Haji Kecil itu… (Sebuah Pengingat untuk Diri Sendiri)


Tujuh tahun lalu! Itu terakhir kalinya saya menginjakkan kaki ke tanah suci. Tidak tujuh tahun persis. Tujuh tahun kurang satu atau dua bulan. Waktu itu entah bulan Juni atau Juli, di tahun 2005. The best year of my life. Saat liburan semester, saya dan keluarga saya berangkat umroh untuk kali kedua. Rasanya… Saya sudah lupa rasanya. Yang masih bisa saya ingat adalah rasa dag dig dug dhuerr saat bisa melihat Ka’bah kembali. Langsung, di depan mata…

Saya tidak mbrebes mili seperti kebanyakan orang saat melihat Ka’bah. Apa yang saya rasakan seperti tiba-tiba bertemu seseorang yang dicinta, setelah sekian lama mengharapkan pertemuan dengannya. Jantung berdebar-debar, antara senang, harap, lega, gugup, grogi, norak. U name it.

Saya juga masih ingat rasanya melihat cahaya berpendaran dari atas pesawat saat hendak mendarat di bandara Madinah. Malam itu, selepas Isya kami tiba. Dan saya melihatnya dari angkasa. Cahaya berpendaran, naik ke langit. Indah. Indah sekali. Seperti kembali ke rumah. Itulah cahaya berpendaran dari Masjid Nabawi. Masjidnya Rasulullah SAW. Tempat jasadnya yang mulia dikuburkan.

Tujuh tahun lalu, saya punya beberapa permintaan yang sederhana cenderung konyol. Salah satunya adalah saya ingin bertemu, melihat langsung bagaimana bentuk orang-orang Palestina. Dan Allah mengabulkannya.

Di Jeddah, saat hendak kembali ke tanah air, saya melihat bagaimana rupa orang-orang Palestina. Saat itu sedang ada kompetisi basket liga arab. Para peserta kebetulan menginap di hotel yang sama dengan rombongan kami. Saat melihat rata-rata tampilan pemain basket negara-negara Arab, saya hanya bisa berdoa semoga saya tidak pernah satu lift dengan mereka. Karena saya akan “lenyap” di antara para pemain basket liga arab yang tingginya… Subhanallah… Mugkin saya hanya sepinggangnya lebih sedikit.

Suatu hari, mereka sedang berkumpul di lobby. Dan disitulah saya melihat bagaimana tampilan orang-prang Palestina. Tingginya tidak setinggi pemain basket lainnya. Konon kabarnya bangsa Arab di daerah Libanon, Palestina, dan sekitarnya lebih “cakep” dibandingkan bangsa Arab lainnya. Tapi saya sih tidak bisa membedakan. Saya mengetahuinya dari bendera dan nama masing-masing negara yang tercantum di seragam mereka.

Sepele? Iya. Tapi ada suatu kejadian yang saya lihat yang membuat saya berdecak kagum. Di antara mereka ada salah seorang yang saya duga adalah coach tim Palestina. Saat mereka hendak bergegas, sang coach memanggil salah satu dari mereka. Saya lupa siapa nama yang si Coach panggil, anggaplah namanya adalah “Ahmad”, nama sejuta ummat. “Ahmad”, seru sang coach. Yang punya nama menoleh. Sang coach mengepalkan tinju sambil tersenyum, “Allahu Akbar!”. Dan Ahmad pun membalas, “Allahu Akbar!”.

Ada yang berdesir di hati saya melihat pemandangan itu. Betapa Allah dekat sekali dengan mereka. Bahkan dalam kompetisi yang “kurang penting” dan dalam rangka persahabatan pun, mereka bertanding dengan nama-Nya. Subhanallah…Apatah lagi saat mereka berperang melawan Israel?

Inilah alasan saya meminta-Nya memperlihatkan saya bagaimanakah wujud orang-orang Palestina, mereka yang seringkali disebut-sebut dalam doa. Mereka yang terasa dekat walaupun saya tidak mengenal mereka. Dekat karena Allah. Karena kita begitu cinta Palestina; dan masyarakat Palestina pun cinta dengan saudara-saudaranya dari indonesia. Keren ya?! Kita tidak saling kenal, tidak bahkan pernah bertemu, atau seperti saya, bertemu tapi tidak saling mengenal; bahkan berpapasan pun tidak; tapi kita saling mencintai dalam naungan iman pada-Nya.

Dalam seluruh perjalanan umroh pun sebenarnya sangat terasa. Ada yang berkulit putih, mungkin dari Rusia atau Albania, atau muallaf dari Eropa; ada yang berkulit kuning dari China; ada yang berkulit sawo matang seperti jamaah Indonesia, Malaysia, Brunei atau Filipina; hingga yang berkulit sangat gelap. Gelaaaaap sekali. Nyaris sama warna kulit dengan warna rambutnya. Inilah saudara-saudara kita dari Afrika bagian barat, biasanya. Tubuhnya tinggi menjulang. Yang perempuan ada yang tinggi besar; ada pula yang tubuhnya bak deskripsi dongeng-dongeng Babilonia (yang pernah saya baca waktu kecil): Sangat tinggi dan sangat langsing, berjalan dengan dagu terangkat, kulit hitam mengkilat,dan semarak dengan kain warna warni yang menutup aurat mereka. .

Seperti yang dikatakan Malcolm X dalam suratnya pada sang istri, saat ia pergi haji. Di tanah suci, ia minum satu tempayan dengan orang yang kulitnya paling putih dari orang kulit putih yang pernah ia lihat higga yang paling hitam dari orang kulit hitam yang pernah ia temui.

Subhanallah… Inilah Islam. Inilah ummatnya Rasulullah SAW yang disatukan di tanah-Nya dalam naungan iman, cinta dan taat pada-Nya dan sunnah Rasul-Nya. :’)

Ah… Siapa yang tidak rindu dengan tanah suci-Nya apabila sudah merasakan nikmatnya berada di sana?

Ketika dunia yang ditinggalkan tidak lagi menjadi masalah. Itulah, menurut saya, istirahat sesungguhnya.

-9Hari9Malam-

2 thoughts on “Haji Kecil itu… (Sebuah Pengingat untuk Diri Sendiri)

  1. Baca tulisan ini bikin aku pengen umroh juga. T____T

    Mbak, aku nemu (dikira apaan gitu, nemu) blog ini semalem. Tulisannya bagus. Aku suka bacanya. Salam kenal ya. ^^

    • Hayuuuu umroh ^__^
      Umroh itu rasanya seperti pulang kampung, padahal kita nggak ngerti bahasanya, makanannya kadang suka ditolak perut, budayanya beda, cuacanya apalagi. *kompor*

      Makasih, innalillah ^^, tulisan mbak (tebakan saya :p) juga bagus🙂. *saya sudah balas mampir ke blognya lhooo…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s