Tentara Gajah Abrahah (Part 2 Dari “Syaibah, Calon Permimpin yang Beruban”)


Gubernur Abyssinia itu menunjukkan raut kaget sekaligus heran.

“Segitu saja rupanya pengorbanan laki-laki tua ini. Dan bangunan itu demikian disucikan,” mungkin itu yang ada dalam pikirannya.

Sebuah katedral megah sudah dibangun sang gubernur demi menandingi bangunan kubus yang sisinya menghadap ke empat penjuru mata angin. “Hanya” kubus, tapi seakan punya magnet luar biasa besar sehingga berduyun-duyun manusia datang menziarahinya.  Bahkan pualam sisa-sisa reruntuhan kerajaan Saba sudah diambil sang gubernur untuk menyempurnakan katedral yang ia bangun; tapi tetap saja mereka memilih datang ke padang tandus Mekkah. Apa istimewanya sebuah kubus dibanding katedral mewah berhias emas dan perak?

Sekarang, lihatlah perwakilan orang-orang padang pasir itu. Laki-laki tua di hadapannya, pemimpin kaum Quraisy, pelindung Ka’bah memiliki kharisma yang tidak satu pun bisa menyangkalnya. Sang gubernur pun sampai harus turun dari kursinya untuk menyambut laki-laki Arab itu. Ia datang menuntut unta-untanya dikembalikan.

Abrahah, sang gubernur, dan pasukannya memang sengaja mencuri apa saja yang mereka temukan sepanjang perjalanan dari Mughammis ke Mekkah. Termasuk dua ratus ekor unta milik laki-laki yang bernama asli Syaibah, namun sohor dipanggil Abdul Muthalib ini. Tujuannya hanya satu: menghancurkan Ka’bah. Bangunan kubus yang disucikan, tempat manusia datang berbondong-bondong dari segala penjuru dan mengucurkan berkah pada tempat yang sejatinya kering itu. Tidak boleh ada yang menandingi katedral Abrahah di Shan’a.

“Dan kukira ia datang untuk membela agamanya…”, ada kekecewaan dalam hatinya. Mungkin Abdul Muthalib dan orang-orang Quraisy tidak sebesar itu kecintaannya pada Ka’bah. Mungkin Abrahah memberi penilaian terlalu tinggi pada mereka.Toh  ternyata perwakilan Quraisy ini hanya mementingkan unta-untanya.

Mereka berdua sama-sama pemimpin kaumnya, sekalipun sebenarnya tidak pernah ada pernyataan bahwa Abdul Muthalib adalah pemimpin Quraisy.  Abdul Muthalib disambut Abrahah di perkemahannya. Di atas permadani, mereka saling berhadapan. Ayah Abdullah itu tahu dengan pasti niatan Abrahah untuk menghancurkan bangunan yang ditinggikan nenek moyang kaumnya, Ibrahim AS dan Ismail AS. Ia pun tahu, Abrahah berpikir ia datang untuk menegosiasikan rencana Abrahah dan pasukan bergajahnya menghancurkan Ka’bah. Sungguh, Abrahah salah besar.

“Aku adalah pemilik unta-unta itu, sementara Ka’bah ada pemiliknya sendiri yang akan melindunginya,” Abdul Muthalib menjawab keheranan Abrahah.

“Tapi sekarang ini, dia tak akan mampu melawanku,” kata Abrahah pongah.

“Kita lihat saja nanti,” jawab Abdul Muthalib, “tapi kembalikan unta-untaku sekarang!”.

Unta-unta itu akhirnya kembali pada empunya, Abdul Muthalib. Satu dari sedikit orang di Mekkah yang tidak menyembah berhala. Ia menyembah Allah, hanya Allah saja, sebagaimana ajaran Bapak Para Nabi, Ibrahim AS dan anaknya Ismail AS.

Dan benarlah Abdul Muthalib, Abrahah telah salah besar. Ia dan kaumnya sejak dulu mensucikan dan menghormati Ka’bah. Sekalipun kini Hubal, Latta dan Uzza menghiasi Ka’bah dan membuat orang-orang Yahudi berhenti mengunjungi Ka’bah, namun tidak satu pun penduduk Mekkah berani menantang Pemilik Ka’bah sebagaimana Abrahah.

Oh Abrahah. Arogansi dan kecongkakan telah menguasainya. Sampai-sampai kedua matanya tidak lagi bisa melihat pertanda yang diberikan semesta ketika gajah kesayangannya mendadak mogok berjalan ke arah Mekkah. Anehnya, ketika diperintahkan berjalan menuju arah yang lain, gajah pintar itu langsung bangkit dan melangkah pasti. Tapi setiap kali digiring menuju Mekkah, ia langsung mogok. Entah apakah Abrahah terlalu diliputi nafsu sehingga tidak melihat isyarat itu, atau sebenarnya ia sadar tapi sudah terlanjur sesumbar pada rakyatnya dan terutama pada Raja Negus, penguasa Yaman.

Tidak bahkan seujung kuku pun dari Ka’bah dapat disentuh Abrahah, dia dan pasukannya bahkan tidak pernah mencapainya. Pemilik Ka’bah telah “menyambut” mereka dengan pasukan-Nya. Ababil demikian pasukan-Nya disebut. Datang berbondong-bondong. Pasukan yang tampak seperti kumpulan burung layang-layang yang terbang menukik dengan kecepatan tinggi. Masing-masing membawa tiga batu kecil yang membara. Entah apa, sepertinya tidak satu pun orang di Mekkah yang menyaksikan kejadian itu, pun pasukan Abrahah pernah melihat kumpulan burung membawa bebatuan membara sedemikian. Satu batu digigit pada paruh setiap pasukan Ababil, dan dua batu lagi dibawa pada cakar di kedua kakinya. Pasukan Tuhan itu menjatuhkan batu-batu membara tersebut pada tentara Abrahah. Tentara congkak yang menunggang gajah. Seketika mereka jatuh terkapar dan tubuhnya seakan digerogoti batu-batu membara tadi. Layaknya dedaunan yang habis dimakan ulat…

Tahun itu, dikenang selamanya sebagai Tahun Gajah.

***

Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah?

Bukankah dia Telah menjadikan tipu daya mereka

(untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia?

Dan dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong,
Yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar,
Lalu dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).

(Q.S.Al-Fiil: 1-5)

5 thoughts on “Tentara Gajah Abrahah (Part 2 Dari “Syaibah, Calon Permimpin yang Beruban”)

  1. Pingback: Penggalian Kembali Sumur Zam-zam (Part 3 Dari “Syaibah, Calon Pemimpin yang Beruban”) | kata shinta tentang dunia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s