Panggilan


 

Dalam sehari, banyak panggilan yang kita dapatkan. Di rumah, pasangan kita mungkin memanggil kita dengan “Yang” atau “Honey”. Anak-anak memanggil kita “Ayah” atau “Bunda”. Satpam di kantor menyapa, “Pak” atau “Bu” sambil menghormat takzim. Penjaga toko memaksakan diri menyebut kita “Kakak”, sekalipun umurnya mungkin sama dengan kita, atau bahkan ada di antara kita yang pantas jadi orang tuanya. 

Panggilan menunjukkan banyak hal. Kita memilih mengajarkan anak-anak memanggil kita “Mom” dan “Dad” atau “Ummi” dan “Abi” karena suatu alasan. Bisa ingin terlihat modern ke barat-baratan, atau ingin terlihat sakinah dengan ke-Arab-arab-an. Kita mungkin menolak dipanggil ustadz, karena merasa tidak pantas; tapi juga berwajah masam untuk alasan yang sama saat dipanggil “bu” padahal kita tidak merasa setua itu untuk dipanggil “Bu”. Seorang muallaf memilih dipanggil “Ahmad” menggantikan “George”, panggilan lamanya. Seorang bule mungkin memilih disebut “Joko” daripada “Michael” ketika berpindah kewarganegaraan. 

Kita menginginkan sekaligus mengkonstruksi label pada diri kita, sebagaimana kita ingin dipandang oleh pihak lain. Sebagaimana lingkungan mengkonstruksi kita dengan label yang mereka berikan. Label yang melekat, mendarah daging, menjadi konsep diri yang kita bawa untuk mendefinisikan siapa diri kita. Inilah salah satunya mengapa Rasulullah SAW menganjurkan pemberian nama yang baik, mengganti nama-nama yang buruk dan melarang kita memanggil seseorang dengan nama yang tidak disukainya.  

Kepada anak-anak, kita bisa mengajari mereka bagaimana kita ingin dipanggil. Kepada pembantu atau supir, kita bisa memerintahkan bagaimana menyebut diri kita. Kepada teman, kepada rekan kerja, kepada klien, kita bisa memilih dengan nama apa kita memperkenalkan diri. Dengan nama Jawa kitakah? Nama kecilkah? Nama Ayah kitakah?

Tapi pernahkah kita berpikir, dengan panggilan apa Allah memanggil kita? 

Di antara sekian banyak seruan-Nya dalam Al-Quran, masuk kemanakah diri kita?

Adakah kita mengaku Muslim tapi sebenarnya kita masuk ke dalam mereka yang Allah sebut kafir? Ataukah kita bagian dari mereka yang diulang-ulang sebutannya dalam Al-Quran, mereka yang percaya, golongan orang-orang beriman?

Atau mungkinkah Allah memanggil kita dengan seruan yang sangat indah, “Wahai jiwa-jiwa yang tenang..”?

Sebuah panggilan menunjukkan identitas; identitas pribadi, atau golongan dimana kita banyak bergaul atau darimana kita berasal.Panggilan yang ditujukan kepada kita, menunjukkan diri kita, siapa kita, bagaimana diri kita. Suka atau tidak suka, sadar atau tidak sadar. 

Maka, siapakah di sisi-Nya?Gambar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s