sabar mengenakan lipstick. Tidak sabar bertumbuh tinggi dan jadi peragawati. Tidak sabar menjadi penyanyi dan karenanya saya sering bernyanyi di garasi, berharap ada produser yang lewat mendengarkan suara saya yang saat kecil saya yakini bisa menyaingi Enno Lerian.

 

Then, reality knocked my door. Saya tidak tumbuh tinggi, dan tidak menjadi peragawati. Saat umur sembilan, tinggi saya hampir setinggi ibu saya. Juga saat saya umur sepuluh, umur sebelas, sampai umur 25 sekarang, tinggi saya bahkan tidak pernah menyamai ibu saya. Kenyataan yang menyakitkan sekaligus lucu kalau saya ingat-ingat. Rumah saya buntu jadi tidak mungkin ada produser yang begitu bodoh untuk mencari talent ke rumah di jalan buntu. Berhenti menjadi banci kontes dan banci tampil. *saya kecil pernah ngotot mau nyanyi di acara sunatan hahaha..* Seandainya bukan karena saya, Shinta si pucat, saya akan merasa nyaman hanya dengan lipbalm. Dan saya benci baju dengan penyangga bahu. Please,Saya bukan pemain rugby!

 

Saat SMP, saya bingung ketika satu persatu keluarga saya berkomentar, “udah besar yah… Nggak berasa”. Saya belasan tahun menjalani hidup saya. Dan rasanya lamaaaaa sekali. Tapi saya ingat saat saya SMA, seorang sepupu saya berkata, “sekarang sih belum berasa, nanti pas Shinta kuliah, waktu rasanya cepet banget. Tau-tau udah nikah, udah punya anak, udah tua aja”.

 

Dan memang demikian adanya. Saat SMA, pertanyaan saya pada Nike Estu yang duduk dekat saya adalah seputar Matematika, maklum Nike adalah salah satu murid terpintar di kelas. Saya mengagumi Putri Aditya, karena tubuhnya yang langsing membuatnya pantas memakai baju apapun, dan kerudung sepanjang apapun. Saya juga pernah ‘terjebak’, menyukai pria yang sama dengan salah satu dari mereka. Hahaha…

 

Minggu kemarin, keduanya berkunjung ke rumah saya. Putri sudah memiliki Keenan, dan Nike baru saja menikah. Kami berbincang, bukan lagi tentang Matematika, bukan lagi tentang pria yang sama. We talked about life. We talked about being adult. And for me it happened just like that. We’re suddenly adult. Kapan terakhir kami bertukar ‘kehidupan’ sebelum kemarin?

 

Setahun yang lalu, saya, Nike dan beberapa teman lain berkunjung ke rumah Putri untuk ’tilik bayi’, dan tiba-tiba bayi laki-laki yang terlelap itu sudah besar, meng-copy paste wajah manis Bunda-nya dan sudah berjalan kian kemari.

 

Empat tahun yang lalu, saya sedang berada di tengah workshop ESQ. Dan dengan kerudung yang sama, kurang dari dua puluh empat jam lalu, saya bertemu dengan seorang dokter yang empat tahun lalu duduk di sebelah saya mengikuti acara yang sama.

 

Waktu terasa mengerikan. Tidak bisa ditahan dan melaju seperti peluru. Mungkin banyak hal berubah dalam hidup saya, hidup Putri, hidup Nike. Dan kita tidak pernah tahu hidup seperti apa yang akan kta jalani esok hari. Semuanya berganti begitu cepat.

 

Saya, masih seperti ini. Belum banyak kemajuan. Hanya pertambahan berat badan. Tapi belum banyak perkambangan diri yang berarti. Padahal hidup saya cuma sekali. Tidak ada siaran tunda, tidak ada ‘pause’, tidak ada ‘delete’. Dosa-dosa masa lalu saya melekat menjadi hantu, sedang saya asyik masyuk dengan diri sendiri.

 

Jadi, my point is, hidup perlu redefinisi.  Apa yang akan saya lakukan, bagaimana saya melakukannya, dengan siapa saya melakukannya, kapan dan sampai kapan, dan mengapa saya melakukannya? Sepertinya sudah bukan waktunya lagi saya menjalaninya ‘gitu-gitu aja’. Karena hidup saya yang hanya sekali harus saya pertanggungjawabkan suatu hari. Lalu, pertanyaan lain yang saya ajukan pada diri saya adalah, jika hidup hanya sekali, dan waktu tidak bisa berhenti, masihkah saya pantas berpangku tangan dan merasa ‘nyaman’ padahal mungkin saat ini, esok, atau lusa Izrail sedang mengintai nyawa saya?

Kami Wanita Muslim

Baca status seorang teman tentang bagaimana Rasulullah memperlakukan istri, saya jadi terpikir untuk menulis notes ini. Ada banyak segi kehidupan Rasulullah bersama istri-istrinya yang tidak di-ekspos oleh media. Media dan orang-orang yang membenci Rasulullah (entah apa sebabnya) kerap kali menyoroti kehidupan rumah tangga Rasulullah, berdasarkan kuantitas (jumlah istrinya) dan bahkan otak mesum orang-orang Barat itu menuduh Rasulullah yang mulia sebagai paedophilia (na’udzubillah…). Nggak perlu jauh-jauh untuk bisa menemukan tuduhan itu, coba saja main-main ke situs faithfreedom; dengan mudah kita bisa menemukan orang-orang jahil yang menuduh Rasulullah dengan tuduhan keji. Walaupun, kalau dipikir lagi, sebenarnya otak mereka yang mesum dengan menggambarkan Rasulullah haus wanita. Padahal Kaisar China aja dulu punya 3000 selir yang dikumpulkan dalam satu rumah. Tapi adakah dunia mengutukinya? Tidak! Adalah lumrah bagi pemimpin manapun di jaman itu untuk memiliki banyak istri. Nggak usah jauh-jauh ke jaman itu, Bung Karno saja, bapak proklamator Indonesia juga punya banyak istri (dan yag mengaku istrinya). Ada yang berani mengatakan Bung Karno haus wanita? Apakah Rasulullah mengumpulkan istri-istrinya dalam satu rumah? Tidak! Apakah Rasulullah menikahi istri-istrinya semata-mata demi kepuasan pribadi? Tidak!

 

Rasulullah menikah dengan Khadijah Binti Khuwailid ketika usianya 25 tahun, selama 25 tahun, dan sampai Khadijah wafat Rasulullah tidak pernah menikah lagi. Padahal ketika itu usia Rasulullah masih muda dan prima sebagai seorang laki-laki. Baru sepeninggal Khadijah, para sahabat mengusulkan Rasulullah untuk menikah lagi. Saya lupa-lupa ingat siapakah di antara Saudah Binti Zam’a dan Aisha Binti Abu Bakar yang dinikahi duluan oleh Rasulullah. Namun yang banyak luput dari perhatian adalah istri Rasulullah yang bernama Saudah Binti Zam’a. Beliau adalah janda yang masuk Islam di masa awal kenabian. Ketika itu ia sudah berumur 65 tahun, berkulit hitam, bertubuh tinggi besar serta miskin. Jika memang Rasulullah haus wanita, haruskah beliau sebagai pemimpin ummat Islam yang bisa mendapatkan perempuan manapun di jazirah Arab menikahi Saudah?

 

Anyway, pembahasan mengenai istri-istri Rasulullah yang lain mungkin tidak akan cukup, baik kolom maupun pengetahuan saya yang dangkal dan terbatas. Yang ingin saya tuliskan di sini adalah, jika gerakkan feminis muncul dari barat apakah itu berarti perempuan-perempuan barat lebih tercerahkan dari perempuan timur? Saya rasa tidak. Kami, wanita Muslim, sudah dimuliakan kedudukannya jauh sebelum perempuan barat menuntut persamaan hak. Dalam pekerjaan domestik saja, Rasulullah tidak pernah menyusahkan istri-istrinya. Beliau melakukan sendiri keperluannya. Padahal, saya yakin pekerjaan Rasulullah sebagai pemimpin ummat sangat berat di luar rumah. Tapi itu tidak menjadi alasan untuk tidak membantu istri melakukan pekerjaan domestik. Pun dengan masakan, Rasulullah tidak pernah menghina masakan istri-istrinya, sekalipun tidak cocok di lidah beliau. Mengapa Rasulullah berbuat seperti itu? Agar menjad contoh bagi laki-laki Muslim yang sholeh yang ingin mencontoh perilakunya. Inilah sunnah yang layak ditiru, bukan melulu poligami yang diklaim sebagai sunnah Nabi.

 

Kami, wanita Muslim, sudah ikut serta dalam peperangan. Sebutlah nama Ummu Umarah, sahabiyah (sahabat perempuan) yang ikut berperang bersama para lelaki di medan perang. Bahkan riwayat menceritakan kehebatannya dalam menebas musuh. Adakah Rasulullah melarangnya? Tidak! Rasulullah memuliakan kedudukannya beserta keluarganya.

 

Kami,wanita Muslim, sudah dihargai tiga kali lebih banyak daripada para lelaki. Ketika seseorang bertanya kepada baginda Rasulullah yang mulia, siapakah yang berhak dihormati? Rasulullah menjawab, ‘ibumu’ dan mengulangnya tiga kali, baru beliau menyebut, ‘ayahmu’.

 

Kami, wanita Muslim, sudah dihargai secara finansial. Tidak ada yang melarang kami mencari uang. Seorang laki-laki wajib menafkahi istri dan keluarganya dengan uang yang diperoleh; tapi uang hasil keringat istri, seluruhnya menjadi hak istri.

 

Jadi, jika sampai saat ini masih ada laki-laki Muslim yang mengatasnamakan agama untuk ‘memasung’ hak-hak istrinya di rumah; atau masih ada perempuan Muslim yang mengagungkan feminisme dan kesetaraan ala Barat, menurut saya, mereka harus lebih banyak membaca sejarah Nabi. Kadangkala, seseorang yang ‘merasa’ tercerahkan dengan pemikiran barat kemudian menuding pemikiran Islam; padahal mungkin, dia tidak tahu apa-apa tentang ajaran Islam yang mulia.

Karena Dhuafa adalah Nasabah Utama

Saya kembali ke dunia persilatan. Yaaay!! Hehe… Setelah sekian lama saya bertitel Drs. alias Di Rumah Saja, di luar titel M.Si yang saya peroleh dengan susah payah, akhirnya saya bekerja kembali. Dan besok bertepatan dengan gaji pertama saya. Hihi… Alhamdulillaaaaah… 🙂

Dimanakah tempat saya bekerja?Haha… Jangan khawatir, saya bukan pekerja MLM yang hendak promosi. Saya murni mau cerita dan mengajak teman-teman sama-sama belajar seperti juga saya yang banyak belajar di tempat kerja saya yang baru. Saya bekerja di sebuah lembaga yang berada di bawah Yayasan Dompet Dhuafa. Saya yakin teman-teman pasti sudah kenal baik dengan Dompet Dhuafa (pede… :p), baik bagi mereka yang setiap bulan menunaikan zakatnya (semoga Allah memberkahi), menunaikan infaq, qurban atau bentuk jihad harta lainnya. Nah, tempat kerja saya, kami menyebutnya dengan jejaring Dompet Dhuafa, judulnya Tabung Wakaf Indonesia. Dari namanya sudah tahu dong, kami bukan bergerak di bidang makanan atau fashion, hihi…

Ya, saya bekerja di lembaga yang mengumpulkan, mengelola serta menyalurkan dana wakaf. Wakaf, apa sih itu? Sebagian kita masih asing dengan wakaf, saya yakin itu, saya sendiri masih meraba-raba dalam terang (hehe), apa dan bagaimana wakaf itu. Saya masih ingat saat pertama kali saya interview dan ditanya tentang wakaf. Saya hanya menggeleng lemah, karena saya tidak tahu. Yang saya tahu dari wakaf hanya wakaf Masjid, padahal wakaf bisa lebih dahsyat dari itu! Dari definisi aja, wakaf, sederhananya adalah menahan harta dan mengalirkan manfaatnya. Jadi, kalau teman-teman punya mobil yang menganggur dan ingin menambah nilai di jalan Allah akan hartanya, diwakafin aja. Mobilnya tetap berupa mobil, uang sewa dari mobilnya, apabila disewakan, diserahkan kepada para mauquf alaih, mereka yang menerima wakaf.

Sepintas lalu berat banget ya judulnya. Wakaf. Zakat atau infaq aja masih tersendat-sendut. Rela nggak rela. Berat karena kita (dan juga saya sebelumnya) belum tahu betapa besarnya potensi wakaf untuk memakmurkan sebuah bangsa. Saya mau kasih tahu beberapa yang saya tahu… Pada zaman pemerintahan Sultan Nur Al Din Asy Syahid, pemimpin Bani Umayyah, alias paman sekaligus orang yang menginspirasi Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi membangun sekolah yang disainnya dirancang bak istana dan mengalir sungai di dalamnya dari dana wakaf. Lalu di Mesir, konon kabarnya pada 1970-an ‘kekayaan’ Masjid Al Al-Azhar melebihi kekayaan pemerintahan Mesir.

Eits, jangan berpikir kapitalisasi Masjid dulu yaaa…

Kekayaan masjid Al-Azhar itu berupa asset-asset produktif yang hasilnya digunakan untuk pengelolaan masjid dan universitas Al-Azhar. Salah satunya adalah pemberian beasiswa kepada mahasiswa universitas Al-Azhar. Di Dompet Dhuafa sendiri, alhamdulillah, segala puji bagi Allah, sudah berdiri satu LKC dari dana wakaf. LKC adalah Layanan Kesehatan Cuma-cuma yang dipersembahkan bagi mereka yang tidak berpunya. Dan insya Allah pada awal 2012 nanti akan dibuka Rumah Sakit Terpadu yang juga dipersembahkan bagi kaum dhuafa, itu juga dari dana wakaf. Di sektor pendidikan, Dompet Dhuafa sudah mendirikan Sekolah SMART Ekselensia, sekolah bagi anak-anak cerdas seluruh Indonesia yang berasal dari keluarga kurang mampu. Mereka yang sekolah di SMART Ekselensia ini juga sudah menelurkan berbagai prestasi lho. Di TWI (Tabung Wakaf Indonesia) juga sedang mengelola sejumlah asset dari wakif (orang yang berwakaf). Kami menerima wakaf saham, wakaf perhiasan, wakaf tanah, wakaf tunai, wakaf mobil dan motor, dan segala macam bentuk wakaf. Pada sektor produktif, kami sudah memiliki Food Court dan memiliki sejumlah perkebunan. Hasilnya akan diberikan kepada mauquf ‘alaih atau dapat digunakan untuk membuka sektor produktif baru yang dapat menyerap tenaga kerja dan akhirnya menelurkan banyak entrepreneur baru.

Sudah kebayang belum bagaimana wakaf sebenarnya bisa sangat produktif? Lalu bedanya dengan zakat produktif apa? Pertanyaan ini seringkali saya dapatkan. Saya tidak berani bilang kalau zakat produktif itu salah, tapi sejatinya zakat diperuntukkan hanya bagi mustahik zakat, bukan pada sektor produktif. Di negara-negara Muslim lain, seperti Turki dan negara-negara Timur Tengah, bahkan Bangladesh yang notabene lebih miskin dari Indonesia wakaf difokuskan bagi pemberdayaan ekonomi atau sesuatu yang sifatnya non konsumtif seperti pembuatan sanitasi, pembangunan BMT dan lain sebagainya. Saya yang bodoh ini tadinya berpikir bahwa pemerintah Arab mengkapitalisasi tanah-tanah di sekitar Masjidil Haram dengan berdirinya hotel berbintang-bintang dan mall-mall kelas atas. Padahal keuntungan yang didapatkan pengelola Masjidil Haram atas pengelolaan sektor-sektor produktif tersebut akan digunakan untuk mengelola Masjidil Haram dan jamaahnya.

Bayangkan, sekian juta orang datang setiap tahunnya ke sana, seandainya tidak ada dana mandiri atau dana bergulir yang dapat memberikan keuntungan, pengelolaan Masjidil Haram menjadi ‘pasif’ atau hanya sekedar menunggu uluran tangan saja. Di Indonesia sendiri, negara dengan jumlah Muslim terbesar di Indonesia, yang katanya diberkahi dengan kekayaan melimpah, justru kesulitan menangani kemiskinan. Katakanlah, katanya jumlah orang miskin sudah berkurang. Tapi bagaimana jika terjadi inflasi? Bagaimana jika harga-harga naik dan mereka yang sudah keluar dari status miskin kembali dimiskinkan oleh keadaan? Apakah mereka (atau bahkan kita) mampu keluar dari kondisi tersebut? Masih sering kan kita dapat informasi dari media massa banyak orang mati terinjak-injak karena mengantri sedekah yang tidak seberapa. Bahkan di depan mata saya, ibu-ibu entah datang dari mana berebut uang dua ribuan yang dibagikan Papa saya ketika lebaran, bukan untuk ibu-ibunya, tapi sekedar menyenangkan anak-anak sekitar yang memang ‘langganan’ dan sudah tradisi mengantri uang lebaran. (sudah saya ceritakan dalam sebuah notes juga).

Bagaimana jika dibalik, kitalah yang seharusnya mengantri untuk memberikan wakaf, dengan apapun yang kita punya. Kitalah yang seharusnya segila-gilanya berebut, memperebutkan pasar kemiskinan untuk mengantarkan kita ke surga. Kita juga sama-sama tahu bagaimana kondisi sekolah-sekolah di pelosok Indonesia. Sekolah seperti SD Muhammadiyah di novel Laskar Pelangi mungkin masih banyak di pelosok negeri ini. Belum lagi guru-gurunya, guru sekolah swasta atau pesantren yang tidak bonafide namanya. Berapalah gaji mereka? Rasanya masih jauh dari sekolah gratis yang dibangun khalifah Nur Al Din Asy Syahid… Sebelum saya cerita lebih lanjut, saya mau sharing aja nih. Wakaf juga bisa tunai lho. Seberapapun nilai yang diwakafkan, bahkan kalau pun hanya Rp.10.000 saja yang diberikan, itu juga wakaf. Untuk Rumah Sakit Terpadu, misalnya, uang yang ‘hanya’ Rp.100.000 mungkin ‘hanya’ cukup menyumbang satu grendel pintu, atau membeli sejumlah pengki. Tapi kelak di kubur kita, grendel pintu dan pengki itulah yang insya ALlah menemani kita sebagai amal jariyah yang tidak putus dan menjadi saksi membela kita di hadapan Allah kelak.

Saya lanjut cerita yah, di jaman Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi yang tersohor, penerusnya Nur Al Din, hidup agama-agama lain selain Islam secara berdampingan. Bagi yang Muslim diwajibkan zakat atas mereka, sedangkan bagi yang bukan Muslim diwajibkan pajak bagi mereka. Sultan Shalahuddin memiliki kebijakan menarik bea cukai dari para pedagang Nasrani yang datang dari Iskandaria. Lalu kemana perginya uang tersebut? Apakah masuk ke kantong Shalahuddin? Tentu tidak, Sultan Shalahuddin bukan seperti pejabat kita yang demen duit ogah rugi, bea dan cukai tersebut digunakan untuk mensejahterakan para ‘ulama dan keluarganya. Di jaman itu fungsi ‘ulama bukan cuma ceramah apalagi cuma sekedar bahan gosip seperti sekarang ini. ‘Ulama di jaman itu benar-benar orang yang ‘alim alias banyak ilmu dan berperan besar sebagai guru. Beda kan dengan kesejahteraan guru-guru agama di Indonesia. Padahal jasanya membebaskan ummat Islam dari buta huruf Al-Quran dan mengajarkan budi pekerti ala Nabi, subhanallah besarnya…

Oh iya, mau tau nggak berapa sebenarnya potensi wakaf di Indonesia? Kata Bapak Zaim Saidi, pelopor Dinar Dirham dan salah satu dari super sedikit tokoh wakaf di Indonesia, jumlah asset wakaf mencapai 363 ribu bidang tanah, which is kalau dinilai dalam nominal mencapai 590 trilyun! Data ini juga didasarkan pada sebuah studi di UIN Syahid (Syarif Hidayatullah) pada 2006. Tapi kenapa jumlah yang potensial itu belum bisa memakmurkan bangsa Indonesia? Karena asset-asset tersebut berupa asset yang pasif dan tidak produktif, asset-asset yang justru membutuhkan suntikan dana dari luar bukan asset-asset yang mandiri atau malah bisa menghasilkan sesuatu. Belum lagi kebangkitan kelas menengah di Indonesia. Kalau dipukul rata-rata kelas menengah itu bergaji antara 2.000.000 – 10.000.000, dan masing-masing mengeluarkan uangnya 100.000 saja setiap orang secara rutin selama sebulan, berarti setahun sudah 1,2 juta. 1,2 juta dikali seribu orang sudah satu miliar dua ratus juta. Itu baru seribu. Jumlah usia produktif di Indonesia kan lebih dari seribu orang… Bayangkan dengan satu miliar dua ratus ribu rupiah itu saja, kita bisa membebaskan sebidang tanah yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai hal, untuk food court misalnya, untuk dibuka kontrakan atau kos-kosan, atau dibuka sejumlah los bagi pedagang kecil. Hasilnya bisa dimanfaatkan untuk pengelolaan Masjid di daerah tertentu sehingga tidak perlu ada lagi yang ngencleng atau menadah di jalanan. Atau hasilnya bisa dimanfaatkan untuk membangun perpustakaan umum, untuk mensejahterakan para guru ngaji, atau untuk subsidi rumah sakit… Ah banyak sekali yang bisa dimanfaatkan dari uang itu…

Nah itu baru sekelumit, sedikit, seiprit yang saya tahu dan saya pelajari selama kerja di sini. Dan saya semakin terkagum-kagum dengan agama ini. Betapa Islam mendidik kita menjadi kaya secara nominal, tapi tidak melabuhkannya di hati, melainkan diberikan kepada yang membutuhkan dari sisi konsumsi, dibangunkan sektor produktif yang memberdayakan sehingga derajat yang selama ini mustahik menjadi muzakki (ini mengapa tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah…), dan tidak ditimbun bertumpuk-tumpuk. Islam sudah mengajarkan kita untuk menjadi produktif dengan harta kita. Dan yang sesungguhnya membutuhkan terhadap kaum dhuafa adalah kita. Mereka ladang amal kita, mereka-lah ‘agen-agen’ penjual ‘kavling surga’ kita yang harus kita layani sebaik-baiknya. Mereka adalah priority customer kita. Jadi, tidak ada alasan kita untuk sombong dengan apa yang kita punya…

Astaghfirullah…. Betapa banyak kesalahan, kesombongan, bahkan yang hanya lewat sepintas lalu dalam diri saya…. Perasaan superior karena tidak menjadi dhuafa (amiin…), perasaan superior karena memberi… Padahal segalanya datang dari Allah… Padahal saya bukan siapa-siapa… Saya, kita-lah yang membutuhkan kaum dhuafa untuk dijadikan kaya dan berdaya… Untuk ‘mencari’ Rasulullah, karena beliau mencintai orang miskin… Untuk menjadi kunci pembuka keridhoan dan kecintaan Allah kepada kita… Untuk menjadi tiket kita menuju ‘keabadian’ di sisi-Nya…

Wallahu a’lam…

Saya dan MLM

Pernah saya berusaha menjadi member sebuah bisnis MLM kosmetika. Tidak tanggung-tanggung, sampai tiga kali! Yang pertama, saya ikut karena iseng-iseng dan tertarik dengan diskon 30% untuk tiap barang. Maksud saya, itu tawaran yang amat sangat lumayan untuk sebuah merk kosmetika dari luar. Tapi kemudian kartu saya keburu expired dan saya tida juga menggunakannya. Kedua kali saya bergabung karena tertarik dengan iklan bisnis online yang bisa dikerjakan dari rumah. Saat itu saya sudah mencapai puncak kejenuhan dengan pekerjaan saya di sebuah Bank, tapi saya terbiasa untuk gajian setiap bulan. Saya tidak mau kehilangan gaji saya, walaupun alhamdulillah, suami saya selalu mencukupi kebutuhan saya. Dan itu pun berakhir karena saya merasa hanya dimanfaatkan tapi tidak cukup ’dibina’ oleh upline saya. Herannya, perasaan merasa dimanfaatkan itu tidak cukup membuat saya jera hingga saya memutuskan untuk bergabung lagi, menjadi downline sahabat saya sendiri. Awalnya saya semangat. Tapi lama-lama saya berpikir, apa yang merasuki pikiran saya sampai-sampai saya mau bergabung dengan MLM? MLM itu apapun namanya adalah pembodohan terhadap downline-downline. Volume transaksi barang riil tidak lebih besar daripada transaksi ’member’-nya. Dan semakin tinggi orang tersebut, semakin ’ongkang-ongkang kaki’ dia.

 

Saya tersadarkan setelah menyadari betapa mahalnya harga sebuah produk yang ’nggak penting’ padahal barang bermerk sejenis harganya beda sedikit saja. Pasti ada ’permainan’, kapitalisasi nyata yang membutakan mata saya. Ya, saya dibuai mimpi. Mimpi untuk punya gaji dari rumah sendiri. Gaji yang bisa saya gunakan untuk blanja blanji. Haha. Sempit sekali pikiran saya ya… Mimpi pendek yang membuat saya lupa bahwa hidup tidak hanya sekedar gaji…

(Maklum, saya tinggal selangkah lagi menuju shopaholic. Level saya masih ‘nyaris impulsif’, untungnya, hehe… )

Apa yang kemudian juga membuat saya tersadarkan adalah bisnis ini ‘hanya’ menjanjikan sesuatu yang ’sepele’, menurut saya. Ke Bali? Saya sudah pernah bersenang-senang di Bali semasa kecil. Alhamdulillah, sudah cukup puas. Disneyland? Alhamdulillah, sudah dua Disneyland sambangi. Satu di Annaheim, Amerika Serikat pada 1995  dan satu lagi di Paris tahun 1997. Apa yang bisa bisnis itu berikan untuk saya? Tidak satupun keinginan saya (selain keinginan pendek belanja-belanji) yang bisa dipenuhi. Saya ingin umroh, saya ingin Haji. Saya ingin menjadi penulis, ingin menjadi pengajar, ingin menjadi pekerja sosial, ingin keliling dunia untuk menuntut ilmu, dan di saat yang sama saya juga menyukai dunia fashion.

 

Yayaya… Saya tahu, saya perempuan dengan segudang mimpi. Tapi itulah saya. Saya sendiri pusing dengan mimpi-mimpi saya. Haha…

 

Intinya adalah, MLM kosmetik dan bisnis-bisnis serupa tidak memberikan apa yang saya mau. Tapi bukan berarti saya anti dengan MLM. Tidak semua penggiat MLM menyebalkan, narsis dan tukang pamer pencapaian kok. Hihi… Ada juga penggiat MLM yang rendah hati, menularkan semangatnya dengan tulus dan tidak melihat orang seperti barang dagangan. Dan mungkin memang bukan MLM pintu rizki saya. Saya sendiri yang menutupnya. Perniagaan tidak harus MLM, bukan? Mungkin cocok untuk sebagian orang, menjadikan mereka kaya raya, biarlah itu menjadi rizki mereka. Saya memilih menjadi sebagian lain yang juga insya Allah bisa sama kaya rayanya dengan cara yang lain. Pintu rizki kan banyak. Dan uang bukan segalanya dalam kehidupan. Kalau kita menjadikan uang sebagai tujuan, menjadikan materi sebagai tumpuan, kita hanya akan berakhir seperti musafir kehausan yang minum dari air laut. Tidak akan pernah terpenuhi rasa hausnya. Tidak akan pernah puas.

 

Jika hanya ’Bali’ sebagai tujuan, setelah ’Bali’ tercapai kita akan mengejar, entahlah mungkin Universal Studio, begitu terus sampai semua belahan bumi sudah kita sambangi, terus mau apa? So what, then what?

Apa inti dari semua target dan pencapaian itu?

Jika hanya Rp.4.000.000 per bulan bonus yang kita kejar, lalu apa? Rp.4.000.000 itu bisa dihabiskan dalam sekejap mata. Uang tidak lain hanyalah kertas bertuliskan deretan angka yang disepakati sebagai alat tukar. Tapi sudahkah kita mengubah hidup orang lain? Sudahkah kita ikut serta dalam menciptakan dunia yang lebih baik, atau kita hanya menipu diri kita sendiri? Terlihat ’wah’ padahal sesungguhnya kita hidup dalam tempurung. Ya, tempurung jejaring bisnis yang membuat kita merasa melihat lebih luas, padahal sesungguhnya menyempitkan arti pencapaian hidup kita sendiri.

Tapi sekali lagi… Mungkin MLM cocok untuk anda, silahkan jalani dan semoga anda sukses di dalamnya, dan semoga tidak lupa pula bahwa dunia bukan hanya MLM anda saja. Tidak usah marah pada saya, cukup buktikan saja apa yang saya katakan di atas tidak benar adanya.