Menapaki Jalan Nabi (Part 4: Rindu ini Akhirnya Menemukan Labuhannya)


Tulisan ini dibuat sepulang Umrah. Beberapa detail sudah terlupakan, ketika saya baca ulang. Saya re-post dan re-share untuk mengingatkan diri sendiri, obat rindu pada yang rindu, dan penyemangat pada yang ingin berangkat :)

Menjelang dini hari itu, saya dan rombongan tiba di Mekkah. Jantung saya berdegup lebih cepat, apalagi ketika dari kejauhan tampak menjulang menara Masjidil Haram yang bercahaya. Rasanya mengharu biru…Allah, hamba sudah sampai. Hamba, ya Rabb. Hamba yang hina ini, hamba yang penuh gelimang dosa. Ini hamba ya Allah, memenuhi panggilan-Mu. Ini hamba yang kecil dan demikian tidak berarti bagi-Mu, Ini hamba, datang memenuhi seruan-Mu. Tidak ada yang lain selain-Mu ya Tuhanku. Segala pujian di seluruh alam raya dan kenikmatan hanya milik-Mu. Labbaik Allahumma Labbaik, Labbaika Laa Syarikalaka Labbaik. Innal Hamda wa ni’mata Laka wal Mulk, Laa syarika laka.

Untuk mempersingkat cerita, setelah check in hotel dan makan hidangan Arab seharga sepuluh Riyal ternikmat yang mungkin pernah saya coba, saya dan rombongan memasuki Masjidil Haram beriringan. Tangan saya menggandeng Miranti, teman dekat saya selama perjalanan. Suami saya mengiringi di sebelah kiri dan suami Miranti di sebelah kanan. Kami tiba di hadapannya. Terpana saya menatapnya. Ini bukan kali pertama saya Umrah, tapi rasanya seperti baru sekali itu melihat Ka’bah. Luruh air mata saya, berderai-derai.

Berdua, saya dan Miranti terisak perlahan. Inilah Ka’bah, rumah pertama yang dibangun di muka bumi. Inilah Ka’bah, kepadanya miliaran Muslim di dunia berputar, berporos, bersumbu. Inilah Ka’bah, yang memandangnya melahirkan desir lembut, menggoyahkan hati yang keras, meluruhkan air mata. Apabila Ka’bah yang disucikan, sejatinya “hanyalah” bangunan; maka rindu ini kepada siapa harus kembali? Rasa rindu yang hadir dalam diri saya tahun-tahun belakangan ini… Rindu yang sama yang tumbuh di hati banyak pendambanya, mereka yang bahkan belum pernah melihatnya langsung. Rindu ini, cinta ini milik-Mu, ya Allah.

Saya melihat pusaran manusia yang begitu banyak. Yang Arab, yang Pakistan, yang Eropa, yang Melayu. Yang lebih putih dari orang kulit putih yang pernah saya jumpai, dan yang lebih hitam dari orang kulit hitam yang pernah saya lihat. Yang gagah, yang jelita, yang buta, yang tuna daksa, yang tua, yang muda. Semua thawaf, semuanya berputar mengelilingi Ka’bah, mengesakan-Nya. Hanya Dia yang bertempat di hati mereka. Mereka, sama seperti saya, sama-sama rindu pada-Nya. Sama-sama ingin memperoleh cinta-Nya. Sama-sama ingin masuk surga-Nya.

Lalu ada dimana saya?

Lihatlah, entah berapa jumlahnya, begitu banyaknya manusia yang bersegera menuju seruan-Nya. Tubuh-tubuh mereka sama dibalut kain putih. Tidak ada miskin, tidak ada kaya. Tidak ada penguasa, tidak ada rakyat jelata. Lalu pertanyaan itu datang lagi, Tuhan, dimana saya? Siapa saya? Saya bukan siapa-siapa. Saat kaki ini melangkah, berputar bersama-sama, saya sama dengan mereka. Sama lemahnya, sama tidak berdayanya. Saya bukan siapa-siapa. Namun alangkah beraninya saya membusungkan dada dan mengangkat muka. Meminta dihormati, meminta disegani. Padahal Allah tidak memandang titel saya, tidak memandang kedua orang tua saya, apalagi nenek moyang saya. Di sini, di tempat seramai ini, saya membawa diri saya sendiri. Diri saya dan dosa-dosa saya, diri saya dan amal kebaikan saya yang tidak seberapa. Tidak ada titel dan gelar cum laude yang bisa saya gadaikan agar saya bisa menjadi hamba pilihan; tidak ada uang yang bisa saya tukar dengan kemuliaan di sisi-Nya. Bahkan tukang sapu Bangladesh di pinggir Ka’bah pun mungkin masih jauh lebih kaya di hadapan-nya dibandingkan saya.

Tujuh putaran itu selesai, alhamdulillah. Hampir tanpa halangan. Betapa banyak cerita orang-orang yang matanya dibutakan dari melihat Ka’bah, atau terjungkal saat hendak mendekatinya. Ada bahkan sebuah kisah dari pembimbing Haji, bahwa salah seorang jamaahnya lari tunggang langgang saat melihat Ka’bah, padahal saat itu ia sedang duduk di kursi roda karena kedua kakinya kemah. Saya sungguh bersyukur, Allah berkenan menerima saya, menerima suami saya dan jamaah lainnya menjadi tamu-Nya. Di hadapan Multazam, agak jauh sedikit, kami shalat dua rakaat dan bersimpuh. Mengakui segala dosa di hadapan-Nya sekaligus meminta segala hal yang ingin kami minta pada-Nya. Air mata berderai dari tiap insan yang mendamba cinta-Nya. Nyaris tidak ada orang yang datang ke rumah-Nya untuk sekedar wisata. Semua punya angan dan cita yang hendak disampaikan.

Saat semua jalan yang ditempuh terasa buntu, bukankah hanya Allah yang busa membukanya. Saat beban hati demikian sempit menghimpit, bukankah hanya Allah yang bisa melegakannya..

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s