Yang Pergi Menuju Kasih Sayang-Nya, Sejuta Peluk untuk Seorang Bunda

Lama sudah saya tidak mendengar kabar darinya. Memang sejak SMA, kami tidak terlalu dekat. Saya dan perempuan berkulit hitam manis itu pun tidak terlalu akrab. Kami hanya satu kali sekelas, saat kelas tiga, masa-masa indah di penghujung SMA.

Terakhir saya bertemu dengannya di pernikahan seorang teman setahun lalu. Rasanya kawan hitam manis saya masih semanis dulu, malah semakin anggun dengan kerudung panjangnya yang menjuntai. Masih sesantun dulu, tidak terlalu banyak bicara. Tidak seperti saya yang merepet sana sini.

Setelah itu saya tidak berkabar lagi dengannya. Dan hari ini, mendadak saya mendapat sebuah kabar yang tidak mengenakkan hati. Anak keduanya meninggal dunia. Terbayang dalam benak saya, usia pernikahannya lebih muda dari saya, jadi usia anaknya pun pasti di bawah tiga tahun. Sedang lucu-lucunya. Astaga… Saya tiba-tiba teringat Othman, keponakan suami saya yang umurnya baru menginjak setengah tahun dengan pipi bulat dan kulit putih. Begitu lucu dan menggemaskan. Usia-usia yang tidak pernah bosan kita bermain dengannya. Adakah anak kawan saya seumur dengan Othman?

Saya lalu bertanya pada teman yang memberi kabar, “Anak pertamanya umur berapa?”. “Anak pertamanya sudah meninggal dua tahun lalu, hanya beberapa jam setelah lahir. Yang kedua ini juga umurnya tidak sampai satu bulan”, jawab teman saya via BBM Group.

Menuliskan ini, air mata saya tidak terasa menggenang di pelupuk mata. Bulu-bulu halus di tengkuk dan kaki saya berdiri membayangkannya. Merinding. Teringat saya cerita Maria Al-Qibtiyah, ibu dari putra Rasulullah SAW, Ibrahim bin Muhammad. Bahkan setingkat Rasulullah SAW saja meneteskan air mata saat itu karena sedih kehilangan buah hati. Ia, yang kesejahteraan dan keselamatan selalu besertanya, menghibur Maria Al-Qibtiyah dengan mengatakan bahwa Ibrahim sudah ada yang menyusui di surga-Nya. Teringat juga saya sebuah hadits, “ Perempuan manapun yang ditinggal mati oleh tiga orang anaknya maka ketiga anaknya itu akan menjadi dinding baginya dari api neraka.” (Perawi: Al Bukhari dari Abu Sa’id Al Khudri).

Anak, harta, tahta, dan segala yang kita cintai dari dunia sejatinya hanyalah titipan semata. Allah punya hak sepenuhnya untuk mengambilnya, kapanpun Dia kehendaki. Sesayang-sayangnya kita pada orang-orang yang kita sayangi, yang sudah pergi mendahului, Allah pasti lebih sayang dalam bilangan yang tidak tertandingi dari kita. Sekalipun kita ibu yang melahirkannya.

Saya yang selalu mengharapkan adanya keturunan, di sisi lain ada teman saya yang sudah diberi kesempatan menikmati indahnya menjadi bunda; namun ternyata Allah hanya menghendaki untuk sebentar saja. Masya Allah… Betapa Maha Kuasa-nya Allah… dan Betapa memang segala sesuatu berasal darinya dan akan kembali kepada-Nya…

Bunda, temanku sayang, aku yakin Allah SWT sayang sekali padamu dan suamimu. Allah SWT juga sayang pada anak-anakmu. Aku mungkin tidak merasakan apa yang kamu rasakan. Tapi yang aku tahu, Allah menyayangi kita dengan cara-Nya, dan memperlakukan kita berbeda-beda karena cinta-Nya pada kita. Padaku, Allah menyuruhku bersabar menanti keturunan. Aku hanya bisa menghatur doa, agar Allah memberimu kesabaran senantiasa dan memberimu ganti anak-anak yang shalih dan shaliha. Hingga saatnya tiba, kamu akan bertemu keduanya yang menanti dengan wajah berseri-seri, insya Allah, di surga-Nya.

Peluk sayang dariku. 🙂

-Malam Rabu, di ruang tamu.-

Advertisements

Haji Kecil itu… (Sebuah Pengingat untuk Diri Sendiri)

Tujuh tahun lalu! Itu terakhir kalinya saya menginjakkan kaki ke tanah suci. Tidak tujuh tahun persis. Tujuh tahun kurang satu atau dua bulan. Waktu itu entah bulan Juni atau Juli, di tahun 2005. The best year of my life. Saat liburan semester, saya dan keluarga saya berangkat umroh untuk kali kedua. Rasanya… Saya sudah lupa rasanya. Yang masih bisa saya ingat adalah rasa dag dig dug dhuerr saat bisa melihat Ka’bah kembali. Langsung, di depan mata…

Saya tidak mbrebes mili seperti kebanyakan orang saat melihat Ka’bah. Apa yang saya rasakan seperti tiba-tiba bertemu seseorang yang dicinta, setelah sekian lama mengharapkan pertemuan dengannya. Jantung berdebar-debar, antara senang, harap, lega, gugup, grogi, norak. U name it.

Saya juga masih ingat rasanya melihat cahaya berpendaran dari atas pesawat saat hendak mendarat di bandara Madinah. Malam itu, selepas Isya kami tiba. Dan saya melihatnya dari angkasa. Cahaya berpendaran, naik ke langit. Indah. Indah sekali. Seperti kembali ke rumah. Itulah cahaya berpendaran dari Masjid Nabawi. Masjidnya Rasulullah SAW. Tempat jasadnya yang mulia dikuburkan.

Tujuh tahun lalu, saya punya beberapa permintaan yang sederhana cenderung konyol. Salah satunya adalah saya ingin bertemu, melihat langsung bagaimana bentuk orang-orang Palestina. Dan Allah mengabulkannya.

Di Jeddah, saat hendak kembali ke tanah air, saya melihat bagaimana rupa orang-orang Palestina. Saat itu sedang ada kompetisi basket liga arab. Para peserta kebetulan menginap di hotel yang sama dengan rombongan kami. Saat melihat rata-rata tampilan pemain basket negara-negara Arab, saya hanya bisa berdoa semoga saya tidak pernah satu lift dengan mereka. Karena saya akan “lenyap” di antara para pemain basket liga arab yang tingginya… Subhanallah… Mugkin saya hanya sepinggangnya lebih sedikit.

Suatu hari, mereka sedang berkumpul di lobby. Dan disitulah saya melihat bagaimana tampilan orang-prang Palestina. Tingginya tidak setinggi pemain basket lainnya. Konon kabarnya bangsa Arab di daerah Libanon, Palestina, dan sekitarnya lebih “cakep” dibandingkan bangsa Arab lainnya. Tapi saya sih tidak bisa membedakan. Saya mengetahuinya dari bendera dan nama masing-masing negara yang tercantum di seragam mereka.

Sepele? Iya. Tapi ada suatu kejadian yang saya lihat yang membuat saya berdecak kagum. Di antara mereka ada salah seorang yang saya duga adalah coach tim Palestina. Saat mereka hendak bergegas, sang coach memanggil salah satu dari mereka. Saya lupa siapa nama yang si Coach panggil, anggaplah namanya adalah “Ahmad”, nama sejuta ummat. “Ahmad”, seru sang coach. Yang punya nama menoleh. Sang coach mengepalkan tinju sambil tersenyum, “Allahu Akbar!”. Dan Ahmad pun membalas, “Allahu Akbar!”.

Ada yang berdesir di hati saya melihat pemandangan itu. Betapa Allah dekat sekali dengan mereka. Bahkan dalam kompetisi yang “kurang penting” dan dalam rangka persahabatan pun, mereka bertanding dengan nama-Nya. Subhanallah…Apatah lagi saat mereka berperang melawan Israel?

Inilah alasan saya meminta-Nya memperlihatkan saya bagaimanakah wujud orang-orang Palestina, mereka yang seringkali disebut-sebut dalam doa. Mereka yang terasa dekat walaupun saya tidak mengenal mereka. Dekat karena Allah. Karena kita begitu cinta Palestina; dan masyarakat Palestina pun cinta dengan saudara-saudaranya dari indonesia. Keren ya?! Kita tidak saling kenal, tidak bahkan pernah bertemu, atau seperti saya, bertemu tapi tidak saling mengenal; bahkan berpapasan pun tidak; tapi kita saling mencintai dalam naungan iman pada-Nya.

Dalam seluruh perjalanan umroh pun sebenarnya sangat terasa. Ada yang berkulit putih, mungkin dari Rusia atau Albania, atau muallaf dari Eropa; ada yang berkulit kuning dari China; ada yang berkulit sawo matang seperti jamaah Indonesia, Malaysia, Brunei atau Filipina; hingga yang berkulit sangat gelap. Gelaaaaap sekali. Nyaris sama warna kulit dengan warna rambutnya. Inilah saudara-saudara kita dari Afrika bagian barat, biasanya. Tubuhnya tinggi menjulang. Yang perempuan ada yang tinggi besar; ada pula yang tubuhnya bak deskripsi dongeng-dongeng Babilonia (yang pernah saya baca waktu kecil): Sangat tinggi dan sangat langsing, berjalan dengan dagu terangkat, kulit hitam mengkilat,dan semarak dengan kain warna warni yang menutup aurat mereka. .

Seperti yang dikatakan Malcolm X dalam suratnya pada sang istri, saat ia pergi haji. Di tanah suci, ia minum satu tempayan dengan orang yang kulitnya paling putih dari orang kulit putih yang pernah ia lihat higga yang paling hitam dari orang kulit hitam yang pernah ia temui.

Subhanallah… Inilah Islam. Inilah ummatnya Rasulullah SAW yang disatukan di tanah-Nya dalam naungan iman, cinta dan taat pada-Nya dan sunnah Rasul-Nya. :’)

Ah… Siapa yang tidak rindu dengan tanah suci-Nya apabila sudah merasakan nikmatnya berada di sana?

Ketika dunia yang ditinggalkan tidak lagi menjadi masalah. Itulah, menurut saya, istirahat sesungguhnya.

-9Hari9Malam-

12 Hari Tersisa: Ini Ceritaku, Apa Ceritamu?

Saya tidak suka dengan pemikiran JIL. Tapi sekaligus merasa tidak cukup fair karena saya menolak untuk membaca buku-buku mereka, atau mem-follow salah satu dari mereka di dunia maya. Kenapa? Karena saya tidak suka. Titik. Tidak benci sama sekali sih, karena bagaimanapun juga mereka patut dikasihani dan didoakan agar dikembalikan ke jalan yang lurus, alih-alih dibenci.

Menurut saya, mereka ini jauh lebih berbahaya dari ahmadiyah atau bahkan pemurtadan sekalipun. Memakai bungkus Islam, mengutak-atik pemikiran kita, membuat dikotomi Islam pluralis dan non pluralis, membuat Islam seolah-olah demikian tidak pluralis karena “kepintaran” mereka membolak balik kata. Kok bisa? Ya! Karena patut diakui, orang-orang JIL adalah para cendikia yang memiliki tingkat intelektualitas yang tinggi. Dan saya yakin orang-orang macam ini membaca lebih banyak buku dari orang-orang kebanyakan.

Knowledge is power…

Dan inilah yang mereka miliki. Mereka bisa menguraikan detail tafsir Quran versi berbagai kitab klasik lalu diputarbalikkan dari sudut pandang mereka. Sementara kita, terjemahan Al-Quran yang katanya kita cintai pun belum khatam kita baca. Mereka bisa “memandang” Islam dari sudut pandang filsuf barat, sementara kita, boro-boro kenal filsuf barat, kenal dengan pemikir Islam yang sudah berabad-abad lampau meng-outsmart pemikir barat, Ibnu Khaldun, saja tidak. Mereka bisa “menyamakan” agama-agama karena mereka membaca ajaran agama lain, sedangkan kita? Tahu bedanya agama kita dan mereka, tahu alasan mengapa ber-Islam, tahu alasan mengapa harus Islam yang benar saja tidak?

Dan saat mereka atau orang-orang sepaham dengan mereka menggelar diskusi atau bedah buku yang, katakanlah, menghina Rasulullah SAW yang akan senantiasa mulia dan tidak berkurang kemuliaannya walaupun dihinadina, kita marah. Bereaksi dengan kekerasan. Diliput media dari sudut pandang Islam “Anarkis” melawan Islam “non anarkis”. Done!

Knowledge harus dilawan dengan knowledge, teman! Kalau kita belum bisa outsmart mereka, media massa akan selalu memposisikan “kita” dengan pihak anarkis, dan “mereka” dengan korban. Sebuah skema untuk menimbulkan simpati sekaligus kebencian pada Islam fundamentalis. Padahal beragama secara fundamental itu harus!

Dalam sebuah percakapan grup BBM, salah seorang teman non Muslim saya berkomentar, “saya sih nggak peduli konten kontroversial bedah buku Irshad Manji, tapi cara kekerasan itu tidak bisa dibenarkan”. OFKORS! Mereka, teman-teman kita yang non Muslim tidak punya kepentingan dengan konten orang-orang liberal, apakah itu JIL atau orang-orang yang mendadak “kelihatan” pintar dengan mengaku-ngaku liberalis yang menjelek-jelekkan Islam. KITA yang punya kepentingan. Kepentingan membela Islam, sekaligus mendakwahkan kebenaran Islam sebagai rahmat bagi semesta alam kepada teman-teman kita yang non Muslim. Tapi bahasa “kekerasan” dan “damai” itu universal. Semua orang CINTA DAMAI. Ini prinsip pertama yang harus kita ketahui. “Kekerasan”  bukan jawaban dari intelektualitas. Intelektualitas, sekali lagi, hanya bisa dilawan dengan intelektualitas yang lebih dari itu!

Jadi, menurut saya, IMHO, ada sejumlah hal yang harus kita lakukan (saya terutama) dalam rangka melawan mereka:

Pertama, banyak belajar. Sebanyak-banyaknya. Tidak perlulah sekolah jauh-jauh ke Amerika macam si “U” untuk bisa banyak pengetahuan. Ibnu Khaldun toh tidak sekolah ke Amerika. Khatamkan tafsir Al-Quran, banyak berguru pada mereka yang berilmu, agar apabila ada yang menghina atau memutarbalikkan tafsir Al-Quran, kita bisa melawan bukan dengan emosi, tapi juga disertai argumentasi. Baca buku-buku Ibnu Khaldun, dan pemikir Islam lainnya yang saya pikir sekarang sudah lebih mudah ditemui di toko-toko buku. Pelajari sejarah Islam universal, dan bagaimana masuknya Islam ke Indonesia. Bandingkan dengan sejarah bagaimana masuknya agama lain ke Indonesia. Dari sejarah kita belajar banyak bagaimana Islam bisa mingle tanpa kekerasan. Pelajari juga bagaimana sebenarnya Islam berbeda dengan agama lain. Kenali agama kita dengan ilmu tinggi dan rendah hati. Investasi ilmu itu tidak akan pernah merugi!

Kedua, pelajari bagaimana perilaku media massa. Sensasi, tidak bisa dipungkiri adalah salah satu (bukan satu-satunya) mata pencaharian media massa. Jadi label “kekerasan” versus “damai” itu tidak pernah tidak menarik apalagi kalau sampai berjatuhan korban. Dengan membaca perilaku media massa lain selain media yang biasa dikonsumsi ummat Islam seperti Republika atau Sabili, kita bisa melihat apa sebenarnya yang dilihat oleh khalayak lain selain kita dan yang diperlihatkan media massa kepada khalayak selain kita.

Ketiga, sebagaimana yang saya sebut-sebut di atas, kekerasan bukan jawaban dari intelektualitas. Kecuali mereka membabi buta menyerang Masjid (yang tidak mungkin dilakukan sepertinya…). Pedang melawan pedang, kata melawan kata. Seperti Ustadzah Irena Handono “menjawab” tuduhan orang-orang yang tidak suka pada Islam dengan menyebut Rasulullah SAW sebagai phaedophil (na’udzubillah….), dengan mengeluarkan buku yang dilengkapi riset dan fakta plus ceramah di berbagai majlis mengenai isi buku tersebut. Buku adalah produk dari pengetahuan. Dan tanpa “otot”, Ustadzah Irena mensyiarkan kebenaran mengenai Rasulullah SAW yang mulia.
Keempat, saatnya mulai “mengenal” pandangan liberal dari sumbernya, bukan dari ustadz yang memandang dari sudut pandang agama. “Mereka menolak amar ma’ruf nahi munkar”, itu kata-kata yang saya baca di sebuah situs yang menentang JIL. Yaeyyalahh… Tapi apa, siapa dan bagaimana-nya itu kan kita tidak tahu, dan ustadz itu juga tidak tahu. Kalau kita mau tahu baca langsung dari sumbernya. Dan ingat, bahwa Allah menurunkan Islam lengkap dan paripurna. Se”benar” apapun kelihatannya pemikiran mereka (apabila kita sudah melihat pemikiran mereka langsung dari sumbernya), ingatlah bahwa kebenaran itu relatif bagi mereka. Jadi untuk apa, dan apa dasarnya kita mempercayai mereka? Mereka kan manusia biasa yang jelas-jelas salah :p. Toh kita hanya ingin tahu sudut pandang yang mereka gunakan.

Kelima, percaya diri. Jangan merasa rendah diri hanya karena salah satu dari kita mungkin tidak secerdas atau seberkelimpahan secara materi dibandingkan mereka yang liberal. Setelah kita berikhtiar dengan belajar buanyak, dalam konteks “melawan” liberalisme Islam ini, di atas segalanya kita harus selalu ingat bahwa Allah bersama kita, dan Allah lebih dari cukup. Dan kemenangan yang benar itu sebuah kepastian. Jadi, insya Allah, Allah akan memudahkan kita untuk belajar banyak, mengumpulkan banyak ilmu untuk bisa meng-outsmart para liberalis.

Ini jihad kita di bumi Indonesia. Dan Allah bersama kita, saudaraku. Selalu.

#IndonesiaTanpaJIL

#menunggu12HariDenganTidakSabar

Till Death Do Us Part — Catatan Dua Minggu Lebih Satu

Dalam waktu satu bulan ini empat orang kenalan saya berpulang ke hadirat-Nya. Tiga minggu lalu, paman suami saya meninggal dunia karena penyakit paru-paru yang sudah beberapa tahun belakangan diderita beliau. Menyusul minggu berikutnya, ibunda tetangga saya berpulang ke rahmatullah di usia senja. Beberapa hari setelahnya, sepupu ibu saya juga kembali ke sisi Allah, karena sakit mendadak, entah serangan jantung atau stroke. Minggu lalu, tetangga dekat saya juga dipanggil oleh Yang Maha Penyayang karena komplikasi diabetes yang lama dideritanya.

Ada banyak kisah di balik kepergian mereka, tapi tidak akan saya tuliskan di sini karena tidak sedikit juga di antaranya adalah aib. Namun di antara kematian demi kematian yang terjadi beruntun dalam satu bulan terakhir ini, saya mengambil sebuah hikmah berharga. Bahwasanya hidup ini sejatinya hanyalah pembekalan menuju akhirat. Dan kematian adalah masa penantiannya. Hidup ini layaknya seleksi. Seleksi seberapa tinggi iman di hati. Apabila Tuhan adalah tujuan akhirnya, maka sepantasnyalah kita menjadikan kematian sebagai masa penantian yang indah dan masa rehat dari riuhnya dunia yang menjemukan dan senantiasa dipenuhi berbagai tuntutan.

Bagaimana kita menjalani hidup ini, itu pulalah yang akan mengantarkan kita bertemu mati. Mama saya berkisah tentang temannya di masa muda. Seorang pemuda baik hati yang senang mengajar ngaji. Di saat jumlah orang yang shalat bisa dihitung dengan jari, teman Mama sudah gemar mengajarkan Islam. Suatu hari di bulan Ramadhan, dalam perjalanannya menuju tempatnya mengajar Al-Quran, Allah sudah menggariskan tertabrak kereta sebagai penyebab akhir hidupnya. Kereta hanyalah pelengkap cerita, takdir bertemu dengan takdir. Tapi esensi kisah hidupnya adalah akhir yang indah. Bertemu Tuhannya, Sang Maha Segala yang ia “kenalkan” pada murid-muridnya.

Pada akhirnya kematian kita tidak akan terlalu jauh dari apa yang kita kerjakan selagi hidup di dunia. Kebiasaan kita pulalah yang seringkali mengantarkan kita pada penyakit yang menjadi sebab kematian kita. Namun sekali lagi, menurut pemikiran saya yang masih mengeja ini, penyakit, kereta, tsunami, gempa,”hanyalah” pelengkap cerita. Kisah yang Allah tetapkan sebagai akhir buku kehidupan kita. Inti dari kisah kehidupan adalah bagaimana kita mengakhirinya…

Akhir-akhir ini saya seringkali berpikir tentang kematian setelah bertubi-tubi berita duka menghampiri. Bagaimana akhir kisah kehidupan saya? Dalam keadaan seperti apa saya akan menemui-Nya? Akankah ketika saat itu tiba Allah sudah menghapus dosa-dosa saya dan memaafkan kesalahan-kesalahan saya, yang sering saya sesali tapi lebih sering lagi saya ulangi?

Kadangkala perlu sesekali merenung dan berpikir tentang mati. Bukan karena putus asa dengan kehidupan. Atau jenuh dan mencari pelarian. Tapi berpikir tentang mati seharusnya menjadikan kita lebih giat beramal shalih, karena kita tidak pernah tahu, bukan… Dimana, kapan, dan bagaimana kita akan menemui-Nya?

“Berbekallah, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa” (Al-Baqarah: 197)

Dosen Super Junior

Alhamdulillah, Allah memberikan saya kesempatan mengejar salah satu dari bejibun mimpi saya: menjadi pengajar. Walaupun hati kecil saya masih ingin mengajar anak-anak alih-alih sekelompok manusia remaja menjelang dewasa yang sedang mencari jati diri; tapi bagaimanapun juga saya senang mengajar. Ada rasa lega setiap kali saya pulang mengajar, walaupun kadang juga lelah tak terkira. Saya tidak terbayang betapa capeknya guru-guru SMP atau SMA yang murid-muridnya “lagi lucu-lucunya”. Dan hormat saya semakin dalam pada guru-guru yang pernah mengajar dan mendidik saya. Mengajarkan saya alif, ba, ta, hingga saya bisa mengeja dengan irama satu kitab suci mulia; memberi terang pada pikiran saya apa dan siapa Allah; menjadikan saya lebih jeli memandang dunia. Subhanallah… Menjadi pendidik itu tidak mudah, ternyata.

Apa modal saya? Itu yang sering terbersit di benak saya.

Saya fresh graduate, baru “kemarin sore” lulus dan ditahbiskan sebagai magister ilmu komunikasi. Apakah nilai-nilai saya menjadi modal yang cukup untuk saya? Awalnya saya kira iya. Anak baru macam saya memang seringkali jumawa. Tapi nilai bagus saja tidak cukup menjadi pendidik dan pengajar yang handal. Butuh satu konsistensi, istiqamah, tidak mudah menyerah, dan yang paling penting tidak menghakimi satu pun mahasiswa saya, seberapa “aneh” pun kelakuannya di kelas; seberapa remeh pun mereka menganggap saya sebagai dosen dengan jeans dan sepatu flat dan tinggi di bawah rata-rata.

Yang terakhir itu agak sulit, karena bagaimana pun saya, sebagaimana kebanyakan kita, mengandalkan generalisasi dan stereotype untuk mendapatkan informasi secara umum tentang manusia-manusia setengah dewasa yang saya hadapi setiap minggunya. Tapi yang saya pegang adalah, mereka pun melakukan hal yang sama terhadap saya. Karena prinsip dasar komunikasi berlaku universal, bukan? Menghindari generalisasi dan stereotyping, walaupun saya seringkali membahas ini dengan mahasiswa-mahasiswa saya, adalah sebuah tantangan bagi saya. Melihat mahasiswa bertindik dan merokok, atau mahasiswi berbaju ketat; sulit kiranya saya memisahkan antara gambaran umum dengan keharusan saya untuk memahami bahwa setiap orang adalah makhluk unik yang Allah ciptakan dengan segala kelebihan dan kekurangan, yang juga punya hak untuk mendapatkan pendidikan dan perhatian yang sama dari dosennya dan perlakuan setara di dalam kelas, maupun di luar kelas.

Tantangan lain menyusul setelah saya berusaha memahami mahasiswa sebagai makhluk yang unik. Menghadapi mahasiswa yang ‘sulit’ yang juga bagian dari keunikannya. Pertanyaan yang seringkali menyudutkan saya dan sikap menantang cenderung membangkang. Mahasiswa ini, sebutlah si X, paling getol mengusulkan kelas tambahan karena dua kali saya tidak masuk (karena tanggal merah!). Perspektif yang dia gunakan adalah saya, “Kan ibu dua kali nggak masih kuliah tuh…”. Sebal? Pasti. Di hari kuliah pengganti, percaya atau tidak, yang hadir hanya dua mahasiswa dan si mahasiswa X ini tidak datang. Di hari berikutnya, dia kembali bertanya-tanya, “Penggantinya hanya sekali ya,Bu? Kan ibu nggak hadirnya dua kali”. Rasanya? Ingin sekali saya usir dari kelas. Tapi saya memutuskan untuk memanjangkan limit kesabaran saya. Karena saya mudah “terganggu”, jadi alih-alih saya terbawa suasana dan akhirnya berdampak buruk kepada mahasiswa lainnya yang memang niat untuk belajar, saya memilih tidak terbawa kontrolnya atas diri saya. “Untuk absensi, silahkan tanyakan ke SPA (tempat mengurus administrasi kehadiran). Bukan urusan saya lagi.”. Done! Wajahnya berubah. Kalah.

Dari situ saya belajar bahwa saya tidak bisa lagi naive dan lempeng, sebagaimana biasa. It works on some students, tapi lagi-lagi, masing-masing mahasiswa adalah sosok yang unik. Beberapa dari mereka menginginkan hasil cepat, malas berinteraksi lama-lama yang sifatnya pribadi dengan dosennya, sesuatu yang saya pikir awalnya akan memotivasi mahasiswa untuk bekerja lebih giat. Dan beberapa ingin “mengalahkan” dosennya. Selain itu, saya juga belajar untuk tidak membawa “kekesalan” saya terhadap mahasiswa ke ranah pribadi. Karena saya akan lelah sendiri nantinya, mood saya jelek saat mengajar dan hasilnya tidak maksimal. Juga, tidak bisa dipungkiri adanya subjektivitas saya sebagai pribadi. Ini selalu saya kemukakan di mula kepada mahasiswa. Wajar, saya pikir. Kalau saya kenal dan tahu performa mahasiswa di kelas, akan lebih mudah saya untuk membantu nilainya apabila nilainya memang harus dibantu. Syukur-syukur nilainya gemilang seperti performanya di kelas.

Masih banyak yang harus saya pelajari tentang seni mengajar, tapi saya percaya bahwa saya bisa “learning by doing”. Alah bisa karena biasa, kata pepatah. Jam terbang saya masih rendah, hitungan jari. Belum pantas mengeluh, apalagi menyerah. Pantasnya mengevaluasi keadaan, menambal yang kurang dan belajar tidak kenal henti. Kata pepatah lagi, guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Jadi apabila saya mengharapkan mahasiswa saya untuk belajar keras, saya harus belajar setidaknya sama kerasnya. Hmm, saya kira ini modal pengajar super junior macam saya: keras kepala dan segudang idealisme. 

_fin_

Cerita 21 Hari

Hari ini ditengahi dengan tangisan. Saya memang ekstra sensitif, kalau di kepolisian mungkin namanya Unit Reaksi Cepat, jadi kalau ada apa-apa dikit langsung cepat bereaksi. Termasuk membaca buku yang sudah lumayan lama nangkring di rak buku saya.

Judulnya, “Ya Allah, beri aku satu saja” Tutur Jujur Para Pendamba Momongan. Dan sukses! Baru cerita ketiga air mata saya sudah kececeran. Rasanya seperti membuka luka lama. Sudah sebulan lebih rasanya, dari saat saya fokus mengurus kepergian ke Tanah Suci, saya tidak memikirkan urusan anak. Pikiran saya sudah sedikit plong, tidak lagi ingin mencegah datangnya “bulan”. Ya sudah, “bulan” yang mau datang biar datang karena memang sudah waktunya.

Ada yang sudah 10 tahun tanpa anak, dan akhirnya bercerai dengan suami. Ada yang masih terus menanti, dan ada pula yang berakhir indah. Ah… Itulah Allah dan apa yang IA kehendaki pada hamba-hamba-Nya. Tapi membaca kisah mereka tak urung membuat saya mengingat kembali, empat tahun yang berlalu tanpa adanya tangis bayi.

Tapi saya kan sudah move on.

Saya ingat kata-kata ustadzah saya, “nikah itu yang dicari berkahnya…sebagaimana do’a yang diajarkan Rasulullah SAW, ‘barakallahumma wa baraka alaikuma wa jamaa bainakuma fii khair'” (kalau lupa tanya Maher Zain ya…)

Di doa itu, lanjut ustadzah kita mendoakan pengantin agar senantiasa diberkahi oleh Allah, baik keduanya maupun “apa yang dikumpulkan” di antara keduanya. “Apa yang dikumpulkan” ini kan beragam. Anak, sudah pasti salah satunya, harta, ilmu, perilaku dan budaya yang tercipta sebagai hasil interaksi antara dua insan. Hendaknya, kiranya, semua, apapun yang dikumpulkan selalu dalam kebaikan yang banyak. Ya, kebaikan yang banyak, seperti makna “berkah” itu sendiri…

Jadi, alih-alih momongan, pernikahan sejatinya mencari kebaikan dalam setiap sendinya. Apabila Allah menghendaki adanya momongan di tengah-tengah pasangan, apakah satu, dua, atau selusin bahkan mungkin lebih, agar semuanya juga terjaga dalam kebaikan sebagai hasil orang tua yang menjaga kebaikan dalam tiap sudut pernikahannya.

*hela nafas*

Dan semoga Allah menguatkan saya selalu, melapangkan seluasnya, hati saya yang rapuh ini, agar bisa menjadi ibu yang kuat bagi anak-anak saya kelak, jika Allah menghendaki demikian; pun jika tidak Allah kehendaki anak-anak itu lahir dari rahim saya.

Amiin ya Rabbal ‘Alamiin…

Gambar 

Tentang Semalam

Saya ini aslinya penakut. Sejak kecil saya senang dengan hal-hal misterius yang membuat penasaran, khususnya cerita-cerita seram. Saya selalu menyukai cerita hantu-hantu baik lokal maupun internasional; walaupun malam harinya saya akan susah tidur. Ya, karena aslinya saya memang penakut akan hal-hal “ghaib”.

“Ghaib” ini dulu saya definisikan dengan hal-hal mistis dan supranatural. Tapi, alhamdulillah, Allah menyelamatkan saya dan dengan rahmat-Nya akhirnya saya belajar bahwa hal-hal “ghaib” memang wajib diimani dengan tuntunan-Nya. Bahwasanya Allah menciptakan makhluk lain selain manusia memang harus kita imani. Tapi semuanya takut pada-Nya, bahkan setan pun sejatinya takut pada Allah. Jadi bayangkan kalau sampai ada manusia yang tidak takut kepada-Nya… Apakah mau lebih setan dari setan itu sendiri?

Tapi, tetap saja, saya ini aslinya penakut. Hanya karena Allah menempatkan saya pada posisi yang mengharuskan saya tidak takut, saya mulai belajar berani. Alhamdulillah, memang saya seumur hidup, tidak pernah mengalami kejadian-kejadian supranatural yang bombastis dan layak diceritakan di sini. Tapi tadi malam lain lagi ceritanya.

Waktu itu suami saya pernah bilang bahwa perasaannya di rumah kami (yang hanya dihuni dua orang dan kadang-kadang kosong sama sekali) ada ‘penghuni’-nya. Memang saya beberapa kali menemukan kejadian aneh, tapi tidak saya tanggapi sebagai apa-apa. Misalnya, suatu siang, sepulangnya saya dari bepergian saya menemukan semacam tumpahan gula merah cair. Itu lho yang seperti ada di cendol atau cincau. Lengket dan bersemut. Saya tanya suami saya, tapi dia tidak minum apapun yang mengandung gula merah cair, saya juga ingat semalam suami saya makan McDonald di teras depan bersama kucing.

Semalam, saya sempat melirik sepintas tong sampah saya yang penuh di dapur. Tidak ada keinginan saya untuk meng-“injak” untuk membuatnya ringkas. Toh besok paginya akan saya buang juga, begitu pikir saya. Kemudian setelah saya melakukan ini itu, pas masuk waktu Maghrib saya ke dapur hendak mengambil sesuatu, dan tong sampah saya menjadi ringkas dan padat seperti diinjak. Styrofoam bekas tempat buah pun patah jadi dua.

Saya diam, terpana. Berusaha mengingat-ingat apakah memang saya yang menginjaknya dan saya lupa begitu saja? Lagian toh saya kan memang dari sananya pelupa juga. Mungkin, tapi mungkin juga bukan. Tiba-tiba saya takut, lalu bergegas masuk kamar dan menutup pintu. Setelah shalat Maghrib, saya langsung capcus ke rumah orang tua yang hanya sekelebet jaraknya.

Tapi hati saya sih sebenarnya mengatakan bahwa apapun itu, sayakah yang pelupa atau apapun itu, insyaAllah tidak menimbulkan bahaya. Kadang rasa bahaya ini memunculkan alert dalam diri kita. Seperti perasaan tidak nyaman. Seperti saat seorang bapak-bapak memilih duduk di samping saya di angkot dan tiba-tiba hati saya mengirimkan sinyal-sinyal bahaya ke otak. Atau seperti perempuan di kantor suami saya yang senang menelepon di waktu-waktu pribadi. Nah yang ini berbeda. Sebenarnya saya merasa biasa-biasa saja, hanya tidak ingin sendiri karena ya itu tadi… saya ini aslinya penakut.

Setiap takdir manusia itu saling berkait, bukan? Nah kejadian semalam mengantarkan saya ke rumah Mama yang sedang gundah gulana. Papa saya diketahui hasil PSA-nya 18,5. Nilai yang sangat tinggi dibandingkan dengan nilai rujukannya yang di bawah 3. Oh iya, PSA adalah skrining untuk mengetahui kadarzat protein yang dilepaskan kelenjar prostat ke dalam darah, yang menjadi indikator kanker prostate atau adanya infeksi prostate.

Ada banyak hal yang bisa menyebabkan seseorang terkena kanker prostate, ini berdasarkan kuliah setengah SKS bersama Prof. dr. Google, SpPD. Pertama, adanya riwayat kanker prostat dalam keluarga. Yup, abangnya Papa saya meninggal karena kanker prostat, dan hampir seluruh keluarga Papa saya meninggal karena kanker. Kedua, gaya hidup dan konsumsi makanan. Sekarang sih Papa saya lumayan sehat gaya hidupnya; tapi di masa mudanya Papa saya paling hobi makan jeroan. Ketiga, rokok. Papa saya memang sudah berhenti merokok, tapi dari SMP sampai beliau terkena serangan jantung, Papa dikenal sebagai perokok. Rokok itu sudah menjadi semacam signature Papa. Keempat, obesitas. Poin ini bisa dilewati karena Papa saya berat badannya normal dan tidak pernah obesitas.

Dari empat poin ini, poin pertama-lah yang paling saya khawatirkan. Dari mulai kakaknya Papa saya yang pertama, hingga yang terakhir meninggal, semuanya didiagnosa kanker. Tiga meninggal karena kanker paru-paru dan satu meninggal karena kanker prostat. Jadilah Mama gundah sekali semalam. Sibuk tanya sana-sini. Belum lagi Papa saya agak keras kepala.

Begitulah takdir membawa saya yang ketakutan ke rumah Mama, mungkin keberadaan saya dimaksudkan untuk menguatkan, atau bahkan sekedar menemani. Namun demikianlah adanya. Saya merasa memang sudah seperti itu jalannya dari Allah untuk “menggerakkan” saya yang malas-malasan mau keluar rumah.

Kaitannya jauh ya?

Tapi saya percaya, sekecil apapun itu, pasti ada alasan untuk segala sesuatu, hanya saja takdir Allah kadangkala tidak bekerja seperti apa yang kita kira, karena Allah sudah menyiapkan tetapan yang paling baik, takdir yang ultra komprehensif dan komplit. Takdir yang Allah tetapkan bagi kita, adalah juga takdir yang Allah tetapkan bagi orang lain yang bertalian dengan takdir kita.

Dan inilah mengapa seorang Muslim harus mengucapkan “Insya Allah” apabila ia berjanji, karena ruang dan waktu adalah milik-Nya semata.

Yah demikianlah cerita saya, tentang semalam. Semoga tidak menjadi sampah informasi belaka dan bisa diambil hikmahnya 🙂