Cantik Berhijab? (Part 4 – Done!)

Kata Muslimah tentang Hijab-nya

Demi kelengkapan tulisan ini, saya melakukan semacam survey kecil-kecilan kepada beberapa orang Muslimah lintas profesi, berusia 20-an, berpendidikan sarjana ke atas, status ekonomi menengah sampai menengah ke atas, dan yang pasti berhijab dengan gaya dan keunikannya sendiri.

Makna Hijab menurut Ficca, 24 tahun, Pemilik usaha baju Muslimah di bawah label Iyala Gallery dan Kafika:

“Hijab buat Ficca itu identitas, pelindung, dan penjaga. Dengan Hijab, Ficca mudah dikenal sebagai Muslimah… Dengan hijab, ficca seperti dapet perlindungan, setidaknya lelaki menggodanya cuma dengan “assalamualaykum bu haji” masih positif juga ada doanya… Hijab juga menjaga Ficca, jadi sensor, setidaknya Ficca masih mikir kalo mw melakukan hal-hal tertentu. Dipikirin lagi, apa pantes muslimah berhijab melakukan hal kayak gini?! Jadi ngejagain akhlaqnya lebih gampang, Mungikn kalo ga berhijab, udah kacau kali kelakuan aku. Kalo ada yang bilang mau jilbabin hati dulu, mestinya ya berhijab dulu, nanti hatinya akan jadi baik seiring proses.

Saat ditanya tentang Hijab yang Ideal menurutnya:

“Hijab ideal ya yang seperti di Qur’an. Surat an-nur ayat 31 itu. Menutup dada, Dan ga cuma dipake saat keluar rumah aja. Kalo pas di rumah dan ada yang bukan mahram, harus tetep pake jilbab. Sekarang banyak yang pake jilbab tapi ga ngerti hukum syariatnya, tapi gapapa, mungkin berproses. Untuk pakaiannya juga sesuai dengan syariat, ga menampakkan bentuk tubuh, ga trawang. Boleh gaya dan fashionable selama masih sesuai aturan. ”

Opini Arni Susanti, 22 Tahun, Guru Matematika di SMU 1 Muhammadiyah Medan:

“Hijab itu simbol ketaqwaan dan kehormatan para muslimah…Tak sekedar pakaian penutup lahir tp juga bathin…Sayangnya sekarang makna hijab telah dipersempit hanya sebagai penutup rambut…Padahal cangkupan hijab itu luas…Selain itu hijab sendiri secara harfiah berarti batas nah seharusnya muslimah yang memakai hijab mampu membatasi dirinya baik lahir dan bathin dari segala hal yang tidak diridhoi Allah

Hijab yang ideal menurut Ibu Guru adalah:

“Nah hijab ideal itu seharusnya memenuhi kriteria yg Allah dan Rasul sampaikan. Longgar, Tidak transparan. Menutup seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan.. Berhijablah sewajarnya tidak berlebihan menggunakan.aksesoris agar tak termasuk katagori tabaruj (berhias, pen.). Tidak menyerupai pakaian lelaki dan yg terpenting niatkan berhijab krn Allah

 

Adapun Chibi, 26 Tahun, seorang Blogger memutuskan untuk berhijab karena…

“Karena gw ga tau kapan gw mati. Bisa bsk, lusa, minggu depan. Makany gw pake jilbab. Gw bkn org yg baik, bkn org yg soleh. Tp seenggaknya kewajiban pake jilbab udh gw penuhi sblm mhadap Allah.”

Menurut pandangan perempuan yang menguasai 3 bahasa asing ini, hijab yang ideal adalah

“Mnrt gw itu yg terlihat elegan n bersih. Ppaduan warnanya bagus. Jilbab yg kalo diliat org bikin org pengen pakai jilbab jg.”
Arsi Hanifa, 29 Tahun, Ibu dari Hika dan adiknya yang sedang bergerak kian kemari dalam perut sang Bunda; memulai hijabnya sejak usia dini karena lingkungan keluarganya yang religious seakan memaksanya untuk berhijab. Ketika menginjak kelas 2 SMA, pemahaman perempuan yang semasa kuliah aktif di Masjid Salman ini, mengenai hijab sesungguhnya baru mulai terbangun.

Mulai berhijab dg pemahaman bahwa ini adalah pemenuh kewajiban dan salah satu konsekuensi dari beriman dalam keislaman. Mulai muncul kebanggan dari dlm dii sendiri karena memilih bertahan dg hijab, sudah mulai bisa menciptakan image tampilan pribadi yg nyaman buat diri sendiri dalam keberhijaban (incl. Gaya berpakaian dan cara berkerudung). Dan demikianlah sampe sekarang. Meskipun tampilan ga selalu sama (mis. Fanatik dg gamis) tp udh punya pakem sendiri yg didasrkan sm norma yg diterima kaidah fiqih(setelah nikah mah karena bisa bebas nanya sama suami ttg sudut pdg “primitip” nya kaum adam jd itupun bisa dipake menentukan standar aurat, misal..baju ini ternyata ketipisan buat mata laki2 pdhl sblmnya ngerasa ud ckp tebel,dll).

Bagi seorang Yuliani, 27 Tahun, karyawan salah satu brand baju Muslim ternama di Indonesia, hijab adalah…

“Buat gw hijab is not the only things that cover your body up to toe but also should cover your attitude”

Berhijab untuk Meidina Rachma, 27 Tahun, reporter TV One adalah…

“Penutup aurat, pengingat diri jadi kalo mau apa-apa inget udah pake jilbab, motivasi buat jadi lebih baik…”

Awal memutuskan berhijab, yang terlintas di pikiran Meidina adalah…

“Awalnya karena nggak mau nanti mati dalam keadaan belum berjilbab…”

Frizki Yulianti, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, 26 Tahun, Ibu dari seorang putri yang cantik mengisahkan  fase-fase dalam hidupnya ketika memulai berhijab. Fase pertama, ketika berhijab adalah sebuah kewajiban karena ia kuliah di institusi yang mewajibkan mahasiswinya berhijab.

“Meski aku punya ‘hak’ untuk melepas hiljab di luar kampus, namun lama-lama muncul rasa malu dan rasa risih kalo copot-pasang-copot-pasang. Hijab bagiku pada masa itu adalah obat malu. Malu diliat rambutnya, malu dilihat kulit tangannya, malu dilihat kulit kakinya, malu ketika kuliah kok pake pas pergi2 kok engga,” ujarnya.

Fase kedua dimulai ketika perempuan asal Bengkulu ini lulus kuliah dan merantau ke Jakarta, bertemu dengan orang-orang baru. Saat itu, bisa saja ia melepas hijabnya, akan tetapi satu hal yang membuatnya bertahan.

“Tapi ada satu momen yang bikin Anti finally memutuskan untuk tetap berhijab. Momen ketika baca Quran dibilang ‘pria baik hanya untuk wanita yang baik pula’. Anti mau punya pria yang baik, Shinta. Mau punya jodoh yang bisa mengimami. Salah satunya dengan menjadi wanita baik2 yang menjaga martabatnya, jadi salah satunya dengan tetap berhijab. Maka pada fase itu hijab bagiku sebagai salah satu sarana mencari jodoh yang terbaik untukku. Aneh ya, biasa cari jodoh ya rada ‘show off’ tp yang ini malah nutup2in. Hihi…

Adapun fase terakhir dan ia berharap berhijab selamanya adalah karena kenyamanan.

“Mungkin benar adanya bahwa tresno jalaran soko kulino. Sudah terbiasa berhijab kemudian disuruh lepas tentu aneh. Sudah nyaman begini ya sudah begini saja. Saat ini hijab adalah identitasku sebagai muslimah yang mencoba belajar terus agar menjadi muslimah yang sholeha. Jujur, kalo gaya hijabku konvensional. Namun jika ada yang cocok dengan model2 baru yang kira2 cocok denganku ya tak coba. Wong Islam itu Indah, jika dengan hijab ala hijabers menjadikan Islam lebih indah, why not?”

Bagaimana denganmu? Apa makna hijab untukmu? Sudahkah kamu menemukannya? Bila belum, jangan lelah mencarinya… Sebelum kedua tanganmu tidak bisa lagi memakainya, dan orang-oranglah yang harus memakaikannya untuk menutup auratmu dari sebentuk kain putih yang mereka sebut kafan….

Cantik Berhijab (Part 3)

Salahkah Berhijab dengan Cantik? Atau Berhijab untuk Cantik?

Yang harus dibuang jauh-jauh menurut saya bukan pada keinginan untuk cantik. Tapi menyandarkan motivasi berhijab pada rasa ingin “lebih” cantik, “lebih” modis, “lebih” enak dilihat orang, bahkan keinginan untuk terlihat “lebih” takwa; dalam pendapat saya adalah niat yang harus diluruskan.

Keinginan untuk cantik adalah hal yang amat sangat manusiawi bagi seorang perempuan. Tapi cantiknya kita bukan untuk diumbar pada sembarang, pada segala. Walaupun seringnya kita merasa tidak perlu tampil cantik karena “sudah laku”. Bahkan ini menjadi alasan banyak perempuan menopause “akhirnya” berhijab, “Halah, sudah tua ini, apalagi yang mau ditunjukin?”. Pandangan yang aneh, menurut saya. Ketika Islam justru member keringanan batasan aurat pada perempuan menopause, malah banyak dari mereka yang menutup rapat-rapat auratnya.

Cantik bukan untuk diumbar kemana-mana. Diri kita terlalu berharga untuk hanya sekedar menjadi penghias mata. Mata lelaki yang bukan pula suami kita. Justru setelah bersuami harusnya lebih cantik. Karena kita keluar rumah dengan rasa malu, dan menanggalkannya di hadapan lelaki yang sudah rela mengambil alih tanggung jawab Ayah kita dengan menanggung dunia akhirat kita. Apa yang akan kita sisakan untuknya apabila kita sibuk menghias diri untuk dilihat orang lain? Walaupun judulnya berhijab.

Kembali pada Tujuan Hijab

Dalam pandangan saya yang hina ini, hijab bukan sama sekali untuk tampil cantik. Namun bukan berarti ini pembenaran bagi hijabers yang kadangkala juga cuek pada penampilan. Berhijab rapi, bersih dengan padanan warna yang senada tentu terlihat lebih elegan daripada yang sembarangan. Saya juga tidak hendak mempromosikan hijab besar serupa mukena. Yang ingin saya sampaikan melalui tulisan saya nan panjang ini adalah, sejatinya kita berhijab dengan ilmu dan niat yang memang karena Allah.

Apabila hijab besar yang menutupi badan “bukan kita banget”, silahkan berhijab sesuai kepribadian kita, mau itu ternyata sesuai tren atau kita termasuk orang yang konvensional, selama sesuai dengan criteria Allah melalui Al-Quran dan Hadits yang sudah saya paparkan pada tulisan sebelumnya, insyaAllah tidak mengapa.

Apabila saat ini kita pun masih belajar dan belum bisa berhijab menutup dada, atau berbaju panjang; belajarlah untuk tidak puas diri dan merasa cukup dengan apa yang kita lakukan, plus dengan tidak mencibir hijabers yang memilih untuk berhijab lebar atau bercadar. Sekali lagi, boleh jadi mereka yang lebih disayang Allah daripada kita.

Pun ketika kita saat ini sudah berhijab panjang dan lebar. Tidak bijak kiranya apabila kita memandang sebelah mata kepada hijabers yang hijabnya masih mini. Bukankah hanya karena kasih sayang Allah saja kita mendapat hidayah, ilmu, dan tergerak hatinya untuk berhijab. Jangan-jangan mereka yang kita pandang sebelah mata justru lebih dahulu masuk surga daripada kita.

Saya sendiri pernah mengalami pasang surut dalam berhijab. Ada kalanya saya yang masih minim pengetahuan agama berhijab alakadarnya. Bajunya kecil, di tubuh yang besar. Jelas bukan salah baju saya :p. Ada pula masanya saya mengulurkan hijab, panjang menjuntai, lalu saya reduksi menjadi sekedar menutup dada. Dan sekarang, saya sampai pada fase yang mudah-mudahan lebih stabil.

Saya paham, sebagai seorang istri seringkali saya melakukan dosa dan kesalahan pada suami saya. Saya takut akan suatu hari dimana suami saya akan ditanya tentang diri saya sebagai tanggungannya, sedang hijab saya masih jauh dari sempurna. Pun pada hari yang sama ketika jengkal kulit saya yang harusnya tertutupi tampak kemuka, ia bersaksi di hadapan-Nya, sedang saya tahu ilmunya. Ini adalah masa yang sedang saya jalani. Dan ini bukan fase yang mudah. Maka dari itu, saya paham sekali betapa susahnya mengalahkan diri sendiri, terlebih lagi untuk saya yang pada dasarnya sudah senang bergaya sejak kecil.

Anyway, anyhow, bagaimanapun gaya berhijab kita, kembalikanlah pada tujuan hijab semula. Hijab adalah identitas iman, hijab adalah penutup, penjaga, pelindung, pakaian ketakwaan dan kerendahhatian. Terlalu mulia apabila ianya sekedar digunakan untuk mempercantik diri. Sedangkan fungsinya sendiri adalah menjaga, baik raga maupun hati.  

Cantik Berhijab? (Part 2)

Suatu hari di sebuah restoran, seorang kerabat berkomentar melihat sebuah keluarga yang istri dan anak perempuannya berhijab panjang.

“Itu mah bukan kerudung, itu mukena,” ujar kerabat saya setengah mencibir.

Pikir saya saat itu, “Apa yang salah dengan kerudung panjang? Tidakkah memang demikian idealnya kerudung bagi seorang perempuan Muslim?”.

Saya agak terkejut ketika menyadari tidak banyak yang paham tentang hijab yang disyariatkan Al-Quran dan Hadits. Termasuk ketika saya berada dalam perdebatan apakah boleh memakai berhijab, memakai rok midi dan kemudian disambung stocking? Saya tentu berkeras dengan jawaban “tidak”. Tapi rupanya ada yang mengatakan “boleh” karena menurut orang itu stocking sudah cukup menutup kakinya. Perdebatan itu kemudian mereda ketika saya bertanya balik, “Apa dia boleh sholat dalam keadaan seperti itu?”.

Setiap Muslimah paham bahwa shalat harus mengenakan mukena, yang terdiri dari dua set pakaian yang menutupi seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Seringkali jemari tersibak atau tangan terlihat sedikit saja kita sudah kasak-kusuk merasa shalatnya tidak sah. Apa bedanya dengan keseharian kita? Bukankah syarat penutup aurat ketika shalat dengan apa yang Allah syariatkan sebagai penutup aurat kita sama: Menutup seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan?

Supaya kita sama-sama pintarnya, yuk kita telaah ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits tentang hijab…

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya.” (QS. An Nuur: 31)

“Hai Nabi, Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59)

Dari dua ayat ini, kita dapat mengetahui bahwasanya yang diperintahkan untuk berhijab adalah “perempuan beriman”. Ini menandakan bahwa berhijab adalah tanda keimanan. Sehingga, ketika berhijab yang herus diingat pertama kali adalah bahwa berhijab adalah untuk Allah, karena keimanan dan kepatuhan kita pada Yang Maha Segalanya. Ini adalah aturan pertama dari yang utama: Hijab adalah lambang keimanan.

Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya

Ayat ini menunjukkan bahwa hijab adalah kerudung yang menjulur sampai menutup dada. Mengapa menutup dada? Karena dada adalah karunia Allah untuk para perempuan. Padanya ada keindahan rupa yang menjadikan banyak wanita berlomba-lomba menonjolkannya.  So, ini aturan kedua,  hijab adalah kerudung yang menjulur sampai menutup dada.

“Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.

Jilbab, seringkali disalahartikan dengan hijab karena masalah budaya. Jilbab pada dasarnya mengacu pada pakaian panjang dan longgar yang menutup seluruh tubuh sampai ke mata kaki. Walaupun masih banyak berdebatan mengenai batasan jilbab bagi muslimah, tapi yang jelas, Al-Quran memerintahkan kita untuk mengenakan pakaian yang menutup seluruh tubuh. Ini adalah aturan ketiga, jilbab adalah pakaian yang menutup seluruh tubuh.

Hijab dan Jilbab, sesungguhnya berbeda, tapi satu kesatuan. Keduanya sama-sama dikenakan untuk menutup aurat perempuan Muslim. Banyak perbedaan pada batasan aurat di kalangan ulama. Mazhab syafii, misalnya, menganggap punggung tangan juga adalah aurat (ini alasan mengapa Muslimah di Indonesia shalat mengenakan mukena dan saat umrah/haji sibuk mencari sarung tangan), maka semestinya di Indonesia yang menganut mazhab Syafii dalam tata cara ibadah kerudungnya pun menganut mazhab Syafii. Yang kerudungnya panjang menjuntai menutupi telapak tangan. Mengapa ketika ada perempuan Muslim berpakaian demikian justru sering dicibir? Apakah yang mencibir lebih baik dari yang dicibir? Jangan-jangan mereka yang lebih disayang Allah daripada kita?

Nah, satu hal yang menginspirasi saya adalah kata-kata Ust. Ahsan Askan, MA, guru ngaji di kompleks tempat saya tinggal. Menurut beliau, pakaian seorang Muslimah (dan Muslim) harusnya adalah pakaian yang siap untuk dipakai shalat. Seperti perempuan-perempuan Mesir, kisahnya, saat azan berkumandang mereka langsung menuju masjid untuk shalat berjamaah, dengan pakaian yang mereka kenakan. Demikian juga yang sering kita lihat di Saudi manakala umrah/Haji. Dengan kerudung menutup dada dan baju panjang, para muslimah shalat tanpa halangan. Toh perintahnya kan sama-sama menutup aurat. Mengapa pada saat shalat kita detail sekali dengan kenampakan aurat, sedangkan keseharian kita tidak demikian? Jadi, ini saya masukkan ke dalam aturan berikutnya, hijab dan jilbab adalah penutup aurat yang sama fungsinya dengan penutup aurat saat shalat. Maka dari itu, idealnya, pakaian kita harus layak dipakai shalat, baik dari bentuk fisik maupun kebersihannya.

Selain dua ayat di atas, masih banyak lagi hadits-hadits yang menerangkan tentang hijab yang “wearable”. Salah satu hadits menerangkan tentang perempuan yang berpakaian tapi telanjang dan menyerupai punuk unta yang disebut Rasulullah SAW tidak akan mencium bau syurga.

“Ada 2 macam penghuni Neraka yang tak pernah kulihat sebelumnya; sekelompok laki-laki yang memegang cemeti laksana ekor sapi, mereka mencambuk manusia dengannya. Dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang, sesat dan menyesatkan, yang dikepala mereka ada sesuatu mirip punuk unta. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya. Sedangkan bau surga itu tercium dari jarak sekian dan sekian” (H.R. Muslim).

Kata-kata “Berpakaian namun telanjang” dalam hadits tersebut menunjukkan bahwa berpakaian Muslimah tidak boleh ketat atau transparan sehingga terlihat seluruh lekuk tubuhnya seperti orang yang telanjang. Berikutnya adalah perihal punuk unta di kepala perempuan. Suatu hari saya tidak sengaja menjepit rambut saya tinggi-tinggi sebelum memakai kerudung. Alasannya sederhana, biar isis, alias adem. Saat saya mengenakan kerudung, di depan cermin saya termangu, mendadak saya teringat hadits di atas. Mungkin ini yang disebut dengan punuk unta. Pandangan saya sejalan dengan sebuah blog mengenai muslim fashion yang dibuat oleh seorang Muslimah Amerika. Grup diskusi blog tersebut sepakat bahwa hijab yang didalamnya “disumpel” sesuatu sehingga kelihatan “menjulang” adalah apa yang disebut dalam hadits Rasulullah SAW tentang perempuan yang mengenakan sesuatu menyerupai punuk unta pada kepalanya. Dan sedihnya tidak berapa lama berselang, “punuk unta” tersebut justru menjadi tren dan dijual sepaket dengan “daleman” hijab. So, ini aturan berikutnya, hijab itu tidak menyerupai punuk unta.

Saya sebagai penulis, bukan perempuan yang paling sempurna dalam berhijab. Kesempurnaan hanya milik Allah; sedang contoh terbaik dalam berhijab adalah para istri Rasulullah SAW dan para wanita beriman di zaman Rasulullah SAW yang bersegera dalam berhijab ketika turun perintahnya.

Ketika kita memutuskan untuk berhijab, itu adalah sebuah langkah besar. Hijab yang kita kenakan adalah untuk Allah, bukan untuk menjadi cantik, bukan untuk dilirik, bukan untuk menunjukkan bahwa kita bertakwa, apalagi menunjukkan kita modis semata. Sombong hanya milik Allah; sedang untuk kita “hanya” menaati perintahnya. Menghijab kejumawaan hati, menghijab perbedaan jasadi; dengan “hijab” sesuai aturan Allah ta’ala.Hijab Sebagai Pakaian Muslimah

Cantik Berhijab (Part 1)

Berhijab pada dasawarsa terakhir ini menjadi tren, bukan hanya di Indonesia, tapi juga hampir di seluruh negara muslim. Pagelaran busana Muslimah di negara-negara mayoritas Muslim seperti Turki, Malaysia, dan Indonesia marak diselenggarakan. Berhijab yang sepuluh tahun lalu masih dianggap angin lalu di dunia kerja dan media massa, sekarang bukan lagi halangan bagi seorang Muslimah untuk berkarier dan berkarya bahkan di media massa sekalipun. Khususnya di Indonesia, arus tren berhijab ini semakin kencang manakala berdiri sebuah komunitas perempuan muda berhijab yang langsung menjadi trendsetter bagi para Muslimah. Muda, cantik, berhijab dan gaya.

 

Sungguh sebuah tren yang bagus, sebenarnya. Tren yang diperkokoh dengan pertumbuhan kelas menengah usia produktif di Indonesia sangat bisa menunjukkan kepada dunia bahwa anggapan tentang muslimah yang berhijab, bahwa hijab bukan lagi seperti ketika penulis pertama berhijab 12 tahun lalu saat masih duduk di bangku SMP dimana muslimah yang berhijab “hanya” sebatas anak pesantren, ibu-ibu yang pulang Haji, atau nenek-nenek yang sudah menopause. Berhijab sudah jauh lebih dari itu.

 

Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah kesadaran berhijab juga berjalan dengan pengetahuan tentang penggunaan hijab yang benar? Ataukah kita sudah cukup bangga dan puas diri dengan hijab yang kita kenakan?

 

Ini adalah sebuah fenomena baru di dunia Islam kekinian: Cantik Berhijab.

 

Hijab mungkin hanyalah selembar kain biasa, yang ketika diturunkan ayat tentangnya berlomba-lomba para wanita beriman di masa Rasulullah SAW untuk mengenakan segala kain yang bisa dikenakan untuk menutup rapat rambut dan seluruh tubuhnya. Bergidik saya membayangkannya. Betapa kecintaan kepada Allah menjadi motivasi utama perempuan Mu’min di masa itu menutup auratnya.
Hijab, memang hanyalah selembar kain biasa. Tapi selembar kain tersebut Allah wajibkan bagi para Muslimah, untuk menjaganya, menutupi keindahannya dari mata dan pikiran buruk laki-laki yang bukan mahramnya. Selembar kain biasa yang sejatinya ditujukan untuk membebaskan perempuan dari perbudakan. Perbudakan siapa? Mari kita ulas bersama…

 

Seorang teman non Muslim pernah bertanya, “untuk apa keindahan diciptakan kalau ditutupi?”. Inilah jawabannya. Dalam Islam, sombong adalah milik Allah. Dan kita, ummat Islam adalah ummat yang semestinya berrendah hati terhadap dunia. Bukankah keindahan tubuh perempuan juga sangat bisa menjadi ajang kesombongan? Rambut dan tubuh indah, saya yakin Tuhan ciptakan bukan untuk dipamerkan. Tapi untuk dijaga keindahannya hanya untuk suami saja.

 

Tren dimanapun di dunia ini selalu memperbudak wanita. Lagi-lagi wanita. Dari mulai baju ketat hingga baju gombrong, dari mulai celana ketat hingga celana boot cut, dari mulai rok midi hingga rok mini, semua diikuti, dicari atas nama trendy. Lalu, apa tujuannya menjadi trendy? Apakah untuk diam-diam saja di rumah? Tentu saja tidak. Betapa banyak dari sekian wanita pengikut tren yang mempercantik diri untuk mendapatkan perhatian laki-laki? Bukankah ini juga adalah perbudakan atas makhluk mulia turunan hawa?

 

Hijab hadir untuk membebaskan Muslimah dari hal-hal yang demikian. Menghindarkan diri dari kesombongan, menghindarkan Muslimah dari penjajahan mode, dan pakem cantik yang berlaku. Yang cantik yang langsing? Yang cantik yang tubuhnya bak gitar spanyol? Yang cantik yang putih? Yang cantik yang kurus berotot? Semua gugur dengan aturan berhijab. Kita tidak dipandang apakah kita dikaruniai tubuh bak gitar spanyol atau lurus seperti penggaris, tidak juga dilihat apakah kita berukuran ekstra besar atau ekstra kecil. Hijab semestinya membuat orang melihat pada diri kita, bukan pada apa yang kita pakai. Hijab adalah “seragam”, karena di mata Allah semua kita adalah sama, tidak memandang fisik, status social, apalagi jumlah rekening tabungan. Karena di sisi-Nya, yang membedakan antara seorang perempuan yang hanya memiliki satu stel baju dan perempuan lain yang mempunyai satu kamar khusus untuk baju-bajunya, hanyalah amal perbuatannya, dan yang membedakan perempuan bertubuh gemuk pendek berkulit hitam dan perempuan tinggi kurus semampai hanyalah kedekatannya dengan Allah. ^__^

Pengantar Komunikasi Antar Budaya

Saat kita mendengar kata-kata “budaya” yang terbayang di benak kita adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan symbol-simbol etnisitas, kesukuan, atau keagamaan. Tari perut identik dengan budaya Timur Tengah, Kimono identik dengan Jepang, dan lelaki bertopi lebar identik dengan Mexico. Pemahaman tersebut ada benarnya. Akan tetapi, saat kita memulai kuliah Komunikasi Antar Budaya ini, harus kita ingat bahwa budaya pada dasarnya bukan hanya yang terbatas pada batas-batas geografis semata. Sebagaimana Gerry Philipsen, seorang ahli Komunikasi Antar Budaya dari University of Washington (dalam Griffin, 2006) mendeskripsikan budaya dengan, “a socially constructed and historically transmitted pattern of symbols, meanings, premises and rules” (bentuk-bentuk symbol, makna, gagasan, dan aturan yang dikonstruksi secara social dan dipertukarkan secara historis). Dengan kata lain, kita dapat menarik pada satu pemahaman mendasar dari budaya, bahwa budaya adalah code atau “konvensi” atau sesuatu yang diperoleh sebagai hasil kesepakatan bersama.

Komunikasi dan Budaya, menurut banyak ahli adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain, Samovar dan Porter (2003) menyebut Komunikasi dan Budaya bekerja “tandem”, seakan tidak bisa dipisahkan yang mana suara dan yang mana gaungnya. Kita harus ingat bahwa kita tidak lahir ke dunia dengan pengetahuan bagaimana cara berpakaian, bagaimana cara makan dan apa-apa saja yang bisa dimakan dan apa-apa saja yang tidak boleh atau tidak dapat dimakan. Contoh sederhananya, keju “basi” di Indonesia, sudah pasti dibuang; sedangkan keju “basi” (baca: fermentasi) di Perancis menduduki strata paling atas dalam makanan. Kita mengonsumsi produk sapi nyaris tanpa mubazir, mulai dari kepala, lidah, daging, isi perut (jeroan), ekor, susu, sampai tulang-tulangnya; akan tetapi di India, sapi adalah binatang terhormat titisan dewa. Budaya adalah jawaban dari semua perbedaan di atas, dan komunikasi adalah sarana untuk mensosialisasikan budaya tersebut.

Adalah kedua orang tua kita dan lingkungan yang mengajarkan kita bahwa perempuan yang selalu datang saat kita menangis, menyusui dan mengganti popok kita saat kita kecil harus dipanggil “Mama”, dan laki-laki yang mendampinginya harus kita panggil “Papa“, Lingkungan pula yang mengajarkan kita bahwa “Mama” mengurus kita di rumah, dan “Papa” pergi bekerja mencari nafkah. Semua hal tersebut kita pahami melalui komunikasi dimana pada akhirnya, komunikasi membentuk budaya, dan budaya membentuk pola komunikasi tertentu.

Sampai di sini, kita mendapati pertanyaan utama mata kuliah ini:

Untuk apa kita mempelajari Komunikasi Antar Budaya?

Samovar dan Porter (2003) mengatakan bahwa usia komunikasi antar budaya nyaris setua usia kemanusiaan itu sendiri. Agama yang sekarang kita anut, apakah itu Islam, Katolik, Kristen, Hindu, atau Buddha pada dasarnya adalah hasil dari Komunikasi Antar Budaya dari para penyebarnya di masa lalu. Agama Buddha pernah tersebar dari India, Yunani, Afghanistan, kawasan Asia Timur hingga sampai ke Indonesia. Islam pun, di masa jayanya pernah merambah Afrika, Eropa, hingga kawasan Rusia. Tidak banyak yang tahu, bahwa jauh sebelum Islam dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, konon agama Yahudi sudah masuk ke Indonesia melalui pedagang rempah dari Iran. Artinya, manusia senantiasa berkomunikasi dengan manusia lain untuk memenuhi tujuannya. Apakah untuk berdagang, untuk menjajah, untuk menguasai, atau untuk menyebarkan agama. Apapun itu. Di sinilah pertukaran budaya terjadi, melalui komunikasi.
Ibnu Battutah, seorang explorer sekaligus pembawa misi diplomasi Sultan India, yang menjelajahi dunia tiga kali lebih luas daripada yang dijelajahi Marcopolo; seorang Muslim yang taat pernah terkaget-kaget dan tidak ingin keluar dari pemondokannya manakala ia singgah di China. Kekagetannya salah satunya adalah karena bangsa China, menurutnya biasa memakan makanan yang aneh, seperti ular; dan biasa memakan babi yang haram bagi seorang Muslim. Selain itu, kedai-kedai di China biasa menghibur pengunjung dengan nyanyian yang dinyanyikan oleh perempuan. Hal itu sangat mengejutkan sekaligus mengganggu bagi Ibnu Battutah. Akan tetapi, oleh karena memiliki kapabilitas sebagai seorang diplomat, beliau tentu berhati-hati dalam bertingkah laku dan cukup memahami hal tersebut sebagai bagian dari kebudayaan setempat.

Itu contoh pertukaran misi diplomasi di masa lalu, saat dimana bahkan listrik belum ditemukan. Di masa kini, pertukaran budaya melalui komunikasi terjadi hampir setiap hari dengan ditemukannya media massa, khususnya internet dalam dasawarsa terakhir ini. Melalui media massa pula euphoria K-Pop di kalangan muda mudi Indonesia terbentuk, dan nyaris semua kita tahu apa arti “Annyong Haseo” tanpa perlu belajar bahasa Korea secara khusus.

Samovar dan Porter (2003) berpendapat bahwa terdapat sejumlah hal yang menjadi factor tersebarnya interaksi cultural. Pertama, ditemukannya banyak teknologi terutama dalam bidang transportasi dan system komunikasi. Dalam hal ini, seseorang mungkin akan sarapan di San Francisco dan makan malam di Paris dengan mengendarai kendaraan dengan kecepatan super sonic. Kedua, adanya system komunikasi yang inovatif seperti satelit komunikasi dan jaringan internet tidak dapat dipungkiri juga mendukung tersebarnya gagasan dan pemikiran ke seluruh dunia dalam waktu yang relative serentak. Ketiga, globalisasi ekonomi. Pasca perang dunia ke-2, sector ekonomi menjadi tulang punggung hidupnya negara Amerika Serikat yang babak belur akibat perang. Dari sini munculah gagasan untuk memperluas wilayah distribusi barang yang terus berkembang hingga sekarang. Kita bisa menikmati McDonald yang kurang lebih sama di Jakarta dan di ujung Michigan, menenggak Coca-Cola yang serupa dengan yang ditenggak pria berkulit hitam di Capetown, Afrika Selatan. Keempat adalah perubahan pola imigrasi. Bagi negara seperti Amerika Serikat atau Canada, saat ini negara mereka telah tumbuh menjadi negara multinasional. Gelombang imigran dari China, Jepang, Turki, Timur Tengah, Afrika, India datang dan berkumpul, berinteraksi dan berbagi ruang dengan mereka yang turunan Eropa. Adapun dalam konteks Indonesia, lebih tepat apabila disebutkan bahwa urbanisasi telah mempengaruhi interaksi budaya. Jakarta, “tanah surga” bagi banyak pemuda desa, saat ini bukan lagi milik orang Betawi, akan tetapi sudah dimiliki oleh semua yang membangun kehidupan di ibukota. Jawa, Tionghoa, Batak, Sunda, semua bisa kita temukan di Jakarta.

Di dunia yang diciptakan Tuhan untuk kita tinggali bersama, kita akan selalu berbaginya dengan manusia lain. Dan seiring dengan semakin cepatnya jaman berganti, teknologi bertumbuh dan berkembang, kita perlu memahami apa yang orang lain pahami. Kita perlu mengetahui apa yang orang lain ketahui, serta bagaimana ia mengetahui apa yang ia ketahui tersebut.

Dari paparan di atas, saya mempersilahkan Anda untuk menyimpulkan sendiri pentingnya Komunikasi Antar Budaya. Namun di atas segalanya, di atas segala alasan teoritis yang mungkin akan kita pelajari atau kita dapatkan selama perkuliahan, saya, personally, berpegang pada satu keyakinan, bahwa Tuhan menciptakan kita berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal.

Monolog Jumat Pagi

Terkadang ia datang saat kita tidak siap menerimanya. Bahkan seringkali ia datang tidak sendiri, tapi membawa rombongan teman-temannya. Memang demikianlah kiranya urusan bernama ujian ini. Sekalipun kita bersembunyi di dalam lemari, ia dan teman-temannya tetap saja duduk manis menanti kita keluar, bertemu dengannya, dan menghadapinya dengan jantan – apapun jenis kelamin kita.

Pelik. Kali ini ujian memakai pakaian pelik. Adakalanya ia memakai pakaian harta melimpah dan kenikmatan; tapi kali ini, sekali lagi saya katakan pakaiannya adalah pelik.

Selagi tangan saya mengetik tulisan ini, ia duduk manis di ruang tamu, dan rombongannya mondar-mandir berkeliling rumah saya yang tidak seberapa luas. Saya tidak hendak menawari mereka suguhan apapun. Toh mereka ada di sini bukan untuk mencari sarapan pagi.

Saya, ujian dan teman-temannya belum saling bertegur sapa. Kami masih saling pandang. Walaupun lebih banyak mereka yang memandangi saya, semacam mencari-cari perhatian. Kalau boleh memilih, tentu saya memilih untuk tidak usah bersitatap dengan ujian dan teman-temannya. Mengetahui bahwa mereka sudah di rumah saya sejak saya membuka mata saja, membuat saya ingin tidur lagi dan atau menghabiskan 10 batang cokelat.

Oh peliknya. Rasanya saya perlu cuti panjang memikirkan mereka, si ujian dan teman-temannya. Dan lalu menjawab pertanyaan-pertanyaan 5W+1H: “what, when, where, why, which, and how”. Bermonolog. Panjang.

Saya sendiri tidak mengerti mengapa saya tidak menangis seperti biasanya. Saya membiarkan air mata saya mengalir sesekali. Tapi tidak seperti biasanya, menghadapi ujian dan teman-temannya kali ini, saya malah cepat-cepat mengusap air mata saya seakan tidak ada waktu untuk menangisinya. Mungkin karena jauh dalam lubuk hati saya, saya tahu saya harus kuat. Saya harus menjadi sangat kuat, karena jika tidak saya bukan saja tidak tahu harus melakukan apa dengan ujian dan teman-temannya; tapi juga saya akan habis dimakan oleh mereka. Saya akan mati sebagai pecundang, hina di dunia hina di hadapan-Nya.

“Hei ujian!”, seru saya pada akhirnya membuka keheningan.

Ia menoleh sedikit.

“Apakah kalau saya menangis kamu dan gerombolanmu yang berbaju pelik akan pergi?”

Kepalanya menggeleng.

“Kalau saya bacakan ayat qursi?”

“Pikirmu aku hantu belau?!”. Sengit. Akhirnya ia buka suara.

“Saya tidak menyukai kehadiranmu”, ungkapku jujur.

“Tidak pernah ada yang suka padaku dan teman-temanku saat kami memakai pakaian pelik. Tapi orang-orang selalu berjingkrakan saat kami datang berpakaian harta dan kenikmatan. Dan akhirnya mereka lena sampai kami datang lagi berganti baju, baju bernama musibah dan susah payah. Padahal aku dan teman-temanku pada hakikatnya adalah sama. Sama-sama ujian”, terangnya. Sisi hati saya tersinggung karena merasa tersindir.

“Lalu bagaimana caranya membuatmu dan teman-temanmu pergi?”

“Kami tak pernah pergi. Kami akan selalu hadir selama manusia hidup. Kami hanya berganti pakaian, seperti manusia. Bedanya pakaian kami nyata, bukan pakaian kepalsuan seperti yang kalian kenakan.” Sindiran lagi. Ah, pagi ini saya rasanya kenyang dengan sindirannya. Tapi saya harus meneruskan percakapan ini. Sampai saya tahu…

“Kalau kamu tidak pernah pergi, apa yang harus kami lakukan? Saya, ayah saya, ibu saya, kakak dan adik saya, suami saya… Apa? Katakan, ujian!”

Pandangannya sedikit mengiba.

“Aku dan teman-temanku tidak pernah pergi. Saat manusia mati, kami menjadi fragmen kehidupan mereka. Di hari yang seorang anak tidak bisa menolong bapaknya dan juga sebaliknya, kami ditayangkan. Kami tercatat dalam buku kehidupan manusia. Ada dua hal yang bisa kamu lakukan.”

“Apa?! Katakan cepat!” Suara saya meninggi tanpa sadar.

“Sabarlah… manusia selalu bersifat tergesa-gesa!”

“Maafkan…” saya menunduk malu.

“Ada satu kalimat yang aku belum mendengar dari mulutmu dari sejak aku datang ke sini,” ujarnya.

Kalimat? Hanya dengan satu kalimat?

“Inna Lillah wa inna ilaihi rajiun. Segala sesuatu dari Allah dan akan kembali kepada-Nya,” ujian meneruskan.

Tubuh saya mengejang. Bulu roma saya merinding seketika.

“Satu lagi. Pastikan bahwa kamu dan keluargamu, dan orang-orang tercinta di sekelilingmu mendapati kami para ujian sebagai catatan kebaikan di akhir hidup kalian. Karena kami datang sebagai rahmat dan ampunan dari-Nya. Maka mengapakah banyak manusia gagal dan justru berakhir sebagai pecundang?”

Tidak ada kata terlalu pagi untuk menangis. Menangis bukan berarti saya  menangisi. Saya hanya menangis untuk meredakan hati yang gulana. Air mata yang berderai seakan membersihkan pandangan saya. Kini ujian dan teman-temannya berganti baju. Entah apa namanya, saya belum ingin memberi label apapun pada pakaian para ujian. Saya rasa saya tahu apa yang saya butuhkan, lebih banyak waktu bersama Allah, Tuhan Yang Tidak Pernah Luput.

“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Q.S. At-Thalaq: 2 – 3)