LoA dan Do’a (Part 1)

Saya tidak pernah mempercayai Hukum Ketertarikan atau The Law of Attraction dengan pemahaman banyak orang, bahwa “semesta” akan membantu prasangka dan sugesti diri kita. Karena semesta hanyalah makhluk. Akan tetapi saya percaya, bahwa Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya, dan hamba-hamba yang shalih, yang dicintai Allah akan juga dicintai oleh semesta. Jadi bukan “semesta” yang menjadikan sugesti diri menjadi nyata, dalam pemahaman saya sebagai Muslim, tapi kehendak Tuhan-lah yang menjadikan prasangka baik (atau buruk) kita menjadi nyata.

And so, saya selalu percaya apabila kita terus menerus menginginkan sesuatu, memimpikannya, berusaha dan berdo’a sungguh-sungguh pada-Nya, maka sesuatu itu akan semakin dekat dan terkabul dengan izin-Nya. Dan Do’a adalah senjata paling pertama. Bukan penghujungnya saja. Do’a harus ada di awal, di tengah, pun di akhir setiap mimpi dan harapan.

Kata-kata Rasulullah SAW bahwa do’a adalah senjata orang beriman, bukan serta merta “gitu aja”, dalam pandangan saya yang bodoh ini. Saya bukan ahli hadits, tapi saya percaya, dalam do’a yang kita panjatkan ada afirmasi diri, ada pelajaran pembentukan konsep diri yang mana konsep diri itu akan mempengaruhi perilaku kita.

Saya contohkan sebuah cerita dari jaman Rasulullah SAW. Suatu ketika Rasulullah SAW masuk ke dalam masjid dan menemukan sahabat sedang berada di dalam, padahal itu bukan mendekati waktu shalat. Setelah Rasulullah SAW bertanya padanya, rupa-rupanya sang sahabat ini sedang galau dan gundah gulana karena terlilit hutang. Maka Rasulullah SAW kemudian mengajarkan sebuah do’a:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ
“Allahumma inni a’udzubika minal hammi wal hazani wa a’udzubika minal ‘ajzi wal kasali wa a’udzubika minal jubni wal bukhli wa a’udzubika min ghalabatiddaini wa qahrirrijali”


Yang artinya:

”Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari tekanan hutang dan kesewenang-wenangan manusia.”

 

Saya bukan ahli hadits, tapi saya baru saja menyadari dalam do’a tersebut, setidaknya ada beberapa permohonan dan cara-cara yang semuanya selaras dengan tujuan utama: terbebas dari hutang.

Pertama, permohonan agar Allah membebaskan dari perasaan bingung dan sedih. Dua perasaan ini lazim menghinggapi mereka yang terlilit hutang. Bingung bagaimana harus membayar hutang, sekaligus sedih karena terbebani.

Selanjutnya adalah lemah dan malas. Seringkali memiliki hutang menjadikan seseorang merasa inferior atau rendah (baca: lemah). Ini hal yang lumrah, bagaimanapun juga. Karena sejak awal ketika seseorang berhutang, artinya ia berada dalam posisi yang membutuhkan. Akan tetapi perlindungan dari rasa “lemah” ini disandingkan dengan perlindungan terhadap “malas” .  Oleh karena hutang terkait erat dengan perolehan rizki, maka permohonan untuk terhindar dari rasa “malas” ini relevan dengan ikhtiar mencari rizki. Justru hutang tidak boleh melemahkan seseorang, sekaligus harus menjadi cambuk agar seseorang menjadi giat bekerja agar bisa memenuhi hutang-hutangnya.

Next is, pengecut dan kikir. Bagaimanapun seseorang yang memiliki banyak tunggakan hutang akan cenderung menghindari si pemberi hutang, Terkadang orang yang berhutang menghilang bak diculik alien, bahkan mungkin sampai berganti identitas dan pindah alamat. Melalui do’a ini, seseorang semestinya membuang jauh-jauh sifat pengecut. Alih-alih lari dari masalah, atau membuat masalah baru dengan menggali lubang lain untuk menutup lubang lama, hutang harus dihadapi dengan berani. Lalu ada perlindungan dari sifat kikir. Ini menjadi menarik, karena saya yakin pasti ada kaitannya antara orang yang berhutang dan sifat kikir. Apakah itu mungkin orang yang berhutang cenderung memiliki sifat kikir karena khawatir hartanya habis sehingga ia enggan bersedekah? Wallahu a’lam. Yang pasti saya percaya bahwasanya sedekah di saat sulit akan membawa pertolongan Allah datang melesat. Seperti kedipan mata, ketika harus berkedip. Jadi, mungkin bisa disimpulkan bahwa kondisi berhutang tidak semestinya menghalangi seseorang untuk berbagi, hatta dengan sebiji kurma.

Terakhir adalah tekanan hutang dan kesewenang-wenangan manusia. Saya jadi teringat masa-masa saya masih jadi CS di sebuah bank, sering ada telepon dari debt collector untuk seorang rekan kerja. Menelepon dengan marah-marah luar biasa. Well, memang mereka dibayar untuk itu sih. Kasus debt collector atau renternir, menurut saya cocok dengan do’a tersebut. Karena hidup seseorang yang berhutang, seakan-akan dikendalikan oleh krediturnya. Jadi tekanan hutang dan kesewenang-wenangan manusia, menurut saya seiring sejalan.

Sekali lagi saya bukan ahli hadits, atau ustadzah, atau psikolog, apapun itu. Dan apa yang saya tulis sama sekali tidak bisa dijadikan rujukan valid, dan butuh kajian oleh orang lain yang ilmunya jauh jauh jauh jauh di atas saya yang masih belajar ini. Saya hanya baru “ngeh” salah satunya adalah dari konten do’a agar terbebas dari hutang di atas. Selain itu, saya bertambah yakin bahwa kata-kata yang seringkali kita ucapkan itu bisa menjadi do’a dan do’a sejatinya adalah pengukuhan diri, makanya Islam melarang kita untuk “mengutuk diri” seperti, “Ih gue bego banget sih…” atau membuka aib sendiri. Karena keduanya akan sangat menpengaruhi konsep diri kita. Saat dipuji pun, kita tidak boleh merasa bangga, tapi juga tidak boleh tidak menerimanya dengan baik. Konon, sahabat Rasulullah SAW, Abu Bakar As-Shidiq, radiyallahu ‘anhu, ketika berdo’a agar Allah menjadikan dirinya lebih baik dari pujian yang dialamatkan atas dirinya.

Nah, kembali ke LoA (Law of Attraction) di atas, saran saya, apabila Anda seorang Muslim, lekas-lekas ganti dengan banyak-banyak DO’A. Oleh karena pemahaman LoA yang bisa, dalam pandangan saya, jadi menyimpangkan akidah karena meyakini bahwa “semesta mendukung” dengan cara yang salah (bahwa semestalah yang memberi jadi sekarang-sekarang saya sering denger orang bilang, “thank you universe”, instead of “thank you God”). Cukuplah kita berdo’a banyak-banyak, mengingat Allah banyak-banyak, berprasangka baik pada-Nya, baru deh berusaha banyak-banyak. Karena sebagaimana saya percaya, shalat yang BENAR bisa mencegah perbuatan keji dan munkar, begitu pun dengan DO’A yang benar dan sungguh-sungguh.

Ini baru prelude-nya. Ceritanya masih bersambung. Stay Tune yaaa ^^

 

Bab Pasrah Bagian Pertama

Here I am, disinilah saya, duduk di sebuah musholla. Dengan hati yang tidak rapi.

Menenangkan diri. Menghitung langkah-langkah kaki jamaah yang masuk sambil memainkan jemari.

Pikiran saya tidak mau berhenti. Bertanya-tanya, menduga-duga. Dosakah saya jika saya tidak tahu apa dan bagaimana pasrah itu? Seberapa sering saya ucapkan ia,tapi begitu sulit untuk memahaminya.

Apakah pasrah berarti berhenti? Apakah pasrah berarti memasang topeng dan sandiwara pada kisah hidup saya yang sudah terlalu sering saya dramatisir? Apakah pasrah berarti tidak menangis?

Kurang dari dua bulan lagi, usia pernikahan saya menginjak tahun ke empat. Empat tahun tanpa kehamilan. Lalu, bolehkah saya marah karena ketiadaan anak dalam empat tahun pernikahan saya?

Tentu saja tidak. Saya tidak punya hak apa-apa untuk marah, apalagi merasa iri pada mereka yang demikian mudahnya memiliki keturunan. Bukankah saya hanyalah seorang hamba yang punya kewajiban berusaha, dan sama sekali tidak punya hak mengganggu putusan Allah, apalagi mendikte-Nya?

Maka, sekarang saya bocorkan padamu sesuatu yang saya pendam dalam hati. Jihad itu demikian beratnya,teman, hingga surgalah hadiahnya. Jihad itu kombinasi paripurna antara usaha keras dan hati lapang tanpa pamrih atas ikhtiar itu. Lalu hasilnya? Konon kabarnya, ia bernama pasrah.

Ya,pasrah. Bab kehidupan dimana saat ini Allah sedang menempa saya. Meluruskan hati saya agar tetap pada jalur edarnya. Patuh, tunduk, dan kembali pada jati diri saya: muslimah. Perempuan yang berserah.

Allah yang menciptakan keinginan ini, keinginan untuk memiliki keturunan. Allah pula yang menguatkan keinginan tersebut, dan menguatkan pula semangat saya. Di saat yang sama, saya mengimani bahwa Allah akan melapangkan jalan pada mereka yang berusaha.

Allah bisa hapuskan keinginan ini,tapi tidak. Allah kiatkan dan Allah jadikan saya mampu secara finansial untuk terus berikhtiar. Pasti ada yang Allah mau dari ini semua. Pasti. Allah ingin saya untuk pasrah. Dan itu bagi saya masih sulit. Menyerahkan seluruhnya,segalanya,bahkan merelakan seandainya Allah menyiapkan ketetapan yang jauh lebih baik untuk diri saya dan suami. Harap yang muncul tanpa diminta, rasa takut kecewa. Ah. . . Masya Allah. . .

Saya tidak ingin gagal kali ini, tidak ingin tidak lulus dalam bab pasrah ini. Saya ingin naik dari level pre beginner dalam pasrah menuju mahir. Dan saya percaya, saya bisa. Jika ini jalan cerita yang Allah pilihkan untuk kisah hidup saya,itu artinya saya bisa melaluinya. Bukankah Allah mustahil memberi saya pelajaran hidup yang tidak mampu saya lalui?

So be it! Saya mungkin terdengar menyedihkan di atas, ya. . . Saya toh butuh pelepasan energi sedih dan lara,bukan? Tapi saya akan terus menjalani hidup saya, menjadi istri yang selalu mencintai suami saya setiap harinya, dan di atas segalanya belajar tunduk setulus-tulusnya pada Dia, yang hidup mati saya ada pada-Nya.

Momen Mengukur Kecintaan pada Sang Nabi

Momen Mengukur Kecintaan pada Sang Nabi

Memiliki seorang Ayah dengan latar belakang keluarga Muhammadiyah, dan disekolahkan dari SD sampai SMP di Al-Azhar yang notabene Muhammadiyah, saya tidak terbiasa merayakan Maulid. Hal ini bahkan sempat menimbulkan sedikit konflik beberapa tahun lalu saat saya berinteraksi dengan budaya Betawi yang senang dengan perayaan Maulid. My bad. Saya yang salah, karena saya benar-benartidak tahu, perayaan macam apa itu, shalawat apa itu yang dinyanyikan gegap gempita, saya tidak pernah dengar sebelumnya…

Beberapa tahun terakhir ini, saya banyak membaca buku tentang Rasulullah SAW, dan terakhir saya sangat menyukai fim seri Umar BIn Khattab yang menurut saya bukan hanya menceritakan tentang sahabat Nabi SAW, Umar radhiyallahu ‘anhu tapi juga menceritakan tentang kehidupan dan perjuangan Rasulullah SAW. Rupanya dua hal tersebut membawa sedikit perubahan dalam diri saya. Setidaknya mengubah sikap saya terhadap Maulid Nabi, seperti hari ini.

Perayaan Maulid itu Bid’ah kata mereka yang menamakan diri golongan Salafiy, mereka yang mengaku pengikut salafusshalih. Tidak salah memang. Karena saya yakin bukan gegap gempita perayaan kelahiran Nabi yang Islam ajarkan. Tapi kesederhanaan perilakunya yang harusnya menjadi tauladan.

Namun demikian, menjadikan momen ini untuk mengkalkulasi sejauh mana perilaku Rasulullah SAW sudah kita teladani, saya yakin tidak pernah salah. Dan bukan bid’ah.

Di tanggal ini, belasan abad lalu, seorang manusia pilihan Tuhan lahir di gurun tandus, Jazirah Arab. Dia yang kelahirannya tercatat dalam kitab-kitab terdahulu dan dinanti-nanti mereka yang mengetahui. Dia yang kelahirannya menggetarkan keangkuhan Istana Persia dan memadamkan api yang mereka jadikan Tuhan.

Di tanggal ini, 12 Rabiul Awwal.

Beliau, shalawat dan salam atasnya, anak cucu Ismail AS datang dari jazirah nan gersang yang dulu menjadi bulan-bulanan kekaisaran Persia dan Romawi. Tapi lihatlah beberapa saat setelahnya. Allah menjanjikan kepada ummat Muhammad SAW kejayaan, kemuliaan Istana Farsi serta Romawi. Dan terbukti, Islam yang diajarkan oleh seorang Muhammad SAW yang dekat dengan orang-orang lemah dan menjadi ayah anak-anak yatim pernah merambah barat Eropa, menerangi Persia, Afrika, China, hingga wilayah Asia Tenggara, bahkan konon suku Aborigin pun dulu sudah ada yang memeluk Islam. Betapa indah ajaran yang dibawanya, betapa mulia akhlak dan perilakunya sehingga berbondong-bondong manusia menjadi pengikutnya. Ajaran yang mengalahkan Karl Marx belasan abad, karena masyarakat bentukan Rasulullah SAW adalah classless society sesungguhnya.

Ajaran yang beliau SAW bawa, yang telah menerangi jalan hidup saya, menyibak kegelapan menuju cahaya. Ah, mungkin ini yang dirasakan Ibu Kartini ketika ia merasa tercerahkan. Namun sayangnya pemikirannya diterjemahkan bebas menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Saya masih ingat sekali, bagaimana rasanya, ketika Zuhur itu, saya akhirnya menapakkan kaki lagi ke masjid Nabi SAW. Akhir Mei 2012 silam, setelah tujuh tahun, saya diizinkan-Nya menikmati indahnya perjalanan Umrah. Madinah menjelang Zuhur, ketika rombongan saya sampai di sana. Setelah istirahat sejenak dan menyiapkan diri, saya dan suami berangkat ke Masjid Nabawi, yang letaknya tidak jauh dari penginapan. Saat saya masuk ke dalam Masjid, menetes air mata saya. Bahkan mengingatnya lagi selalu membuat saya mengharu biru.

Saya selalu mencari-cari alasan, mengapa saya lebih menyukai Madinah daripada Makkah. Bukan saya tidak suka Makkah. Bagaimana mungkin saya tidak menyukai sebuah kota yang kiblat saya saat beribadah ada di sana? Saya hanya lebih menyukai Madinah.

Mulai dari alasan keramahan orang-orangnya, cuacanya yang tidak sepanas Makkah, sampai sejarah tonggak awal peradaban Islam dimulai. Alasan itu tidak salah. Tapi ada satu alasan lain yang membuat Madinah begitu istimewa.

Ketika minggu lalu saya melihat kalender dan melihat tulisan “Maulid Nabi Muhammad SAW” terpampang di bawah angka berwarna merah, pikiran saya jauh membawa saya kembali ke Madinah. Mengapa? Karena disanalah Rasulullah SAW berada. Di Madinah-lah Rasulullah SAW dikubur, di rumah Aisyah yang sekarang menjadi bagian dari Masjid Nabawi. Sekarang saya paham, mengapa para sahabat rela meninggalkan harta bendanya di Makkah untuk bisa hijrah bersama Rasulullah SAW ke Madinah. Siapa yang mengaku beriman pada Allah dan Rasulullah SAW tapi tidak menginginkan berada dekat dengan Rasulullah SAW? Tidak ingin berada di kota tempat beliau berjuang menegakkan peradaban Islam dan mendidik generasi-generasi terbaik?

Ah, Rasulullah… Shalawat dan salam atasmu…

Sekarang pertanyaannya adalah, apakah kita, apakah saya pantas mengaku sebagai pengikutnya?

Muhammad SAW rumahnya begitu sederhana, sedangkan saya sering menginginkan rumah yang lebih bagus. Nabiyullah tidur kadang hanya dialasi pelepah kurma, sedang saya mengeluhkan kasur spring bed yang per-nya mulai berbunyi-bunyi. Sang Al-Amin sudah dijamin masuk surga, tapi beribadah lebih banyak dari orang lain; sedang saya yang selamat dari neraka saja belum tentu tapi seringkali malas-malasan. Dia yang terpuji di alam raya selalu memberi pada siapa yang meminta, sedangkan saya punya banyak apology untuk tidak memberi.

Lalu siapa yang saya sebut beriman? Diri sayakah?

*Just a deep thought*

*Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in*

Resolusi 2013

Resolusi 2013

Semoga belum terlambat untuk mem-post Resolusi ini. Mumpung Januari masih seminggu-an lagi, saya ingin bertambah semangat menjalani kehidupan saya di tahun yang baru, menambah manfaat diri untuk orang lain, dan di atas segalanya harus ada lompatan diri, menjadi manusia yang lebih taat pada Tuhannya.

Ada yang bisa menjabarkan, kira-kira apa saja resolusi saya di tahun ini :D?

Yup! Saya ingin bisa menziarahi kota suci, Makkah, Madinah dan Palestina entah itu dalam bentuk berhaji atau umrah lagi. RIndu, rindu, se-rindu-rindunyaaa… T_T

Saya juga ingin memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an dan ingin konsisten menutup aurat dengan sempurna.

Di tahun yang baru ini, saya berharap tidak hanya bisa mengajar mahasiswa, tapi juga mengajar anak-anak, entah apa bentuknya 🙂

And then…Menjadi penulis yang lebih baik, yang ikhtiarnya sudah saya lakukan dengan gabung di grup Emak2 Blogger, semoga bisa tambah semangat, memperbaiki dan mengembangkan tulisan dan membayar semua hutang-hutang tulisan saya baik itu yg bersifat akademis, populer, pribadi, atau fiksi. Menulis selalu menyenangkan untuk saya. Bersama membaca dan mengajar, ketiganya merupakan terapi hati. Selain itu, dengan menulis saya berharap bisa menunaikan kewajiban saya sebagai seorang Muslim, menyampaikan dari Rasulullah SAW walau satu ayat ^^.

Next, ya… saya berharap bisa melihat dua garis terang pada tes kehamilan saya. Aamiin aamiin ya Rabbal ‘alamiin…

Semoga Allah mudahkan dan ridhoi u_u

Tuntutan Jaman dan Tuntunan Tuhan

Gambar

Oki Setiana Dewi. Tidak bijak jika saya menyebutnya idola Muslimah, sedangkan ada Maryam Binti Imran, Khadijah dan Aisyah yang lebih pantas dijadikan idola. Tapi komitmen dan konsistensinya berhijab sesuai tuntunan sangat menginspirasi saya. ^^

Sudah saya katakan pada post sebelumnya, bahwa saya ini lemah sekali terhadap godaan fashion. Sejak kecil saya sudah menyukai pakaian-pakaian bak princess yang roknya mengembang dengan indah. Gaun-gaun cantik yang saat saya kecil, di Semarang, hanya muncul di pusat perbelanjaan menjelang perayaan Natal. Setiap tahun, kedua orang tua saya selalu menjanjikan gaun putri raja tersebut yang harganya waktu itu juga tidak murah. Tapi seringkali keduanya juga mengulur-ulur waktu membelikan saya baju yang dulu saya sebut baju mekrok, baju berupa gaun yang merekah seperti para penghuni kerajaan dongeng dalam buku-buku cerita saya.

Hingga suatu hari saya menolak untuk pulang dari toko sebelum dibelikan baju mekrok. Saya banget deh kalau sudah ada maunya. Keras kepala. Akhirnya Papa Mama menyerah, dan meluluskan keinginan saya memiliki gaun putih berenda sedengkul yang merekah pinggirannya. Rasanya senang sekali. Mendadak saya menjelma menjadi Aurora atau Cinderella yang terperangkap dalam istana (ups, Cinderella nggak terperangkap dalam istana ya… :p) menunggu Pangeran Tampan datang menjemput saya. Sampai sekarang buku “Cerita Harian” Disney yang diterjemahkan itu masih ada, dan saya jadikan kambing hitam karena telah membuat saya berimajinasi tentang putri-putri raja dan bajunya yang cantik. Ah, tapi gadis kecil mana yang tidak suka dengan sosok putri berambut panjang, bermahkota yang baik budinya dan selalu dikelilingi burung-burung, tupai dan tikus (ew..), yang kemudian takdirnya sudah dipastikan menikah dengan Pangeran Tampan?

Anyway, akhirnya bagi saya, belanja baju, sepatu, atau tas itu selalu menarik. Dan topik-topik seputar fashion juga menyenangkan. Perihal ini tidak banyak yang menyangka, saya yang tidak tampak fashionable ternyata menyukai dunia fashion. Beberapa teman yang mampir ke kost-an saya dulu terkejut melihat banyaknya perabotan di meja rias saya.

“Lo dandan juga ya, Shin…”

Hehehe…

Well, tulisan ini sudah ngalor ngidul nggak penting. Sebenarnya saya ingin mengatakan bahwa godaan fashion itu menerpa diri saya. Selalu. Walaupun dulu hijab saya gondrong, saya tetap memperhatikan komposisi warnanya, hingga hijab saya mengalami pasang surut, perkembangan dan penyusutan :p saya pun nggak bisa lepas dari jerat fashion. Susah banget. Bedanya sekarang saya lebih strict memilih dan memilah pakaian yang akan saya kenakan. Bukan lagi segala kain dipake di kepala. Nggak gampang memang, jujur saja. Tapi, saya memilih mengikuti kata hati saya. Karena hati tidak bisa dibohongi. Saya mungkin berpikir bahwa si X, rekan saya tampak jauh lebih modis dengan hijabnya, stand out in the crowd, dan timbul keinginan untuk meniru, tapi hati saya tidak akan pernah nyaman karena berhijab adalah untuk stand out di hadapan Allah, bukan stand out in the crowd. 

Sewaktu godaan itu datang dan datang lagi, saya terpikir satu hal. 

“Bagaimana jika ini, yang saya kenakan ini, tidak dihitung hijab oleh-Nya? Lalu dimana dan bagaimana nilai diri saya di sisi-Nya?”

“Bagaimana jika di hari akhir kelak, saya tidak dianggap menunaikan kewajiban menutup aurat karena pada dasarnya saya hanya membungkus kepala sesuai selera saya, bukan sesuai selera-Nya? Lalu tahun-tahun dalam hidup saya akan terbuang sia-sia…”

“Lalu apa gunanya saya mengklaim diri menutup aurat jika sejatinya saya tidak dihitung menutup aurat…?”

Dong!!

Bukankah agama ini dihidupkan oleh hati nurani dan akal, atau saya hanya mengikuti hawa nafsu? Jadi, yang mana yang saya pilih untuk menuntun saya?

 

Panggilan

 

Dalam sehari, banyak panggilan yang kita dapatkan. Di rumah, pasangan kita mungkin memanggil kita dengan “Yang” atau “Honey”. Anak-anak memanggil kita “Ayah” atau “Bunda”. Satpam di kantor menyapa, “Pak” atau “Bu” sambil menghormat takzim. Penjaga toko memaksakan diri menyebut kita “Kakak”, sekalipun umurnya mungkin sama dengan kita, atau bahkan ada di antara kita yang pantas jadi orang tuanya. 

Panggilan menunjukkan banyak hal. Kita memilih mengajarkan anak-anak memanggil kita “Mom” dan “Dad” atau “Ummi” dan “Abi” karena suatu alasan. Bisa ingin terlihat modern ke barat-baratan, atau ingin terlihat sakinah dengan ke-Arab-arab-an. Kita mungkin menolak dipanggil ustadz, karena merasa tidak pantas; tapi juga berwajah masam untuk alasan yang sama saat dipanggil “bu” padahal kita tidak merasa setua itu untuk dipanggil “Bu”. Seorang muallaf memilih dipanggil “Ahmad” menggantikan “George”, panggilan lamanya. Seorang bule mungkin memilih disebut “Joko” daripada “Michael” ketika berpindah kewarganegaraan. 

Kita menginginkan sekaligus mengkonstruksi label pada diri kita, sebagaimana kita ingin dipandang oleh pihak lain. Sebagaimana lingkungan mengkonstruksi kita dengan label yang mereka berikan. Label yang melekat, mendarah daging, menjadi konsep diri yang kita bawa untuk mendefinisikan siapa diri kita. Inilah salah satunya mengapa Rasulullah SAW menganjurkan pemberian nama yang baik, mengganti nama-nama yang buruk dan melarang kita memanggil seseorang dengan nama yang tidak disukainya.  

Kepada anak-anak, kita bisa mengajari mereka bagaimana kita ingin dipanggil. Kepada pembantu atau supir, kita bisa memerintahkan bagaimana menyebut diri kita. Kepada teman, kepada rekan kerja, kepada klien, kita bisa memilih dengan nama apa kita memperkenalkan diri. Dengan nama Jawa kitakah? Nama kecilkah? Nama Ayah kitakah?

Tapi pernahkah kita berpikir, dengan panggilan apa Allah memanggil kita? 

Di antara sekian banyak seruan-Nya dalam Al-Quran, masuk kemanakah diri kita?

Adakah kita mengaku Muslim tapi sebenarnya kita masuk ke dalam mereka yang Allah sebut kafir? Ataukah kita bagian dari mereka yang diulang-ulang sebutannya dalam Al-Quran, mereka yang percaya, golongan orang-orang beriman?

Atau mungkinkah Allah memanggil kita dengan seruan yang sangat indah, “Wahai jiwa-jiwa yang tenang..”?

Sebuah panggilan menunjukkan identitas; identitas pribadi, atau golongan dimana kita banyak bergaul atau darimana kita berasal.Panggilan yang ditujukan kepada kita, menunjukkan diri kita, siapa kita, bagaimana diri kita. Suka atau tidak suka, sadar atau tidak sadar. 

Maka, siapakah di sisi-Nya?Gambar