Saya dan MLM


Pernah saya berusaha menjadi member sebuah bisnis MLM kosmetika. Tidak tanggung-tanggung, sampai tiga kali! Yang pertama, saya ikut karena iseng-iseng dan tertarik dengan diskon 30% untuk tiap barang. Maksud saya, itu tawaran yang amat sangat lumayan untuk sebuah merk kosmetika dari luar. Tapi kemudian kartu saya keburu expired dan saya tida juga menggunakannya. Kedua kali saya bergabung karena tertarik dengan iklan bisnis online yang bisa dikerjakan dari rumah. Saat itu saya sudah mencapai puncak kejenuhan dengan pekerjaan saya di sebuah Bank, tapi saya terbiasa untuk gajian setiap bulan. Saya tidak mau kehilangan gaji saya, walaupun alhamdulillah, suami saya selalu mencukupi kebutuhan saya. Dan itu pun berakhir karena saya merasa hanya dimanfaatkan tapi tidak cukup ’dibina’ oleh upline saya. Herannya, perasaan merasa dimanfaatkan itu tidak cukup membuat saya jera hingga saya memutuskan untuk bergabung lagi, menjadi downline sahabat saya sendiri. Awalnya saya semangat. Tapi lama-lama saya berpikir, apa yang merasuki pikiran saya sampai-sampai saya mau bergabung dengan MLM? MLM itu apapun namanya adalah pembodohan terhadap downline-downline. Volume transaksi barang riil tidak lebih besar daripada transaksi ’member’-nya. Dan semakin tinggi orang tersebut, semakin ’ongkang-ongkang kaki’ dia.

 

Saya tersadarkan setelah menyadari betapa mahalnya harga sebuah produk yang ’nggak penting’ padahal barang bermerk sejenis harganya beda sedikit saja. Pasti ada ’permainan’, kapitalisasi nyata yang membutakan mata saya. Ya, saya dibuai mimpi. Mimpi untuk punya gaji dari rumah sendiri. Gaji yang bisa saya gunakan untuk blanja blanji. Haha. Sempit sekali pikiran saya ya… Mimpi pendek yang membuat saya lupa bahwa hidup tidak hanya sekedar gaji…

(Maklum, saya tinggal selangkah lagi menuju shopaholic. Level saya masih ‘nyaris impulsif’, untungnya, hehe… )

Apa yang kemudian juga membuat saya tersadarkan adalah bisnis ini ‘hanya’ menjanjikan sesuatu yang ’sepele’, menurut saya. Ke Bali? Saya sudah pernah bersenang-senang di Bali semasa kecil. Alhamdulillah, sudah cukup puas. Disneyland? Alhamdulillah, sudah dua Disneyland sambangi. Satu di Annaheim, Amerika Serikat pada 1995  dan satu lagi di Paris tahun 1997. Apa yang bisa bisnis itu berikan untuk saya? Tidak satupun keinginan saya (selain keinginan pendek belanja-belanji) yang bisa dipenuhi. Saya ingin umroh, saya ingin Haji. Saya ingin menjadi penulis, ingin menjadi pengajar, ingin menjadi pekerja sosial, ingin keliling dunia untuk menuntut ilmu, dan di saat yang sama saya juga menyukai dunia fashion.

 

Yayaya… Saya tahu, saya perempuan dengan segudang mimpi. Tapi itulah saya. Saya sendiri pusing dengan mimpi-mimpi saya. Haha…

 

Intinya adalah, MLM kosmetik dan bisnis-bisnis serupa tidak memberikan apa yang saya mau. Tapi bukan berarti saya anti dengan MLM. Tidak semua penggiat MLM menyebalkan, narsis dan tukang pamer pencapaian kok. Hihi… Ada juga penggiat MLM yang rendah hati, menularkan semangatnya dengan tulus dan tidak melihat orang seperti barang dagangan. Dan mungkin memang bukan MLM pintu rizki saya. Saya sendiri yang menutupnya. Perniagaan tidak harus MLM, bukan? Mungkin cocok untuk sebagian orang, menjadikan mereka kaya raya, biarlah itu menjadi rizki mereka. Saya memilih menjadi sebagian lain yang juga insya Allah bisa sama kaya rayanya dengan cara yang lain. Pintu rizki kan banyak. Dan uang bukan segalanya dalam kehidupan. Kalau kita menjadikan uang sebagai tujuan, menjadikan materi sebagai tumpuan, kita hanya akan berakhir seperti musafir kehausan yang minum dari air laut. Tidak akan pernah terpenuhi rasa hausnya. Tidak akan pernah puas.

 

Jika hanya ’Bali’ sebagai tujuan, setelah ’Bali’ tercapai kita akan mengejar, entahlah mungkin Universal Studio, begitu terus sampai semua belahan bumi sudah kita sambangi, terus mau apa? So what, then what?

Apa inti dari semua target dan pencapaian itu?

Jika hanya Rp.4.000.000 per bulan bonus yang kita kejar, lalu apa? Rp.4.000.000 itu bisa dihabiskan dalam sekejap mata. Uang tidak lain hanyalah kertas bertuliskan deretan angka yang disepakati sebagai alat tukar. Tapi sudahkah kita mengubah hidup orang lain? Sudahkah kita ikut serta dalam menciptakan dunia yang lebih baik, atau kita hanya menipu diri kita sendiri? Terlihat ’wah’ padahal sesungguhnya kita hidup dalam tempurung. Ya, tempurung jejaring bisnis yang membuat kita merasa melihat lebih luas, padahal sesungguhnya menyempitkan arti pencapaian hidup kita sendiri.

Tapi sekali lagi… Mungkin MLM cocok untuk anda, silahkan jalani dan semoga anda sukses di dalamnya, dan semoga tidak lupa pula bahwa dunia bukan hanya MLM anda saja. Tidak usah marah pada saya, cukup buktikan saja apa yang saya katakan di atas tidak benar adanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s