Happy Hijab Day!


Sekalipun sudah belasan abad para Muslimah terbebas dari “penjajahan” dengan perintah berhijab dalam Al-Qur’an, namun demikian, baru tahun ini ditetapkan Hari Hijab Sedunia. Adalah Nazma Khan, pemudi asal Amerika Serikat yang memiliki origin dari Bangladesh yang pertama kali mencetuskan ide Hari Hijab Sedunia. Idenya adalah dengan menyerukan perempuan-perempuan non-Muslim untuk mengenakan hijab pada hari ini. Tujuannya tidak lain adalah untuk memutus stereotyping yang kerap dilekatkan pada Muslimah berhijab di negara-negara barat bahwasanya mereka “dijajah” oleh hijab, terorisme, dan keterbelakangan. Yang menarik, ternyata banyak perempuan non Muslim yang berpartisipasi dalam acara ini. 

Saya ingin membuat sebuah simpulan, simpulan yang ekspres dan singkat tentunya, dari berbagai sisi.

Pertama, dari tinjauan agama. Sepengetahuan saya yang tidak lebih tahu dari siapapun ini, dalam Al-Qur’an sudah tertulis bahwa “Tidak ada paksaan dalam Islam” (Q.S. 2: 256). Semoga saya salah, akan tetapi seruan kepada perempuan non Muslim untuk mengenakan hijab, dalam pandangan saya tidak sesuai dengan Al-Qur’an. Pun di Saudi sendiri yang begitu saklek menerapkan hukum Islam, perempuan non-Muslim tidak diwajibkan mengenakan tutup kepala walaupun tetap harus berpakaian panjang dengan abaya.

Akan tetapi, pada kenyataannya, banyak Muslimah di negara barat yang sukarela mengenakan hijab pada hari ini. Jadi, mungkin seruan ini dapat menjadi sarana dakwah yang bagus. Bukan hari ini saja sebenarnya, perempuan non Muslim di negara barat banyak yang mencoba menggunakan hijab untuk sehari. Dalam sebuah cerita di youtube yang pernah saya akses beberapa waktu lalu (tapi lupa mengcopas linknya >.<), untuk tujuan penelitian, seorang mahasiswi di Amerika Serikat mengenakan hijab untuk satu hari. FYI, mahasiswi ini mengambil jurusan Gender Studies, jadi kita bisa mengetahui kurang lebih bagaimana pandangannya. 

Apa yang dia alami justru mengguncang hatinya. Apabila biasanya, ia selalu menjadi objek kegenitan (if there’s ever this word :p) para lelaki, di hari itu ia merasa diperlakukan berbeda. Ia dihormati, diperlakukan penuh respek karena hijab yang ia kenakan. Ada kejadian di masa lalu mahasiswi bule ini yang membuat ia mengambil Gender Studies, kalau saya tidak salah ingat. Di masa lalu, ia pernah mengalami pelecehan seksual yang membuatnya trauma. Dari situ ia semacam menggugat dominasi lelaki atas kaum hawa yang seringkali hanya dijadikan simbol seks. 

Tapi pengalaman satu harinya berhijab justru membuka matanya. Betapa beruntungnya perempuan Muslim karena perintah agamanya telah melindungi mereka dari dijadikan simbol seks semata oleh lelaki. Satu hal yang saya ingat dari video itu adalah, ia menyebut bahwa satu hari dimana dia berhijab adalah salah satu hari paling bahagia dalam hidupnya, karena ia merasa “merdeka”.

Kedua, dilihat dari sisi komunikasi antar budaya (berhubung semester lalu saya mengajar mata kuliah ini hehe…). Negara-negara barat cenderung berpandangan terbuka, terutama Amerika Serikat yang sangat mengedepankan penegakkan atas hak untuk berbicara dan mengemukakan pendapat. Hal ini memiliki sejarah panjang terkait dengan sejarah bangsa Amerika Serikat itu sendiri. Anyhow, agama di Amerika Serikat juga adalah topik yang sangat bebas, kalau boleh saya menilai, sekaligus sesuatu yang sangat pribadi dan menjadi tidak sopan apabila ditanyakan langsung. Pemikiran mereka yang terbuka akan agama dan kepercayaan adalah salah satu hal yang membuat pertumbuhan Islam justru meningkat luar biasa pesat pasca kejadian yang (semestinya) mencoreng citra Islam. Mengapa demikian? Karena kejadian tersebut justru memicu rasa penasaran banyak orang, ingin mencari tahu apa Islam sebenarnya, dan pada akhirnya banyak orang justru menemukan Islam, jauh dari apa yang media massa berusaha citrakan. 

Karena keterbukaan pikiran dan toleransi yang tinggi dalam beragama, perayaan Hari Hijab Sedunia yang salah satunya menyerukan perempuan non Muslim untuk mencoba hijab selama satu hari mungkin lebih mudah diterima.

Bandingkan dengan di Indonesia, dimana permasalahan SARA seringkali begitu sensitif, dan begitu banyak orang merasa ditindas oleh dominasi Muslim “Fundamentalis”, walaupun kenyataannya, Islam di Indonesia sangat beragam, dan hanya mereka yang terlalu banyak mengonsumsi media massa dan berpikiran sempit yang mendikotomikan Islam Indonesia hanya “Fundamentalis” dan “Liberalis”. Toh sebagian besar dari Muslim di Indonesia ada di antara keduanya. 

Isu semacam, mencoba hijab sehari untuk perempuan non-Muslim akan menjadi sangat kontroversial luar biasa (–> hiperbolis). 

So, menurut saya, sangat tidak cocok seruan yang sama disampaikan di Indonesia yang mayoritas Muslim, dan tidak ter-stereotype oleh anggapan bahwa Muslimah berhijab=teroris. Apalagi hijab is happening banget sekarang ini. Banyak anak remaja yang mau berhijab karena sekarang hijab sudah nggak kolot lagi.

Tapi, Muslimah di Indonesia tetap bisa merayakan World Hijab Day, salah satunya menurut saya adalah dengan mengkampanyekan hijab yang santun dan bersahaja. Dengan meredefinisi (i love this word!!) makna hijab dan mengembalikan hijab ke fungsi awalnya, yaitu sebagai pelindung, sebagai pembebas, dan sebagai penjaga. Apabila hijab yang kita kenakan masih diniatkan untuk mencari perhatian, untuk stand out in the crowd, menurut saya ini harus diluruskan. Apabila mengenakan hijab membuat kita “diperbudak” gaya sosialita berhijab (yang harga satu bajunya bisa ngasih makan banyak orang), merasa harus mengikuti tren masa kini, ini juga harus diluruskan. 

Saya pun masih tertatih-tatih, bak anak yang baru dititah; meluruskan niat, berulang ulang, berkali-kali. Karena godaan di luar sana memang subhanallah, berat :p. (makanya saya senang menulis tentang hijab, untuk mengingatkan diri sendiri).

Saya tidak pernah melihat perempuan paling “bebas” dan merdeka, se-merdeka para perempuan shaliha (aamiin) yang saya temui hari ini di kelas Bahasa Arab dan para mahasiswi saya di Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah. Kerudung menjuntai panjang dengan gamis plus kaos kaki. Itulah, kebebasan yang sejati😀 walaupun mengikutinya rasanya susah. Nggak ketahuan yang gendut dan nggak gendut *modus*, nggak sibuk sama tutorial hijab ini dan hijab itu, nggak ada peng-kelas-an sosial macamnya hijab trendy dan tidak, dan mahal atau enggak *walaupun saya tahu satu set baju gamis plus hijab harganya ada yang bisa mencapai jutaan, tapi kan nggak ketahuan kalau modelnya seragam :p.

Karena perempuan yang baik di mata Allah,  bukan yang putih merona ataupun putih bersinar, bukan yang rambut menjuntai ataupun rambut kriwil, bukan yang kurus lurus atau padat berisi, bukan pula yang kulitnya cantik bebas bulu :p; tapi yang terbaik di sisi Allah adalah yang paling takwa.

Selamat Hari Hijab Internasional ^__^

 

2 thoughts on “Happy Hijab Day!

  1. ahh,,makasih shinta,,aku baru tau 1 feb itu hari hijab internasional😀
    keren yaa, alhamdulillah, minimal di dunia kita udah bisa bersatu,,🙂
    jadi inget cerita awal” pake kerudung….hihihiiih *naah, jadi deh tulisan baru wkwkw

    • hehe.. aku juga baru tau pas lagi deket2 deadline setor tulisan :p hehehehehe….
      lagi googling, eh ada hari hijab internasional.
      syip syip, insyaAllah kutengok ah tulisan barunyaa😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s