Syaibah, Calon Pemimpin yang Beruban


Syaibah dalam bahasa Arab berarti uban. Nama ini disematkan oleh sang Bunda, Salma, pada anak laki-lakinya karena ia memiliki rambut putih di kepalanya. Saya beri bocoran di awal, anak ini kelak akan tersohor namanya. Tidak ada anak TPA yang tidak mengenal namanya kecuali ia rajin bolos TPA. Hehe… Sosok Syaibah yang akan saya kisahkan berikut ini berasal dari Mekkah. Padang tandus, tempat Nabi Ibrahim AS meninggalkan Hajar dan Ismail AS, sebelum akhirnya Allah mengeluarkan mata air yang penuh keberkahan dan memakmurkan wilayah yang dalam kitab-kitab terdahulu disebut Bakkah. Sebelum lebih lanjut menceritakan tentang si rambut beruban, terlebih dahulu saya akan menceritakan silsilah keluarganya secara singkat.

Salma putri Amr, ibu yang melahirkan si rambut beruban tadi adalah perempuan yang berkedudukan tinggi di masyarakatnya, seorang pemimpin wanita suku Najjar, salah satu suku yang hidup di jazirah Arab. Adalah Hasyim, laki-laki yang juga terpandang dalam klannya, Quraisy yang menjadi suami dari Salma dan ayah dari Syaibah. Makanya, tidak perlu heran apabila kelak Syaibah menjadi pemimpin dan pembesar yang kian sohor namanya. 

Frankincense Trail, atau rute wewangian, yang merupakan jalur perdagangan wewangian yang sudah ada bahkan sebelum jaman Nabi Isa ‘alaihissalam, dan biasa diikuti oleh kafilah-kafilah Arab. Sebagai salah satu pemimpin klannya, Hasyim-lah yang mengatur dua rute besar perjalanan para kafilah Arab dari Mekkah yang hendak mengikuti rute wewangian, dimana produknya yaitu wewangian, di masa lalu banyak digunakan sebagai sesajian kepada berhala. Hasyim mengaturnya sebagai berikut: kafilah dagang musim dingin ke Yaman, kafilah dagang musim panas ke barat laut Arab, dan kafilah dagang di antara kedua musim itu ke Palestina dan Syria, yang ketika itu berada di bawah kekuasaan kerajaan Romawi. Hasyim sebenarnya bisa menjadi pemimpin yang tangguh, dan memang sudah demikian. Akan tetapi, Allah menakdirkannya wafat dalam sebuah perjalanan dagang. 

Hasyim, bersama saudaranya, Abdu Manaf dan Abd Al-Dar merupakan penerus sang ayah dalam mengurus Ka’bah dan jamaah Haji. Mengapa bisa demikian? Ya, sebab silsilah mereka, apabila ditarik mundur ke belakang akan sampai kepada Nabi Ismail AS. Di antara penduduk Mekkah kala itu, sudah diketahui bersama bahwasanya mereka mendapat keberkahan dengan adanya Ka’bah yang ditinggikan dan dibangun oleh nenek moyangnya, Ibrahim AS dan Ismail AS, dan sudah diketahui bersama pula risalah para Nabi penghulu mereka tersebut mewajibkan ibadah Haji pada bulan yang ditentukan (which is bulan Haji :p). Pekerjaan mengurus rumah Tuhan dan hamba-hamba-Nya yang ingin beribadah bukan pekerjaan sembarangan dan tidak boleh dilakukan oleh sembarang orang pula. Oleh karena itu, pengemban pekerjaan mengurus Ka’bah dan jamaah Haji akan meneruskan pekerjaan tersebut pada anak keturunannya yang dianggap cakap.

Sempat melalui percekcokan antar saudara, akhirnya diputuskan bahwa tiga bersaudara, Abdu Manaf, Abd Al-Dar dan Hasyim dan anak keturunannya bersama-sama mengurus Ka’bah, keperluan jamaah haji serta memuliakan kehormatan dan kesucian Ka’bah. Oh iya, ketiganya adalah anak dari Qushay, yang mana anak-anaknya bukan hanya mereka bertiga saja, tetapi masih ada anak-anak lainnya.

Oleh karena ketiganya, pada akhirnya, diputuskan berhak untuk mengurus Ka’bah dan keperluan jamaah haji, maka ditetapkan bahwa Abdu Manaf berhak menetapkan pajak dan menyediakan makanan serta minuman bagi jamaah Haji, Abdu Al-Dar berhak memegang kunci Ka’bah, dan Hasyim bertanggung jawab atas kebutuhan para jamaah Haji.

Sekarang, mari kita kembali ke Syaibah. Suatu hari, saat ia beranjak remaja seseorang yang mengaku pamannya datang memintanya untuk ikut serta ke Mekkah. Laki-laki bernama Muthalib itu merupakan adik bungsu almarhum ayahnya yang kini memegang amanah untuk mengurus kebutuhan jamaah Haji setelah saudara-saudaranya yang lain disibukkan dengan urusan dagang. Salma, sang ibu, tentu saja tidak ingin begitu saja menyerahkan anak yang sangat disayanginya. Terlebih sang anak yang beranjak remaja telah menampakkan tanda-tanda kecakapan sebagai seorang pemimpin. Syaibah sendiri pun enggan meninggalkan ibunya. 

Muththalib kemudian mengemukakan seribu satu alasan. Bukan sembarang alasan tentunya. Alasan yang memang logis dan masuk akal. Salah satunya adalah karena Syaibah diharapkan dapat mewarisi tugas mulia mediang ayahnya mengurus keperluan jamaah Haji. Dan itu bukan posisi main-main. Mengurus keperluan hamba Tuhan merupakan pekerjaan bergengsi di antara suku-suku Arab yang tinggal di Mekkah. Syaibah pun kelak bisa menjadi pemimpin kaum Quraisy seperti ayahnya, akan tetapi tentu Syaibah perlu bergaul dengan kerabatnya di Mekkah agar dikenal. Salma yang pandai dapat menerima argumen Muththalilb dan akhirnya melepas Syaibah untuk dibawa pamannya ke Mekkah.

Ketika memasuki kota Mekkah, orang-orang ramai bertanya-tanya siapa gerangan pemuda yang dibawa Muththalib. Mereka menyebut pemuda yang berada dalam “boncengan” untanya tersebut dengan “Abdul Muththalib” atau “budak Muththalib”. Sekalipun Muththalib sudah menjelaskan bahwa pemuda tersebut adalah anak dari Hasyim, alias kemenakannya, dan penduduk Arab geger karena kebahagiaan mendengar hal tersebut, panggilan ‘Abdul Muththalib tetap melekat dan justru menjadi masyhur di kalangan bangsa Quraisy. 

Nah betul kan kata saya, Syaibah, si rambut beruban kelak akan kita kenal dengan ‘Abdul Muththalib. Laki-laki mulia yang kelak berhasil menggali kembali sumur zam-zam, membuka harta peninggalan kabilah Jurhum dan…

Ah! Bocoran saya terlalu banyak. Tapi saya yakin, setiap Muslim pasti tahu, atau setidaknya pernah tahu siapa ‘Abdul Muththalib dan mengapa dia demikian penting…

Kalau Anda lupa, boleh ditanyakan pada adik-adik TPA🙂

* Tunggu lanjutan ceritanya yaaa ^^

Sumber: Lings, Martin. Muhammad, Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik. Cetakan X, 2011. Serambi, Jakarta. 

6 thoughts on “Syaibah, Calon Pemimpin yang Beruban

  1. Template blognya sama :))) *guling-guling*

    Btw, saya baru tahu cerita ini, mak. Jadi terinspirasi untuk menceritakannya ke anak-anak.
    Thanks untuk cerita inspiratifnya🙂

  2. Pingback: Tentara Gajah Abrahah (Part 2 Dari “Syaibah, Calon Permimpin yang Beruban”) | kata shinta tentang dunia

  3. Pingback: Penggalian Kembali Sumur Zam-zam (Part 3 Dari “Syaibah, Calon Pemimpin yang Beruban”) | kata shinta tentang dunia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s