Kami Wanita Muslim


Baca status seorang teman tentang bagaimana Rasulullah memperlakukan istri, saya jadi terpikir untuk menulis notes ini. Ada banyak segi kehidupan Rasulullah bersama istri-istrinya yang tidak di-ekspos oleh media. Media dan orang-orang yang membenci Rasulullah (entah apa sebabnya) kerap kali menyoroti kehidupan rumah tangga Rasulullah, berdasarkan kuantitas (jumlah istrinya) dan bahkan otak mesum orang-orang Barat itu menuduh Rasulullah yang mulia sebagai paedophilia (na’udzubillah…). Nggak perlu jauh-jauh untuk bisa menemukan tuduhan itu, coba saja main-main ke situs faithfreedom; dengan mudah kita bisa menemukan orang-orang jahil yang menuduh Rasulullah dengan tuduhan keji. Walaupun, kalau dipikir lagi, sebenarnya otak mereka yang mesum dengan menggambarkan Rasulullah haus wanita. Padahal Kaisar China aja dulu punya 3000 selir yang dikumpulkan dalam satu rumah. Tapi adakah dunia mengutukinya? Tidak! Adalah lumrah bagi pemimpin manapun di jaman itu untuk memiliki banyak istri. Nggak usah jauh-jauh ke jaman itu, Bung Karno saja, bapak proklamator Indonesia juga punya banyak istri (dan yag mengaku istrinya). Ada yang berani mengatakan Bung Karno haus wanita? Apakah Rasulullah mengumpulkan istri-istrinya dalam satu rumah? Tidak! Apakah Rasulullah menikahi istri-istrinya semata-mata demi kepuasan pribadi? Tidak!

 

Rasulullah menikah dengan Khadijah Binti Khuwailid ketika usianya 25 tahun, selama 25 tahun, dan sampai Khadijah wafat Rasulullah tidak pernah menikah lagi. Padahal ketika itu usia Rasulullah masih muda dan prima sebagai seorang laki-laki. Baru sepeninggal Khadijah, para sahabat mengusulkan Rasulullah untuk menikah lagi. Saya lupa-lupa ingat siapakah di antara Saudah Binti Zam’a dan Aisha Binti Abu Bakar yang dinikahi duluan oleh Rasulullah. Namun yang banyak luput dari perhatian adalah istri Rasulullah yang bernama Saudah Binti Zam’a. Beliau adalah janda yang masuk Islam di masa awal kenabian. Ketika itu ia sudah berumur 65 tahun, berkulit hitam, bertubuh tinggi besar serta miskin. Jika memang Rasulullah haus wanita, haruskah beliau sebagai pemimpin ummat Islam yang bisa mendapatkan perempuan manapun di jazirah Arab menikahi Saudah?

 

Anyway, pembahasan mengenai istri-istri Rasulullah yang lain mungkin tidak akan cukup, baik kolom maupun pengetahuan saya yang dangkal dan terbatas. Yang ingin saya tuliskan di sini adalah, jika gerakkan feminis muncul dari barat apakah itu berarti perempuan-perempuan barat lebih tercerahkan dari perempuan timur? Saya rasa tidak. Kami, wanita Muslim, sudah dimuliakan kedudukannya jauh sebelum perempuan barat menuntut persamaan hak. Dalam pekerjaan domestik saja, Rasulullah tidak pernah menyusahkan istri-istrinya. Beliau melakukan sendiri keperluannya. Padahal, saya yakin pekerjaan Rasulullah sebagai pemimpin ummat sangat berat di luar rumah. Tapi itu tidak menjadi alasan untuk tidak membantu istri melakukan pekerjaan domestik. Pun dengan masakan, Rasulullah tidak pernah menghina masakan istri-istrinya, sekalipun tidak cocok di lidah beliau. Mengapa Rasulullah berbuat seperti itu? Agar menjad contoh bagi laki-laki Muslim yang sholeh yang ingin mencontoh perilakunya. Inilah sunnah yang layak ditiru, bukan melulu poligami yang diklaim sebagai sunnah Nabi.

 

Kami, wanita Muslim, sudah ikut serta dalam peperangan. Sebutlah nama Ummu Umarah, sahabiyah (sahabat perempuan) yang ikut berperang bersama para lelaki di medan perang. Bahkan riwayat menceritakan kehebatannya dalam menebas musuh. Adakah Rasulullah melarangnya? Tidak! Rasulullah memuliakan kedudukannya beserta keluarganya.

 

Kami,wanita Muslim, sudah dihargai tiga kali lebih banyak daripada para lelaki. Ketika seseorang bertanya kepada baginda Rasulullah yang mulia, siapakah yang berhak dihormati? Rasulullah menjawab, ‘ibumu’ dan mengulangnya tiga kali, baru beliau menyebut, ‘ayahmu’.

 

Kami, wanita Muslim, sudah dihargai secara finansial. Tidak ada yang melarang kami mencari uang. Seorang laki-laki wajib menafkahi istri dan keluarganya dengan uang yang diperoleh; tapi uang hasil keringat istri, seluruhnya menjadi hak istri.

 

Jadi, jika sampai saat ini masih ada laki-laki Muslim yang mengatasnamakan agama untuk ‘memasung’ hak-hak istrinya di rumah; atau masih ada perempuan Muslim yang mengagungkan feminisme dan kesetaraan ala Barat, menurut saya, mereka harus lebih banyak membaca sejarah Nabi. Kadangkala, seseorang yang ‘merasa’ tercerahkan dengan pemikiran barat kemudian menuding pemikiran Islam; padahal mungkin, dia tidak tahu apa-apa tentang ajaran Islam yang mulia.

2 thoughts on “Kami Wanita Muslim

  1. shintaa…balik lagi niih. hihi😀
    tulisannya bagus2🙂 like this banget sama yg ini😉
    bener..bener…ga ada paham apapun yang lebih menghargai perempuan setinggi Islam melakukannya.
    di publish ke media, say… :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s