“Iya, Aku Iri…”


Salah satu penyakit paling uzur di dunia adalah penyakit iri. Letaknya jauh di dalam hati manusia. Ada yang tersampaikan ada pula yang mengerak di dasar hati. Iri-lah yang menjadi motivasi anak Adam menumpahkan darah pertama kalinya di muka bumi. Dan setelahnya, iri bermultiplikasi. Iri adalah helaan nafas iblis yang ditiupkannya ke dalam dada manusia.

Ngeri ya…

Tapi faktanya, tidak satupun dari kita yang tidak pernah merasa iri, bukan? Hal yang paling sederhana seringkali terjadi dalam kehidupan keluarga. Rasa iri yang timbul pada saudara kita sendiri. Menurut cerita orang tua saya, sewaktu kecil saya adalah anak yang sangat ‘iri-an’. Apa-apa yang kakak saya dapat harus saya dapatkan, dan saya selalu menginginkan apapun yang kakak saya punya. Ulang tahun kakak saya artinya adalah ulang tahun saya juga.

Sekedar info, kakak saya bekebutuhan khusus. Tidak semua mainan yang diperoleh sebagai hadiah ulang tahun bisa dia mainkan. Nah, di situlah saya mulai menjalankan politik iri bin jealous. “Kan Mbak nggak bisa mainin…” itu senjata pamungkas saya. Dan kakak saya cuma bisa manggut-manggut dan merasa bangga karena berbuat baik pada adiknya. Padahal, Papa Mama saya selalu mengingatkan saudara dan handai tolan yang senang memberi hadiah, agar memberi hadiah double. Untuk kakak saya, dan untuk saya. Hahaha…

Padahal yang ulang tahun bukan saya, dan toh saya akan mendapatkan hadiah juga pada saat saya berulang tahun. Tapi, entahlah, rasanya ketika itu semua orang begitu sayang pada kakak saya. Begitu perhatian. Sedikit saja pencapaian yang diperoleh kakak saya, dalam hal mengeja huruf atau berhitung misalnya, kakak saya langsung banjir pujian. Dari Mama, Papa, Eyang, sampai si ‘Mbak’. Padahal buat saya itu “gitu doang”, dan saya sudah bisa melakukannya sejak lama. Tingkat ke-iri-an saya begitu tinggi pada kakak saya, sampai-sampai dulu, ibu saya memiliki dua asisten rumah tangga, satu mengurus kakak saya satu mengurus saya, dan saya menginginkan si Mbak yang mengurus kakak sayalah yang mengurus saya. Pokoknya apapun yang kakak saya punya, selalu saya inginkan juga.

Beruntung, Allah menyelamatkan saya…

Kalau mengingat kejadian itu, saya rasanya antara sedih, sesal, sekaligus lucu menertawakan diri saya sendiri… Untung Allah beri saya hidayah, jika tidak karena kasih sayang-Nya-lah mungkin sampai sekarang saya masih saja iri pada kakak saya. Padahal apa yang bisa diperbuatnya tanpa bantuan orang lain…? Dulu saya tidak mengerti, dan menolak untuk mengerti. Dari kecil memang sudah punya bakat untuk keras kepala..Papa Mama saya pun mungkin tidak punya waktu untuk memberi penjelasan kepada saya…

Kembali ke masalah iri… Terkadang bisik hati datang tidak diundang, celetukan dalam pikiran yang tidak terelakkan. “Mengapa bukan aku yang seperti dia?”

Buat saya, saya tidak mau menolak perasaan saya apabila itu terjadi, bahwa “iya, saya iri…”. Saya harus berani mengakui penyakit hati saya, agar saya tahu apa obatnya. Seringkali kita menolak dan akhirnya kita menjadi tendensius pada orang tersebut, sebal tanpa alasan yang jelas atau malah mencari-cari pembenaran sebagai justifikasi atas ketidaksukaan kita yang padahal disebabkan oleh rasa iri. Kalau kita mengakui, menurut saya akan lebih mudah mengatasinya.

“Iya, saya iri… Saya tahu perasaan ini salah, saya harus perbanyak istighfar agar Allah mengampuni dosa-dosa hati saya dan mohon pada Allah agar dikuatkan melawan rasa iri”

Dengan mengakui perasaan kita, pada diri kita sendiri, hati rasanya lebih lega dan lebih tenang.

Ada satu teman saya di kantor, setiap hari selalu mengeluhkan hal yang sama, sampai-sampai saya sudah hafal semua keluhannya. Dia selalu memulai dengan kata-kata, “Aku bukannya iri karena nggak dapet fasilitas, tapi seharusnya kan…”.

Dari kata-katanya saja, semua orang sudah tahu kalau dia sebenarnya iri. Tapi dia tidak mau mengakui, dan berkutat dengan keluhan demi keluhan, wajahnya terlihat lelah karena berpeluh keluh, kinerja menurun, dan demotivasi. Hidupnya begitu menyedihkan menurut saya, karena kesenangannya tergantung pada ada atau tidaknya fasilitas penunjang pekerjaan yang sebenarnya memang tidak dibutuhkannya.

Memang sih, menangani iri itu mudah diucapkan, sulit dilakukan. Tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Yang penting kita sabar, berbaik sangka pada Allah dan melawan rasa iri dengan fokus pada pencapaian-pencapaian diri sendiri.🙂

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s