Cantik Berhijab (Part 3)


Salahkah Berhijab dengan Cantik? Atau Berhijab untuk Cantik?

Yang harus dibuang jauh-jauh menurut saya bukan pada keinginan untuk cantik. Tapi menyandarkan motivasi berhijab pada rasa ingin “lebih” cantik, “lebih” modis, “lebih” enak dilihat orang, bahkan keinginan untuk terlihat “lebih” takwa; dalam pendapat saya adalah niat yang harus diluruskan.

Keinginan untuk cantik adalah hal yang amat sangat manusiawi bagi seorang perempuan. Tapi cantiknya kita bukan untuk diumbar pada sembarang, pada segala. Walaupun seringnya kita merasa tidak perlu tampil cantik karena “sudah laku”. Bahkan ini menjadi alasan banyak perempuan menopause “akhirnya” berhijab, “Halah, sudah tua ini, apalagi yang mau ditunjukin?”. Pandangan yang aneh, menurut saya. Ketika Islam justru member keringanan batasan aurat pada perempuan menopause, malah banyak dari mereka yang menutup rapat-rapat auratnya.

Cantik bukan untuk diumbar kemana-mana. Diri kita terlalu berharga untuk hanya sekedar menjadi penghias mata. Mata lelaki yang bukan pula suami kita. Justru setelah bersuami harusnya lebih cantik. Karena kita keluar rumah dengan rasa malu, dan menanggalkannya di hadapan lelaki yang sudah rela mengambil alih tanggung jawab Ayah kita dengan menanggung dunia akhirat kita. Apa yang akan kita sisakan untuknya apabila kita sibuk menghias diri untuk dilihat orang lain? Walaupun judulnya berhijab.

Kembali pada Tujuan Hijab

Dalam pandangan saya yang hina ini, hijab bukan sama sekali untuk tampil cantik. Namun bukan berarti ini pembenaran bagi hijabers yang kadangkala juga cuek pada penampilan. Berhijab rapi, bersih dengan padanan warna yang senada tentu terlihat lebih elegan daripada yang sembarangan. Saya juga tidak hendak mempromosikan hijab besar serupa mukena. Yang ingin saya sampaikan melalui tulisan saya nan panjang ini adalah, sejatinya kita berhijab dengan ilmu dan niat yang memang karena Allah.

Apabila hijab besar yang menutupi badan “bukan kita banget”, silahkan berhijab sesuai kepribadian kita, mau itu ternyata sesuai tren atau kita termasuk orang yang konvensional, selama sesuai dengan criteria Allah melalui Al-Quran dan Hadits yang sudah saya paparkan pada tulisan sebelumnya, insyaAllah tidak mengapa.

Apabila saat ini kita pun masih belajar dan belum bisa berhijab menutup dada, atau berbaju panjang; belajarlah untuk tidak puas diri dan merasa cukup dengan apa yang kita lakukan, plus dengan tidak mencibir hijabers yang memilih untuk berhijab lebar atau bercadar. Sekali lagi, boleh jadi mereka yang lebih disayang Allah daripada kita.

Pun ketika kita saat ini sudah berhijab panjang dan lebar. Tidak bijak kiranya apabila kita memandang sebelah mata kepada hijabers yang hijabnya masih mini. Bukankah hanya karena kasih sayang Allah saja kita mendapat hidayah, ilmu, dan tergerak hatinya untuk berhijab. Jangan-jangan mereka yang kita pandang sebelah mata justru lebih dahulu masuk surga daripada kita.

Saya sendiri pernah mengalami pasang surut dalam berhijab. Ada kalanya saya yang masih minim pengetahuan agama berhijab alakadarnya. Bajunya kecil, di tubuh yang besar. Jelas bukan salah baju saya :p. Ada pula masanya saya mengulurkan hijab, panjang menjuntai, lalu saya reduksi menjadi sekedar menutup dada. Dan sekarang, saya sampai pada fase yang mudah-mudahan lebih stabil.

Saya paham, sebagai seorang istri seringkali saya melakukan dosa dan kesalahan pada suami saya. Saya takut akan suatu hari dimana suami saya akan ditanya tentang diri saya sebagai tanggungannya, sedang hijab saya masih jauh dari sempurna. Pun pada hari yang sama ketika jengkal kulit saya yang harusnya tertutupi tampak kemuka, ia bersaksi di hadapan-Nya, sedang saya tahu ilmunya. Ini adalah masa yang sedang saya jalani. Dan ini bukan fase yang mudah. Maka dari itu, saya paham sekali betapa susahnya mengalahkan diri sendiri, terlebih lagi untuk saya yang pada dasarnya sudah senang bergaya sejak kecil.

Anyway, anyhow, bagaimanapun gaya berhijab kita, kembalikanlah pada tujuan hijab semula. Hijab adalah identitas iman, hijab adalah penutup, penjaga, pelindung, pakaian ketakwaan dan kerendahhatian. Terlalu mulia apabila ianya sekedar digunakan untuk mempercantik diri. Sedangkan fungsinya sendiri adalah menjaga, baik raga maupun hati.  

One thought on “Cantik Berhijab (Part 3)

  1. Setujah..eh setuju ukhti..
    Ana jg sempat mengalami pasang surut hijab..
    Tp entah mengapa..
    Hati yg berkata…
    Ketika memakai hijab sesuai syariat islam,kenapa rasanya hati ini lebih tenang,kenapa rasanya ingin selalu menundukkan pandangan,ingin selalu beribadah,mengaji,sholat lebih tepat wkt,ingin baca buku islami,semuanya serasa di cas kembali..
    MasyaAllah..Alangkah besarnya kekuasaan Allah..
    Bahkan tanpa perantara oranglain..hati saja bs mengingatkan memberi tahu mana yg salah dan mana yg benar…
    Smg ukhti,ana,dan kita semua selalu diberi hidayah untuk mempertahankan dan meningkatkan iman menuju ke Syurganya Allah..tempat kekal nan bahagia yg sebenarnya..
    Wallahualam bisshowwab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s