Cerita 25 Hari

H-25

Dengan izin-Nya, dua puluh lima hari saya dan suami akan berangkat ke tanah suci untuk menunaikan ibadah umrah. Banyak hal yang saya lalui dalam perjalanan saya menuju ke sana. Termasuk ketika tiba-tiba percakapan tentang umrah ini muncul ke permukaan, dan yang tidak pernah saya sangka-sangka terjadi. Ya, disinilah saya, menanti.

Secara finansial, saya dan suami belum mumpuni untuk berangkat umrah berdua. Tapi entah mengapa hati saya meyakini sesuatu yang rasanya tidak mungkin. Saya akan berangkat, dalam waktu dekat. Demikian ucap hati saya beberapa bulan sebelum ini. Dan semuanya datang tiba-tiba…

Februari lalu saya harus menerima kenyataan bahwa inseminasi yang saya dan suami lakukan tidak berhasil. Setelah terlambat beberapa hari, dan sempat melihat dua garis di testpack, akhirnya ‘bulan’ saya datang juga. Artinya, tahun ini adalah tahun keempat anggota keluarga kami hanya saya dan suami. Bulan itu kelabu bagi saya. Sampai lelah rasanya saya menangis, tapi kesedihan saya tak kunjung usai. Saya lelah, sedih, bingung, kecewa, takut. Rasanya luas bumi yang 510,1 juta kilometer terhampar menjadi hanya seukuran tempat tidur king size yang sudah kenyang menyaksikan saya menangis, terlelap, bangun dan menangis lagi, lalu terlelap lagi. Jangan tanya bagaimana sesaknya, sempitnya.

Saya tahu, sebagai orang beriman saya tidak boleh putus asa dari rahmat Allah. Dan saya tahu, bahwa pada akhirnya saya harus menerima segala ketentuan-Nya atas diri saya. Dan inilah ketentuan-Nya. Qudrat dan Iradat-Nya. Apakah artinya Allah benci pada saya? Tidak, saya tahu sekali bahwa inilah bentuk kasih sayang Allah pada saya dan suami saya: memberi waktu belajar bersama menjadi orang tua yang shalih dan shaliha.

Tapi hari itu, saya meminta maaf pada-Nya karena saya hanya ingin menangis. Saya bukan tidak percaya, bukan pula putus asa. Saya hanya ingin menangis dan saya yakin bahwa Allah mendengar air mata saya.

Dan hari-hari setelah itu saya menarik diri. Benci ditanya-tanya sana-sini. Benci ikut acara keluarga penuh basa basi. Oh, betapa egoisnya saya ketika itu. Betapa saya menuntut untuk dipahami. Karena tidak ada satupun dari mereka yang berbasa-basi dengan saya dan tidak memiliki pertanyaan lain selain, “udah isi?” mau bertukar tempat dengan saya, bukan? Jadi sudahlah, diam saja, jangan lagi saya ditanya-tanya. Saya pun sudah lelah bertanya-tanya sendiri. Kalau kepala saya boleh bertukar tempat, mungkin ia akan meminta kaki menggantikannya…

Lalu semuanya usai. Saya berdiri lagi. Masih dengan sedikit lara dan pedih. Peduli amat apa kata orang. Kalau saya hamil, mereka tidak ikut menanggung apapun, dan tidak berkontribusi apapun selain bergunjing dan berbasa-basi. Kalau saya pun tidak hamil, mereka tidak dirugikan apa-apa. Tidak pula saya minta untuk mendengarkan keluh kesah saya. Mereka kan bukan dokter.

Saya sering membayangkan umrah atau haji. Sampai di sana dan tidak memikirkan apa-apa lagi selain hanya mendekat pada-Nya. Sepenuhnya, seutuhnya, setulusnya. Merasakan kosongnya hati dalam makna yang positif. Seperti hidung yang tersumbat dan akhirnya saya bernafas lagi. Itu yang saya bayangkan, saya idamkan, hampir setiap hari. Saya ingin menemukan kembali tujuan hidup saya, dan siapa sebenarnya saya sebagai hamba-Nya. Apakah usia saya akan saya habiskan menangisi nasib yang tidak kunjung diberi momongan? Tidak…

Saya ingin kuat, diberi atau tidak diberi momongan. Saya ingin hidup dan menghidupi, bagaimanapun hidup memeluk saya nantinya.

Suatu siang, saya dan suami sedang keluar rumah bersama Papa saya. Pembicaraan kami seputar masalah kemampuan saya mengendarai mobil yang tidak kunjung meningkat karena saya seringkali takut dan saya menolak untuk memiliki SIM dengan “jalur cepat”. Papa saya nyeplos, “kalau kamu dapet SIM, Papa beliin mobil deh…”. Lalu saya menanggapi, “Yah, Pa, daripada dibeliin mobil mending uangnya untuk umroh aja, kan lebih murah…”. Papa saya terdiam sebentar kemudian bertanya lagi, “Emang harga umroh berapa sekarang?”. “kurang lebih $2000 seorang,Pa”, jawab saya. “Ya udah, cari aja sana travelnya…”.

Dan begitulah ceritanya. Saya masih “tidak ngeh” sampai saya membayar DP keberangkatan bulan lalu dan terdiam, tercengang. ‘Saya, insya Allah, akan benar-benar berangkat umrah….’

And I started to count the remaining days…

Semoga Allah melapangkan untuk kami… rizki maupun usia kami… hingga sampai di rumah-Nya dan kembali menjadi hamba yang lebih takwa. Amiin… 🙂Gambar

Advertisements