Yang Pergi Menuju Kasih Sayang-Nya, Sejuta Peluk untuk Seorang Bunda


Lama sudah saya tidak mendengar kabar darinya. Memang sejak SMA, kami tidak terlalu dekat. Saya dan perempuan berkulit hitam manis itu pun tidak terlalu akrab. Kami hanya satu kali sekelas, saat kelas tiga, masa-masa indah di penghujung SMA.

Terakhir saya bertemu dengannya di pernikahan seorang teman setahun lalu. Rasanya kawan hitam manis saya masih semanis dulu, malah semakin anggun dengan kerudung panjangnya yang menjuntai. Masih sesantun dulu, tidak terlalu banyak bicara. Tidak seperti saya yang merepet sana sini.

Setelah itu saya tidak berkabar lagi dengannya. Dan hari ini, mendadak saya mendapat sebuah kabar yang tidak mengenakkan hati. Anak keduanya meninggal dunia. Terbayang dalam benak saya, usia pernikahannya lebih muda dari saya, jadi usia anaknya pun pasti di bawah tiga tahun. Sedang lucu-lucunya. Astaga… Saya tiba-tiba teringat Othman, keponakan suami saya yang umurnya baru menginjak setengah tahun dengan pipi bulat dan kulit putih. Begitu lucu dan menggemaskan. Usia-usia yang tidak pernah bosan kita bermain dengannya. Adakah anak kawan saya seumur dengan Othman?

Saya lalu bertanya pada teman yang memberi kabar, “Anak pertamanya umur berapa?”. “Anak pertamanya sudah meninggal dua tahun lalu, hanya beberapa jam setelah lahir. Yang kedua ini juga umurnya tidak sampai satu bulan”, jawab teman saya via BBM Group.

Menuliskan ini, air mata saya tidak terasa menggenang di pelupuk mata. Bulu-bulu halus di tengkuk dan kaki saya berdiri membayangkannya. Merinding. Teringat saya cerita Maria Al-Qibtiyah, ibu dari putra Rasulullah SAW, Ibrahim bin Muhammad. Bahkan setingkat Rasulullah SAW saja meneteskan air mata saat itu karena sedih kehilangan buah hati. Ia, yang kesejahteraan dan keselamatan selalu besertanya, menghibur Maria Al-Qibtiyah dengan mengatakan bahwa Ibrahim sudah ada yang menyusui di surga-Nya. Teringat juga saya sebuah hadits, “ Perempuan manapun yang ditinggal mati oleh tiga orang anaknya maka ketiga anaknya itu akan menjadi dinding baginya dari api neraka.” (Perawi: Al Bukhari dari Abu Sa’id Al Khudri).

Anak, harta, tahta, dan segala yang kita cintai dari dunia sejatinya hanyalah titipan semata. Allah punya hak sepenuhnya untuk mengambilnya, kapanpun Dia kehendaki. Sesayang-sayangnya kita pada orang-orang yang kita sayangi, yang sudah pergi mendahului, Allah pasti lebih sayang dalam bilangan yang tidak tertandingi dari kita. Sekalipun kita ibu yang melahirkannya.

Saya yang selalu mengharapkan adanya keturunan, di sisi lain ada teman saya yang sudah diberi kesempatan menikmati indahnya menjadi bunda; namun ternyata Allah hanya menghendaki untuk sebentar saja. Masya Allah… Betapa Maha Kuasa-nya Allah… dan Betapa memang segala sesuatu berasal darinya dan akan kembali kepada-Nya…

Bunda, temanku sayang, aku yakin Allah SWT sayang sekali padamu dan suamimu. Allah SWT juga sayang pada anak-anakmu. Aku mungkin tidak merasakan apa yang kamu rasakan. Tapi yang aku tahu, Allah menyayangi kita dengan cara-Nya, dan memperlakukan kita berbeda-beda karena cinta-Nya pada kita. Padaku, Allah menyuruhku bersabar menanti keturunan. Aku hanya bisa menghatur doa, agar Allah memberimu kesabaran senantiasa dan memberimu ganti anak-anak yang shalih dan shaliha. Hingga saatnya tiba, kamu akan bertemu keduanya yang menanti dengan wajah berseri-seri, insya Allah, di surga-Nya.

Peluk sayang dariku.🙂

-Malam Rabu, di ruang tamu.-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s