Cantik Berhijab (Part 1)


Berhijab pada dasawarsa terakhir ini menjadi tren, bukan hanya di Indonesia, tapi juga hampir di seluruh negara muslim. Pagelaran busana Muslimah di negara-negara mayoritas Muslim seperti Turki, Malaysia, dan Indonesia marak diselenggarakan. Berhijab yang sepuluh tahun lalu masih dianggap angin lalu di dunia kerja dan media massa, sekarang bukan lagi halangan bagi seorang Muslimah untuk berkarier dan berkarya bahkan di media massa sekalipun. Khususnya di Indonesia, arus tren berhijab ini semakin kencang manakala berdiri sebuah komunitas perempuan muda berhijab yang langsung menjadi trendsetter bagi para Muslimah. Muda, cantik, berhijab dan gaya.

 

Sungguh sebuah tren yang bagus, sebenarnya. Tren yang diperkokoh dengan pertumbuhan kelas menengah usia produktif di Indonesia sangat bisa menunjukkan kepada dunia bahwa anggapan tentang muslimah yang berhijab, bahwa hijab bukan lagi seperti ketika penulis pertama berhijab 12 tahun lalu saat masih duduk di bangku SMP dimana muslimah yang berhijab “hanya” sebatas anak pesantren, ibu-ibu yang pulang Haji, atau nenek-nenek yang sudah menopause. Berhijab sudah jauh lebih dari itu.

 

Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah kesadaran berhijab juga berjalan dengan pengetahuan tentang penggunaan hijab yang benar? Ataukah kita sudah cukup bangga dan puas diri dengan hijab yang kita kenakan?

 

Ini adalah sebuah fenomena baru di dunia Islam kekinian: Cantik Berhijab.

 

Hijab mungkin hanyalah selembar kain biasa, yang ketika diturunkan ayat tentangnya berlomba-lomba para wanita beriman di masa Rasulullah SAW untuk mengenakan segala kain yang bisa dikenakan untuk menutup rapat rambut dan seluruh tubuhnya. Bergidik saya membayangkannya. Betapa kecintaan kepada Allah menjadi motivasi utama perempuan Mu’min di masa itu menutup auratnya.
Hijab, memang hanyalah selembar kain biasa. Tapi selembar kain tersebut Allah wajibkan bagi para Muslimah, untuk menjaganya, menutupi keindahannya dari mata dan pikiran buruk laki-laki yang bukan mahramnya. Selembar kain biasa yang sejatinya ditujukan untuk membebaskan perempuan dari perbudakan. Perbudakan siapa? Mari kita ulas bersama…

 

Seorang teman non Muslim pernah bertanya, “untuk apa keindahan diciptakan kalau ditutupi?”. Inilah jawabannya. Dalam Islam, sombong adalah milik Allah. Dan kita, ummat Islam adalah ummat yang semestinya berrendah hati terhadap dunia. Bukankah keindahan tubuh perempuan juga sangat bisa menjadi ajang kesombongan? Rambut dan tubuh indah, saya yakin Tuhan ciptakan bukan untuk dipamerkan. Tapi untuk dijaga keindahannya hanya untuk suami saja.

 

Tren dimanapun di dunia ini selalu memperbudak wanita. Lagi-lagi wanita. Dari mulai baju ketat hingga baju gombrong, dari mulai celana ketat hingga celana boot cut, dari mulai rok midi hingga rok mini, semua diikuti, dicari atas nama trendy. Lalu, apa tujuannya menjadi trendy? Apakah untuk diam-diam saja di rumah? Tentu saja tidak. Betapa banyak dari sekian wanita pengikut tren yang mempercantik diri untuk mendapatkan perhatian laki-laki? Bukankah ini juga adalah perbudakan atas makhluk mulia turunan hawa?

 

Hijab hadir untuk membebaskan Muslimah dari hal-hal yang demikian. Menghindarkan diri dari kesombongan, menghindarkan Muslimah dari penjajahan mode, dan pakem cantik yang berlaku. Yang cantik yang langsing? Yang cantik yang tubuhnya bak gitar spanyol? Yang cantik yang putih? Yang cantik yang kurus berotot? Semua gugur dengan aturan berhijab. Kita tidak dipandang apakah kita dikaruniai tubuh bak gitar spanyol atau lurus seperti penggaris, tidak juga dilihat apakah kita berukuran ekstra besar atau ekstra kecil. Hijab semestinya membuat orang melihat pada diri kita, bukan pada apa yang kita pakai. Hijab adalah “seragam”, karena di mata Allah semua kita adalah sama, tidak memandang fisik, status social, apalagi jumlah rekening tabungan. Karena di sisi-Nya, yang membedakan antara seorang perempuan yang hanya memiliki satu stel baju dan perempuan lain yang mempunyai satu kamar khusus untuk baju-bajunya, hanyalah amal perbuatannya, dan yang membedakan perempuan bertubuh gemuk pendek berkulit hitam dan perempuan tinggi kurus semampai hanyalah kedekatannya dengan Allah. ^__^

One thought on “Cantik Berhijab (Part 1)

  1. Subhanallah..
    Maha suci Allah yg telah memberikan seorang wanita muslimah sholehah seperti anda sebagai seseorang yang mengingatkan kpd kaum muslimah lainnya tentang makna hijab sebenarnya..
    Ana sungguh sedih membaca ini,mengingat hijab ana yg semakin tipis saja,sangat jauh berbeda saat ana msh kuliah.walau msh panjang,tp tdk setebal dulu..smg ini bs jd sarana introspeksi ana trhdp diri sendiri dan teman2 ana.

    Ana jd teringat materi liqo ana sewaktu dikampus mengenai hijab..trmasuk hijab hati…
    Malu rasanya meningkatkan level pembahasan hijab sampai kehati jk tampak luar belum dibenahi..insyaAllah ini hidayah,pembuka hati untuk memperbaiki diri menjadi muslimah yg dicintai Allah,suami dan keluarga bukan Lawan jenis yg bukan muhrimnya..
    Jazakillah ukhti Shinta..saudariku diJakarta..semoga ikatan hati dan silaturahim kita semakin dekat dan diberi kesempatan untuk datang dan bersilaturahim langsung.love u sister,my real sister.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s