Sebuah Dansa untuk Bercinta, Tasbih Cendrawasih pada Penciptanya


Pagi ini sembari menikmati setengah porsi bubur, saya menonton Winged Seduction di National Geographic Channel, stasiun TV kesukaan saya. Biasalah, libur panjang, santai dan selalu breakfast in bed bersama suami. Kali ini edisi Birds of Paradise atau yang juga dikenal dengan nama Paradisaeidae. Jujur saja, menulis tentang binatang memang bukan minat utama saya, selama ini saya hanya menjadi penikmat pasif dunia fauna. Tapi burung-burung Cendrawasih atau burung – burung surga itu sangat memikat hati saya. Bukan hanya memikat, tapi membuat hati saya meleleh. Meler…

Sekalipun saya nggak tahu mengapa mereka dinamakan Birds of Paradise, tapi melihat keindahan dan keanekaragamannya, yang mencapai 3 lusin spesies itu, saya pikir tidak berlebihan kalau burung-burung itu dikaitkan dengan surga, sekalipun sebagai seorang Muslim saya percaya keindahan surga yang sebenarnya tidak pernah akan dapat saya bayangkan. Ada seekor spesies yang sangat menarik hati saya. Namanya adalah Parotia Wahnesi. Bentuknya amat menarik. Burung yang banyak hidup di wilayah Papua Nugini dan sebagian kecil wilayah Indonesia Timur itu didominasi warna hitam, dengan jengger berwarga gradasi hijau kekuningan ada juga sedikit semburat biru di sana. Ia memiliki antena atau apa namanya itu di bagian atas tubuhnya, menjurai-jurai begitu cantik. Dan yang paling melulukan hati adalah saat ia membuka semacam sayapnya menjadi seperti rok dan mulai menari untuk menarik lawan jenisnya. Tubuhnya bergerak ke atas ke bawah, melebarkan sayapnya seperti seorang ballerina atau bahkan seperti penari reog. It’s just amazing!

Semakin amazing karena saya, sebagai Muslim mengimani bahwa seluruh alam raya ini bertasbih, memuja dan memuji-Nya. Dan gerak gerik hewan, segala kehidupan tetumbuhan yang serba patuh akan sunnatullah-nya, tidak lain adalah bagian dari ibadah mereka kepada Sang Maha Pencipta, Penguasa Langit, Bumi, dan Apa yang Ada di Antaranya. Sebagaimana Allah sebutkan dalam surah An-Nur ayat 41:
Tidaklah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.

Beberapa orang mungkin berpikir bahwa, ya memang dunia fauna sudah begitu dari sononya… Ya, seperti itu, sebagaimana burung cendrawasih dan juga banyak burung lainnya memikat hati betina-nya untuk melanjutkan keturunan dengan tarian, suara dan keindahan bulunya. Itulah “dari sononya”. Itulah sunnatullahnya. Dan mereka patuh terhadap sunnatullah mereka, ibadah mereka. Dan manusia yang bekerja melestarikan sunnatullah alam semesta ini, apakah itu peneliti, ahli botani, ahli biologi, dokter hewan, aktivis pelestarian alam, apapun itu, sesungguhnya ikut melestarikan tasbih makhluk semesta ini kepada-Nya. Sayangnya, banyak dari mereka bukan Muslim, bahkan tidak mengimani adanya Tuhan, which is, dari sudut pandang saya, yang bodoh ini, adalah perkara yang merugikan.

Seakan-akan mereka diperlihatkan akan kemegahan sebuah istana, dijamu dengan jamuan terlezat, dipersilahkan menempati kamar-kamar yang indah, tapi tidak mengenal siapa raja baik hati yang mempersilahkan mereka menikmati itu semua.

Tentunya Allah lebih dari sekedar raja baik hati, Allah adalah Rajanya para raja. Dan analogi saya mungkin belum cukup menggambarkan betapa meruginya orang-orang yang melestarikan sunnatullah semesta, tapi menolak mempercayai Pencipta semesta. Karena semestinya ketika mereka melihat langsung betapa indahnya seekor Parotia Wahnesi menari untuk menarik hati sang betina, seketika itu juga pikiran tentang Tuhan muncul. Bagaimana mungkin tarian satu spesies burung, hadir begitu saja tanpa ada yang menciptakan dan memberi mereka sunnatullah yang demikian….

(semua itu) sungguh, merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti” (Al-Baqarah: 164)

Anyway, untuk lebih jeli dan jelas melihat betapa indahnya dansa Cendrawasih jenis Parotia Wahnesi, sila klik disini dan di sini

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s