Till Death Do Us Part — Catatan Dua Minggu Lebih Satu


Dalam waktu satu bulan ini empat orang kenalan saya berpulang ke hadirat-Nya. Tiga minggu lalu, paman suami saya meninggal dunia karena penyakit paru-paru yang sudah beberapa tahun belakangan diderita beliau. Menyusul minggu berikutnya, ibunda tetangga saya berpulang ke rahmatullah di usia senja. Beberapa hari setelahnya, sepupu ibu saya juga kembali ke sisi Allah, karena sakit mendadak, entah serangan jantung atau stroke. Minggu lalu, tetangga dekat saya juga dipanggil oleh Yang Maha Penyayang karena komplikasi diabetes yang lama dideritanya.

Ada banyak kisah di balik kepergian mereka, tapi tidak akan saya tuliskan di sini karena tidak sedikit juga di antaranya adalah aib. Namun di antara kematian demi kematian yang terjadi beruntun dalam satu bulan terakhir ini, saya mengambil sebuah hikmah berharga. Bahwasanya hidup ini sejatinya hanyalah pembekalan menuju akhirat. Dan kematian adalah masa penantiannya. Hidup ini layaknya seleksi. Seleksi seberapa tinggi iman di hati. Apabila Tuhan adalah tujuan akhirnya, maka sepantasnyalah kita menjadikan kematian sebagai masa penantian yang indah dan masa rehat dari riuhnya dunia yang menjemukan dan senantiasa dipenuhi berbagai tuntutan.

Bagaimana kita menjalani hidup ini, itu pulalah yang akan mengantarkan kita bertemu mati. Mama saya berkisah tentang temannya di masa muda. Seorang pemuda baik hati yang senang mengajar ngaji. Di saat jumlah orang yang shalat bisa dihitung dengan jari, teman Mama sudah gemar mengajarkan Islam. Suatu hari di bulan Ramadhan, dalam perjalanannya menuju tempatnya mengajar Al-Quran, Allah sudah menggariskan tertabrak kereta sebagai penyebab akhir hidupnya. Kereta hanyalah pelengkap cerita, takdir bertemu dengan takdir. Tapi esensi kisah hidupnya adalah akhir yang indah. Bertemu Tuhannya, Sang Maha Segala yang ia “kenalkan” pada murid-muridnya.

Pada akhirnya kematian kita tidak akan terlalu jauh dari apa yang kita kerjakan selagi hidup di dunia. Kebiasaan kita pulalah yang seringkali mengantarkan kita pada penyakit yang menjadi sebab kematian kita. Namun sekali lagi, menurut pemikiran saya yang masih mengeja ini, penyakit, kereta, tsunami, gempa,”hanyalah” pelengkap cerita. Kisah yang Allah tetapkan sebagai akhir buku kehidupan kita. Inti dari kisah kehidupan adalah bagaimana kita mengakhirinya…

Akhir-akhir ini saya seringkali berpikir tentang kematian setelah bertubi-tubi berita duka menghampiri. Bagaimana akhir kisah kehidupan saya? Dalam keadaan seperti apa saya akan menemui-Nya? Akankah ketika saat itu tiba Allah sudah menghapus dosa-dosa saya dan memaafkan kesalahan-kesalahan saya, yang sering saya sesali tapi lebih sering lagi saya ulangi?

Kadangkala perlu sesekali merenung dan berpikir tentang mati. Bukan karena putus asa dengan kehidupan. Atau jenuh dan mencari pelarian. Tapi berpikir tentang mati seharusnya menjadikan kita lebih giat beramal shalih, karena kita tidak pernah tahu, bukan… Dimana, kapan, dan bagaimana kita akan menemui-Nya?

“Berbekallah, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa” (Al-Baqarah: 197)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s