LoA dan Do’a (Part 2)


Walaupun saat ini punggung saya sedang sakit karena terlalu banyak duduk, but as I promised in my previous post–> LoA dan Do’a (Part 1), saya, insyaAllah akan melanjutkan cerita saya. Mungkin saya hanya kurang gerak. (Oh, andaikan nge-blog bisa disambi jalan atau jogging >.<)

Setelah di post sebelumnya, saya menyarankan untuk banyak-banyak berDO’A, instead of LoA, sekarang, I’m gonna tell you why…

Tahun kemarin adalah tahun hadiah untuk saya. Saya membuka tahun 2012 dengan do’a dan keinginan yang kuat untuk Umrah, tapi saya nggak tau gimana caranya. Dari segi finansial belum cukup untuk umrah berdua, tapi entah bagaimana saya YAKIN banget kalau saya bisa Umrah lagi.

Kalau saya belum pernah Umrah, mungkin rindunya nggak akan segitunya. Justru karena saya sudah pernah Umrah pada 1999 dan 2005, kerinduan itu rasanya membuncah dalam dada saya. Percaya deh, orang yang sudah naik Haji atau Umrah lebih kangen ingin kembali lagi ke Tanah Suci daripada yang belum. Saya juga nggak tau ini rindunya darimana datangnya. Saya rasa karea saya lelah dengan urusan tetek bengek obstetri ginekologi, lelah dengan lingkungan yang “menuntut” saya untuk hamil. Saya mau sebuah “escape”, sementara aja. Tapi bukan cuma “escape” sekedar “escape”, saya mau sebuah “liburan”, masa reses yang menjadikan saya lebih kuat, lebih baik, lebih shaliha, lebih taat. Karena saya bukan mau menghindari masalah. Saya cuma mau menghadapinya dengan baik, dengan sabar, dengan enjoy.

Jujur, saya membuka tahun 2012 dengan BUANYAK air mata karena kegagalan proses inseminasi, dan bulan berikutnya saya selalu haid dan haid. Siklus saya yang biasa teratur jadi acakadut, membuat saya HHC (harap-harap cemas) apa hamil, apa enggak.

Saya lupa bulan apa tepatnya, apakah Maret atau Februari, saya meng-copas DP BBM seorang teman. Gambar yang sedikit memenuhi kerinduan saya akan tanah haram. Gambar sebuah sajadah terbentang di sebuah kamar dengan jendela kaca dan pemandangan di depannya adalah Masjidil Haram. Bayangkan! Kamar siapa itu yang bisa memandang Masjidil Haram dengan view dari ketinggian?

Setiap hari saya memandangi, membayangkan, masya Allah… saya sungguh menginginkannya. Rindu sekali ingin Umrah. Entah bagaimana caranya, saya juga tidak tahu. Yang saya tahu hanya Allah Maha Mengetahui, Allah Maha Memberi Rizki. Terserah Allah gimana caranya.

Penghujung Maret, kalau saya tidak salah, sore itu saya sedang dalam perjalanan ke Superindo Mampang bersama Papa dan suami. Suami dan Papa mengeluhkan saya yang nggak mau nembak bikin SIM A, padahal semua orang juga begitu, kata mereka. Saya nggak mau, berusaha bertahan untuk nggak mau, karena mereka yang menyuap dan disuap sama-sama masuk neraka, kata Rasulullah SAW. Perbincangan berlanjut ke sana ke sini tentang sistem yang “emang begitu’ bobroknya dan korup. Papa saya kemudian nyeletuk, “Gini deh, biar kamu semangat, gimana kalau kamu dapet SIM A, Papa beliin mobil?”.

“Daripada aku dibeliin mobil, mending aku dibayarin Umroh aja berdua sama Abang (suami),” ujar saya.

“Emang berapa harga Umroh sekarang?” tanya Papa.

“Sekitar 2000-an dollar, Pa. Aku udah tanya-tanya ke banyak travel…” jawab saya.

Oh iya, saya baru ingat, pada akhir 2011 saya sempat pergi ke Pameran Haji Umrah-nya Garuda dan sudah mengambil segudang brosur Haji Umrah. He.. Jadi, Umrah ini keinginan lama banget sebenernya. Saya bahkan sempat pergi ke ESQ Travel untuk mendapatkan brosur Umrah. Keinginan saya sebenarnya adalah Haji, tapi untuk bisa Haji dari Indonesia tentu memakan waktu yang lama. Untuk ONH Plus saja harus menunggu setahun-dua tahun. Belum biaya yang tidak sedikit. Apalagi ONH Reguler. Konon daftar tunggunya sudah sampai tahun 2020. Hiks… Membayangkannya saja saya sedih😥

Anyway, gayung bersambut, Papa mengiyakan, bersedia membayari saya dan suami Umrah. Jadilah mulai hari itu saya sibuk mencari travel, mengurus passport yang sudah kadaluarsa, kartu kuning, belanja peralatan Umrah (my favorite part :D), download e-book Umrah-nya Syaikh Ibn Baz, dan macem-macem deh. Saya bahkan sudah mencicil packaging sebulan sebelum hari keberangkatan, saking semangatnya. Hihihi…

Teman-teman saya yang tahu saya ingin Umrah sempat agak kaget waktu saya bilang mau berangkat. Kemarin-kemarin cuma berani “mimpi”, banyak-banyak do’a, banyak-banyak minta di-do’a-in; sekarang kejadian. Pengen umroh-nya bukan cuma ‘pengen’ semacam ‘pengen kawin’ tapi nggak kawin-kawin. Memang ‘Pengen’ dalam arti ‘akan’.

Hal yang paling “lucu” adalah, mendadak mens saya teratur lagi. Hehehehe… Dari sejak Papa mengiyakan untuk memberangkatkan saya Umrah, siklus saya kembali teratur. Alasannya saya rasa sederhana, karena saya sudah tidak lagi memikirkan kehamilan. Se-kesal-kesalnya saya dengan petugas travel yang acakadut dan proses di imigrasi yang bikin emosi, saya tahu, ada hadiah indah menunggu saya. :’)

Sampailah akhirnya saya di tanggal yang dinanti-nanti. Jumat, 25 Mei 2012. Saya terbangun di pagi hari dan bergumam, “This’s it! Semoga Allah memudahkan perjalanan ini…”. Layaknya menikah, perjalanan Umrah atau Haji juga seringkali diuji. Saya masih ingat saat Umrah 2005, saya dan keluarga baru mendapat visa di pagi hari, dimana siangnya kami harus take off. Petugas travel yang menyambut kami di bandara mengatakan pada Papa saya,”Biasa ini, Pak. Kalau perjalanan ibadah memang agak berliku, tapi kalau mau senang-senang, ke Bali atau ke Vegas biasanya jalanya lancar”. Begitu pun dengan rombongan besar jamaah Umrah dari travel yang saya gunakan. Kami menunggu berjam-jam di bandara karena delay. Tapi ini nikmatnya, tidak ada yang marah-marah, mungkin juga tidak berani. Ada sih yang mengeluh, atau menunjukkan wajah lelah dan kecewa. Tapi kesalahan memang bukan dari pihak travel melainkan dari pihak maskapai penerbangan.

Singkat cerita, setelah berkunjung selama beberapa hari di Madinah, rangkaian perjalanan Umrah dimulai. Dini hari, kami tiba di Makkah dalam keadaan berihram. Setelah mendapatkan kamar, saya dan suami pergi ke nomor kamar yang tertera pada kunci elektronik  untuk sekedar meluruskan kaki atau buang air. Hotel yang kami tempati adalah Grand Zam-zam, yang terletak persis di sebuah gedung berisi pusat perbelanjaan dan hotel-hotel berbintang. Pintu satu Masjidil Haram persis ada di depan gedung. Saya bahkan masih ingat nomor kamarnya, 2909.

Di ruang tamu, dalam ruangan suite berkamar dua (satu ruangan untuk dua keluarga), saya mencari arah kiblat. Oh ternyata kiblat mengarah ke kiri yang apabila di ruangan itu mengarah ke jendela yang tertutup tirai. Rasanya suasana itu pernah saya dapati. Semacam mirip dengan DP BBM yang selalu saya pandangi sebelum berangkat Umrah. Tidak sabar, saya menyibak tirai tersebut, dan disanalah, pemandangan yang sama dengan DP BBM saya. Masjidil Haram yang begitu bercahaya, Ka’bah dan lautan manusia yang thawaf memuja keesaan-Nya.

Pada saat itu juga saya menangis.  Betapa saya yang kecil ini di hadapan-Nya, seringkali khilaf dan banyak berbuat dosa, namun tidak sedikit pun Allah lengah dan luput memperhatikan, bahkan hal yang paling detail dari keinginan saya. Saya percaya bahwa tidak ada satu hal pun di dunia ini terjadi begitu saja, tanpa ada hikmah di baliknya. Karena takdir manusia layaknya garis lurus yang saling bersinggungan satu sama lain, takdir bagi seseorang akan bersentuhan dengan ketetapan-Nya bagi orang yang lain.

Kenangan ini kembali teringat, sehingga kemudian saya mencoba menuliskannya, karena seorang rekan Umrah berkomentar di foto pemandangan dari atas kamar 2909 Hotel Grand Zam-zam yang saya ambil. Dari komentar tersebut, saya tahu, tidak semua kamar mendapatkan pemandangna serupa. Dan saya bertambah yakin bahwa walaupun “hanya” pemandangan luar biasa, akan tetapi itu adalah hadiah untuk saya dari Allah.

Fotor0203175749

Dari perjalanan Umrah saya kemarin, saya mengambil hikmah. Tidak perlu LoA untuk menggapai mimpi. DO’A sudah lebih dari cukup. DO’A yang sungguh-sungguh akan melahirkan keinginan yang kuat, keinginan yang kuat akan berimbas pada perilaku yang sejalan. Lagipula, apabila Allah menghendaki suatu hal terjadi pada diri kita, siapakah di semesta ini yang dapat menghalanginya, begitu pun sebaliknya.

Lalu dimana letak ikhtiar?

Saya selalu percaya, bahwa DO’A adalah penghulu segala mimpi dan capaian dalam kehidupan. DO’A yang sungguh-sungguh, if I have to repeat akan membawa pada perubahan perilaku, sebagaimana shalat yang sempurna akan mencegah perbuatan keji dan munkar (lalu mengapa maling, koruptor, pelacur, pemadat masih ada padahal mereka juga shalat? Berarti ada yang salah dengan shalatnya :)). Setelah DO’A kita panjatkan banyak-banyak dan sungguh-sungguh, iman kita persiapkan dengan matang dengan banyak-banyak PDKT pada-Nya, nah, ikhtiar adalah ladang amalnya, ladang jihadnya.

Seringkali, saya pribadi, mengedepankan ikhtiar dan meletakkan DO’A di akhir, seakan-akan DO’A adalah senjata terakhir, atau ber-DO’A (baca: shalat) pada saat terakhir *istighfar* karena alasan sibuk. Shalat-nya mepet menjelang tutup kantor (jaman ngantor dulu) karena alasan baru sempat, pun sekarang-sekarang shalat-nya mepet karena alasan tanggung bikin materi ngajar. Lho, berarti di awal dimana saya letakkan Allah dalam usaha saya apabila shalat saya “sesempetnya”?

Saya ingat dalam sebuah ceramah, Ustadz Yusuf Mansyur (semoga Allah memberkahi beliau), bercerita. Suatu sore, di penghujung Ashar beliau sedang berada

di salah satu mall, dan menyapa seorang penjaga toko, “Udah jam segini, udah shalat Ashar belum?”, kurang lebih begitu beliau bertanya. Detail redaksinya saya lupa. Jawab si penjaga toko, “Belum, ustadz, nggak sempet kudu jagain toko”. Lalu Ustadz menanggapi,

“Oh kalau gitu, tunggu

in aja, sampe tahun depan kalau begitu caranya ente masih bakal jadi penjaga toko”.

Ah, semoga Ustadz mau memaafkan kekhilafan saya menyitir detail ucapan beliau. Tapi intinya adalah, seringkali kita berkeinginan tinggi, tapi meletakkan Allah, Sang Pemegang Kehendak dan Kendali Semesta di ujung-ujung kehidupan kita. Lalu bagaimana hidup kita mau berubah apabila tidak ada usaha peningkatan hubungan dengan-Nya?  *ngomong sendiri T_T*

Semoga tulisan ini bisa menjadi pengingat, terutama untuk SAYA PRIBADI. Seringkali saya mendapati perenungan-perenungan diri justru dari menulis dan mengajarkan pada orang lain, oleh karena itu, saya tidak lebih baik dari siapapun dengan menulis hal-hal di atas. Saya hanyalah hamba-Nya yang sering lalai, namun ingin beranjak dari kelalaian itu walau sedikit, walau tertatih. :”(

Wallahu A’lam.

P.S. Detail perjalanan Umrah saya bisa dibaca di sini dan di sini. Masih acakadut sih, dan belum menyelesaikan Part 3 Madinah-Jeddah. Tapi semoga bisa menambah semangat yang membaca juga untuk diri saya sendiri, bagi mereka yang rindu Tanah Suci.

 

3 thoughts on “LoA dan Do’a (Part 2)

  1. T_T sukses bikin aku nangiss.. Cukup Allah saja, bukan yg lain..
    Bismillahirrahmaanirrahiin..
    InsyaAllah shin, 2/3 bulan lagi..
    Doakan aku shin, rasanya sdh berada di sana..
    MasyaAllah.. Entah dr mana rindu ini, pdhl belum sekalipun aku menginjakkan kaki di sana..
    Trima kasih sdh berbagi cerita dan hikmah di dlmnya shinta :’).
    Love u coz Allah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s