Dosen Super Junior


Alhamdulillah, Allah memberikan saya kesempatan mengejar salah satu dari bejibun mimpi saya: menjadi pengajar. Walaupun hati kecil saya masih ingin mengajar anak-anak alih-alih sekelompok manusia remaja menjelang dewasa yang sedang mencari jati diri; tapi bagaimanapun juga saya senang mengajar. Ada rasa lega setiap kali saya pulang mengajar, walaupun kadang juga lelah tak terkira. Saya tidak terbayang betapa capeknya guru-guru SMP atau SMA yang murid-muridnya “lagi lucu-lucunya”. Dan hormat saya semakin dalam pada guru-guru yang pernah mengajar dan mendidik saya. Mengajarkan saya alif, ba, ta, hingga saya bisa mengeja dengan irama satu kitab suci mulia; memberi terang pada pikiran saya apa dan siapa Allah; menjadikan saya lebih jeli memandang dunia. Subhanallah… Menjadi pendidik itu tidak mudah, ternyata.

Apa modal saya? Itu yang sering terbersit di benak saya.

Saya fresh graduate, baru “kemarin sore” lulus dan ditahbiskan sebagai magister ilmu komunikasi. Apakah nilai-nilai saya menjadi modal yang cukup untuk saya? Awalnya saya kira iya. Anak baru macam saya memang seringkali jumawa. Tapi nilai bagus saja tidak cukup menjadi pendidik dan pengajar yang handal. Butuh satu konsistensi, istiqamah, tidak mudah menyerah, dan yang paling penting tidak menghakimi satu pun mahasiswa saya, seberapa “aneh” pun kelakuannya di kelas; seberapa remeh pun mereka menganggap saya sebagai dosen dengan jeans dan sepatu flat dan tinggi di bawah rata-rata.

Yang terakhir itu agak sulit, karena bagaimana pun saya, sebagaimana kebanyakan kita, mengandalkan generalisasi dan stereotype untuk mendapatkan informasi secara umum tentang manusia-manusia setengah dewasa yang saya hadapi setiap minggunya. Tapi yang saya pegang adalah, mereka pun melakukan hal yang sama terhadap saya. Karena prinsip dasar komunikasi berlaku universal, bukan? Menghindari generalisasi dan stereotyping, walaupun saya seringkali membahas ini dengan mahasiswa-mahasiswa saya, adalah sebuah tantangan bagi saya. Melihat mahasiswa bertindik dan merokok, atau mahasiswi berbaju ketat; sulit kiranya saya memisahkan antara gambaran umum dengan keharusan saya untuk memahami bahwa setiap orang adalah makhluk unik yang Allah ciptakan dengan segala kelebihan dan kekurangan, yang juga punya hak untuk mendapatkan pendidikan dan perhatian yang sama dari dosennya dan perlakuan setara di dalam kelas, maupun di luar kelas.

Tantangan lain menyusul setelah saya berusaha memahami mahasiswa sebagai makhluk yang unik. Menghadapi mahasiswa yang ‘sulit’ yang juga bagian dari keunikannya. Pertanyaan yang seringkali menyudutkan saya dan sikap menantang cenderung membangkang. Mahasiswa ini, sebutlah si X, paling getol mengusulkan kelas tambahan karena dua kali saya tidak masuk (karena tanggal merah!). Perspektif yang dia gunakan adalah saya, “Kan ibu dua kali nggak masih kuliah tuh…”. Sebal? Pasti. Di hari kuliah pengganti, percaya atau tidak, yang hadir hanya dua mahasiswa dan si mahasiswa X ini tidak datang. Di hari berikutnya, dia kembali bertanya-tanya, “Penggantinya hanya sekali ya,Bu? Kan ibu nggak hadirnya dua kali”. Rasanya? Ingin sekali saya usir dari kelas. Tapi saya memutuskan untuk memanjangkan limit kesabaran saya. Karena saya mudah “terganggu”, jadi alih-alih saya terbawa suasana dan akhirnya berdampak buruk kepada mahasiswa lainnya yang memang niat untuk belajar, saya memilih tidak terbawa kontrolnya atas diri saya. “Untuk absensi, silahkan tanyakan ke SPA (tempat mengurus administrasi kehadiran). Bukan urusan saya lagi.”. Done! Wajahnya berubah. Kalah.

Dari situ saya belajar bahwa saya tidak bisa lagi naive dan lempeng, sebagaimana biasa. It works on some students, tapi lagi-lagi, masing-masing mahasiswa adalah sosok yang unik. Beberapa dari mereka menginginkan hasil cepat, malas berinteraksi lama-lama yang sifatnya pribadi dengan dosennya, sesuatu yang saya pikir awalnya akan memotivasi mahasiswa untuk bekerja lebih giat. Dan beberapa ingin “mengalahkan” dosennya. Selain itu, saya juga belajar untuk tidak membawa “kekesalan” saya terhadap mahasiswa ke ranah pribadi. Karena saya akan lelah sendiri nantinya, mood saya jelek saat mengajar dan hasilnya tidak maksimal. Juga, tidak bisa dipungkiri adanya subjektivitas saya sebagai pribadi. Ini selalu saya kemukakan di mula kepada mahasiswa. Wajar, saya pikir. Kalau saya kenal dan tahu performa mahasiswa di kelas, akan lebih mudah saya untuk membantu nilainya apabila nilainya memang harus dibantu. Syukur-syukur nilainya gemilang seperti performanya di kelas.

Masih banyak yang harus saya pelajari tentang seni mengajar, tapi saya percaya bahwa saya bisa “learning by doing”. Alah bisa karena biasa, kata pepatah. Jam terbang saya masih rendah, hitungan jari. Belum pantas mengeluh, apalagi menyerah. Pantasnya mengevaluasi keadaan, menambal yang kurang dan belajar tidak kenal henti. Kata pepatah lagi, guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Jadi apabila saya mengharapkan mahasiswa saya untuk belajar keras, saya harus belajar setidaknya sama kerasnya. Hmm, saya kira ini modal pengajar super junior macam saya: keras kepala dan segudang idealisme. 

_fin_

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s