Waktu: Melaju Seperti Peluru


When we arrived 20, time double its speed. Begitulah yang saya rasakan. Waktu kecil, sampai batas usia yang masih bisa saya ingat, waktu berjalan seperti keong. Saya tidak sabar menunggu dewasa. Tidak sabar mengenakan kemeja dengan busa di bahu yang jaman itu sedang ‘in’. Tidak sabar mengenakan lipstick. Tidak sabar bertumbuh tinggi dan jadi peragawati. Tidak sabar menjadi penyanyi dan karenanya saya sering bernyanyi di garasi, berharap ada produser yang lewat mendengarkan suara saya yang saat kecil saya yakini bisa menyaingi Enno Lerian.

 

Then, reality knocked my door. Saya tidak tumbuh tinggi, dan tidak menjadi peragawati. Saat umur sembilan, tinggi saya hampir setinggi ibu saya. Juga saat saya umur sepuluh, umur sebelas, sampai umur 25 sekarang, tinggi saya bahkan tidak pernah menyamai ibu saya. Kenyataan yang menyakitkan sekaligus lucu kalau saya ingat-ingat. Rumah saya buntu jadi tidak mungkin ada produser yang begitu bodoh untuk mencari talent ke rumah di jalan buntu. Berhenti menjadi banci kontes dan banci tampil. *saya kecil pernah ngotot mau nyanyi di acara sunatan hahaha..* Seandainya bukan karena saya, Shinta si pucat, saya akan merasa nyaman hanya dengan lipbalm. Dan saya benci baju dengan penyangga bahu. Please,Saya bukan pemain rugby!

 

Saat SMP, saya bingung ketika satu persatu keluarga saya berkomentar, “udah besar yah… Nggak berasa”. Saya belasan tahun menjalani hidup saya. Dan rasanya lamaaaaa sekali. Tapi saya ingat saat saya SMA, seorang sepupu saya berkata, “sekarang sih belum berasa, nanti pas Shinta kuliah, waktu rasanya cepet banget. Tau-tau udah nikah, udah punya anak, udah tua aja”.

 

Dan memang demikian adanya. Saat SMA, pertanyaan saya pada Nike Estu yang duduk dekat saya adalah seputar Matematika, maklum Nike adalah salah satu murid terpintar di kelas. Saya mengagumi Putri Aditya, karena tubuhnya yang langsing membuatnya pantas memakai baju apapun, dan kerudung sepanjang apapun. Saya juga pernah ‘terjebak’, menyukai pria yang sama dengan salah satu dari mereka. Hahaha…

 

Minggu kemarin, keduanya berkunjung ke rumah saya. Putri sudah memiliki Keenan, dan Nike baru saja menikah. Kami berbincang, bukan lagi tentang Matematika, bukan lagi tentang pria yang sama. We talked about life. We talked about being adult. And for me it happened just like that. We’re suddenly adult. Kapan terakhir kami bertukar ‘kehidupan’ sebelum kemarin?

 

Setahun yang lalu, saya, Nike dan beberapa teman lain berkunjung ke rumah Putri untuk ’tilik bayi’, dan tiba-tiba bayi laki-laki yang terlelap itu sudah besar, meng-copy paste wajah manis Bunda-nya dan sudah berjalan kian kemari.

 

Empat tahun yang lalu, saya sedang berada di tengah workshop ESQ. Dan dengan kerudung yang sama, kurang dari dua puluh empat jam lalu, saya bertemu dengan seorang dokter yang empat tahun lalu duduk di sebelah saya mengikuti acara yang sama.

 

Waktu terasa mengerikan. Tidak bisa ditahan dan melaju seperti peluru. Mungkin banyak hal berubah dalam hidup saya, hidup Putri, hidup Nike. Dan kita tidak pernah tahu hidup seperti apa yang akan kta jalani esok hari. Semuanya berganti begitu cepat.

 

Saya, masih seperti ini. Belum banyak kemajuan. Hanya pertambahan berat badan. Tapi belum banyak perkambangan diri yang berarti. Padahal hidup saya cuma sekali. Tidak ada siaran tunda, tidak ada ‘pause’, tidak ada ‘delete’. Dosa-dosa masa lalu saya melekat menjadi hantu, sedang saya asyik masyuk dengan diri sendiri.

 

Jadi, my point is, hidup perlu redefinisi.  Apa yang akan saya lakukan, bagaimana saya melakukannya, dengan siapa saya melakukannya, kapan dan sampai kapan, dan mengapa saya melakukannya? Sepertinya sudah bukan waktunya lagi saya menjalaninya ‘gitu-gitu aja’. Karena hidup saya yang hanya sekali harus saya pertanggungjawabkan suatu hari. Lalu, pertanyaan lain yang saya ajukan pada diri saya adalah, jika hidup hanya sekali, dan waktu tidak bisa berhenti, masihkah saya pantas berpangku tangan dan merasa ‘nyaman’ padahal mungkin saat ini, esok, atau lusa Izrail sedang mengintai nyawa saya?

One thought on “Waktu: Melaju Seperti Peluru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s