Bab Pasrah Bagian Pertama


Here I am, disinilah saya, duduk di sebuah musholla. Dengan hati yang tidak rapi.

Menenangkan diri. Menghitung langkah-langkah kaki jamaah yang masuk sambil memainkan jemari.

Pikiran saya tidak mau berhenti. Bertanya-tanya, menduga-duga. Dosakah saya jika saya tidak tahu apa dan bagaimana pasrah itu? Seberapa sering saya ucapkan ia,tapi begitu sulit untuk memahaminya.

Apakah pasrah berarti berhenti? Apakah pasrah berarti memasang topeng dan sandiwara pada kisah hidup saya yang sudah terlalu sering saya dramatisir? Apakah pasrah berarti tidak menangis?

Kurang dari dua bulan lagi, usia pernikahan saya menginjak tahun ke empat. Empat tahun tanpa kehamilan. Lalu, bolehkah saya marah karena ketiadaan anak dalam empat tahun pernikahan saya?

Tentu saja tidak. Saya tidak punya hak apa-apa untuk marah, apalagi merasa iri pada mereka yang demikian mudahnya memiliki keturunan. Bukankah saya hanyalah seorang hamba yang punya kewajiban berusaha, dan sama sekali tidak punya hak mengganggu putusan Allah, apalagi mendikte-Nya?

Maka, sekarang saya bocorkan padamu sesuatu yang saya pendam dalam hati. Jihad itu demikian beratnya,teman, hingga surgalah hadiahnya. Jihad itu kombinasi paripurna antara usaha keras dan hati lapang tanpa pamrih atas ikhtiar itu. Lalu hasilnya? Konon kabarnya, ia bernama pasrah.

Ya,pasrah. Bab kehidupan dimana saat ini Allah sedang menempa saya. Meluruskan hati saya agar tetap pada jalur edarnya. Patuh, tunduk, dan kembali pada jati diri saya: muslimah. Perempuan yang berserah.

Allah yang menciptakan keinginan ini, keinginan untuk memiliki keturunan. Allah pula yang menguatkan keinginan tersebut, dan menguatkan pula semangat saya. Di saat yang sama, saya mengimani bahwa Allah akan melapangkan jalan pada mereka yang berusaha.

Allah bisa hapuskan keinginan ini,tapi tidak. Allah kiatkan dan Allah jadikan saya mampu secara finansial untuk terus berikhtiar. Pasti ada yang Allah mau dari ini semua. Pasti. Allah ingin saya untuk pasrah. Dan itu bagi saya masih sulit. Menyerahkan seluruhnya,segalanya,bahkan merelakan seandainya Allah menyiapkan ketetapan yang jauh lebih baik untuk diri saya dan suami. Harap yang muncul tanpa diminta, rasa takut kecewa. Ah. . . Masya Allah. . .

Saya tidak ingin gagal kali ini, tidak ingin tidak lulus dalam bab pasrah ini. Saya ingin naik dari level pre beginner dalam pasrah menuju mahir. Dan saya percaya, saya bisa. Jika ini jalan cerita yang Allah pilihkan untuk kisah hidup saya,itu artinya saya bisa melaluinya. Bukankah Allah mustahil memberi saya pelajaran hidup yang tidak mampu saya lalui?

So be it! Saya mungkin terdengar menyedihkan di atas, ya. . . Saya toh butuh pelepasan energi sedih dan lara,bukan? Tapi saya akan terus menjalani hidup saya, menjadi istri yang selalu mencintai suami saya setiap harinya, dan di atas segalanya belajar tunduk setulus-tulusnya pada Dia, yang hidup mati saya ada pada-Nya.

2 thoughts on “Bab Pasrah Bagian Pertama

  1. Kalo kata Emak saya: Kita kudu redho ama yang diredhoin Allah buat kita. lah kalo Allah belom atau gak redho, kita jangan maksa. Soalnya kita bakalan masup surga itu pake redhonya Allah. Dan semenjak dinasehatin begitu, saya berhenti membanding-bandingkan hidup saya sama orang laen. Yah, sejauh ini Allah redho ngasih segini sama saya, saya juga kudu redho dikasih segitu.😀

    Tapi kadang-kadang emang susah buat redho ya, Mbak. Kita masih aja pengen hal-hal yang entah sebenernya baik atau buruk buat kita, kita belom tau. (Doh, saya lagi mendamba microwave pulaaaa. Rawr!~)

    Semoga Mbak Shinta do’a dan keinginannya terkabul. ^^

    • bener, mbaaa… ilmu setelah pasrah itu namanya ridho. kita ridho, klw bahasa inggrisnya mah pleased. maknanya rada beda, pleased itu kan ya… ridho hehehehe *balik deui

      setelah berusaha ridho, rasanya jauuuuh lebih enak ^^

      makasih doanya, semoga microwavenya segera hadir menghiasi dapur mbak octa… (dikata vas bunga buat hiasan yak xD)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s