Hang On Tide and Enjoy The Ride


Hang On Tide and Enjoy The Ride

Memasuki gerbang pernikahan seringkali diibaratkan dengan masuk ke dalam hidup baru. Dan selalu ucapan paling standar dan klise kepada pasangan pengantin adalah, “selamat menempuh hidup baru”.

Saya lebih senang menyebut, “Semoga selamat dalam menempuh hidup baru”🙂

Mengapa demikian?

Suatu hari saya mendengar Bondan Prakoso mengucapkan “selamat” pada salah satu pasangan artis yang menikah, dan ada kata-katanya yang sangat menarik.

“Pegangan yang kuat, roller coasternya sudah mulai berjalan…”

He’s so right!

Menjelang lima tahun pernikahan, terlalu naif kalau saya masih post cerita cinta menye-menye bak dongeng-dongeng komedi romantis. Blah!

Sekarang mari kita ibaratkan pernikahan adalah sebuah roller coaster seperti kata Bondan Prakoso. Sebelum menikah, kita mengantri sampai mengular, menunggu kapan giliran kita naik. Kita mendengar teriakan-teriakan penuh keceriaan (atau ketakutan) yang membuat kita semakin excited. Beberapa penumpang yang turun ada yang kapok, muntah, tapi tidak sedikit yang ingin mencoba lagi, sehingga ia masuk kembali ke antrian. Ada juga beberapa kejadian yang stuck di atas, ya ini mungkin kesalahan teknis. :p

Apa yang saya rasakan dalam pernikahan boleh jadi berbeda dengan apa yang orang lain rasakan. Dan you know what, no marriage is perfect.

Beberapa orang menjelang pernikahannya mengatakan kepada saya, berharap pernikahannya seperti pernikahan saya. What? Tidak semua tampak se-indah kelihatannya. Begitu banyak jomblo-ers yang galau dan frustrasi karena belum menikah. Padahal mereka nggak tahu, warna dalam pernikahan bukan hanya merah jambu.

Kadang warnanya kelabu, merah darah, kuning cerah, hitam legam, putih bersih, kadang gabungan dari warna-warna yang sudah saya sebutkan.

Complicated!

Tapi saya berdo’a, agar Allah menjadikan pernikahan saya lebih baik dari prasangka banyak orang.

Tunggu… Ada apa dengan pernikahan saya?

Tenang… InsyaAllah tidak ada apa-apa. Semua baik-baik saja. Baru saja saya mengirimkan BBM pada suami saya, “aku sayang abang” yang dibalas dengan “I do as well” dan emoticon *kiss* 77 x. Anyway, saya hanya berusaha realistis.

Kembali ke roller coaster. Pernikahan itu punya banyak sekali ups and downs, ada swings, ada twirls, ada loops. Bedanya, kita tidak memulai naik wahana bernama pernikahan ini dengan mengharapkan “ujung” dari segala turbulensi. Jangan berpikir untuk berhenti.

Ada kalanya saya menangis terlalu banyak, ngomel sampai marah pada suami. Dan suami saya belajar mendengarkan dan memelihara sabar stadium lanjut. Ada kalanya suami saya cuek, terlalu lelah dengan pekerjaan, workaholic, dan saya belajar bersuka ria menerima hasilnya setiap bulan😀

Saran saya hanya satu: pegangan yang kuat.

Dan tidak ada pegangan yang lebih kuat dari Allah Sang Maha Kasih, Maha Sayang, Maha Santun. Tanpa pegangan ini, betapa buanyaknya kisah cinta hanya tinggal cerita.

Karena judulnya sama-sama pegangan yang kuat, ketergantungan antara satu dengan lainnya juga harus ada. Kalau masing-masing sibuk sendiri? Jadikanlah diri kita ibarat sistem kapitalisme: ciptakan kebutuhan.

Kita punya begitu banyak uang sehingga tidak membutuhkan pasangan? Mungkin keputusan Anda untuk menikah sudah salah sejak awal. Kalau Anda segitu mandirinya sehingga bisa melakukan semuanya sendiri, untuk apa pasangan Anda?

Saya ingat, dan akan selalu saya catat baik-baik sebagai bekal kehidupan saya saat suatu hari teman saya cerita, “Tapi kayaknya emang gue tuh tipe yang laki gue gajinya harus lebih gede deh. Ego gue gede soalnya.”

Saya sangat tahu kapasitas dan intelegensi teman saya sebagai praktisi medis bisa membawanya melambung kemana-mana. Dan berkorban untuk tidak bersaing masalah gaji, menurut saya adalah suatu hal yang besar untuk seorang perempuan dengan kapasitas seperti teman saya.

Namanya juga naik wahana, loadnya nggak boleh kebanyakan bisa-bisa overload dan wahananya mogok karena kebanyakan muatan. Begitu juga dalam pernikahan, load ego-nya memang kudu ditinggal apabila memungkinkan; dan apabila tidak memungkinkan (dan sepertinya memang begitu) harus dikurangi, bukan malah lompat dan terjun dari wahananya sendiri.

Iya kalau lagi landai, kalau lagi loop, jatuhnya sakiiiit…

Romantisme SAJA tidak akan cukup membuat sebuah penikahan bertahan. Karena pada akhirnya romantisme itu bisa dikonstruksi. Tapi pondasi konstruksinya harus kuat.

Seperti Habibi dan Ainun. Butuh seorang Ainun yang pengertian luar biasa dan seorang Habibie yang menerima apa adanya untuk bisa menjadikan sebuah kisah cinta yang sekarang demikian melegenda. Apakah keduanya tidak punya ego? Nah…They’re just lowering theirs.

Pondasi pernikahan ternyata berbading terbalik dengan tingkat ego🙂 Semakin rendah ego, semakin tinggi penerimaan masing-masing, semakin kuat pondasi suatu pernikahan. And it really takes two to tango ^^

Nggak semudah itu, nggak seindah itu, nggak semulus itu. Tapi semuanya sangat indah untuk dijalani. Karena pernikahan itu sebuah wahana, ia adalah petualangan tanpa akhir. Apabila ia sebuah madrasah, ia adalah pendidikan tak kenal waktu. Ia bisa menjadi jembatan menuju surga atau perosotan menuju neraka (na’udzubillah…).

Terkadang, tidak dapat dipungkiri, seseorang “salah” memilih teman dalam menaiki wahana bernama pernikahan ini. Sehingga ia nekad terjun bebas, atau memaksa mengakhiri wahana. Tapi bagaimanapun, pernikahan tetap adalah sebuah pelajaran, bukan? Sekalipun Bondan Prakoso yang kemudian saya ikuti mengibaratkannya seperti roller coaster, ia bukan permainan seperti roller coaster yang ada ujungnya. Bukan Dunia Fantasi yang punya jam buka dan jam tutup. So, sekali lagi, berpegangan yang kuat pada Pegangan Yang Maha Kuat. Jadilah teman seperjalanan yang baik, dan doakan teman seperjalanan kita agar tetap pada jalurnya. Supaya “Selamat” sampai pada tujuan akhirnya.

At last, let’s fasten our seat belt, hang on tide, and enjoy the ride ^^

10 thoughts on “Hang On Tide and Enjoy The Ride

  1. saya paling tidak bisa menikmati permainan roller coaster
    hingga saat ini hanya 3 kali yang pernah saya coba
    salah satunya waktu bermain ke dufan .. itu pun yang ukuran “anak2” .. dan saya kapok sekapok-kapoknya
    *erus hubungannya dengan tulisanmu apa ya?
    *hhhmm apa ya? .. hehehe

    baydewey .. nice story
    terima kasih sudah mengingatkan😉

  2. oalah shinta, tulisannmu baguuus sekali🙂
    singkat, padat, bermakna…. cling-cling blikn-blink deh pokonya🙂
    selama ini sering denger beberapa temen yang kebanyakan (kebetulan) belum menikah juga selalu berkomentar positif, “damai sekali rumah tangganya” (amiiiin…*tereak yg kenceng), atau negatif “harus dipikirin dengan jelas (harta), biar nanti ga ribet kalo cerai” (lha piye iki…)
    jangankan memikirkan hal yg jelek2, mempertahankan yang sudah berjalan saja “sangat manis”, jadi ga sempet mikirin (membayangkan) yang jelek-jelek, hehe
    like this yo namanya, kata shinta bener juga “HANG ON TIDE AND ENJOY THE RIDE”
    *sunduuuul😀

    • ah nisaaa… tulisanmu juga bagus sekaliii ^^

      iyaaaa… orang sering melihat dari luarnya saja. walaupun bukan berarti kita punya masalah besar atau nggak punya masalah sama sekali, tapi pernikahan itu memang dijaga dan dipertahankan😉

      semoga selalu sakinah untukmu :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s