Menapaki Jalan Nabi 5 (Thawaf Perpisahan, Cerita tentang Ka’bah yang Dirindu)


Tulisan ini dibuat sepulang Umrah. Beberapa detail sudah terlupakan, ketika saya baca ulang. Saya re-post dan re-share untuk mengingatkan diri sendiri, obat rindu pada yang rindu, dan penyemangat pada yang ingin berangkat :)

Kamis itu terik seperti biasa. Hampir semua jamaah memasukkan jadwal Thawaf Wada atau Thawaf terakhir, Thawaf perpisahan dalam agenda mereka masing-masing. Itulah hari terakhir kami di Makkah. Rasanya terlalu cepat. Rasanya saya belum puas. Ah, bukankah memang tidak pernah ada yang “puas” beribadah di tempat sesuci ini?

Semua orang seperti serakah ingin kembali lagi. Bahkan belum pulang ke tanah air saja sudah banyak yang menyusun rencana kembali di tahun berikutnya, apabila Allah memberi umur dan rizki. Saya dan suami saya termasuk di dalamnya. Kami seringkali berucap, “nanti kalau kita haji…”, “kapan-kapan kalau kita ke sini lagi…”. Padahal kami masih ada di sana.

Sebelum menceritakan hari terakhir itu, saya ingin mundur sejenak pada hari pertama kami di Makkah. Saya dan suami ditempatkan di sebuah kamar suite di hotel Grand Zam-Zam. Kamar besar dengan dua kamar tidur, dua kamar mandi dan dapur. Awalnya kami mengira kamar itu hanya milik kami sendiri. GR. Saya sudah kegirangan, dan mulai norak dengan kamar yang indah bagai di surga (padahal saya belum pernah ke surga). Ada jendela kaca di ujung kamar yang tertutup oleh gordyn. Saya mendekat dan berdiri di depan kaca. Mendadak saya ingat foto profil di Blackberry Messenger yang saya copas dari seorang teman. Gambar sajadah terbentang menghadap jendela yang terbuka, yang pemandangannya adalah Masjidil Haram dan Ka’bah yang berkilauan. Gordyn kemudian saya buka karena penasaran. Dan disanalah pemandangan indah itu, di sisi kiri saya. Pemandangan yang sama dengan yang ada di foto profil BBM, dari atas jendela kamar saya. Masya Allah…. Subhanallah… Saya tidak pernah mimpi, bahkan dalam mimpi yang paling indah sekalipun, punya kamar dengan pemandangan Masjidil Haram dan Ka’bah. Dan Allah memberikannya untuk saya, Alhamdulillah. Segala puji hanya untuk Allah.

Setelah bebersih diri, saya dan suami bersiap turun ke bawah untuk melaksanakan umrah pertama. Setelah agak lama menunggu di bawah, saya ditemui oleh seorang Ibu. “Mbak, maaf lho saya tadi buka kamarnya…,”ujarnya.

Saya berusaha mencerna maksudnya. Masuk ke kamar saya? Lho, memangnya…”Saya juga kamarnya di 2909, rupanya kita sama-sama…”, lanjutnya dengan wajah sumringah dan logat Jawa timur yang khas. Awalnya, jujur, saya agak kecewa. Karena di awal tadi, saya dan suami mungkin terlalu GR kami mendapatkan kamar sebesar itu untuk kami sendiri. Hihi…

Tapi kemudian saya berpikir lagi, pasti ada maksudnya mengapa saya dan suami akhirnya satu kamar (walaupun kamar mandi dan kamar tidurnya terpisah) dengan pasangan Bapak dan Ibu, demikian saya dan suami memanggil pasangan suami istri asal Tuban itu. Lagipula mereka tampaknya baik hati dan bersahaja.

Alhamdulillah, prasangka saya benar adanya. Selama di Mekkah, Bapak dan Ibu seperti orangtua bagi saya dan suami. Yang membangunkan, menjaga, dan membimbing kami. Membimbing dalam arti sebenarnya. Ajaibnya, pasangan Bapak dan Ibu selalu berkisah tentang hajar aswad, Multazam dan bagaimana mereka berdua bisa dengan mudah mencapainya. Bahkan menurut Bapak, “Itu kosong lho pas kita ke masuk agak ke dalam”.

Sekedar informasi, karena thawaf bentuknya adalah rotasi, jadi seolah-olah tampak seperti “lingkaran-lingkaran” manusia. Persis seperti bumi dan planet-planet  ber-revolusi mengelilingi matahari. Semakin ke dalam, biasanya semakin sesak oleh manusia. Saya sendiri tidak pernah berpikir bisa masuk ke lingkaran paling dalam, salah satunya karena sifat saya yang cepat puas. “Dari jauh saja sudah senang, bisa ke sini pun sudah senang bukan main…”, begitu pikiran saya.

Jadi tidak terlintas di pikiran saya untuk mendekat, apalagi pernah satu kali saya thawaf seorang diri. Saat itu saya merasa kecil, secara konotatif maupun denotatif. Saya keburu takut membayangkan orang-orang Arab, Pakistan, Turki, Iran yang besar-besar, baik laki-laki maupun perempuannya dan berhitung kemungkinan saya hilang di tengah lautan manusia. Saya memilih “jalan aman”, jalur nyaris terluar. Memang jadi terasa lebih melelahkan, karena selain terik matahari yang menyengat, juga jaraknya menjadi lebih jauh.

Adapun suami saya beberapa kali mencoba mendekat, tapi kemudian mundur saat melihat seorang perempuan, entah dari mana, sebegitu “agresif”-nya mendekati hajar aswad, sampai saat ia sudah mencium, ia terjengkang ke belakang dan kerudungnya lepas. Saya yang diceritakan oleh suami jadi teringat cerita seorang teman yang saat umrah juga terjengkang dan kerudungnya lepas. Lalu semua orang menunjuk ke arahnya dan mengatakan, “Haram! Haram!”. Saya tidak mau terlalu mengagungkan hajar aswad, apalagi kalau mempertaruhkan kerudung saya. Mencium Hajar Aswad “hanya” sunnah, sedangkan menjaga aurat wajib hukumnya.

See? Dalam beberapa hal saya sama sekali bukan risk taker. Bahkan dalam hal mendekati Ka’bah. Dari malam sebelumnya, suami saya sudah berpesan. “Besok thawaf wada-nya kita ikut Bapak sama Ibu ya, kayaknya mereka ‘ada apanya’ gitu deh, Yang. Kok gampang banget bisa mendekat ke Ka’bah,” demikian ujar suami saya. Ada satu malam, selepas Isya kalau saya tidak salah, akhirnya saya tahu mengapa “jalan” Bapak dan Ibu tampak begitu dimudahkan oleh Allah.

Ibu itu membuka cerita, mengawali kisahnya dari kehidupannya di masa lalu. Ia harus berjualan gorengan dan nasi bungkus, mulai dari jam tiga pagi, untuk membantu biaya sekolah anak-anaknya; karena gaji Bapak tidak seberapa. Bapak adalah guru SD di kampung, model PNS yang jujur dan “nggak punya apa-apa”. Usaha, kesabaran, keuletan dan kerja keras Ibu membuahkan hasil karena sekarang anak-anaknya sudah “jadi orang”. Sudah mapan. Sudah bisa membayari dirinya dan suami Umrah, bahkan katanya, “insyaAllah kalau ada rizkinya tahun depan mau naik haji”. “Anakku itu, pas habis ngasih aku duit, proyeknya tembus. Langsung aku dibayari umroh sama bapak,”kisahnya. Saya merinding mendengarnya.Cerita itu bergulir, dan kemudian saya tahu, saya belajar banyak hal darinya. Saya tidak mungkin cerita semuanya di sini, karena itu adalah masalah keluarganya. Masalah terdalam yang membuatnya terisak-isak saat berdoa.

Tapi saya belajar, tentang keikhlasan yang luar biasa. Menjadi istri harus ridho sepenuhnya kepada suami. Menjadi ibu pun harus ridho setulusnya kepada anak-anak. Termasuk ridho saat salah satunya melakukan perbuatan yang menyakiti hati, dan tidak mengungkit-ungkit jerih payah yang dilakukan selama ini. Ridho itu meliputi segalanya. “Ikhlas itu kok rasanya susahnya minta ampun…,” ucapnya sedikit terisak. Air matanya jatuh satu-satu.

Saya ingat Mama di rumah dan perjuangannya yang luar biasa mendampingi Kakak saya yang berkebutuhan khusus, dari lahir hingga saat ini. Sebegitunya Mama sudah berusaha kadangkala masih terbaca nada keluh dari tutur katanya. Saya merangkul Ibu, seperti merangkul Mama. Ibu itu tipe perempuan Jawa yang suaminya tahu beres dengan kerjaan rumah tangga. Tipe ibu yang tulus dan bersahaja. Aura ke-ibu-annya begitu kuat hingga saya merasa nyaman di dekatnya walaupun usia perkenalan kami tidak sampai seminggu.

Darinya saya belajar, menjadi perempuan itu tidak menyisakan pilihan selain ikhlas, ikhlas dan ikhlas. Siapapun yang dihadapi.Pilihan hidup tentu saja banyak, tapi pilihan yang Allah ridho? Tidak banyak. Itulah mengapa banyak perempuan terjerumus dalam neraka. Karena mereka tidak menghargai apa-apa yang diberikan suaminya… Astaghfirullah…Saat itu saya tahu, inilah salah satu alasan mengapa saya didekatkan dengan Ibu. Agar saya belajar menjadi anak yang berbakti, istri shaliha dan ibu yang mengabdi. Subhanallah… Mungkin itu alasan mengapa jalan Ibu selalu dimudahkan, dan mengapa semua orang tampaknya menyukai sosoknya yang jenaka.

Siang itu sebenarnya nyaris saya dan suami tidak jadi thawaf bersama Ibu dan Bapak. Suami saya yang ditunggu di tempat janjian tidak kunjung datang. “Yo wis, kita duluan aja,” kata Bapak. “Sebentar lagi,Pak, ini katanya biar sama-sama…,” jawab Ibu.

Dan akhirnya muncullah suami saya. Kami masuk berempat, beriringan. Bapak, membimbing kami, dengan doa sederhana. Wibawanya sebagai seorang guru tidak saya ragukan. Mungkin ini yang namanya kharisma. Bapak memimpin di depan, diikuti Ibu, saya, dan suami di belakang saya. Saya dan Ibu tingginya relatif sama, beruntung suami kami berdua tingginya di atas rata-rata; jadi cukup bisa “bersaing” dengan jamaah Timur Tengah yang sebagian bertubuh tinggi besar.

Jujur, detailnya saya lupa. Semuanya terasa berlangsung begitu cepat. Bapak membimbing kami masuk ke dalam lingkaran, hingga kami thawaf persis di depan Ka’bah! Dan tahukah apa yang saya lakukan? Melongo sembari thawaf. Bahkan berdoa pun rasanya luput dari ingatan. Saya tidak pernah membayangkan bisa sedekat ini dengan Ka’bah, bisa berdiri menghadap langsung ke arah Multazam, bisa mengelus Rukun Yamani secara langsung alih-alih dengan isyarat. Pada suatu putaran, Ibu menarik saya mendekat ke dinding Ka’bah. “Iki lho, ndhuk, sing mbok gole’i. Ini lho yang kamu cari-cari,” serunya.

Saya…Saya rasa itu adalah kata-katanya yang tidak akan pernah saya lupa. Bahkan mata saya masih berkaca saat mengetik ini. Saya hadapkan wajah saya, kedua tangan saya ke dinding Ka’bah. Memohon ampun pada Pemilik-nya. Bersyukur. Entah apalagi namanya. Yang pasti, saya lupa dengan doa-doa saya. Rasanya seperti… Ah, tidak tahu apa namanya… Rasanya begitu indah… Rasanya terlalu indah…Tujuh putaran terakhir saya selama di sana sempurna sudah. Kami menuju Hijir Ismail dan shalat dua rakaat di dalamnya.

Di antara kelimbungan dan kenorakan saya, terselip sebuah doa, agar thawaf ini bukanlah thawaf terakhir dalam hidup saya. Amiin… Amiin… Amiin…

 

P.S. Thawaf terakhir itu menyisakan hikmah setidaknya untuk saya. Apa yang saya kira tidak mungkin, menjadi mungkin apabila Allah menghendaki. Jadi saya belajar mengatasi sifat saya yang sering cemas terhadap hal-hal yang belum pasti dan belum saya ketahui. Saya mulai berani menyusun mimpi-mimpi saya yang dulu saya kubur rapat-rapat. Dan masalah hari esok yang saya tidak tahu, bukankah itu nikmatnya hidup? Menjalani hidup sehidup-hidupnya, bukan hidup yang terlalu penuh dengan rencana. Menjalani hiduo sehidup-hidupnya, bukan pula membiarkannya tanpa rencana. Menjalani hidup sehidup-hidupnya, menurut saya adalah hidup yang semarak karena kita berlari mengejar mimpi dan memasrahkan kelanjutannya pada Sang Maha Segala.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s