nah adik saya ini cantik eh.. keren sekali 🙂

Mata Sendu

You’re beatiful, every little piece, love don’t you know, you’re really gonna be someone…

—Taylor Swift – Stay Beautiful

Cantik. Sebuah persepsi relatif….

Cantik. Sebuah kata sifat yang maknanya sulit saya definisikan belakangan ini. Dan akhirnya, saya menemukan definisi yang menurut saya tepat dan cukup memuaskan. Definisi cantik ini saya ambil dari saduran bebas pemikiran Fahd Djibran—penulis favorit saya :

“Pretty is something you’re born with. But beautiful, that’s an equal opportunity adjective.” – Ya, benar. Bahwa ada ‘kecantikan fisik’ (pretty) yang seringkali diukur berdasarkan ketebalan kosmetik. Tapi ‘kecantikan sesungguhnya’ ( Beauty) tak melulu di ukur dengan itu. Kecantikan sesungguhnya terselip pada sikap yang lembut dan santun.

:), beautiful, beauty, birds

Definisi seperti ini berbeda sekali dengan apa yang saya pahami ketika awal-awal menjadi mahasiswa. Jujur saja, dulu setiap melihat gadis berparas cantik saya mendadak grogi. Tentu itu adalah hal yang wajar bagi lelaki normal seperti saya :D. Hati saya sudah terlanjur meleleh bila…

View original post 251 more words

Advertisements

Penggalian Kembali Sumur Zam-zam (Part 3 Dari “Syaibah, Calon Pemimpin yang Beruban”)

Sosok itu datang lagi dalam mimpi Abdul Muthalib. Ini sudah kali ketiga.

“Galilah timbunan harta karun!”, perintah sosok itu.

Namun ia menghilang sebelum Abdul Muthalib sempat meminta penjelasan, persis seperti dua malam sebelumnya. Mimpi itu datang pertama kali ketika putra Hasyim itu sedang menghabiskan malam di salah satu tempat favoritnya, tempat moyangnya Ismail AS dan sang bunda Hajar yang menjadi cikal bakal bangsa Arab menyisakan bekas ibu jari kaki.  Tempat itu dinamakan Hijr Ismail. Yang berabad-abad setelahnya para peziarah berebut, berdesak untuk dapat shalat dua rakaat di dalamnya.  Disanalah Abdul Muthalib tidur beralaskan tikar, dan lantas bermimpi.

Sosok itu konon berupa bayangan. Pada malam pertama, sosok tersebut menyuruhnya mengali sumber air yang manis dan lalu menghilang begitu saja. Malam kedua, sosok itu datang lagi dan mengatakan perkataan yang mirip, “Galilah keberuntungan!”. Namun sekali lagi, sosok itu hilang sebelum Abdul Muthalib mendapatkan keterangan.

Malam ketiga, masih tanpa berita. Semua masih samar-samar bagi Abdul Muthalib. Akan tetapi ia yakin, mimpinya bukan mimpi biasa. Apakah itu, dimanakah itu sumber air yang manis, keberuntungan dan timbunan harta karun?

Abdul Muthalib, pria yang sedang kita bicarakan di atas memiliki nama asli Syaibah. Ia adalah anak Hasyim, cucu Abdu Manaf. Garis keturunannya sungguh mulia, karena silsilahnya berlanjut hingga Nabi Ismail AS.  Qushay, kakek buyutnya mewariskan pekerjaan yang tidak kalah mulia kepada anak keturunannya, mengurus Ka’bah serta keperluan jamaah Haji.

Ayahnya, Hasyim bin Abdu Manaf, dulu kerap menyajikan Ats-Tsarid, roti yang diremukkan dan direndam dalam kuah, kepada para peziarah Ka’bah. Aslinya Hasyim bernama Amru, profesinya sebagai pemberi makan jamaah Haji-lah yang menjadikan penduduk Mekkah menjulukinya Hasyim, yang dalam bahasa Arab berarti  orang yang meremukkan roti.

Sebagai pengurus jamaah Haji menggantikan ayahnya, Abdul Muthallib sudah terbiasa dengan suasana Ka’bah dan wilayah sekitarnya yang disucikan, tempat para peziarah bersujud. Wilayah itu dikenal dengan Masjid Al-Haram. Abdul Muthalib pun tidak seperti bangsanya yang menjadikan Hubal, Lata, Uzza dan dewa dewi lainnya sebagai perantara Tuhan. Ia bersama sedikit orang di Mekkah hanya menyembah satu Tuhan, sebagaimana risalah Ibrahim AS yang diteruskan oleh kedua anaknya, Ismail AS dan Ishaq AS.

Namun ia tidak kuasa ketika kaumnya bersujud bukan lagi kepada Tuhan. Ia tidak kuasa pula mencegah dan melarang praktik-praktik syirik yang merajalela sejak sekian lama. Sejak Amru Bin Luhai dari Bani Khuzaah membawa berhala Hubal dari Syam yang dipercaya dapat menurunkan hujan dan pertolongan. Wahyu dan kenabian seakan demikian jauh dari bangsa Arab, walaupun masih ada segelintir orang yang memeluk Nasrani, seperti Waraqah Bin Naufal. Segelintir yang meyakini akan ada sang mesias, nabi terakhir yang terpuji namanya di langit dan bumi, sebagaimana tertulis dalam kitab-kitab agama mereka. Keberadaan mereka diakui oleh penduduk Mekkah, bahkan dihormati, karena bangsa Arab menjunjung tinggi kebersamaan dan toleransi. Pajangan Bunda Maria konon bahkan pernah ikut menghiasi Ka’bah bersama berhala lainnya untuk menghormati pemeluk Nasrani yang datang berziarah untuk menapaktilasi risalah Ibrahim AS dan Ismail AS. Hanya orang-orang Yahudi yang berhenti datang sejak berhala menjadi aksesori utama Ka’bah dan sekitarnya.

Akan tetapi, malam itu, Allah memilih Abdul Muthalib untuk menggali sebuah keberkahan yang Allah kucurkan pada tanah Mekkah yang gersang dan tandus.

Malam keempat. Sosok itu datang. Namun kini ia mengatakan hal yang berbeda. Atau sama? Atau ini berkaitan dengan mimpi-mimpi sebelumnya?

“Galilah Zam-zam!”, seru suara itu.

“Apakah Zam-zam itu?”, tanya Abdul Muthalib.

Mimpi keempat ini adalah pamungkasnya. Sosok itu memberikan keterangan,

“Galilah ia, maka engkau tak akan pernah menyesal,

Karena ia adalah pusaa yang amat kaya,

Dari nenek moyangmu yang paling luhur,

Ia tak akan pernah kering, tidak juga berkurang

Dalam memenuhi semua kebutuhan jamaah haji”

Sosok itu juga memerintahkan Abdul Muthalib untuk mencari suatu tempat yang lembab, penuh darah, penuh kotoran, tempat semut-semut bersarang, dan burung gagak mematuk-matuknya. Dan akhirnya, Abdul Muthalib disuruh berdo’a, “Demi air jernih yang melimpah yang akan memberi minum seluruh tamu Tuhan melalui hajinya”.

Keesokan harinya, Abdul Muthalib mulai menggali di tempat yang dimaksud oleh suara ghaib dalam mimpinya. Tempat itu ada di antara sepasang berhala yang konon merupakan nenek moyang kaum Jurhum. Di sana orang-orang Quraisy biasa menyembelih hewan sebagai bentuk sesajian kepada berhala. Tempat itu menjadi lembab dan senantiasa berlumur darah. Semut-semut bersarang di sana, dan burung gagak mematuk-matuk. Deskripsi yang sama persis dengan mimpinya.

Seperti yang sudah diduga, warga Mekkah gempar karena Abdul Muthallib menggali di tempat yang mereka sucikan. Namun demikian, Abdul Muthalib pantang menyerah. Hatinya demikian yakin, tempat inilah yang dimaksud dalam mimpinya, dan mimpinya bukan sembarang mimpi. Dan memang benar adanya. Harta karun yang pernah ditimbun kaum Jurhum memang ada di sana. Baik harta secara literal, maupun harta lainnya, sumur Zam-zam.

Harta dan kekuasaan adalah dua serangkai embel-embel duniawi yang sangat bisa menjerumuskan manusia. Power tends to corrupt. Di banyak tempat, kepemilikan tanah, sawah ladang dan perkebunan adalah penanda kekuasaan. Di era digital yang kita hidup di dalamnya sekarang, akses informasi adalah kekuasaan. Bagi penduduk padang pasir yang jumlah hari hujannya dalam setahun bisa dihitung dengan jari, air adalah penanda kekuasaan.

Dulu sekali, selepas bercerai dengan istri pertamanya, Nabi Ismail AS menikah dengan perempuan dari kaum Jurhum. Prestise kaum Jurhum serta merta naik. Bagaimana tidak? Berkeluarga dengan Nabiyullah, siapapun pasti mengamini bahwa itu adalah sebuah kebanggaan. Selain itu, akses terhadap Zam-zam juga menambah prestise tersendiri bagi kaum yang awalnya hidup berpindah-pindah. Namun, lambat laun, dari generasi ke generasi, kaum Jurhum yang menguasai wilayah Mekkah dan akses terhadap Zam-zam mulai meremehkan Ka’bah. Di situlah, mereka kemudian ditaklukan oleh Bani Khuza’ah dan dipaksa keluar dari Mekkah, kurang lebih pada abad ke-5 M. Sebelum pergi, kaum Jurhum sempat menimbun sumur Zam-zam dan harta karun mereka, agar tidak dinikmati Bani Khuza’ah. Oh, betapa penanda kekuasaan seringkali membuat seseorang menjadi serakah. Lena akan sebuah kuasa, dan mengesampingkan Sang Penguasa dari Segala Penguasa.

Kisah di atas mengajarkan kepada kita banyak hal. Pertama, dari sisi sosial, peran Abdul Muthalib sebagai seorang pemimpin mungkin memang sebuah konstruksi. Ada proses bertahap dalam sebuah masyarakat, sesuai dengan kultur dan kebiasaan setempat ketika seseorang dijadikan sebagai pemimpin. Proses ini adalah sunnatullah, pemberian peran juga sunnatullah, konstruksi sosial pun sunnatullah. Sunnatullah yang saya maksud adalah, demikianlah Allah mengilhamkan pengetahuan kepada tiap-tiap kaum sehingga mereka menjalani proses yang berbeda untuk tujuan yang sama. Termasuk juga ketika Abdul Muthalib menjadi pemimpin. Tidak pernah ada pemilihan dan penetapan resmi yang menjadikan Abdul Muthalib seorang pemimpin.  Ia dipilih oleh seleksi sosial. Dalam masyarakat kita pun mudah kita jumpai kejadian serupa. Beberapa orang memang Allah ciptakan untuk terlihat menonjol dan menjadi pemimpin, lalu masyarakatnya memberi peran itu padanya.

Namun urusan Zam-zam, bukan perkara biasa. Allah yang memilihnya untuk menggali sumur Zam-zam. Air yang mengalir sepanjang masa dan tidak akan pernah habis untuk menghilangkan dahaga para peziarah rumah-Nya.  Sebagaimana saya sebutkan di atas, bagi penduduk padang pasir air adalah barang berharga. Akses terhadap air bisa menjadikan seseorang berkuasa. Dan Allah memilih Abdul Muthallib untuk membuka akses itu. Ini, menurut saya adalah pengukuhan Tuhan atas kepemimpinan Abdul Muthalib. Mengapa Abdul Muthalib? Karena Abdul Muthalib, sebagaimana sudah saya sebutkan, adalah satu dari sedikit orang di Mekkah yang menyembah Allah tanpa perantara. Langsung, lurus, pada Allah saja. Artinya, menjadi yang sedikit, selama berada di jalan yang Allah ridhai tidak melemahkan kita. Kita tidak perlu larut pada penyembahan berhala-berhala masa kini bernama barang-barang mewah dan gaya hidup serba mudah. Kita cukup memilih jalan lurus, Allah saja.

Kedua, penaklukan kaum Jurhum yang kekerabatannya amat dekat dengan Nabi Ismail AS oleh Bani Khuza’ah tentu atas seizin Allah. Dan itu terjadi ketika kaum Jurhum mulai mengotori Ka’bah dengan sesembahan lain selain-Nya. Begitu pun dengan kita. Lihatlah apa yang terjadi dengan ummat Islam di Indonesia? Fitnah demi fitnah melanda kita. Fitnah akhir zaman memang sudah diramalkan. Tapi apa yang menjadi sebab kita dilanda fitnah (baca: ujian)? Mungkin… mungkin saja hati kita sudah tidak lagi berada pada jalur-Nya.

Misalnya saja, kecintaan pada gaya hidup mewah. Contoh sederhananya, sebuah tas. Sebagaimana perempuan kebanyakan, saya juga menyukai barang bagus, termasuk tas. Sering kita lihat artis-artis, atau bahkan kita (saya) sendiri tergila-gila pada sekempit tas  yang harganya bisa menyekolahkan seorang anak hingga lulus SMP.

Bukankah sekempit tas itu kita yang memberi makna padanya? Menjadikannya “mahal”, menaikkan “prestise” kita pun kita sendiri yang menganggapnya demikian.  Lalu bagaimanakah tas yang tidak memberi kita hidup bisa memperbudak kita?

Bukankah barang seindah apapun baru disahihkan keberhargaannya ketika kita memberinya label apakah itu Aigner, Versace, atau Bottega Veneta. Kalau sebuah tas atau sepatu kulit dengan kualitas luar biasa bagus masih ada di tangan para pengrajin Sidoarjo, akankah kita memaknainya dengan makna yang sama? Lalu siapa yang budak siapa yang majikan?

Apa hubungannya Jurhum dengan tas mahal? Jurhum diberi setidaknya kelebihan pada dua kebanggaan. Berkerabat dengan nabi Allah dan akses terhadap Zam-zam. Dua-duanya prestise. Sama seperti tas maha adalah prestise pada jaman ini. Lambang prestise lainnya misalnya, jam rolex, mobil alphard, rumah mewah, kartu kredit titanium, akses luas pada alat-alat penyampai informasi, titel berderet-deret di depan dan belakang nama, dan masih banyak lagi. Jaman selalu mengulang kisah yang sama, kata ustadzah saya, hanya bungkusnya saja yang berbeda.

Betapa mudahnya Allah cabut semua kenikmatan justru ketika kita terlena dan merasa di atas awan. Sebagaimana kaum Jurhum yang sudah berubah orientasi terhadap-Nya, lalu Allah gantikan dengan Bani Khuza’ah…

Wallahu A’lam. Yang menulis tidak lebih baik dari pada yang membaca. Yang benar dari Allah saja, dan yang salah murni dari saya.

*Pelengkap dari Part 1 dan Part 2
*Sumber: The Great Story of Muhammad, Syaikh Mubarakfury dan Muhammad, Martin Lings.

Menapaki Jalan Nabi 5 (Thawaf Perpisahan, Cerita tentang Ka’bah yang Dirindu)

Tulisan ini dibuat sepulang Umrah. Beberapa detail sudah terlupakan, ketika saya baca ulang. Saya re-post dan re-share untuk mengingatkan diri sendiri, obat rindu pada yang rindu, dan penyemangat pada yang ingin berangkat :)

Kamis itu terik seperti biasa. Hampir semua jamaah memasukkan jadwal Thawaf Wada atau Thawaf terakhir, Thawaf perpisahan dalam agenda mereka masing-masing. Itulah hari terakhir kami di Makkah. Rasanya terlalu cepat. Rasanya saya belum puas. Ah, bukankah memang tidak pernah ada yang “puas” beribadah di tempat sesuci ini?

Semua orang seperti serakah ingin kembali lagi. Bahkan belum pulang ke tanah air saja sudah banyak yang menyusun rencana kembali di tahun berikutnya, apabila Allah memberi umur dan rizki. Saya dan suami saya termasuk di dalamnya. Kami seringkali berucap, “nanti kalau kita haji…”, “kapan-kapan kalau kita ke sini lagi…”. Padahal kami masih ada di sana.

Sebelum menceritakan hari terakhir itu, saya ingin mundur sejenak pada hari pertama kami di Makkah. Saya dan suami ditempatkan di sebuah kamar suite di hotel Grand Zam-Zam. Kamar besar dengan dua kamar tidur, dua kamar mandi dan dapur. Awalnya kami mengira kamar itu hanya milik kami sendiri. GR. Saya sudah kegirangan, dan mulai norak dengan kamar yang indah bagai di surga (padahal saya belum pernah ke surga). Ada jendela kaca di ujung kamar yang tertutup oleh gordyn. Saya mendekat dan berdiri di depan kaca. Mendadak saya ingat foto profil di Blackberry Messenger yang saya copas dari seorang teman. Gambar sajadah terbentang menghadap jendela yang terbuka, yang pemandangannya adalah Masjidil Haram dan Ka’bah yang berkilauan. Gordyn kemudian saya buka karena penasaran. Dan disanalah pemandangan indah itu, di sisi kiri saya. Pemandangan yang sama dengan yang ada di foto profil BBM, dari atas jendela kamar saya. Masya Allah…. Subhanallah… Saya tidak pernah mimpi, bahkan dalam mimpi yang paling indah sekalipun, punya kamar dengan pemandangan Masjidil Haram dan Ka’bah. Dan Allah memberikannya untuk saya, Alhamdulillah. Segala puji hanya untuk Allah.

Setelah bebersih diri, saya dan suami bersiap turun ke bawah untuk melaksanakan umrah pertama. Setelah agak lama menunggu di bawah, saya ditemui oleh seorang Ibu. “Mbak, maaf lho saya tadi buka kamarnya…,”ujarnya.

Saya berusaha mencerna maksudnya. Masuk ke kamar saya? Lho, memangnya…”Saya juga kamarnya di 2909, rupanya kita sama-sama…”, lanjutnya dengan wajah sumringah dan logat Jawa timur yang khas. Awalnya, jujur, saya agak kecewa. Karena di awal tadi, saya dan suami mungkin terlalu GR kami mendapatkan kamar sebesar itu untuk kami sendiri. Hihi…

Tapi kemudian saya berpikir lagi, pasti ada maksudnya mengapa saya dan suami akhirnya satu kamar (walaupun kamar mandi dan kamar tidurnya terpisah) dengan pasangan Bapak dan Ibu, demikian saya dan suami memanggil pasangan suami istri asal Tuban itu. Lagipula mereka tampaknya baik hati dan bersahaja.

Alhamdulillah, prasangka saya benar adanya. Selama di Mekkah, Bapak dan Ibu seperti orangtua bagi saya dan suami. Yang membangunkan, menjaga, dan membimbing kami. Membimbing dalam arti sebenarnya. Ajaibnya, pasangan Bapak dan Ibu selalu berkisah tentang hajar aswad, Multazam dan bagaimana mereka berdua bisa dengan mudah mencapainya. Bahkan menurut Bapak, “Itu kosong lho pas kita ke masuk agak ke dalam”.

Sekedar informasi, karena thawaf bentuknya adalah rotasi, jadi seolah-olah tampak seperti “lingkaran-lingkaran” manusia. Persis seperti bumi dan planet-planet  ber-revolusi mengelilingi matahari. Semakin ke dalam, biasanya semakin sesak oleh manusia. Saya sendiri tidak pernah berpikir bisa masuk ke lingkaran paling dalam, salah satunya karena sifat saya yang cepat puas. “Dari jauh saja sudah senang, bisa ke sini pun sudah senang bukan main…”, begitu pikiran saya.

Jadi tidak terlintas di pikiran saya untuk mendekat, apalagi pernah satu kali saya thawaf seorang diri. Saat itu saya merasa kecil, secara konotatif maupun denotatif. Saya keburu takut membayangkan orang-orang Arab, Pakistan, Turki, Iran yang besar-besar, baik laki-laki maupun perempuannya dan berhitung kemungkinan saya hilang di tengah lautan manusia. Saya memilih “jalan aman”, jalur nyaris terluar. Memang jadi terasa lebih melelahkan, karena selain terik matahari yang menyengat, juga jaraknya menjadi lebih jauh.

Adapun suami saya beberapa kali mencoba mendekat, tapi kemudian mundur saat melihat seorang perempuan, entah dari mana, sebegitu “agresif”-nya mendekati hajar aswad, sampai saat ia sudah mencium, ia terjengkang ke belakang dan kerudungnya lepas. Saya yang diceritakan oleh suami jadi teringat cerita seorang teman yang saat umrah juga terjengkang dan kerudungnya lepas. Lalu semua orang menunjuk ke arahnya dan mengatakan, “Haram! Haram!”. Saya tidak mau terlalu mengagungkan hajar aswad, apalagi kalau mempertaruhkan kerudung saya. Mencium Hajar Aswad “hanya” sunnah, sedangkan menjaga aurat wajib hukumnya.

See? Dalam beberapa hal saya sama sekali bukan risk taker. Bahkan dalam hal mendekati Ka’bah. Dari malam sebelumnya, suami saya sudah berpesan. “Besok thawaf wada-nya kita ikut Bapak sama Ibu ya, kayaknya mereka ‘ada apanya’ gitu deh, Yang. Kok gampang banget bisa mendekat ke Ka’bah,” demikian ujar suami saya. Ada satu malam, selepas Isya kalau saya tidak salah, akhirnya saya tahu mengapa “jalan” Bapak dan Ibu tampak begitu dimudahkan oleh Allah.

Ibu itu membuka cerita, mengawali kisahnya dari kehidupannya di masa lalu. Ia harus berjualan gorengan dan nasi bungkus, mulai dari jam tiga pagi, untuk membantu biaya sekolah anak-anaknya; karena gaji Bapak tidak seberapa. Bapak adalah guru SD di kampung, model PNS yang jujur dan “nggak punya apa-apa”. Usaha, kesabaran, keuletan dan kerja keras Ibu membuahkan hasil karena sekarang anak-anaknya sudah “jadi orang”. Sudah mapan. Sudah bisa membayari dirinya dan suami Umrah, bahkan katanya, “insyaAllah kalau ada rizkinya tahun depan mau naik haji”. “Anakku itu, pas habis ngasih aku duit, proyeknya tembus. Langsung aku dibayari umroh sama bapak,”kisahnya. Saya merinding mendengarnya.Cerita itu bergulir, dan kemudian saya tahu, saya belajar banyak hal darinya. Saya tidak mungkin cerita semuanya di sini, karena itu adalah masalah keluarganya. Masalah terdalam yang membuatnya terisak-isak saat berdoa.

Tapi saya belajar, tentang keikhlasan yang luar biasa. Menjadi istri harus ridho sepenuhnya kepada suami. Menjadi ibu pun harus ridho setulusnya kepada anak-anak. Termasuk ridho saat salah satunya melakukan perbuatan yang menyakiti hati, dan tidak mengungkit-ungkit jerih payah yang dilakukan selama ini. Ridho itu meliputi segalanya. “Ikhlas itu kok rasanya susahnya minta ampun…,” ucapnya sedikit terisak. Air matanya jatuh satu-satu.

Saya ingat Mama di rumah dan perjuangannya yang luar biasa mendampingi Kakak saya yang berkebutuhan khusus, dari lahir hingga saat ini. Sebegitunya Mama sudah berusaha kadangkala masih terbaca nada keluh dari tutur katanya. Saya merangkul Ibu, seperti merangkul Mama. Ibu itu tipe perempuan Jawa yang suaminya tahu beres dengan kerjaan rumah tangga. Tipe ibu yang tulus dan bersahaja. Aura ke-ibu-annya begitu kuat hingga saya merasa nyaman di dekatnya walaupun usia perkenalan kami tidak sampai seminggu.

Darinya saya belajar, menjadi perempuan itu tidak menyisakan pilihan selain ikhlas, ikhlas dan ikhlas. Siapapun yang dihadapi.Pilihan hidup tentu saja banyak, tapi pilihan yang Allah ridho? Tidak banyak. Itulah mengapa banyak perempuan terjerumus dalam neraka. Karena mereka tidak menghargai apa-apa yang diberikan suaminya… Astaghfirullah…Saat itu saya tahu, inilah salah satu alasan mengapa saya didekatkan dengan Ibu. Agar saya belajar menjadi anak yang berbakti, istri shaliha dan ibu yang mengabdi. Subhanallah… Mungkin itu alasan mengapa jalan Ibu selalu dimudahkan, dan mengapa semua orang tampaknya menyukai sosoknya yang jenaka.

Siang itu sebenarnya nyaris saya dan suami tidak jadi thawaf bersama Ibu dan Bapak. Suami saya yang ditunggu di tempat janjian tidak kunjung datang. “Yo wis, kita duluan aja,” kata Bapak. “Sebentar lagi,Pak, ini katanya biar sama-sama…,” jawab Ibu.

Dan akhirnya muncullah suami saya. Kami masuk berempat, beriringan. Bapak, membimbing kami, dengan doa sederhana. Wibawanya sebagai seorang guru tidak saya ragukan. Mungkin ini yang namanya kharisma. Bapak memimpin di depan, diikuti Ibu, saya, dan suami di belakang saya. Saya dan Ibu tingginya relatif sama, beruntung suami kami berdua tingginya di atas rata-rata; jadi cukup bisa “bersaing” dengan jamaah Timur Tengah yang sebagian bertubuh tinggi besar.

Jujur, detailnya saya lupa. Semuanya terasa berlangsung begitu cepat. Bapak membimbing kami masuk ke dalam lingkaran, hingga kami thawaf persis di depan Ka’bah! Dan tahukah apa yang saya lakukan? Melongo sembari thawaf. Bahkan berdoa pun rasanya luput dari ingatan. Saya tidak pernah membayangkan bisa sedekat ini dengan Ka’bah, bisa berdiri menghadap langsung ke arah Multazam, bisa mengelus Rukun Yamani secara langsung alih-alih dengan isyarat. Pada suatu putaran, Ibu menarik saya mendekat ke dinding Ka’bah. “Iki lho, ndhuk, sing mbok gole’i. Ini lho yang kamu cari-cari,” serunya.

Saya…Saya rasa itu adalah kata-katanya yang tidak akan pernah saya lupa. Bahkan mata saya masih berkaca saat mengetik ini. Saya hadapkan wajah saya, kedua tangan saya ke dinding Ka’bah. Memohon ampun pada Pemilik-nya. Bersyukur. Entah apalagi namanya. Yang pasti, saya lupa dengan doa-doa saya. Rasanya seperti… Ah, tidak tahu apa namanya… Rasanya begitu indah… Rasanya terlalu indah…Tujuh putaran terakhir saya selama di sana sempurna sudah. Kami menuju Hijir Ismail dan shalat dua rakaat di dalamnya.

Di antara kelimbungan dan kenorakan saya, terselip sebuah doa, agar thawaf ini bukanlah thawaf terakhir dalam hidup saya. Amiin… Amiin… Amiin…

 

P.S. Thawaf terakhir itu menyisakan hikmah setidaknya untuk saya. Apa yang saya kira tidak mungkin, menjadi mungkin apabila Allah menghendaki. Jadi saya belajar mengatasi sifat saya yang sering cemas terhadap hal-hal yang belum pasti dan belum saya ketahui. Saya mulai berani menyusun mimpi-mimpi saya yang dulu saya kubur rapat-rapat. Dan masalah hari esok yang saya tidak tahu, bukankah itu nikmatnya hidup? Menjalani hidup sehidup-hidupnya, bukan hidup yang terlalu penuh dengan rencana. Menjalani hiduo sehidup-hidupnya, bukan pula membiarkannya tanpa rencana. Menjalani hidup sehidup-hidupnya, menurut saya adalah hidup yang semarak karena kita berlari mengejar mimpi dan memasrahkan kelanjutannya pada Sang Maha Segala.

Menapaki Jalan Nabi (Part 4: Rindu ini Akhirnya Menemukan Labuhannya)

Tulisan ini dibuat sepulang Umrah. Beberapa detail sudah terlupakan, ketika saya baca ulang. Saya re-post dan re-share untuk mengingatkan diri sendiri, obat rindu pada yang rindu, dan penyemangat pada yang ingin berangkat :)

Menjelang dini hari itu, saya dan rombongan tiba di Mekkah. Jantung saya berdegup lebih cepat, apalagi ketika dari kejauhan tampak menjulang menara Masjidil Haram yang bercahaya. Rasanya mengharu biru…Allah, hamba sudah sampai. Hamba, ya Rabb. Hamba yang hina ini, hamba yang penuh gelimang dosa. Ini hamba ya Allah, memenuhi panggilan-Mu. Ini hamba yang kecil dan demikian tidak berarti bagi-Mu, Ini hamba, datang memenuhi seruan-Mu. Tidak ada yang lain selain-Mu ya Tuhanku. Segala pujian di seluruh alam raya dan kenikmatan hanya milik-Mu. Labbaik Allahumma Labbaik, Labbaika Laa Syarikalaka Labbaik. Innal Hamda wa ni’mata Laka wal Mulk, Laa syarika laka.

Untuk mempersingkat cerita, setelah check in hotel dan makan hidangan Arab seharga sepuluh Riyal ternikmat yang mungkin pernah saya coba, saya dan rombongan memasuki Masjidil Haram beriringan. Tangan saya menggandeng Miranti, teman dekat saya selama perjalanan. Suami saya mengiringi di sebelah kiri dan suami Miranti di sebelah kanan. Kami tiba di hadapannya. Terpana saya menatapnya. Ini bukan kali pertama saya Umrah, tapi rasanya seperti baru sekali itu melihat Ka’bah. Luruh air mata saya, berderai-derai.

Berdua, saya dan Miranti terisak perlahan. Inilah Ka’bah, rumah pertama yang dibangun di muka bumi. Inilah Ka’bah, kepadanya miliaran Muslim di dunia berputar, berporos, bersumbu. Inilah Ka’bah, yang memandangnya melahirkan desir lembut, menggoyahkan hati yang keras, meluruhkan air mata. Apabila Ka’bah yang disucikan, sejatinya “hanyalah” bangunan; maka rindu ini kepada siapa harus kembali? Rasa rindu yang hadir dalam diri saya tahun-tahun belakangan ini… Rindu yang sama yang tumbuh di hati banyak pendambanya, mereka yang bahkan belum pernah melihatnya langsung. Rindu ini, cinta ini milik-Mu, ya Allah.

Saya melihat pusaran manusia yang begitu banyak. Yang Arab, yang Pakistan, yang Eropa, yang Melayu. Yang lebih putih dari orang kulit putih yang pernah saya jumpai, dan yang lebih hitam dari orang kulit hitam yang pernah saya lihat. Yang gagah, yang jelita, yang buta, yang tuna daksa, yang tua, yang muda. Semua thawaf, semuanya berputar mengelilingi Ka’bah, mengesakan-Nya. Hanya Dia yang bertempat di hati mereka. Mereka, sama seperti saya, sama-sama rindu pada-Nya. Sama-sama ingin memperoleh cinta-Nya. Sama-sama ingin masuk surga-Nya.

Lalu ada dimana saya?

Lihatlah, entah berapa jumlahnya, begitu banyaknya manusia yang bersegera menuju seruan-Nya. Tubuh-tubuh mereka sama dibalut kain putih. Tidak ada miskin, tidak ada kaya. Tidak ada penguasa, tidak ada rakyat jelata. Lalu pertanyaan itu datang lagi, Tuhan, dimana saya? Siapa saya? Saya bukan siapa-siapa. Saat kaki ini melangkah, berputar bersama-sama, saya sama dengan mereka. Sama lemahnya, sama tidak berdayanya. Saya bukan siapa-siapa. Namun alangkah beraninya saya membusungkan dada dan mengangkat muka. Meminta dihormati, meminta disegani. Padahal Allah tidak memandang titel saya, tidak memandang kedua orang tua saya, apalagi nenek moyang saya. Di sini, di tempat seramai ini, saya membawa diri saya sendiri. Diri saya dan dosa-dosa saya, diri saya dan amal kebaikan saya yang tidak seberapa. Tidak ada titel dan gelar cum laude yang bisa saya gadaikan agar saya bisa menjadi hamba pilihan; tidak ada uang yang bisa saya tukar dengan kemuliaan di sisi-Nya. Bahkan tukang sapu Bangladesh di pinggir Ka’bah pun mungkin masih jauh lebih kaya di hadapan-nya dibandingkan saya.

Tujuh putaran itu selesai, alhamdulillah. Hampir tanpa halangan. Betapa banyak cerita orang-orang yang matanya dibutakan dari melihat Ka’bah, atau terjungkal saat hendak mendekatinya. Ada bahkan sebuah kisah dari pembimbing Haji, bahwa salah seorang jamaahnya lari tunggang langgang saat melihat Ka’bah, padahal saat itu ia sedang duduk di kursi roda karena kedua kakinya kemah. Saya sungguh bersyukur, Allah berkenan menerima saya, menerima suami saya dan jamaah lainnya menjadi tamu-Nya. Di hadapan Multazam, agak jauh sedikit, kami shalat dua rakaat dan bersimpuh. Mengakui segala dosa di hadapan-Nya sekaligus meminta segala hal yang ingin kami minta pada-Nya. Air mata berderai dari tiap insan yang mendamba cinta-Nya. Nyaris tidak ada orang yang datang ke rumah-Nya untuk sekedar wisata. Semua punya angan dan cita yang hendak disampaikan.

Saat semua jalan yang ditempuh terasa buntu, bukankah hanya Allah yang busa membukanya. Saat beban hati demikian sempit menghimpit, bukankah hanya Allah yang bisa melegakannya..

 

Menapaki Jalan Nabi (Part 3: Hati-hati dengan Desir Hati)

Tulisan ini dibuat sepulang Umrah. Beberapa detail sudah terlupakan, ketika saya baca ulang. Saya re-post dan re-share untuk mengingatkan diri sendiri, obat rindu pada yang rindu, dan penyemangat pada yang ingin berangkat 🙂

Inilah dua tanah yang disucikan. Tiap langkah menuju kebaikan diganjar berkali lipat. Tiap ucapan adalah doa, bahkan desir hati pun bisa menjadi doa. Maka berhati-hatilah dengan apa yang kita pinta. Dan banyak-banyaklah memohon ampunan pada-Nya karena Allah Maha Mengetahui apa yang kita sembunyikan bahkan di dasar hati yang paling dalam. Inilah Mekkah Al-Mukarramah dan Madinah Al-Munawwarah. Dua kota yang terasa seperti bulan Ramadhan sepanjang tahun. Dimana manusia berbondong-bondong menuju rumah-Nya, lantunan ayat suci terdengar dimana-mana, wirid dan zikir, yang lantang dan yang perlahan-lahan. Dua kota dimana manusia berduyun-duyun mengaku dosa pada Tuhannya, meminta ampun atas segala alpa, dan mengadukan pada-Nya segala himpitan dan derita.

Dengan cara yang unik, Allah memberi saya permen karet bermerk Batook. Hanya keinginan yang terbit sesaat. Saya ingat, kantung plastik sudah di tangan, dan permen itu tidak ada di dalamnya. Tapi sampai di hotel, entah bagaimana permen itu ada di dalam plastik yang saya bawa. Dan sang penjual pun merelakannya. Maka jadilah permen Batook itu menjadi milik saya.

Suatu pagi, di Mekkah saya mengidamkan makanan Arab bernama Om Ali. Pernah saya cicipi pada Umrah saya yang lalu. Rasanya manis seperti bubur Farley, makanan bayi. Penuh susu, biskuit dan puff pastry yang dihancurkan bersama susu, kismis dan kacang-kacangan. Tidak banyak yang mengetahuinya. Pagi itu saya bertanya pada seorang laki-laki berkulit hitam dengan baju koki yang hilir mudik di ruang makan, “Do you serve Om Ali?”. “Om Ali?”, ia bertanya balik, seperti keheranan. Kemudian ia mengangkat bahunya. “No? No om Ali?” tanya saya memastikan. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Keinginan saya tidak pupus. Saya sudah mengidamkan makanan ini sejak lama. Pernah suatu hari saya ingin membeli Om Ali di Egyptian Food Festival di sebuah hotel berbintang tapi tidak jadi. Harga seporsinya Rp.139k. Harga yang membuat saya kehilangan selera. Jadi kali ini, saya harus makan Om Ali, tapi saya mau gratis. Entah mengapa saya punya pikiran seperti ini. Saya bukan tipe pencari gratisan atau diskonan. Tapi dari sejak di Madinah saya sudah berdoa di perjalanan, agar saya bisa makan Om Ali gratis. Dan Allah mengabulkannya.

Betapa bahagianya saya saat siang itu restoran ZamZam Hotel menyediakan Om Ali dalam porsi banyak sekali. Tidak banyak yang menyentuh, karena tampilannya memang kurang menarik. Walaupun harus saya akui rasanya tidak selezat Om Ali pertama yang saya coba, tapi saya tetap senang sekali mendapati Om Ali sampai-sampai saya menghampiri pegawai hotel hanya untuk mengatakan, “The Om Ali you serve is very good”.

Suatu hari, Allah pun mengabulkan desir hati saya. Yang tidak saya ucapkan secara lisan, yang saya ucapkan dalam hati, bahkan saat saya seorang diri. Hari itu di Madinah, saya sedang kesal karena suami saya membeli begitu banyak barang dan meninggalkannya untuk saya susun di koper. Setelah menyusun dengan kesal karena merasa buang-buang waktu, itu pun masih berantakan karena dasarnya saya bukan penyusun barang yang baik; saya melihat dua pasang sepatu saya belum dimasukkan. “Aduh”, pikir saya, “ini belum masuk”. “Banyak sekali barang yang harus saya susun. Ini sepatu sudah buluk, seharusnya ditinggal saja di sini. Tapi nanti kalau ditinggal Mama nanyain, ini kan dikasih sama Mama”. Oh iya, hari sebelumnya saya sempat membeli sepasang sepatu murah meriah di pelataran Masjid Quba. Harganya hanya sepuluh riyal. Ada beberapa saat dimana hati saya menyesal membelinya, karena saya sudah berjanji dengan diri sendiri untuk tidak menumpuk-numpuk barang. Saya sudah bawa dua pasang sepatu, untuk apa menambah sepasang lagi. Hanya memenuhi kopor saja. Ada rasa bersalah dalam diri saya.

Hari itu hari terakhir saya di Madinah. Saya ingin ziarah ke Raudhah sekali lagi. Jadi saya seorang diri pergi ke Masjid dan bergabung dengan jamaah Muslimah rumpun Melayu. Oh iya, saya biasa menghafalkan nomor urut penitipan sepatu, jadi saya tidak bingung. Saya ingat meletakkan sepatu saya di penitipan paling kanan yang pintunya tertutup, di penitipan nomor 17. Saat saya hendak pulang dan mengambil sepatu, saya kebingungan mencari-cari sepatu saya. Tidak ada dimanapun! Astaghfirullah… Saya kehilangan sepasang sepatu yang pagi harinya saya keluhkan karena memenuhi kopor. Jadilah saya menghubungi suami saya minta dibawakan sepasang yang lain. Yang menjadi begitu berharga keberadaannya.Saya tidak tahu apa sebabnya. Yang pasti saya lekas-lekas memohon ampun jika saya tidak bersyukur pada-Nya atas sepatu saya. Tapi Allah mengabulkan desir hati saya yang ingin meninggalkan sepatu. Saya tidak perlu repot-repot dan sayang-sayang meninggalkannya, pun segan terhadap Mama yang sudah memberikannya, Allah yang sudah mengambilnya. Siapa yang mau marah?Yah, demikian sekelumit cerita saya, sisanya insyaAllah menyusul esok hari.

Semoga bisa menjadi pengingat bagi kita semua untuk bersyukur dan berhati-hati dengan desir hati bahkan yang paling lembut…

Tentara Gajah Abrahah (Part 2 Dari “Syaibah, Calon Permimpin yang Beruban”)

Gubernur Abyssinia itu menunjukkan raut kaget sekaligus heran.

“Segitu saja rupanya pengorbanan laki-laki tua ini. Dan bangunan itu demikian disucikan,” mungkin itu yang ada dalam pikirannya.

Sebuah katedral megah sudah dibangun sang gubernur demi menandingi bangunan kubus yang sisinya menghadap ke empat penjuru mata angin. “Hanya” kubus, tapi seakan punya magnet luar biasa besar sehingga berduyun-duyun manusia datang menziarahinya.  Bahkan pualam sisa-sisa reruntuhan kerajaan Saba sudah diambil sang gubernur untuk menyempurnakan katedral yang ia bangun; tapi tetap saja mereka memilih datang ke padang tandus Mekkah. Apa istimewanya sebuah kubus dibanding katedral mewah berhias emas dan perak?

Sekarang, lihatlah perwakilan orang-orang padang pasir itu. Laki-laki tua di hadapannya, pemimpin kaum Quraisy, pelindung Ka’bah memiliki kharisma yang tidak satu pun bisa menyangkalnya. Sang gubernur pun sampai harus turun dari kursinya untuk menyambut laki-laki Arab itu. Ia datang menuntut unta-untanya dikembalikan.

Abrahah, sang gubernur, dan pasukannya memang sengaja mencuri apa saja yang mereka temukan sepanjang perjalanan dari Mughammis ke Mekkah. Termasuk dua ratus ekor unta milik laki-laki yang bernama asli Syaibah, namun sohor dipanggil Abdul Muthalib ini. Tujuannya hanya satu: menghancurkan Ka’bah. Bangunan kubus yang disucikan, tempat manusia datang berbondong-bondong dari segala penjuru dan mengucurkan berkah pada tempat yang sejatinya kering itu. Tidak boleh ada yang menandingi katedral Abrahah di Shan’a.

“Dan kukira ia datang untuk membela agamanya…”, ada kekecewaan dalam hatinya. Mungkin Abdul Muthalib dan orang-orang Quraisy tidak sebesar itu kecintaannya pada Ka’bah. Mungkin Abrahah memberi penilaian terlalu tinggi pada mereka.Toh  ternyata perwakilan Quraisy ini hanya mementingkan unta-untanya.

Mereka berdua sama-sama pemimpin kaumnya, sekalipun sebenarnya tidak pernah ada pernyataan bahwa Abdul Muthalib adalah pemimpin Quraisy.  Abdul Muthalib disambut Abrahah di perkemahannya. Di atas permadani, mereka saling berhadapan. Ayah Abdullah itu tahu dengan pasti niatan Abrahah untuk menghancurkan bangunan yang ditinggikan nenek moyang kaumnya, Ibrahim AS dan Ismail AS. Ia pun tahu, Abrahah berpikir ia datang untuk menegosiasikan rencana Abrahah dan pasukan bergajahnya menghancurkan Ka’bah. Sungguh, Abrahah salah besar.

“Aku adalah pemilik unta-unta itu, sementara Ka’bah ada pemiliknya sendiri yang akan melindunginya,” Abdul Muthalib menjawab keheranan Abrahah.

“Tapi sekarang ini, dia tak akan mampu melawanku,” kata Abrahah pongah.

“Kita lihat saja nanti,” jawab Abdul Muthalib, “tapi kembalikan unta-untaku sekarang!”.

Unta-unta itu akhirnya kembali pada empunya, Abdul Muthalib. Satu dari sedikit orang di Mekkah yang tidak menyembah berhala. Ia menyembah Allah, hanya Allah saja, sebagaimana ajaran Bapak Para Nabi, Ibrahim AS dan anaknya Ismail AS.

Dan benarlah Abdul Muthalib, Abrahah telah salah besar. Ia dan kaumnya sejak dulu mensucikan dan menghormati Ka’bah. Sekalipun kini Hubal, Latta dan Uzza menghiasi Ka’bah dan membuat orang-orang Yahudi berhenti mengunjungi Ka’bah, namun tidak satu pun penduduk Mekkah berani menantang Pemilik Ka’bah sebagaimana Abrahah.

Oh Abrahah. Arogansi dan kecongkakan telah menguasainya. Sampai-sampai kedua matanya tidak lagi bisa melihat pertanda yang diberikan semesta ketika gajah kesayangannya mendadak mogok berjalan ke arah Mekkah. Anehnya, ketika diperintahkan berjalan menuju arah yang lain, gajah pintar itu langsung bangkit dan melangkah pasti. Tapi setiap kali digiring menuju Mekkah, ia langsung mogok. Entah apakah Abrahah terlalu diliputi nafsu sehingga tidak melihat isyarat itu, atau sebenarnya ia sadar tapi sudah terlanjur sesumbar pada rakyatnya dan terutama pada Raja Negus, penguasa Yaman.

Tidak bahkan seujung kuku pun dari Ka’bah dapat disentuh Abrahah, dia dan pasukannya bahkan tidak pernah mencapainya. Pemilik Ka’bah telah “menyambut” mereka dengan pasukan-Nya. Ababil demikian pasukan-Nya disebut. Datang berbondong-bondong. Pasukan yang tampak seperti kumpulan burung layang-layang yang terbang menukik dengan kecepatan tinggi. Masing-masing membawa tiga batu kecil yang membara. Entah apa, sepertinya tidak satu pun orang di Mekkah yang menyaksikan kejadian itu, pun pasukan Abrahah pernah melihat kumpulan burung membawa bebatuan membara sedemikian. Satu batu digigit pada paruh setiap pasukan Ababil, dan dua batu lagi dibawa pada cakar di kedua kakinya. Pasukan Tuhan itu menjatuhkan batu-batu membara tersebut pada tentara Abrahah. Tentara congkak yang menunggang gajah. Seketika mereka jatuh terkapar dan tubuhnya seakan digerogoti batu-batu membara tadi. Layaknya dedaunan yang habis dimakan ulat…

Tahun itu, dikenang selamanya sebagai Tahun Gajah.

***

Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah?

Bukankah dia Telah menjadikan tipu daya mereka

(untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia?

Dan dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong,
Yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar,
Lalu dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).

(Q.S.Al-Fiil: 1-5)

Hang On Tide and Enjoy The Ride

Hang On Tide and Enjoy The Ride

Memasuki gerbang pernikahan seringkali diibaratkan dengan masuk ke dalam hidup baru. Dan selalu ucapan paling standar dan klise kepada pasangan pengantin adalah, “selamat menempuh hidup baru”.

Saya lebih senang menyebut, “Semoga selamat dalam menempuh hidup baru” 🙂

Mengapa demikian?

Suatu hari saya mendengar Bondan Prakoso mengucapkan “selamat” pada salah satu pasangan artis yang menikah, dan ada kata-katanya yang sangat menarik.

“Pegangan yang kuat, roller coasternya sudah mulai berjalan…”

He’s so right!

Menjelang lima tahun pernikahan, terlalu naif kalau saya masih post cerita cinta menye-menye bak dongeng-dongeng komedi romantis. Blah!

Sekarang mari kita ibaratkan pernikahan adalah sebuah roller coaster seperti kata Bondan Prakoso. Sebelum menikah, kita mengantri sampai mengular, menunggu kapan giliran kita naik. Kita mendengar teriakan-teriakan penuh keceriaan (atau ketakutan) yang membuat kita semakin excited. Beberapa penumpang yang turun ada yang kapok, muntah, tapi tidak sedikit yang ingin mencoba lagi, sehingga ia masuk kembali ke antrian. Ada juga beberapa kejadian yang stuck di atas, ya ini mungkin kesalahan teknis. :p

Apa yang saya rasakan dalam pernikahan boleh jadi berbeda dengan apa yang orang lain rasakan. Dan you know what, no marriage is perfect.

Beberapa orang menjelang pernikahannya mengatakan kepada saya, berharap pernikahannya seperti pernikahan saya. What? Tidak semua tampak se-indah kelihatannya. Begitu banyak jomblo-ers yang galau dan frustrasi karena belum menikah. Padahal mereka nggak tahu, warna dalam pernikahan bukan hanya merah jambu.

Kadang warnanya kelabu, merah darah, kuning cerah, hitam legam, putih bersih, kadang gabungan dari warna-warna yang sudah saya sebutkan.

Complicated!

Tapi saya berdo’a, agar Allah menjadikan pernikahan saya lebih baik dari prasangka banyak orang.

Tunggu… Ada apa dengan pernikahan saya?

Tenang… InsyaAllah tidak ada apa-apa. Semua baik-baik saja. Baru saja saya mengirimkan BBM pada suami saya, “aku sayang abang” yang dibalas dengan “I do as well” dan emoticon *kiss* 77 x. Anyway, saya hanya berusaha realistis.

Kembali ke roller coaster. Pernikahan itu punya banyak sekali ups and downs, ada swings, ada twirls, ada loops. Bedanya, kita tidak memulai naik wahana bernama pernikahan ini dengan mengharapkan “ujung” dari segala turbulensi. Jangan berpikir untuk berhenti.

Ada kalanya saya menangis terlalu banyak, ngomel sampai marah pada suami. Dan suami saya belajar mendengarkan dan memelihara sabar stadium lanjut. Ada kalanya suami saya cuek, terlalu lelah dengan pekerjaan, workaholic, dan saya belajar bersuka ria menerima hasilnya setiap bulan 😀

Saran saya hanya satu: pegangan yang kuat.

Dan tidak ada pegangan yang lebih kuat dari Allah Sang Maha Kasih, Maha Sayang, Maha Santun. Tanpa pegangan ini, betapa buanyaknya kisah cinta hanya tinggal cerita.

Karena judulnya sama-sama pegangan yang kuat, ketergantungan antara satu dengan lainnya juga harus ada. Kalau masing-masing sibuk sendiri? Jadikanlah diri kita ibarat sistem kapitalisme: ciptakan kebutuhan.

Kita punya begitu banyak uang sehingga tidak membutuhkan pasangan? Mungkin keputusan Anda untuk menikah sudah salah sejak awal. Kalau Anda segitu mandirinya sehingga bisa melakukan semuanya sendiri, untuk apa pasangan Anda?

Saya ingat, dan akan selalu saya catat baik-baik sebagai bekal kehidupan saya saat suatu hari teman saya cerita, “Tapi kayaknya emang gue tuh tipe yang laki gue gajinya harus lebih gede deh. Ego gue gede soalnya.”

Saya sangat tahu kapasitas dan intelegensi teman saya sebagai praktisi medis bisa membawanya melambung kemana-mana. Dan berkorban untuk tidak bersaing masalah gaji, menurut saya adalah suatu hal yang besar untuk seorang perempuan dengan kapasitas seperti teman saya.

Namanya juga naik wahana, loadnya nggak boleh kebanyakan bisa-bisa overload dan wahananya mogok karena kebanyakan muatan. Begitu juga dalam pernikahan, load ego-nya memang kudu ditinggal apabila memungkinkan; dan apabila tidak memungkinkan (dan sepertinya memang begitu) harus dikurangi, bukan malah lompat dan terjun dari wahananya sendiri.

Iya kalau lagi landai, kalau lagi loop, jatuhnya sakiiiit…

Romantisme SAJA tidak akan cukup membuat sebuah penikahan bertahan. Karena pada akhirnya romantisme itu bisa dikonstruksi. Tapi pondasi konstruksinya harus kuat.

Seperti Habibi dan Ainun. Butuh seorang Ainun yang pengertian luar biasa dan seorang Habibie yang menerima apa adanya untuk bisa menjadikan sebuah kisah cinta yang sekarang demikian melegenda. Apakah keduanya tidak punya ego? Nah…They’re just lowering theirs.

Pondasi pernikahan ternyata berbading terbalik dengan tingkat ego 🙂 Semakin rendah ego, semakin tinggi penerimaan masing-masing, semakin kuat pondasi suatu pernikahan. And it really takes two to tango ^^

Nggak semudah itu, nggak seindah itu, nggak semulus itu. Tapi semuanya sangat indah untuk dijalani. Karena pernikahan itu sebuah wahana, ia adalah petualangan tanpa akhir. Apabila ia sebuah madrasah, ia adalah pendidikan tak kenal waktu. Ia bisa menjadi jembatan menuju surga atau perosotan menuju neraka (na’udzubillah…).

Terkadang, tidak dapat dipungkiri, seseorang “salah” memilih teman dalam menaiki wahana bernama pernikahan ini. Sehingga ia nekad terjun bebas, atau memaksa mengakhiri wahana. Tapi bagaimanapun, pernikahan tetap adalah sebuah pelajaran, bukan? Sekalipun Bondan Prakoso yang kemudian saya ikuti mengibaratkannya seperti roller coaster, ia bukan permainan seperti roller coaster yang ada ujungnya. Bukan Dunia Fantasi yang punya jam buka dan jam tutup. So, sekali lagi, berpegangan yang kuat pada Pegangan Yang Maha Kuat. Jadilah teman seperjalanan yang baik, dan doakan teman seperjalanan kita agar tetap pada jalurnya. Supaya “Selamat” sampai pada tujuan akhirnya.

At last, let’s fasten our seat belt, hang on tide, and enjoy the ride ^^