Momen Mengukur Kecintaan pada Sang Nabi


Momen Mengukur Kecintaan pada Sang Nabi

Memiliki seorang Ayah dengan latar belakang keluarga Muhammadiyah, dan disekolahkan dari SD sampai SMP di Al-Azhar yang notabene Muhammadiyah, saya tidak terbiasa merayakan Maulid. Hal ini bahkan sempat menimbulkan sedikit konflik beberapa tahun lalu saat saya berinteraksi dengan budaya Betawi yang senang dengan perayaan Maulid. My bad. Saya yang salah, karena saya benar-benartidak tahu, perayaan macam apa itu, shalawat apa itu yang dinyanyikan gegap gempita, saya tidak pernah dengar sebelumnya…

Beberapa tahun terakhir ini, saya banyak membaca buku tentang Rasulullah SAW, dan terakhir saya sangat menyukai fim seri Umar BIn Khattab yang menurut saya bukan hanya menceritakan tentang sahabat Nabi SAW, Umar radhiyallahu ‘anhu tapi juga menceritakan tentang kehidupan dan perjuangan Rasulullah SAW. Rupanya dua hal tersebut membawa sedikit perubahan dalam diri saya. Setidaknya mengubah sikap saya terhadap Maulid Nabi, seperti hari ini.

Perayaan Maulid itu Bid’ah kata mereka yang menamakan diri golongan Salafiy, mereka yang mengaku pengikut salafusshalih. Tidak salah memang. Karena saya yakin bukan gegap gempita perayaan kelahiran Nabi yang Islam ajarkan. Tapi kesederhanaan perilakunya yang harusnya menjadi tauladan.

Namun demikian, menjadikan momen ini untuk mengkalkulasi sejauh mana perilaku Rasulullah SAW sudah kita teladani, saya yakin tidak pernah salah. Dan bukan bid’ah.

Di tanggal ini, belasan abad lalu, seorang manusia pilihan Tuhan lahir di gurun tandus, Jazirah Arab. Dia yang kelahirannya tercatat dalam kitab-kitab terdahulu dan dinanti-nanti mereka yang mengetahui. Dia yang kelahirannya menggetarkan keangkuhan Istana Persia dan memadamkan api yang mereka jadikan Tuhan.

Di tanggal ini, 12 Rabiul Awwal.

Beliau, shalawat dan salam atasnya, anak cucu Ismail AS datang dari jazirah nan gersang yang dulu menjadi bulan-bulanan kekaisaran Persia dan Romawi. Tapi lihatlah beberapa saat setelahnya. Allah menjanjikan kepada ummat Muhammad SAW kejayaan, kemuliaan Istana Farsi serta Romawi. Dan terbukti, Islam yang diajarkan oleh seorang Muhammad SAW yang dekat dengan orang-orang lemah dan menjadi ayah anak-anak yatim pernah merambah barat Eropa, menerangi Persia, Afrika, China, hingga wilayah Asia Tenggara, bahkan konon suku Aborigin pun dulu sudah ada yang memeluk Islam. Betapa indah ajaran yang dibawanya, betapa mulia akhlak dan perilakunya sehingga berbondong-bondong manusia menjadi pengikutnya. Ajaran yang mengalahkan Karl Marx belasan abad, karena masyarakat bentukan Rasulullah SAW adalah classless society sesungguhnya.

Ajaran yang beliau SAW bawa, yang telah menerangi jalan hidup saya, menyibak kegelapan menuju cahaya. Ah, mungkin ini yang dirasakan Ibu Kartini ketika ia merasa tercerahkan. Namun sayangnya pemikirannya diterjemahkan bebas menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Saya masih ingat sekali, bagaimana rasanya, ketika Zuhur itu, saya akhirnya menapakkan kaki lagi ke masjid Nabi SAW. Akhir Mei 2012 silam, setelah tujuh tahun, saya diizinkan-Nya menikmati indahnya perjalanan Umrah. Madinah menjelang Zuhur, ketika rombongan saya sampai di sana. Setelah istirahat sejenak dan menyiapkan diri, saya dan suami berangkat ke Masjid Nabawi, yang letaknya tidak jauh dari penginapan. Saat saya masuk ke dalam Masjid, menetes air mata saya. Bahkan mengingatnya lagi selalu membuat saya mengharu biru.

Saya selalu mencari-cari alasan, mengapa saya lebih menyukai Madinah daripada Makkah. Bukan saya tidak suka Makkah. Bagaimana mungkin saya tidak menyukai sebuah kota yang kiblat saya saat beribadah ada di sana? Saya hanya lebih menyukai Madinah.

Mulai dari alasan keramahan orang-orangnya, cuacanya yang tidak sepanas Makkah, sampai sejarah tonggak awal peradaban Islam dimulai. Alasan itu tidak salah. Tapi ada satu alasan lain yang membuat Madinah begitu istimewa.

Ketika minggu lalu saya melihat kalender dan melihat tulisan “Maulid Nabi Muhammad SAW” terpampang di bawah angka berwarna merah, pikiran saya jauh membawa saya kembali ke Madinah. Mengapa? Karena disanalah Rasulullah SAW berada. Di Madinah-lah Rasulullah SAW dikubur, di rumah Aisyah yang sekarang menjadi bagian dari Masjid Nabawi. Sekarang saya paham, mengapa para sahabat rela meninggalkan harta bendanya di Makkah untuk bisa hijrah bersama Rasulullah SAW ke Madinah. Siapa yang mengaku beriman pada Allah dan Rasulullah SAW tapi tidak menginginkan berada dekat dengan Rasulullah SAW? Tidak ingin berada di kota tempat beliau berjuang menegakkan peradaban Islam dan mendidik generasi-generasi terbaik?

Ah, Rasulullah… Shalawat dan salam atasmu…

Sekarang pertanyaannya adalah, apakah kita, apakah saya pantas mengaku sebagai pengikutnya?

Muhammad SAW rumahnya begitu sederhana, sedangkan saya sering menginginkan rumah yang lebih bagus. Nabiyullah tidur kadang hanya dialasi pelepah kurma, sedang saya mengeluhkan kasur spring bed yang per-nya mulai berbunyi-bunyi. Sang Al-Amin sudah dijamin masuk surga, tapi beribadah lebih banyak dari orang lain; sedang saya yang selamat dari neraka saja belum tentu tapi seringkali malas-malasan. Dia yang terpuji di alam raya selalu memberi pada siapa yang meminta, sedangkan saya punya banyak apology untuk tidak memberi.

Lalu siapa yang saya sebut beriman? Diri sayakah?

*Just a deep thought*

*Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s