Pengantar Komunikasi Antar Budaya


Saat kita mendengar kata-kata “budaya” yang terbayang di benak kita adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan symbol-simbol etnisitas, kesukuan, atau keagamaan. Tari perut identik dengan budaya Timur Tengah, Kimono identik dengan Jepang, dan lelaki bertopi lebar identik dengan Mexico. Pemahaman tersebut ada benarnya. Akan tetapi, saat kita memulai kuliah Komunikasi Antar Budaya ini, harus kita ingat bahwa budaya pada dasarnya bukan hanya yang terbatas pada batas-batas geografis semata. Sebagaimana Gerry Philipsen, seorang ahli Komunikasi Antar Budaya dari University of Washington (dalam Griffin, 2006) mendeskripsikan budaya dengan, “a socially constructed and historically transmitted pattern of symbols, meanings, premises and rules” (bentuk-bentuk symbol, makna, gagasan, dan aturan yang dikonstruksi secara social dan dipertukarkan secara historis). Dengan kata lain, kita dapat menarik pada satu pemahaman mendasar dari budaya, bahwa budaya adalah code atau “konvensi” atau sesuatu yang diperoleh sebagai hasil kesepakatan bersama.

Komunikasi dan Budaya, menurut banyak ahli adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain, Samovar dan Porter (2003) menyebut Komunikasi dan Budaya bekerja “tandem”, seakan tidak bisa dipisahkan yang mana suara dan yang mana gaungnya. Kita harus ingat bahwa kita tidak lahir ke dunia dengan pengetahuan bagaimana cara berpakaian, bagaimana cara makan dan apa-apa saja yang bisa dimakan dan apa-apa saja yang tidak boleh atau tidak dapat dimakan. Contoh sederhananya, keju “basi” di Indonesia, sudah pasti dibuang; sedangkan keju “basi” (baca: fermentasi) di Perancis menduduki strata paling atas dalam makanan. Kita mengonsumsi produk sapi nyaris tanpa mubazir, mulai dari kepala, lidah, daging, isi perut (jeroan), ekor, susu, sampai tulang-tulangnya; akan tetapi di India, sapi adalah binatang terhormat titisan dewa. Budaya adalah jawaban dari semua perbedaan di atas, dan komunikasi adalah sarana untuk mensosialisasikan budaya tersebut.

Adalah kedua orang tua kita dan lingkungan yang mengajarkan kita bahwa perempuan yang selalu datang saat kita menangis, menyusui dan mengganti popok kita saat kita kecil harus dipanggil “Mama”, dan laki-laki yang mendampinginya harus kita panggil “Papa“, Lingkungan pula yang mengajarkan kita bahwa “Mama” mengurus kita di rumah, dan “Papa” pergi bekerja mencari nafkah. Semua hal tersebut kita pahami melalui komunikasi dimana pada akhirnya, komunikasi membentuk budaya, dan budaya membentuk pola komunikasi tertentu.

Sampai di sini, kita mendapati pertanyaan utama mata kuliah ini:

Untuk apa kita mempelajari Komunikasi Antar Budaya?

Samovar dan Porter (2003) mengatakan bahwa usia komunikasi antar budaya nyaris setua usia kemanusiaan itu sendiri. Agama yang sekarang kita anut, apakah itu Islam, Katolik, Kristen, Hindu, atau Buddha pada dasarnya adalah hasil dari Komunikasi Antar Budaya dari para penyebarnya di masa lalu. Agama Buddha pernah tersebar dari India, Yunani, Afghanistan, kawasan Asia Timur hingga sampai ke Indonesia. Islam pun, di masa jayanya pernah merambah Afrika, Eropa, hingga kawasan Rusia. Tidak banyak yang tahu, bahwa jauh sebelum Islam dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, konon agama Yahudi sudah masuk ke Indonesia melalui pedagang rempah dari Iran. Artinya, manusia senantiasa berkomunikasi dengan manusia lain untuk memenuhi tujuannya. Apakah untuk berdagang, untuk menjajah, untuk menguasai, atau untuk menyebarkan agama. Apapun itu. Di sinilah pertukaran budaya terjadi, melalui komunikasi.
Ibnu Battutah, seorang explorer sekaligus pembawa misi diplomasi Sultan India, yang menjelajahi dunia tiga kali lebih luas daripada yang dijelajahi Marcopolo; seorang Muslim yang taat pernah terkaget-kaget dan tidak ingin keluar dari pemondokannya manakala ia singgah di China. Kekagetannya salah satunya adalah karena bangsa China, menurutnya biasa memakan makanan yang aneh, seperti ular; dan biasa memakan babi yang haram bagi seorang Muslim. Selain itu, kedai-kedai di China biasa menghibur pengunjung dengan nyanyian yang dinyanyikan oleh perempuan. Hal itu sangat mengejutkan sekaligus mengganggu bagi Ibnu Battutah. Akan tetapi, oleh karena memiliki kapabilitas sebagai seorang diplomat, beliau tentu berhati-hati dalam bertingkah laku dan cukup memahami hal tersebut sebagai bagian dari kebudayaan setempat.

Itu contoh pertukaran misi diplomasi di masa lalu, saat dimana bahkan listrik belum ditemukan. Di masa kini, pertukaran budaya melalui komunikasi terjadi hampir setiap hari dengan ditemukannya media massa, khususnya internet dalam dasawarsa terakhir ini. Melalui media massa pula euphoria K-Pop di kalangan muda mudi Indonesia terbentuk, dan nyaris semua kita tahu apa arti “Annyong Haseo” tanpa perlu belajar bahasa Korea secara khusus.

Samovar dan Porter (2003) berpendapat bahwa terdapat sejumlah hal yang menjadi factor tersebarnya interaksi cultural. Pertama, ditemukannya banyak teknologi terutama dalam bidang transportasi dan system komunikasi. Dalam hal ini, seseorang mungkin akan sarapan di San Francisco dan makan malam di Paris dengan mengendarai kendaraan dengan kecepatan super sonic. Kedua, adanya system komunikasi yang inovatif seperti satelit komunikasi dan jaringan internet tidak dapat dipungkiri juga mendukung tersebarnya gagasan dan pemikiran ke seluruh dunia dalam waktu yang relative serentak. Ketiga, globalisasi ekonomi. Pasca perang dunia ke-2, sector ekonomi menjadi tulang punggung hidupnya negara Amerika Serikat yang babak belur akibat perang. Dari sini munculah gagasan untuk memperluas wilayah distribusi barang yang terus berkembang hingga sekarang. Kita bisa menikmati McDonald yang kurang lebih sama di Jakarta dan di ujung Michigan, menenggak Coca-Cola yang serupa dengan yang ditenggak pria berkulit hitam di Capetown, Afrika Selatan. Keempat adalah perubahan pola imigrasi. Bagi negara seperti Amerika Serikat atau Canada, saat ini negara mereka telah tumbuh menjadi negara multinasional. Gelombang imigran dari China, Jepang, Turki, Timur Tengah, Afrika, India datang dan berkumpul, berinteraksi dan berbagi ruang dengan mereka yang turunan Eropa. Adapun dalam konteks Indonesia, lebih tepat apabila disebutkan bahwa urbanisasi telah mempengaruhi interaksi budaya. Jakarta, “tanah surga” bagi banyak pemuda desa, saat ini bukan lagi milik orang Betawi, akan tetapi sudah dimiliki oleh semua yang membangun kehidupan di ibukota. Jawa, Tionghoa, Batak, Sunda, semua bisa kita temukan di Jakarta.

Di dunia yang diciptakan Tuhan untuk kita tinggali bersama, kita akan selalu berbaginya dengan manusia lain. Dan seiring dengan semakin cepatnya jaman berganti, teknologi bertumbuh dan berkembang, kita perlu memahami apa yang orang lain pahami. Kita perlu mengetahui apa yang orang lain ketahui, serta bagaimana ia mengetahui apa yang ia ketahui tersebut.

Dari paparan di atas, saya mempersilahkan Anda untuk menyimpulkan sendiri pentingnya Komunikasi Antar Budaya. Namun di atas segalanya, di atas segala alasan teoritis yang mungkin akan kita pelajari atau kita dapatkan selama perkuliahan, saya, personally, berpegang pada satu keyakinan, bahwa Tuhan menciptakan kita berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal.

2 thoughts on “Pengantar Komunikasi Antar Budaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s