Karena Dhuafa adalah Nasabah Utama


Saya kembali ke dunia persilatan. Yaaay!! Hehe… Setelah sekian lama saya bertitel Drs. alias Di Rumah Saja, di luar titel M.Si yang saya peroleh dengan susah payah, akhirnya saya bekerja kembali. Dan besok bertepatan dengan gaji pertama saya. Hihi… Alhamdulillaaaaah…🙂

Dimanakah tempat saya bekerja?Haha… Jangan khawatir, saya bukan pekerja MLM yang hendak promosi. Saya murni mau cerita dan mengajak teman-teman sama-sama belajar seperti juga saya yang banyak belajar di tempat kerja saya yang baru. Saya bekerja di sebuah lembaga yang berada di bawah Yayasan Dompet Dhuafa. Saya yakin teman-teman pasti sudah kenal baik dengan Dompet Dhuafa (pede… :p), baik bagi mereka yang setiap bulan menunaikan zakatnya (semoga Allah memberkahi), menunaikan infaq, qurban atau bentuk jihad harta lainnya. Nah, tempat kerja saya, kami menyebutnya dengan jejaring Dompet Dhuafa, judulnya Tabung Wakaf Indonesia. Dari namanya sudah tahu dong, kami bukan bergerak di bidang makanan atau fashion, hihi…

Ya, saya bekerja di lembaga yang mengumpulkan, mengelola serta menyalurkan dana wakaf. Wakaf, apa sih itu? Sebagian kita masih asing dengan wakaf, saya yakin itu, saya sendiri masih meraba-raba dalam terang (hehe), apa dan bagaimana wakaf itu. Saya masih ingat saat pertama kali saya interview dan ditanya tentang wakaf. Saya hanya menggeleng lemah, karena saya tidak tahu. Yang saya tahu dari wakaf hanya wakaf Masjid, padahal wakaf bisa lebih dahsyat dari itu! Dari definisi aja, wakaf, sederhananya adalah menahan harta dan mengalirkan manfaatnya. Jadi, kalau teman-teman punya mobil yang menganggur dan ingin menambah nilai di jalan Allah akan hartanya, diwakafin aja. Mobilnya tetap berupa mobil, uang sewa dari mobilnya, apabila disewakan, diserahkan kepada para mauquf alaih, mereka yang menerima wakaf.

Sepintas lalu berat banget ya judulnya. Wakaf. Zakat atau infaq aja masih tersendat-sendut. Rela nggak rela. Berat karena kita (dan juga saya sebelumnya) belum tahu betapa besarnya potensi wakaf untuk memakmurkan sebuah bangsa. Saya mau kasih tahu beberapa yang saya tahu… Pada zaman pemerintahan Sultan Nur Al Din Asy Syahid, pemimpin Bani Umayyah, alias paman sekaligus orang yang menginspirasi Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi membangun sekolah yang disainnya dirancang bak istana dan mengalir sungai di dalamnya dari dana wakaf. Lalu di Mesir, konon kabarnya pada 1970-an ‘kekayaan’ Masjid Al Al-Azhar melebihi kekayaan pemerintahan Mesir.

Eits, jangan berpikir kapitalisasi Masjid dulu yaaa…

Kekayaan masjid Al-Azhar itu berupa asset-asset produktif yang hasilnya digunakan untuk pengelolaan masjid dan universitas Al-Azhar. Salah satunya adalah pemberian beasiswa kepada mahasiswa universitas Al-Azhar. Di Dompet Dhuafa sendiri, alhamdulillah, segala puji bagi Allah, sudah berdiri satu LKC dari dana wakaf. LKC adalah Layanan Kesehatan Cuma-cuma yang dipersembahkan bagi mereka yang tidak berpunya. Dan insya Allah pada awal 2012 nanti akan dibuka Rumah Sakit Terpadu yang juga dipersembahkan bagi kaum dhuafa, itu juga dari dana wakaf. Di sektor pendidikan, Dompet Dhuafa sudah mendirikan Sekolah SMART Ekselensia, sekolah bagi anak-anak cerdas seluruh Indonesia yang berasal dari keluarga kurang mampu. Mereka yang sekolah di SMART Ekselensia ini juga sudah menelurkan berbagai prestasi lho. Di TWI (Tabung Wakaf Indonesia) juga sedang mengelola sejumlah asset dari wakif (orang yang berwakaf). Kami menerima wakaf saham, wakaf perhiasan, wakaf tanah, wakaf tunai, wakaf mobil dan motor, dan segala macam bentuk wakaf. Pada sektor produktif, kami sudah memiliki Food Court dan memiliki sejumlah perkebunan. Hasilnya akan diberikan kepada mauquf ‘alaih atau dapat digunakan untuk membuka sektor produktif baru yang dapat menyerap tenaga kerja dan akhirnya menelurkan banyak entrepreneur baru.

Sudah kebayang belum bagaimana wakaf sebenarnya bisa sangat produktif? Lalu bedanya dengan zakat produktif apa? Pertanyaan ini seringkali saya dapatkan. Saya tidak berani bilang kalau zakat produktif itu salah, tapi sejatinya zakat diperuntukkan hanya bagi mustahik zakat, bukan pada sektor produktif. Di negara-negara Muslim lain, seperti Turki dan negara-negara Timur Tengah, bahkan Bangladesh yang notabene lebih miskin dari Indonesia wakaf difokuskan bagi pemberdayaan ekonomi atau sesuatu yang sifatnya non konsumtif seperti pembuatan sanitasi, pembangunan BMT dan lain sebagainya. Saya yang bodoh ini tadinya berpikir bahwa pemerintah Arab mengkapitalisasi tanah-tanah di sekitar Masjidil Haram dengan berdirinya hotel berbintang-bintang dan mall-mall kelas atas. Padahal keuntungan yang didapatkan pengelola Masjidil Haram atas pengelolaan sektor-sektor produktif tersebut akan digunakan untuk mengelola Masjidil Haram dan jamaahnya.

Bayangkan, sekian juta orang datang setiap tahunnya ke sana, seandainya tidak ada dana mandiri atau dana bergulir yang dapat memberikan keuntungan, pengelolaan Masjidil Haram menjadi ‘pasif’ atau hanya sekedar menunggu uluran tangan saja. Di Indonesia sendiri, negara dengan jumlah Muslim terbesar di Indonesia, yang katanya diberkahi dengan kekayaan melimpah, justru kesulitan menangani kemiskinan. Katakanlah, katanya jumlah orang miskin sudah berkurang. Tapi bagaimana jika terjadi inflasi? Bagaimana jika harga-harga naik dan mereka yang sudah keluar dari status miskin kembali dimiskinkan oleh keadaan? Apakah mereka (atau bahkan kita) mampu keluar dari kondisi tersebut? Masih sering kan kita dapat informasi dari media massa banyak orang mati terinjak-injak karena mengantri sedekah yang tidak seberapa. Bahkan di depan mata saya, ibu-ibu entah datang dari mana berebut uang dua ribuan yang dibagikan Papa saya ketika lebaran, bukan untuk ibu-ibunya, tapi sekedar menyenangkan anak-anak sekitar yang memang ‘langganan’ dan sudah tradisi mengantri uang lebaran. (sudah saya ceritakan dalam sebuah notes juga).

Bagaimana jika dibalik, kitalah yang seharusnya mengantri untuk memberikan wakaf, dengan apapun yang kita punya. Kitalah yang seharusnya segila-gilanya berebut, memperebutkan pasar kemiskinan untuk mengantarkan kita ke surga. Kita juga sama-sama tahu bagaimana kondisi sekolah-sekolah di pelosok Indonesia. Sekolah seperti SD Muhammadiyah di novel Laskar Pelangi mungkin masih banyak di pelosok negeri ini. Belum lagi guru-gurunya, guru sekolah swasta atau pesantren yang tidak bonafide namanya. Berapalah gaji mereka? Rasanya masih jauh dari sekolah gratis yang dibangun khalifah Nur Al Din Asy Syahid… Sebelum saya cerita lebih lanjut, saya mau sharing aja nih. Wakaf juga bisa tunai lho. Seberapapun nilai yang diwakafkan, bahkan kalau pun hanya Rp.10.000 saja yang diberikan, itu juga wakaf. Untuk Rumah Sakit Terpadu, misalnya, uang yang ‘hanya’ Rp.100.000 mungkin ‘hanya’ cukup menyumbang satu grendel pintu, atau membeli sejumlah pengki. Tapi kelak di kubur kita, grendel pintu dan pengki itulah yang insya ALlah menemani kita sebagai amal jariyah yang tidak putus dan menjadi saksi membela kita di hadapan Allah kelak.

Saya lanjut cerita yah, di jaman Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi yang tersohor, penerusnya Nur Al Din, hidup agama-agama lain selain Islam secara berdampingan. Bagi yang Muslim diwajibkan zakat atas mereka, sedangkan bagi yang bukan Muslim diwajibkan pajak bagi mereka. Sultan Shalahuddin memiliki kebijakan menarik bea cukai dari para pedagang Nasrani yang datang dari Iskandaria. Lalu kemana perginya uang tersebut? Apakah masuk ke kantong Shalahuddin? Tentu tidak, Sultan Shalahuddin bukan seperti pejabat kita yang demen duit ogah rugi, bea dan cukai tersebut digunakan untuk mensejahterakan para ‘ulama dan keluarganya. Di jaman itu fungsi ‘ulama bukan cuma ceramah apalagi cuma sekedar bahan gosip seperti sekarang ini. ‘Ulama di jaman itu benar-benar orang yang ‘alim alias banyak ilmu dan berperan besar sebagai guru. Beda kan dengan kesejahteraan guru-guru agama di Indonesia. Padahal jasanya membebaskan ummat Islam dari buta huruf Al-Quran dan mengajarkan budi pekerti ala Nabi, subhanallah besarnya…

Oh iya, mau tau nggak berapa sebenarnya potensi wakaf di Indonesia? Kata Bapak Zaim Saidi, pelopor Dinar Dirham dan salah satu dari super sedikit tokoh wakaf di Indonesia, jumlah asset wakaf mencapai 363 ribu bidang tanah, which is kalau dinilai dalam nominal mencapai 590 trilyun! Data ini juga didasarkan pada sebuah studi di UIN Syahid (Syarif Hidayatullah) pada 2006. Tapi kenapa jumlah yang potensial itu belum bisa memakmurkan bangsa Indonesia? Karena asset-asset tersebut berupa asset yang pasif dan tidak produktif, asset-asset yang justru membutuhkan suntikan dana dari luar bukan asset-asset yang mandiri atau malah bisa menghasilkan sesuatu. Belum lagi kebangkitan kelas menengah di Indonesia. Kalau dipukul rata-rata kelas menengah itu bergaji antara 2.000.000 – 10.000.000, dan masing-masing mengeluarkan uangnya 100.000 saja setiap orang secara rutin selama sebulan, berarti setahun sudah 1,2 juta. 1,2 juta dikali seribu orang sudah satu miliar dua ratus juta. Itu baru seribu. Jumlah usia produktif di Indonesia kan lebih dari seribu orang… Bayangkan dengan satu miliar dua ratus ribu rupiah itu saja, kita bisa membebaskan sebidang tanah yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai hal, untuk food court misalnya, untuk dibuka kontrakan atau kos-kosan, atau dibuka sejumlah los bagi pedagang kecil. Hasilnya bisa dimanfaatkan untuk pengelolaan Masjid di daerah tertentu sehingga tidak perlu ada lagi yang ngencleng atau menadah di jalanan. Atau hasilnya bisa dimanfaatkan untuk membangun perpustakaan umum, untuk mensejahterakan para guru ngaji, atau untuk subsidi rumah sakit… Ah banyak sekali yang bisa dimanfaatkan dari uang itu…

Nah itu baru sekelumit, sedikit, seiprit yang saya tahu dan saya pelajari selama kerja di sini. Dan saya semakin terkagum-kagum dengan agama ini. Betapa Islam mendidik kita menjadi kaya secara nominal, tapi tidak melabuhkannya di hati, melainkan diberikan kepada yang membutuhkan dari sisi konsumsi, dibangunkan sektor produktif yang memberdayakan sehingga derajat yang selama ini mustahik menjadi muzakki (ini mengapa tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah…), dan tidak ditimbun bertumpuk-tumpuk. Islam sudah mengajarkan kita untuk menjadi produktif dengan harta kita. Dan yang sesungguhnya membutuhkan terhadap kaum dhuafa adalah kita. Mereka ladang amal kita, mereka-lah ‘agen-agen’ penjual ‘kavling surga’ kita yang harus kita layani sebaik-baiknya. Mereka adalah priority customer kita. Jadi, tidak ada alasan kita untuk sombong dengan apa yang kita punya…

Astaghfirullah…. Betapa banyak kesalahan, kesombongan, bahkan yang hanya lewat sepintas lalu dalam diri saya…. Perasaan superior karena tidak menjadi dhuafa (amiin…), perasaan superior karena memberi… Padahal segalanya datang dari Allah… Padahal saya bukan siapa-siapa… Saya, kita-lah yang membutuhkan kaum dhuafa untuk dijadikan kaya dan berdaya… Untuk ‘mencari’ Rasulullah, karena beliau mencintai orang miskin… Untuk menjadi kunci pembuka keridhoan dan kecintaan Allah kepada kita… Untuk menjadi tiket kita menuju ‘keabadian’ di sisi-Nya…

Wallahu a’lam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s