Sedikit, yang Banyaknya Dapat Memabukkan


Pagi ini, saya (baru) baca Majalah Aulia yang saya beli dua minggu lalu dan liputannya tentang persentuhan Muslim Indonesia di berbagai belahan dunia dengan makanan non halal, jadi inget cerita saya sendiri. Suatu hari, saya dan Mama makan siang di sebuah restoran di Thamrin City yang menyediakan Mie sebagai makanan utamanya. Label halal besar (bukan dari MUI, halal biasa) terpampang di kaca jendela. Di dalam pun banyak Muslimah berhijab sedang menikmati santap siang.

Tanpa bermaksud rasis, saat masuk ke dalam saya sempat melihat patung kucing emas melambai-lambai yang dipercaya bisa membawa hoki. Saya mulai curiga. Pikiran pertama saya adalah, pemilik kedai kemungkinan besar bukan Muslim, setidaknya bukan Muslim yang baik karena percaya pada hal-hal demikian. Pikiran kedua saya adalah, apakah pemilik restoran ini mengetahui apa yang benar-benar halal dan tidak bagi Muslim? Jangan-jangan pemahamannya hanya sebatas Muslim don’t eat pigs and don’t drink alcohol saja.

Sebelum pesan, saya bertanya sama pelayannya, “Mbak, ini pake ang ciu nggak?”

Pelayannya mengangguk yakin, “Iya, menu mie dan tumisan memang pake ang ciu”.

Nah kan perkiraan saya benar.

Jadi apakah saya berakhir makan di tempat lain? Tidak juga. Saya dan ibu saya lantas memesan “makanan yang tidak pake angciu”, dan datanglah gado-gado.

Salah? Iyalah! Semestinya saya keluar dari restoran itu dan mencari tempat makan lain yang jelas kehalalannya.

Pesan moral dari cerita di atas adalah, jangan ragu-ragu bertanya kepada petugas restoran mengenai status kehalalan makanan yang mereka jual. Karena walaupun kesadaran pemilik tempat makanan mengenai pentingnya label halal MUI memang sangat kurang, bukan berarti makanan yang dijual pasti tidak halal. Boleh jadi sertifikasi halalnya memang sedang dalam proses.

Kedua, sikap saya sangat salah dengan tetap makan di restoran tersebut. Artinya saya turut mendukung ketidakhalalan tersebut. Alih-alih menyatakan sikap against makanan yang menggunakan ang ciu, which is tidak halal, saya malah memberi toleransi dengan makan makanan lain yang tidak mengandung ang ciu. Padahal, mungkin saja pemilik dan pengelola restoran tidak paham bahwa penggunaan ang ciu memang tidak dibenarkan bagi umat Islam. Dan tidak cukup dengan tidak menggunakan unsur daging babi atau minyak babi atau hal-hal berbau babi lainnya, menjadi layak memajang label halal besar di kaca jendelanya. Apabila sikap saya, konsumennya, tegas dan beranjak pergi karena makanannya yang tidak halal, bisa menjadi setidaknya dua (saya dan ibu saya) suara untuk dipertimbangkan bagi pengelola restoran untuk memikirkan ulang menggunakan ang ciu dalam masakannya.

Orang-orang Yahudi Orthodox saja bisa ketat dalam memilih dan memilah produk bagi diri mereka yang juga tidak makan babi, dan bahkan lebih dihormati secara internasional dengan preferensi mereka yang hanya mengkonsumsi produk “kosher”. Teman-teman Buddhist yang vegetarian atau yang memang memilih menjadi vegan pun sekarang sudah lebih mudah dengan banyaknya produk yang aman bagi vegetarian, dari mulai cokelat, mie, sampai es krim :9. Seharusnya kita yang Muslim, yang diatur ketat dalam Al-Quran dan hadits pun seharusnya jangan mau kalah dari mereka yang Yahudi Orthodoks dan Vegetarian. Kita, ummat Islam adalah masyarakat mayoritas yang semestinya merupakan pasar yang “bunyi”. 

So, belajar dari kesalahan saya, kali lain kita makan di tempat makan yang mencurigakan, jangan segan-segan bertanya pada petugasnya karena we have the very right to do that. 

Dan makanlah makanan yang halal lagi baik (thayib) dari apa yang telah dirizkikan kepadamu dan bertaqwalah kepada Allah dan kamu beriman kepada-Nya.” (Q.S. Al-Maidah: 88)

“Setiap yang memabukkan itu hukumnya haram. Jika satu farraq dapat memabukkan maka sepenuh telapak tanganpun juga haram,” (Shahih, HR Abu Dawud [2687]).

“Apa saja yang memabukkan hukumnya haram, baik banyak maupun sedikit,” (Shahih, HR Abu Dawud [3681]).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s