LoA dan Do’a (Part 1)


Saya tidak pernah mempercayai Hukum Ketertarikan atau The Law of Attraction dengan pemahaman banyak orang, bahwa “semesta” akan membantu prasangka dan sugesti diri kita. Karena semesta hanyalah makhluk. Akan tetapi saya percaya, bahwa Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya, dan hamba-hamba yang shalih, yang dicintai Allah akan juga dicintai oleh semesta. Jadi bukan “semesta” yang menjadikan sugesti diri menjadi nyata, dalam pemahaman saya sebagai Muslim, tapi kehendak Tuhan-lah yang menjadikan prasangka baik (atau buruk) kita menjadi nyata.

And so, saya selalu percaya apabila kita terus menerus menginginkan sesuatu, memimpikannya, berusaha dan berdo’a sungguh-sungguh pada-Nya, maka sesuatu itu akan semakin dekat dan terkabul dengan izin-Nya. Dan Do’a adalah senjata paling pertama. Bukan penghujungnya saja. Do’a harus ada di awal, di tengah, pun di akhir setiap mimpi dan harapan.

Kata-kata Rasulullah SAW bahwa do’a adalah senjata orang beriman, bukan serta merta “gitu aja”, dalam pandangan saya yang bodoh ini. Saya bukan ahli hadits, tapi saya percaya, dalam do’a yang kita panjatkan ada afirmasi diri, ada pelajaran pembentukan konsep diri yang mana konsep diri itu akan mempengaruhi perilaku kita.

Saya contohkan sebuah cerita dari jaman Rasulullah SAW. Suatu ketika Rasulullah SAW masuk ke dalam masjid dan menemukan sahabat sedang berada di dalam, padahal itu bukan mendekati waktu shalat. Setelah Rasulullah SAW bertanya padanya, rupa-rupanya sang sahabat ini sedang galau dan gundah gulana karena terlilit hutang. Maka Rasulullah SAW kemudian mengajarkan sebuah do’a:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ
“Allahumma inni a’udzubika minal hammi wal hazani wa a’udzubika minal ‘ajzi wal kasali wa a’udzubika minal jubni wal bukhli wa a’udzubika min ghalabatiddaini wa qahrirrijali”


Yang artinya:

”Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari tekanan hutang dan kesewenang-wenangan manusia.”

 

Saya bukan ahli hadits, tapi saya baru saja menyadari dalam do’a tersebut, setidaknya ada beberapa permohonan dan cara-cara yang semuanya selaras dengan tujuan utama: terbebas dari hutang.

Pertama, permohonan agar Allah membebaskan dari perasaan bingung dan sedih. Dua perasaan ini lazim menghinggapi mereka yang terlilit hutang. Bingung bagaimana harus membayar hutang, sekaligus sedih karena terbebani.

Selanjutnya adalah lemah dan malas. Seringkali memiliki hutang menjadikan seseorang merasa inferior atau rendah (baca: lemah). Ini hal yang lumrah, bagaimanapun juga. Karena sejak awal ketika seseorang berhutang, artinya ia berada dalam posisi yang membutuhkan. Akan tetapi perlindungan dari rasa “lemah” ini disandingkan dengan perlindungan terhadap “malas” .  Oleh karena hutang terkait erat dengan perolehan rizki, maka permohonan untuk terhindar dari rasa “malas” ini relevan dengan ikhtiar mencari rizki. Justru hutang tidak boleh melemahkan seseorang, sekaligus harus menjadi cambuk agar seseorang menjadi giat bekerja agar bisa memenuhi hutang-hutangnya.

Next is, pengecut dan kikir. Bagaimanapun seseorang yang memiliki banyak tunggakan hutang akan cenderung menghindari si pemberi hutang, Terkadang orang yang berhutang menghilang bak diculik alien, bahkan mungkin sampai berganti identitas dan pindah alamat. Melalui do’a ini, seseorang semestinya membuang jauh-jauh sifat pengecut. Alih-alih lari dari masalah, atau membuat masalah baru dengan menggali lubang lain untuk menutup lubang lama, hutang harus dihadapi dengan berani. Lalu ada perlindungan dari sifat kikir. Ini menjadi menarik, karena saya yakin pasti ada kaitannya antara orang yang berhutang dan sifat kikir. Apakah itu mungkin orang yang berhutang cenderung memiliki sifat kikir karena khawatir hartanya habis sehingga ia enggan bersedekah? Wallahu a’lam. Yang pasti saya percaya bahwasanya sedekah di saat sulit akan membawa pertolongan Allah datang melesat. Seperti kedipan mata, ketika harus berkedip. Jadi, mungkin bisa disimpulkan bahwa kondisi berhutang tidak semestinya menghalangi seseorang untuk berbagi, hatta dengan sebiji kurma.

Terakhir adalah tekanan hutang dan kesewenang-wenangan manusia. Saya jadi teringat masa-masa saya masih jadi CS di sebuah bank, sering ada telepon dari debt collector untuk seorang rekan kerja. Menelepon dengan marah-marah luar biasa. Well, memang mereka dibayar untuk itu sih. Kasus debt collector atau renternir, menurut saya cocok dengan do’a tersebut. Karena hidup seseorang yang berhutang, seakan-akan dikendalikan oleh krediturnya. Jadi tekanan hutang dan kesewenang-wenangan manusia, menurut saya seiring sejalan.

Sekali lagi saya bukan ahli hadits, atau ustadzah, atau psikolog, apapun itu. Dan apa yang saya tulis sama sekali tidak bisa dijadikan rujukan valid, dan butuh kajian oleh orang lain yang ilmunya jauh jauh jauh jauh di atas saya yang masih belajar ini. Saya hanya baru “ngeh” salah satunya adalah dari konten do’a agar terbebas dari hutang di atas. Selain itu, saya bertambah yakin bahwa kata-kata yang seringkali kita ucapkan itu bisa menjadi do’a dan do’a sejatinya adalah pengukuhan diri, makanya Islam melarang kita untuk “mengutuk diri” seperti, “Ih gue bego banget sih…” atau membuka aib sendiri. Karena keduanya akan sangat menpengaruhi konsep diri kita. Saat dipuji pun, kita tidak boleh merasa bangga, tapi juga tidak boleh tidak menerimanya dengan baik. Konon, sahabat Rasulullah SAW, Abu Bakar As-Shidiq, radiyallahu ‘anhu, ketika berdo’a agar Allah menjadikan dirinya lebih baik dari pujian yang dialamatkan atas dirinya.

Nah, kembali ke LoA (Law of Attraction) di atas, saran saya, apabila Anda seorang Muslim, lekas-lekas ganti dengan banyak-banyak DO’A. Oleh karena pemahaman LoA yang bisa, dalam pandangan saya, jadi menyimpangkan akidah karena meyakini bahwa “semesta mendukung” dengan cara yang salah (bahwa semestalah yang memberi jadi sekarang-sekarang saya sering denger orang bilang, “thank you universe”, instead of “thank you God”). Cukuplah kita berdo’a banyak-banyak, mengingat Allah banyak-banyak, berprasangka baik pada-Nya, baru deh berusaha banyak-banyak. Karena sebagaimana saya percaya, shalat yang BENAR bisa mencegah perbuatan keji dan munkar, begitu pun dengan DO’A yang benar dan sungguh-sungguh.

Ini baru prelude-nya. Ceritanya masih bersambung. Stay Tune yaaa ^^

 

6 thoughts on “LoA dan Do’a (Part 1)

  1. Pingback: LoA dan Do’a (Part 2) | kata shinta tentang dunia

  2. Yup, sy juga mulai curiga, ini adalah ilmu dari org2 kafir yg menyesatkan, hati2, dg berharap kepada semesta, berarti telah mengalihkan harapan dari pencipta semesta itu sendiri. Jatuhlah kita pada kemusryikan. Allah adalah dzat yang pencemburu, jika ada umat-Nya ada yang berharap kepada selain-Nya. Lebih baik LOA nya segera di benahi, karna yang memiliki semesta adalah Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s