Monolog Jumat Pagi


Terkadang ia datang saat kita tidak siap menerimanya. Bahkan seringkali ia datang tidak sendiri, tapi membawa rombongan teman-temannya. Memang demikianlah kiranya urusan bernama ujian ini. Sekalipun kita bersembunyi di dalam lemari, ia dan teman-temannya tetap saja duduk manis menanti kita keluar, bertemu dengannya, dan menghadapinya dengan jantan – apapun jenis kelamin kita.

Pelik. Kali ini ujian memakai pakaian pelik. Adakalanya ia memakai pakaian harta melimpah dan kenikmatan; tapi kali ini, sekali lagi saya katakan pakaiannya adalah pelik.

Selagi tangan saya mengetik tulisan ini, ia duduk manis di ruang tamu, dan rombongannya mondar-mandir berkeliling rumah saya yang tidak seberapa luas. Saya tidak hendak menawari mereka suguhan apapun. Toh mereka ada di sini bukan untuk mencari sarapan pagi.

Saya, ujian dan teman-temannya belum saling bertegur sapa. Kami masih saling pandang. Walaupun lebih banyak mereka yang memandangi saya, semacam mencari-cari perhatian. Kalau boleh memilih, tentu saya memilih untuk tidak usah bersitatap dengan ujian dan teman-temannya. Mengetahui bahwa mereka sudah di rumah saya sejak saya membuka mata saja, membuat saya ingin tidur lagi dan atau menghabiskan 10 batang cokelat.

Oh peliknya. Rasanya saya perlu cuti panjang memikirkan mereka, si ujian dan teman-temannya. Dan lalu menjawab pertanyaan-pertanyaan 5W+1H: “what, when, where, why, which, and how”. Bermonolog. Panjang.

Saya sendiri tidak mengerti mengapa saya tidak menangis seperti biasanya. Saya membiarkan air mata saya mengalir sesekali. Tapi tidak seperti biasanya, menghadapi ujian dan teman-temannya kali ini, saya malah cepat-cepat mengusap air mata saya seakan tidak ada waktu untuk menangisinya. Mungkin karena jauh dalam lubuk hati saya, saya tahu saya harus kuat. Saya harus menjadi sangat kuat, karena jika tidak saya bukan saja tidak tahu harus melakukan apa dengan ujian dan teman-temannya; tapi juga saya akan habis dimakan oleh mereka. Saya akan mati sebagai pecundang, hina di dunia hina di hadapan-Nya.

“Hei ujian!”, seru saya pada akhirnya membuka keheningan.

Ia menoleh sedikit.

“Apakah kalau saya menangis kamu dan gerombolanmu yang berbaju pelik akan pergi?”

Kepalanya menggeleng.

“Kalau saya bacakan ayat qursi?”

“Pikirmu aku hantu belau?!”. Sengit. Akhirnya ia buka suara.

“Saya tidak menyukai kehadiranmu”, ungkapku jujur.

“Tidak pernah ada yang suka padaku dan teman-temanku saat kami memakai pakaian pelik. Tapi orang-orang selalu berjingkrakan saat kami datang berpakaian harta dan kenikmatan. Dan akhirnya mereka lena sampai kami datang lagi berganti baju, baju bernama musibah dan susah payah. Padahal aku dan teman-temanku pada hakikatnya adalah sama. Sama-sama ujian”, terangnya. Sisi hati saya tersinggung karena merasa tersindir.

“Lalu bagaimana caranya membuatmu dan teman-temanmu pergi?”

“Kami tak pernah pergi. Kami akan selalu hadir selama manusia hidup. Kami hanya berganti pakaian, seperti manusia. Bedanya pakaian kami nyata, bukan pakaian kepalsuan seperti yang kalian kenakan.” Sindiran lagi. Ah, pagi ini saya rasanya kenyang dengan sindirannya. Tapi saya harus meneruskan percakapan ini. Sampai saya tahu…

“Kalau kamu tidak pernah pergi, apa yang harus kami lakukan? Saya, ayah saya, ibu saya, kakak dan adik saya, suami saya… Apa? Katakan, ujian!”

Pandangannya sedikit mengiba.

“Aku dan teman-temanku tidak pernah pergi. Saat manusia mati, kami menjadi fragmen kehidupan mereka. Di hari yang seorang anak tidak bisa menolong bapaknya dan juga sebaliknya, kami ditayangkan. Kami tercatat dalam buku kehidupan manusia. Ada dua hal yang bisa kamu lakukan.”

“Apa?! Katakan cepat!” Suara saya meninggi tanpa sadar.

“Sabarlah… manusia selalu bersifat tergesa-gesa!”

“Maafkan…” saya menunduk malu.

“Ada satu kalimat yang aku belum mendengar dari mulutmu dari sejak aku datang ke sini,” ujarnya.

Kalimat? Hanya dengan satu kalimat?

“Inna Lillah wa inna ilaihi rajiun. Segala sesuatu dari Allah dan akan kembali kepada-Nya,” ujian meneruskan.

Tubuh saya mengejang. Bulu roma saya merinding seketika.

“Satu lagi. Pastikan bahwa kamu dan keluargamu, dan orang-orang tercinta di sekelilingmu mendapati kami para ujian sebagai catatan kebaikan di akhir hidup kalian. Karena kami datang sebagai rahmat dan ampunan dari-Nya. Maka mengapakah banyak manusia gagal dan justru berakhir sebagai pecundang?”

Tidak ada kata terlalu pagi untuk menangis. Menangis bukan berarti saya  menangisi. Saya hanya menangis untuk meredakan hati yang gulana. Air mata yang berderai seakan membersihkan pandangan saya. Kini ujian dan teman-temannya berganti baju. Entah apa namanya, saya belum ingin memberi label apapun pada pakaian para ujian. Saya rasa saya tahu apa yang saya butuhkan, lebih banyak waktu bersama Allah, Tuhan Yang Tidak Pernah Luput.

“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Q.S. At-Thalaq: 2 – 3)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s