Tentang Semalam


Saya ini aslinya penakut. Sejak kecil saya senang dengan hal-hal misterius yang membuat penasaran, khususnya cerita-cerita seram. Saya selalu menyukai cerita hantu-hantu baik lokal maupun internasional; walaupun malam harinya saya akan susah tidur. Ya, karena aslinya saya memang penakut akan hal-hal “ghaib”.

“Ghaib” ini dulu saya definisikan dengan hal-hal mistis dan supranatural. Tapi, alhamdulillah, Allah menyelamatkan saya dan dengan rahmat-Nya akhirnya saya belajar bahwa hal-hal “ghaib” memang wajib diimani dengan tuntunan-Nya. Bahwasanya Allah menciptakan makhluk lain selain manusia memang harus kita imani. Tapi semuanya takut pada-Nya, bahkan setan pun sejatinya takut pada Allah. Jadi bayangkan kalau sampai ada manusia yang tidak takut kepada-Nya… Apakah mau lebih setan dari setan itu sendiri?

Tapi, tetap saja, saya ini aslinya penakut. Hanya karena Allah menempatkan saya pada posisi yang mengharuskan saya tidak takut, saya mulai belajar berani. Alhamdulillah, memang saya seumur hidup, tidak pernah mengalami kejadian-kejadian supranatural yang bombastis dan layak diceritakan di sini. Tapi tadi malam lain lagi ceritanya.

Waktu itu suami saya pernah bilang bahwa perasaannya di rumah kami (yang hanya dihuni dua orang dan kadang-kadang kosong sama sekali) ada ‘penghuni’-nya. Memang saya beberapa kali menemukan kejadian aneh, tapi tidak saya tanggapi sebagai apa-apa. Misalnya, suatu siang, sepulangnya saya dari bepergian saya menemukan semacam tumpahan gula merah cair. Itu lho yang seperti ada di cendol atau cincau. Lengket dan bersemut. Saya tanya suami saya, tapi dia tidak minum apapun yang mengandung gula merah cair, saya juga ingat semalam suami saya makan McDonald di teras depan bersama kucing.

Semalam, saya sempat melirik sepintas tong sampah saya yang penuh di dapur. Tidak ada keinginan saya untuk meng-“injak” untuk membuatnya ringkas. Toh besok paginya akan saya buang juga, begitu pikir saya. Kemudian setelah saya melakukan ini itu, pas masuk waktu Maghrib saya ke dapur hendak mengambil sesuatu, dan tong sampah saya menjadi ringkas dan padat seperti diinjak. Styrofoam bekas tempat buah pun patah jadi dua.

Saya diam, terpana. Berusaha mengingat-ingat apakah memang saya yang menginjaknya dan saya lupa begitu saja? Lagian toh saya kan memang dari sananya pelupa juga. Mungkin, tapi mungkin juga bukan. Tiba-tiba saya takut, lalu bergegas masuk kamar dan menutup pintu. Setelah shalat Maghrib, saya langsung capcus ke rumah orang tua yang hanya sekelebet jaraknya.

Tapi hati saya sih sebenarnya mengatakan bahwa apapun itu, sayakah yang pelupa atau apapun itu, insyaAllah tidak menimbulkan bahaya. Kadang rasa bahaya ini memunculkan alert dalam diri kita. Seperti perasaan tidak nyaman. Seperti saat seorang bapak-bapak memilih duduk di samping saya di angkot dan tiba-tiba hati saya mengirimkan sinyal-sinyal bahaya ke otak. Atau seperti perempuan di kantor suami saya yang senang menelepon di waktu-waktu pribadi. Nah yang ini berbeda. Sebenarnya saya merasa biasa-biasa saja, hanya tidak ingin sendiri karena ya itu tadi… saya ini aslinya penakut.

Setiap takdir manusia itu saling berkait, bukan? Nah kejadian semalam mengantarkan saya ke rumah Mama yang sedang gundah gulana. Papa saya diketahui hasil PSA-nya 18,5. Nilai yang sangat tinggi dibandingkan dengan nilai rujukannya yang di bawah 3. Oh iya, PSA adalah skrining untuk mengetahui kadarzat protein yang dilepaskan kelenjar prostat ke dalam darah, yang menjadi indikator kanker prostate atau adanya infeksi prostate.

Ada banyak hal yang bisa menyebabkan seseorang terkena kanker prostate, ini berdasarkan kuliah setengah SKS bersama Prof. dr. Google, SpPD. Pertama, adanya riwayat kanker prostat dalam keluarga. Yup, abangnya Papa saya meninggal karena kanker prostat, dan hampir seluruh keluarga Papa saya meninggal karena kanker. Kedua, gaya hidup dan konsumsi makanan. Sekarang sih Papa saya lumayan sehat gaya hidupnya; tapi di masa mudanya Papa saya paling hobi makan jeroan. Ketiga, rokok. Papa saya memang sudah berhenti merokok, tapi dari SMP sampai beliau terkena serangan jantung, Papa dikenal sebagai perokok. Rokok itu sudah menjadi semacam signature Papa. Keempat, obesitas. Poin ini bisa dilewati karena Papa saya berat badannya normal dan tidak pernah obesitas.

Dari empat poin ini, poin pertama-lah yang paling saya khawatirkan. Dari mulai kakaknya Papa saya yang pertama, hingga yang terakhir meninggal, semuanya didiagnosa kanker. Tiga meninggal karena kanker paru-paru dan satu meninggal karena kanker prostat. Jadilah Mama gundah sekali semalam. Sibuk tanya sana-sini. Belum lagi Papa saya agak keras kepala.

Begitulah takdir membawa saya yang ketakutan ke rumah Mama, mungkin keberadaan saya dimaksudkan untuk menguatkan, atau bahkan sekedar menemani. Namun demikianlah adanya. Saya merasa memang sudah seperti itu jalannya dari Allah untuk “menggerakkan” saya yang malas-malasan mau keluar rumah.

Kaitannya jauh ya?

Tapi saya percaya, sekecil apapun itu, pasti ada alasan untuk segala sesuatu, hanya saja takdir Allah kadangkala tidak bekerja seperti apa yang kita kira, karena Allah sudah menyiapkan tetapan yang paling baik, takdir yang ultra komprehensif dan komplit. Takdir yang Allah tetapkan bagi kita, adalah juga takdir yang Allah tetapkan bagi orang lain yang bertalian dengan takdir kita.

Dan inilah mengapa seorang Muslim harus mengucapkan “Insya Allah” apabila ia berjanji, karena ruang dan waktu adalah milik-Nya semata.

Yah demikianlah cerita saya, tentang semalam. Semoga tidak menjadi sampah informasi belaka dan bisa diambil hikmahnya🙂

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s